Masalah Baru

461 Kata
Tak terasa beberapa minggu lagi kami akan meninggalkan sekolah ini. Hubunganku dengan Nathan juga semakin dekat walau aku tidak mengijinkannya untuk berkunjung ke rumahku karena memang aku belum mau mengenalkannya dengan keluargaku. Nathan selalu berada disisiku sehingga teman-temanku tidak ada yang berani mengerjaiku, aku merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, aku juga merasa diperhatikan dan disayangi. Namun hubunganku dengan merry sangat buruk. Merry tidak pernah lagi berbicara denganku, dia selalu sinis dan menjauh dariku. Entahlah aku bingung apa yang harus aku lakukan. "Baby, lusa mau gw jemput jam berapa" nathan selalu menggunakan kata gw bukan dengan aku. namun dia sudah menggunakan kata baby padaku yang lebih baik dari kata "lo" "Jam 7, jemput ditempat biasa ya"  Nathan mengajakku ke taman tempat biasa kami berkencan. Aku selalu menolak pergi ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi orang-orang kaya untuk berkencan karena aku tidak nyaman dan Nathan menyadari hal itu. Taman ini menjadi hubungan kami yang semakin lama semakin mesra dan nathan adalah obat dari segala kesedihanku. Bersamanya aku dapat melupakan sejenak segala permasalahanku yang selalu aku pendam bahkan aku tidak pernah bercerita pada nathan. Taman ini juga menjadi saksi ciuman keduaku dan ciuman selanjutnya aku dengan Nathan. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya kurasakan ketenangan saat Nathan mengusap kepalaku. "Beib, kamu akan kemana saat lulus nanti"  "aku belum tahu nath, kalau kamu" Nathan tidak menjawab dia justru memeluk diriku. Setelah beberapa menit Nathan melepaskan pelukannya dan menatapku. Dia mencium kening, pipi kemudian berakhir dibibirku. Aku menikmati sentuhan lembut bibir nathan yang kemudian menjadi lumatan, aku membuka mulutku saat nathan menggigit bibir bawahku. Meraih tengkukku Nathan memasukkan lidahnya mengabsen lidahku, ku akui nathan sangat ahli dalam berciuman yang selalu membuatku larut dalam kenikmatan sedangkan tangan yang lain mengusap pinggangku. "hooouhh" kami melepaskan tautan bibir kami karena kehabisan nafas Nathan memelukku kembali, tingkah Nathan benar-benar aneh seperti menahan sesuatu. "Beib kita pulang, sudah malam" aku menganggukkan kepalaku Sesampainya dirumah kulihat ibu sedang duduk termenung di kursi depan rumah kami. Kulihat kekhawatiran diwajahnya. "Ibu" aku menghampirinya dan memegang tangannya "Ta, kita harus segera pindah" Ibu tampak bingung "kenapa bu, bukankah kita baru menunggak 1 bulan. Biasanya pak Burhan tidak keberatan kalau masih menunggak 1 bulan" "Istri Pak Burhan akan dioperasi Ta, Pak burhan sudah menemukan pembeli dan dia butuh dana segera untuk biaya operasi Bu Lely" Aku mengelus punggung Ibuku "Jangan khawatir bu, Lytha akan cari rumah sewa segera" sebenarnya akupun panik namun seperti biasa aku tak menunjukkannya pada ibuku. Sewa dirumah ini saja sudah menunggak satu bulan, siapa yang bersedia rumahnya dikontrakkan tanpa membayar dahulu biaya sewa apabila kami mencari rumah sewa yang baru. Didalam kamar aku berdiskusi dengan kak Lynna, kak Lynna bilang akan segera mengirimkan uang namun akupun tahu dia sedang dalam kesulitan. Ya Tuhan apa kami bisa bertahan gumamku tanpa terasa airmata menetes dimataku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN