Cold but Warm

406 Kata
LYTHA Tiiin...Tiiin 'ah apakah nathan lagi' lytha menghentikan langkahnya dan menengok dengan tidak semangat.  Terus terang aku senang dengan sikap nathan walau dia dingin tapi dia tetap memperlakukanku sebagai sesama manusia tapi sikap para perempuan disekolahku membuatku tidak tahan, mereka memusuhiku tak terkecuali merry. Itu membuatku mengambil cara paling aman yaitu menghindari nathan untuk menyelamatkanku dari kelulusan tanpa masalah karena aku tahu sebagian besar dari mereka dapat mempengaruhi beasiswa yang aku teriam. aku tinggal selangkah lagi menuju kelulusan. "masuk" katanya "hmmm, kamu duluan aja aku ada urusan dijalan sebentar" aku beralasan. nathan menatapku dengan mata yang curiga kemudian melajukan mobilnya. Ya mungkin dia mulai curiga karena akhir-akhir ini aku sering beralasan ketika nathan menawariku menaiki mobilnya entah menuju sekolah ataupun halte bus saat pulang sekolah. Tapi menurutku itu tak masalah bukan, diapun masih punya banyak teman selain aku. "heii" aku menengok ke sumber suara "nathan, sedang apa kamu disini" aku mengikuti arah tangan nathan pada seorang pria seumur dengan ayahku mungkin.  "itu ayah kamu?" "iya, gw cuma nemenin, lo sendirian?" "iya cuma membeli beberapa kebutuhan" aku sebenarnya sedikit kaget saat bertemu nathan di pasar traditional bahkan dia bersama ayahnya. Pria itu manghampiri kami setelah nathan melambai-lambaikan tangannya kepada sang ayah tanda keberadaannya. "pi, kenalin ini lytha" "hai, lytha. saya ayah nathan Mahardika" seraya mengulurkan tangan "lytha, senang bertemu om" mengulurkan tangannya membalas tangan terulur pria tampan dengan wibawa didepannya. pantas nathan tampan, ayahnya saja masih tampan diusia yang tidak muda. "lytha sekelas dengan nathan?"  "iya om" kemudian aku merasakan sentuhan tangan om Mahardika di kepalaku. entah kenapa aku merasakan kehangatan seorang ayah yang sudah sekitar 9 bulan tidak aku rasakan. Tanpa permisi airmataku keluar, aku buru-buru menghapusnya" "om permisi dulu ya, nanti mommy nya nathan marah-marah pesanannya tidak datang-datang" "i..iya om, hati-hati dijalan" kulihat mereka berjalan mulai jauh dari hadapanku Aku terduduk didepan pinggiran toko yang memang sedang tutup itu, entah kenapa ingatan akan ayahku kembali akibat sentuhan itu. Airmataku kembali menetes dan merutuki diriku yang justru tidak bisa menghentikannya seakan tidak peduli semakin banyak orang lalu lalang yang mungkin memperhatikanku dengan bingung. Sampai aku rasakan seseorang menutupi kepalaku dengan sebuah jacket dan menyenderkan kepalaku kebahunya. Aroma jacket itu sama dengan sweater yang pernah aku pinjam dari seseorang. Aroma maskulin yang selalu aku hirup saat berada dimobilnya dan didekatnya. Aku merasakan kehangatan tubuhnya, aku menggenggam bajunya melampiaskan kesedihan. Sejenak aku tak mau memikirkan apa kata orang maupun apa yang dipikirkan lelaki yang meminjamkan bahunya untukku. 'Nathan'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN