Pembalasan

468 Kata
NATHAN Setelah tiga hari menemani Jenny, akhirnya aku kembali ke kantor. Jenny wanita yang mandiri, easy going, cuek dan apa adanya. Itu yang membuatku bersahabat dengannya saat aku di Australia. "Nath, kamu tau kan aku gak suka menjadi beban bagi orang lain. Sudah ke kantor sana, aku bisa mengurus diriku sendiri" Aku menggelengkan kepala mengingat kata-katanya sebelum aku meninggalkannya menuju kantor. Tok...tok...tok "Masuk" jawabku saat kudengar suara ketukan pintu. Pinkan datang untuk memberitahu jadwalku "Besok jam 2 siang bu Lytha ingin bertemu"  "Aku tidak bisa, lusa sampai dua minggu kedepan aku tidak akan ke kantor. Minta dia menelponku secara langsung saja apabila ada hal yang memang penting untuk dibicarakan" saat ini aku memang tidak bisa meninggalkan Jenny dan bayi cantik yang baru saja lahir. "Baik pak, kalau gitu saya permisi" Jenny berlalu meninggalkan ruanganku AUTHOR "Selamat siang pak, maaf mengganggu. Saya harus membicarakan hal penting mengenai laporan keuangan" akhirnya Lytha terpaksa menelpon Nathan karena ada struktur kepemimpinan yang ingin dia tanyakan karena berkaitan dengan pembagian laba perusahaan "Kau bisa datang ke apartmentku, sekitar jam delapan malam. Aku akan kirimkan alamatnya"  "Baik pak"  Lytha tiba pukul 07.15 malam. Sangat awal memang karena dia salah memperkirakan waktu dan ternyata jalanan menuju apartment Nathan sangat lengang. Lytha memutuskan menunggu setengah jam di loby baru menelpon Nathan. Namun pandangannya terhenti pada seorang laki-laki yang sedang menggendong bayi didampingi seorang wanita cantik blasteran. Nathan dan Jenny. "Bu Lytha, ahh sebaiknya Lytha saja, kita kan tidak sedang dikantor" sapa Jenny riang "B..bu.. Jenny" ucapnya gugup kemudian memandang bayi dalam dekapan Nathan "Se..selamat atas kelahiran bayi kalian" rasa bersalah itu muncul lagi "Cantik bukan, kau ingin menggendongnya" Jenny tampak seperti anak kecil yang memamerkan mainannya dengan bangga "iya dia cantik" Lytha berusaha menahan reaksi tubuhnya "Nath berikan baby pada Lytha" Nathan mendekatkan baby pada Lytha. Bayi itu memang belum diberi nama karena Jenny bingung karena banyak nama cantik di otaknya. Lytha berusaha mengulurkan kedua tangannya menggapai bayi cantik itu. Baru saja bayi itu sampai ditangannya nafasnya kembali sesak terlebih saat bayi itu menatapnya. Tangannya gemetar. "LYTHA" nathan membentaknya karena Lytha tiba-tiba melepaskan rengkuhannya dari bayi itu, untung nathan belum benar-benar menjauhkan tangannya dari bayi itu. Oeekk...oekkk...oeekkk bayi itu menangis karena kaget mendengar suara Nathan yang cukup keras. "Ma...af...ma...af" Lytha merasa bersalah "aku harus ke toilet sebentar" Lytha berlari menuju toilet "Nath, dia tidak sengaja. kenapa kamu membentaknya. Baby jadi kaget" Jenny mengambil alih bayi itu dan mencoba menenangkannya "Maaf baby, aku tidak sengaja" ucap Nathan sambil mengusap pipi bayi itu "Baiklah aku pergi dulu" pamit Jenny "Hati-hati" ucap Nathan sambil mengelus kemudian mencium puncak kepala Jenny Sementara itu didalam toilet, Lytha duduk di toilet sedang berusaha untuk dapat bernafas menggunakan Oxycannya. "maaf...maaf...aku hampir mencelakaimu untuk kedua kalinya...hiiks...hiiiks" Lytha berusaha menahan suara tangisannya Nathan duduk di sofa loby "aku akan membuat perhitungan dengannya" wajahnya berubah menegang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN