BLIND-TWENTY ONE

2297 Kata
“Hahaha … Hyung! Tadi itu sungguh menyenangkan." Tawa riang Soon Young meledak sekeluarnya mereka dari game center. Sementara Joo Heon hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah Soon Young yang membuat beberapa orang di sana terkejut karena tawanya. “Kau menyenangkan juga, aku kira kau hanya bocah nakal yang menyebalkan.” Hyung Won membalas ucapan Soon Young. “Eiy … ayolah, Bung. Aku tidak seburuk itu.” Tangan Soon Young bergerak menepuk bahu Hyung Won. “Ck. Diamlah, berisik!” sentak Joo Heon yang langsung membuat Soon Young menutup mulutnya. “Hehe … maaf.” Setelah itu mereka tenggelam dalam diam selama menyusuri jalan menuju rumah masing-masing. Hingga sampailah mereka di sebuah halte yang memisahkan mereka, karena Joo Heon akan naik bus dan Hyung Won memilih berjalan kaki karena rumah mereka yang tak terlalu jauh letaknya dari tempat mereka bermain game. Sedangkan Soon Young? Jangan ditanya, bocah itu pasti masih akan kelayapan lagi setelah ini. “Hyung ....” Itu suara Soon Young yang memutuskan untuk menemani Joo Heon hingga bus datang. “Hmm?” Sebenarnya Joo Heon merasa tidak nyaman dengan keberadaan Soon Young di sampingnya. “Ada apa?” tanya Joo Heon kemudian, pasalnya Soon Young tak melanjutkan ucapannya setelah itu. “Tidak, itu ... apa kau membenci Chang Kyun?” tanya Soon Young dengan sangat ragu. Itu dia! Pertanyaan yang dihindari oleh Joo Heon selama ini, pada akhirnya meluncur juga dari bibir Soon Young. Tak kunjung mendapatkan respons, Soon Young kembali berbicara, “Mengapa Hyung tidak pernah menunjukan hubungan kalian di sekolah? Hyung bahkan seolah tidak mengenal Chang Kyun jika berpapasan. Dan bahkan Hyung tidak memarahiku jika aku mengganggunya.” Kali ini Soon Young mengatakannya dengan segan. Mau bagaimana lagi, ia tak bisa menghentikan kebiasannya untuk mengusili pemuda buta itu. Yah, walau pun tak separah dulu sih. “Bukan urusanmu.” Respons yang diberikan oleh Joo Heon. Singkat, padat dan jelas. Cukup untuk membuat Soon Young berhenti melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menggerutu kesal tak berani protes secara langsung. Joo Heon hanya terkekeh pelan melihat tingkah juniornya yang menurutnya tak cocok dengan sifat berandalnya itu. Omong-omong, dia sebenarnya cukup dekat dengan Soon Young, bahkan jika disuruh memilih mungkin dia akan lebih memilih Soon Young sebagai adiknya dari pada, ekhem … Chang Kyun. Bus yang dinantinya sudah tiba. Joo Heon bangkit dari duduknya, kemudian beranjak memasuki bus. Tapi suara Soon Young membuatnya terhenti. “Hyung!” “Apa?” Soon Young menggaruk belakang kepalanya sebelum berucap. “Sebenarnya aku mau mengatakannya tadi, tapi aku lupa.” “Apa? Cepat katakan!” Baiklah habis sudah kesabaran Joo Heon, ia harus merelakan busnya hanya untuk menunggu ucapan Soon Young yang sialnya membuat dia penasaran. “Tadi aku melihat Chang Kyun berbicara dengan Kim bersaudara.” “Lalu? Memang apa salahnya?” Menurutnya itu hal yang wajar, kan, jika mereka saling bercakap? “Aish … apa Hyung tidak mengenal siapa Kim bersaudara?” Joo Heon memutar otaknya, mencoba mengingat. Kim bersaudara? Memang siapa mereka? Marga Kim, kan ada banyak. Tunggu, jangan-jangan! Soon Young yang melihat ekspresi terkejut Joo Heon langsung menjawab. “Benar. Dan mungkin adikmu itu dalam bahaya sekarang.” “What the f**k! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Joo Heon membulatkan matanya secara sempurna. Sementara Soon Young hanya mengangkat bahunya acuh. “Aku pikir Hyung tidak akan peduli meski aku mengatakannya.” Tunggu. Joo Heon memang seharusnya tak peduli, kan? Tapi kenapa sekarang ia merasa gelisah? Tanpa mengatakan apa pun, Joo Heon tiba-tiba berlari. Tujuannya hanya satu. Sekolah. “Yak! Hyung, kau mau ke mana?!” panggil Soon Young yang nyatanya tak digubris oleh Joo Heon. Dengan terpaksa, Soon Young ikut berlari menyusul Joo Heon yang entah mengapa sudah hilang dari pandangannya, padahal beberapa detik yang lalu pemuda itu masih berdiri di hadapannya. Apa Joo Heon diam-diam punya kekuatan super? Itulah yang sempat dipikirkan oleh Soon Young. “Hah … hahh … H-hyung … bag-gaimana?” Soon Young sudah mengerahkan semua tenaganya hanya untuk menyusul Joo Heon yang malah mematung di depan pintu gerbang sekolah. “Penjaga bilang dia sudah pulang,” sahut Joo Heon kemudian membalikan tubuhnya menghadap Soon Young yang sedang mengusap peluh di dahinya. “Baiklah, aku pulang. Sampai jumpa,” lanjut Joo Geon, kemudian melangkah meninggalkan Soon Young yang bahkan belum selesai mengatur nafasnya. “Yak! Hyung, tega sekali kau! Aku bahkan rela kehabisan nafas dan kau malah meninggalkan aku begitu saja, aishh!” Percuma saja ia mengumpat, Joo Heon bahkan tak menoleh sedikit pun. #BLIND# Hyun Woo sedang bersantai di depan TV bersama para makanan kesayangannya saat bel berbunyi beberapa kali. Sedikit malas, ia berjalan untuk membukakan pintu. Ayolah, di saat waktu luang seperti ini bahkan untuk berdiri pun ia malas. “Eoh, Chang Kyun! Kau sudah pulang?” Rasa kesal Hyun Woo kini hilang begitu saja setelah tahu siapa yang membunyikan bel rumahnya. Chang Kyun memang selalu memencet bel dahulu sebelum masuk, tidak seperti Joo Heon yang bahkan tidak bersuara sedikit pun saat memasuki rumah. “Ya, Hyung,” sahut Chang Kyun dengan senyum khas. Chang Kyun berjalan melewati Hyun Woo begitu saja. Dan itu aneh, menurut Hyun Woo. “Chang Kyun. Kau baik-baik saja?” tanya Hyun Woo, memegang bahu Chang Kyun yang memang belum seberapa jauh darinya itu. Chang Kyun membalikan badannya, lagi-lagi tersenyum. “Eum, aku baik-baik saja.” Hyun woo tentu tak langsung percaya begitu saja. Bagaimana dia bilang baik-baik saja saat wajahnya saja terlihat pucat. “Tapi wajahmu terlihat pucat,” Hyun woo mengatakan apa yang hatinya katakan. “Aku tidak apa-apa, Hyung. Tidak perlu khawatir, aku hanya sedikit lelah. Kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu,” sahut Chang Kyun, kemudian berbalik untuk melanjutkan langkahnya. Sesaat Hyun woo memperhatikan Chang Kyun yang berjalan pelan di hadapannya. Sekilas ia melihat ada warna merah di leher putih pemuda itu. “Hei, Im Chang Kyun! Kenapa dengan ....” Brukk! Belum selesai Hyun Woo megucapkan kalimatnya saat Chang Kyun tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. “Yak! Im Chang Kyun!” teriak Hyun Woo panik kemudian menghampiri Chang Kyun dan menepuk pipi pemuda itu beberapa kali. Berusaha untuk menyadarkan pemuda itu. “Hyung! Apa yang terjadi?” Joo Heon yang baru saja sampai dan disuguhi pemandangan tersebut berteriak tak kalah panik dari Hyun Woo. “Mana aku tahu! Dia tiba-tiba seperti ini.” Hyun Woo bergegas menggendong Chang Kyun dan membawanya ke dalam kamar. Sementara Joo Heon mengekor di belakangnya. Perlahan, Hyun Woo membaringkan tubuh adiknya itu ke kasur. Tangannya bergerak melepas kancing seragam yang melekat di tubuh Chang Kyun. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Lebam berwarna biru menghiasi kulit Chang Kyun yang putih. “Siapa yang melakukannya?” tanya Hyun Woo entah pada siapa. ‘Sial! Pasti mereka,’ batin Joo Heon. Satu-satunya tersangka yang ada dalam pikiran Joo Heon adalah nama yang sebelumnya disebutkan oleh Soon Young. Dia merasa kesal, namun juga tak habis pikir. Kenapa mereka melakukan hal itu pada Chang Kyun? Apa masalah mereka dengan anak ini? Joo Heon benar-benar merasa kesal saat ini. Benar-benar kesal. #BLIND# “Arghh ...." Rintihan kecil terlontar dari mulut pemuda yang sudah menutup matanya sejak kembali dari sekolah hingga kini pagi menjelang. Chang Kyun meraba tempat yang kini menjadi alasnya tidur itu. Dari semua yang disimpulkannya, ia yakin jika sekarang dia ada di dalam kamarnya. Apa yang terjadi? Kenapa sekarang dia terbangun di atas ranjangnya sendiri? Bukankah tadi … “Eoh, kau sudah sadar?” Hyun Woo yang awalnya tertidur di sofa dalam ruang tersebut akhirnya terbangun begitu mendengar rintihan Chang Kyun. “Hyun Woo Hyung? Mengapa kau ada di sini?” Perlahan Chang Kyun mendudukkan dirinya dan menoleh ke arah sumber suara. Hyun Woo tak menyahut. Ia segera bangkit dari sofa nyamannya dan menghampiri Chang Kyun. Mendudukkan diri di samping Chang Kyun dan angkat bicara. “Apa yang terjadi?” “Maksud Hyung?” Chang Kyun sedikit beringsut mundur kala Hyun Woo mendekatinya. “Ayolah, kau tidak bodoh, kan untuk mengerti apa maksud dari pertanyaanku barusan?” Hyun woo menatap lekat wajah pemuda di sampingnya. “Eoh, ini bukan apa-apa, Hyung. Hanya luka kecil.” “Cih! Apa seperti ini yang namanya luka kecil?” Hyun Woo menggerakkan tangannya untuk menekan perut Chang Kyun, dan tentu saja hal itu membuat Chang Kyun sontak merintih. “Awww ….” Dengan cepat Chang Kyun menepis tangan Hyun woo yang menekan perutnya. “Sekarang katakan padaku, mengapa kau bisa terluka? Siapa yang melakukan ini? Akan aku buat perhitungan dengannya,” tegas Hyun Woo tanpa basa-basi. Bukannya menyahut, Chang Kyun justru menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala. “Kenapa? Jangan diam saja! Jawab aku!” bentak Hyun Woo dengan suara meninggi yang membuat bocah yang empat tahun lebih muda darinya itu semakin menunduk dalam. Chang Kyun menggelengkan kepala dengan cepat. Sepertinya pemuda ini tidak akan berhasil jika mengejar karier sebagai seorang polisi. Karena polisi selalu mengungkap tersangka dari semua kasus yang mereka tangani, namun Chang Kyun sebaliknya. Pemuda itu justru bersikeras melindungi tersangka. “Tidak bisa, Hyung,” lirih Chang Kyun. Melihat hal itu, emosi Hyun Woo jadi sedikit tersulut. Ia lantas berdiri. “Yak! Hanya tinggal mengucapkan nama orang yang merundungmu dan aku yang akan mengurus itu semua, apa susahnya, huh! Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka lagi,” terang Hyun Woo menggebu yang nyatanya tak membuat Chang Kyun untuk membuka mulutnya. “Lagi pula tidak akan merubah apa pun jika aku menceritakannya,” sahut Chang Kyun kini dengan mata berkaca-kaca. Dan itu membuat Hyun Woo mendesah frustasi. “Tapi setidaknya beri tahu aku apa yang terjadi. Jangan menyimpan masalahmu untuk diri sendiri.” “Tidak,” Chang Kyun menggelengkan kepalanya lagi. Rupanya ucapan Hyun Woo tak mampu membuat bocah itu angkat bicara. Hyun Woo mengangguk pasrah. “Baiklah, jika itu maumu. Tapi ingatlah, jika aku selalu ada untukmu.” “Terima kasih, Hyung,” Chang Kyun balas tersenyum. “Baiklah, ayo.” “Ke mana?” “Sudahlah ikut saja, sekarang ganti bajumu dan segera turun. Aku menunggu di bawah,” ucap Hyun Woo kemudian melangkah keluar dari kamar itu. “Baik.” Tak perlu diperintah dua kali, selepas Hyun Woo meninggalkan kamarnya, ia segera beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Sejenak Chang Kyun melupakan apa yang baru saja terjadi. Yah, mungkin karena terlalu bahagia. Ini pertama kalinya Hyun woo mengajaknya keluar. #BLIND# Joo Heon menatap kesal ke arah Hyun Woo yang sedang fokus pada kegiatan menyetirnya. Ingin rasanya ia memukul wajah datar sang kakak, tapi ia juga tak mau ambil resiko mati muda karena mobil yang mereka tumpangi menabrak tiang atau pun pembatas jalan. “Jangan menatapku seperti itu, aku memang tampan.” Suara Hyun woo menginterupsi lamunan Joo Heon. “Heol! Percaya diri sekali kau,” balas Joo Heon ketus. Pemuda itu jadi tambah kesal sekarang. Hyun Woo hanya terkekeh menanggapi sahutan pedas dari adiknya. “Sebenarnya mau ke mana kita?” Joo Heon yang tak bisa menahan rasa penasarannya terpaksa angkat bicara lagi. “Kau juga akan tahu sendiri,” jawab Hyun Woo santai. JooHeon mengerucutkan bibirnya dan menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. Hyung-nya ini memang sok misterius. Kini tatapannya beralih pada pemuda yang duduk di sampingnya. Huh, sebenarnya ia malas duduk di kursi belakang, tapi Hyun Woo melarangnya untuk duduk di sampingnya, mengganggu fokus katanya. Ditatapnya sosok Chang Kyun yang tengah terdiam menikmati semilir angin dari jendela yang sengaja di biarkan terbuka setengah. Senyum manis juga sudah sedari tadi menghiasi bibir tipis itu. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, yang jelas Joo Heon dapat melihat pancaran bahagia dari ekspresi itu. Dan itu menimbulkan perasaan aneh dalam hati Joo Heon sendiri. Seperti senang mungkin? Hei! Apa benar ia senang hanya karena melihat Chang Kyun tersenyum? Heol! Yang benar saja! Argh … entahlah, ia bingung! Joo Heon tanpa sadar memukul kepalanya beberapa kali, mencoba menghilangkan pikiran anehnya. “Okay kids, kita sampai,” ucap Hyun Woo memecah keheningan dan tentu saja membuat Joo Heon menghentikan kegiatan anehnya itu. Mereka segera turun dari mobil tersebut. Hyun Woo membantu Chang Kyun untuk membuka pintu dan menuntunnya, memasuki tempat yang ternyata adalah sebuah rumah pribadi milik keluarga mereka. Rumah itu terletak tak jauh dari pantai. “Ada apa? Kenapa diam? Ayo masuk.” Hyun Woo menatap Joo Heon yang mematung di depan pintu. “Tidak, tidak apa-apa,” jawab Joo Heon, kemudian memperhatikan area sekitarnya. Masih sama seperti dulu. Mereka memasuki bangunan yang bisa dibilang memiliki ukuran cukup besar, mungkin lebih besar dari rumah mereka yang mereka tempati sekarang. “Hyung, kita ada di mana?” Suara Chang Kyun memecah keheningan ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup besar. Ya, itu ruang keluarga. “Rumah,” jawab Hyun woo yang membuat Chang Kyun mengernyitkan dahinya. “Rumah?” Chang Kyun mengulang ucapan Hyun Woo. “Tapi ini bukan di rumah, Hyung,” lanjut Chang Kyun ketika Hyun Woo membawanya untuk duduk di sebuah sofa. Joo Heon yang semula fokus menatap seisi ruangan tersebut berdecak sebal. “Memang ini bukan rumah, setidaknya untukmu. Karena kau memang tak seharusnya di sini,” serentetan kata itu meluncur begitu saja dari mulut Joo Heon yang membuat Chang Kyun maupun Hyun Woo tercengang. “Joo Heon ....” “Sudahlah, Hyung. Aku lelah,” Joo Heon memotong perkataan Hyun Woo dan melangkah pergi begitu saja. “Aish … anak itu, jangan kau pikirkan ucapannya,” Hyun Woo menatap ke arah pemuda di sampingnya, mencoba memastikan ekspresi yang ditampilkannya. Chang Kyun tersenyum. “Tidak apa-apa, Hyung. Joo Heon Hyung sepenuhnya benar. Memang tak seharusnya aku ada di sini.” Hyun Woo menatap lekat wajah Chang Kyun yang tengah menunduk sembari memainkan ujung kaus yang dipakainya. Dielusnya bahu pemuda itu pelan. “Ayo, akan aku antarkan kau ke kamarmu. Di sana sudah ada beberapa baju milikku, kau bisa memakainya meskipun sedikit kebesaran mungkin.” Chang Kyun mengangguk dan ikut berdiri begitu Hyun Woo menarik lengannya. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN