BLIND-TWENTY TWO

1793 Kata
Aroma ini, suara ini. Dia menyukainya. Menenangkan dan nyaman, seperti tidak ada beban di setiap alunan suaranya. “Bagaimana? Kau menyukainya?” tanya Hyun Woo yang mendudukkan diri di samping Chang Kyun. “Iya ....” Chang Kyun menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Baguslah. Jika kau senang, maka aku juga senang,” ujar Hyun Woo sembari memainkan pasir dengan kaki telanjangnya. “Eum, Hyung.” “Ya?” “Di mana Joo Heon Hyung?” Pasalnya sejak kejadian tadi pagi sampai sekarang, Chang Kyun sama sekali tak mendapati keberadaan Joo Heon sama sekali. “Oh, dia sedang di dalam mencari bola.” “Bola?” Hyun Woo tersenyum. “Yah, jika kita datang ke sini, kita akan bermain voli pantai hingga saat matahari terbenam. Setelahnya kita akan menikmati sunset sambil duduk,” terangnya. ‘Ahh … pasti indah,’ Chang Kyun hanya menyuarakannya dalan hati. “Hyung, ayo!” seru Joo Heon dari kejauhan dengan sebuah bola voli di tangannya. Hyun Woo tampak berfikir sejenak, dipandangnya Chang Kyun yang masih setia dengan diamnya seakan tengah menikmati dunianya sendiri. “Tak apa, Hyung. Pergilah bersama Joo Heon Hyung. Aku akan menunggumu di sini, bersenang-senanglah,” ujar Chang Kyun menyadari Hyun Woo masih duduk di tempatnya. “Baiklah, tetaplah di sini, jangan ke mana-mana. Setelah ini mari kita lihat matahari terbenam bersama,” balas Hyun Woo kemudian menepuk bahu Chang Kyun pelan sebelum berlari ke arah Joo Heon yang sudah tak sabar menantinya. Chang Kyun hanya bisa tersenyum saat mendengar tawa di antara dua Hyung-nya yang sedang larut dengan permainannya. Omong-omong ini kali pertamanya dia bisa pergi bersama keluarga di hari libur. Itupun tanpa Nyonya Lee, karena dia tetap sibuk bahkan di saat akhir pekan. Suatu perkembangan luar biasa bagi Chang Kyun, di saat Nyonya Lee benar-benar membuka hati untuknya setelah lebih dari sepuluh tahun dia menanti dengan sabar. Hati manusia memang sulit ditebak. Tidak ada yang benar-benar memahaminya, kecuali si pemilik hati itu sendiri dan tentu saja Sang Pencipta. #BLIND# “Aigoo, lelahnya.” Hyun Woo menjatuhkan bokongnya di samping kanan Chang Kyun dan hal itu juga diikuti oleh Joo Heon yang menempatkan diri di samping kanan Hyun Woo. “Eoh, apa sudah selesai?” “Begitulah,” sahut Hyun Woo sembari mengelap peluh di dahinya. “Apa itu artinya sebentar lagi matahari akan tenggelam?” Chang Kyun menoleh ke arah kanannya. “Iya.” “Apakah di saat matahari terbenam itu memang indah? Temanku bilang matahari akan jadi sangat indah di saat ia akan terbenam.” “Benar sekali, sangat indah. Kau ingin melihatnya?” Setelah mengucapkan kalimat tanya tersebut, Hyun Woo segera menampar mulutnya sendiri. Bodoh memang menanyakan hal demikian pada orang yang bahkan hampir lupa seperti apa rupa dunia. Joo Heon yang hanya sebagai penonton bahkan mengatai Hyun Woo gila melalui gerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Chang Kyun menggelengkan kepala. “Kenapa?” Pertanyaan itu muncul dari mulut Joo Heon secara spontan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. “Aku tidak mau melihatnya, karena dia indah hanya sebentar dan kemudian pergi dengan meninggalkan malam yang gelap,” sahut Chang Kyun kemudian tersenyum. “Bukankah di saat malam masih ada cahaya bulan? Itu juga bersinar dan indah.” Baiklah, sepertinya Joo Heon sudah tidak bisa mengontrol mulutnya. Padahal pertanyaan itu seharusnya ia simpan di hati saja. Kini Hyun Woo balas mengejeknya. Joo Heon hendak memukul kepala Hyung kesayangannya itu namun Hyun Woo sudah lebih dulu berlari memasuki rumah dan meninggalkan dirinya bersama Chang Kyun. Memilih untuk mengabaikan Hyun Woo, Joo Heon mengalihkan pendengarannya dengan suara Chang Kyun. “Memang, tapi bukankah bulan juga hanya bersinar indah di saat malam purnama saja?” Joo Heon mengernyitkan dahinya dan memandang ke arah Chang Kyun. Sebenarnya ia kesal karena jawaban Chang Kyun. “Dan kau benci keindahan?” Pertanyaan itu disambut dengan kekehan pelan oleh Chang Kyun. “Tidak, aku tidak membenci keindahan, Hyung. Aku hanya tidak mau terlena dalam keindahan itu, hingga lupa bahwa nyatanya keindahan itu hanya sementara.” Baiklah, kali ini Joo Heon diam dengan jawaban itu. Ia tidak bisa menyalahkan Chang Kyun dengan jawaban yang diutarakannya. Joo Heon beralih memandang ke arah di mana matahari mulai menyembunyikan dirinya dan akan kembali muncul esok. Sesekali ia juga melirik pemuda di sampingnya, memperhatikan bagaimana ekspresi yang ditampilkan. Dan Chang Kyun tersenyum, entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu, yang pasti Joo Heon tahu jika senyum itu bukan senyum bahagia. Ah, kenapa sekarang dia jadi peka seperti ini? “Ayo.” Joo Heon meraih pergelangan tangan Chang Kyun dan sedikit menariknya agar berdiri. Chang Kyun tentu saja agak terkejut dengan perlakuan Joo Heon, namun dia lebih memilih untuk mengabaikannya dan mengikuti langkah Joo Heon dengan bersemangat. “Hyung, apa kau mulai membuka hatimu untukku? Hm, aku harap sudah,” gumam Chang Kyun sangat pelan, bahkan suara itu tertelan oleh deburan ombak. #BLIND# “Sungguh?” “…..” “Hahaha … Daebak! Kau sungguh hebat, tidak sia-sia aku punya teman sepertimu yang bisa diandalkan.” Tawa pemuda itu menggema di lorong tersebut. Hatinya sedang senang saat ini. “Min Hyuk!” Pemuda itu menoleh kala namanya diteriaki oleh seseorang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. “Eoh, kalau begitu selamat bersenang-senang. Aku akan meminta bantuanmu lagi nanti.” Min Hyuk segera memutuskan panggilannya dan menoleh ke arah suara. “Eoh, ada apa?” Min Hyuk terlihat bingung saat Kihyun mendatanginya dengan tatapan seperti itu, perasaannya sudah tidak enak. “Yak! Ke mana saja kau? Mengapa tidak ikut jam olahraga? Cha Seonsaengnim mencarimu tadi.” Ah … benar, Kihyun sedang mengenakan seragam olahraga sekarang. Mendengar hal tersebut, Min Hyuk terkekeh sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. “Eiy … seperti kau tak tahu aku saja. Aku benci olahraga, jadi untuk apa aku mengikutinya?” ungkap Min Hyuk diikuti ekspresi tanpa dosa. Kihyun memukul bagian belakang kepala sahabatnya itu pelan namun tetap menghasilkan ringisan dari sang empunya. “Bodoh! Jika kau seperti ini terus, maka nilaimu akan kosong. Ingatlah, sebentar lagi kita lulus, apa kau mau masuk universitas dengan nilai seperti itu?” Min Hyuk lagi-lagi terkekeh. “Aigoo, senangnya diperhatikan.” Kihyun mendegus kesal. Benar-benar ya, kawan yang satu ini, selalu saja santai dalam keadaan apa pun. “Baiklah, aku akan mengambil nilai dipertemuan minggu depan. Kau puas?” ujar Min Hyuk saat Kihyun menatap horor ke arahnya. “Sekarang ayo kita ke atap. Aku mau makan beberapa snack dan s**u pisang,” lanjut Min Hyuk kemudian merangkul bahu Kihyun. “Yak! Kau mau bolos lagi, huh?” teriak Kihyun namun tak menolak ketika Min Hyuk menariknya ke tempat yang dimaksud. Sekali-sekali bolos tak apa, kan? #BLIND# Dan di sinilah mereka, duduk di atas bangku yang memang sudah tersedia di atap sekolah. Dengan beberapa snack yang sengaja dibeli Min Hyuk tadi sebelum mereka menuju tempat itu. “Ah … sungguh aku pasti akan merindukan tempat ini setelah kita lulus nanti,” Kihyun menghela napasnya dengan pandangan lurus. Hal yang biasa ia lakukan ketika berada di atap sekolah. “Eum, pwashthi (pasti) ….” Balas Min Hyuk dengan mulut penuh sandwich. “Aish … telan dulu jika kau ingin bicara, menyebalkan.” Mendengar hal tersebut, Min Hyuk segera menelan makanan di mulutnya dengan cepat dan tertawa. “Ayolah, kau akan merindukan sekolah ini atau Chang Kyun?” Kihyun mengangkat sebelah alisnya lantas menoleh ke arah sahabatnya itu. “Apa maksudmu?” “Bukan apa-apa.” Memilih untuk tidak menyahut, Mi Hyuk kini menatap lurus ke depan seperti yang dilakukan oleh Kihyun tadi. “Ya, mungkin kau benar. Aku akan merindukannya juga,” Kihyun berucap lagi. “Kihyun.” Kihyun menoleh untuk menatap wajah Min Hyuk yang masih setia dengan posisinya. “Kenapa?” “Boleh aku bertanya?” Kihyun memutar matanya malas. Ayolah, mengapa Lee Min Hyuk jadi sok serius seperti ini? “Tentang apa? Katakan saja, tidak usah sungkan. Bahkan jika aku tidak mau menjawab sekalipun, kau akan memaksa.” Min Hyuk terkekeh mendegar jawaban sarkas Kihyun. “Apa yang membuatmu tertarik dengan bocah itu?” Pukk! Kihyun mendaratkan satu pukulan ringan di belakang kepalanya. “Yak! Sudah aku bilang, berhenti memanggilnya bocah. Dia punya nama!” Satu tarikan nafas diambil oleh Kihyun sebelum menjawab pertanyaan dari pemuda di sampingnya yang kini sudah beralih menatap dirinya, menanti jawaban. Helaan nafas terdengar. “Entahlah, hanya saja setiap aku melihat ke arah Chang Kyun, aku teringat dengannya.” Tepat sekali. Seperti yang diduganya, Kihyun terjerumus ke dalam masa lalunya. “Kau … mengapa kau masih mengingatnya?” Min Hyuk berucap terbata. Kini Kihyun menaikan sebelah alisnya. “Kenapa? Apa maksudmu bertanya seperti itu? Bahkan sampai sekarang pun aku tidak pernah menghilangkan dia dari ingatanku.” “Ck … dia sudah mati. Untuk apa diingat.” Min Hyuk berucap remeh dan kembali mengalihkan pandangannya. Mendengar kalimat yang terlontar begitu mudah dari orang yang sudah menjadi sahabatnya sejak kanak-kanak itu sontak membuat Kihyun terkejut. “M-Min Hyuk! Jaga ucapanmu, dia teman kita. Mengapa kau berkata seolah kematiannya bukanlah suatu hal yang penting?” suara Kihyun sedikit bergetar. Lain halnya dengan Min Hyuk yang kini malah tertawa namun terdengar sarkas. “Teman kita? Yang benar saja. Apa kau tidak sadar jika kau selalu mengacuhkan aku di saat dia ada?” kalimat itu meluncur dari mulut Min Hyuk dengan gamblangnya. Kembali terkejut, itu yang dirasakan Kihyun. Apakah dia benar Lee Min Hyuk sahabatnya? “Hei, aku tidak pernah bermaksud begitu. Mana mungkin aku mengacuhkan sahabatku sendiri?” Kihyun tak tahu jika sahabatnya akan mengatakan hal sedemikian rupa. “Nyatanya begitu ... tapi sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Semua sudah berlalu, jadi lupakan saja dan jalani pertemanan ini seperti biasa,” balas Min Hyuk dingin. “Min Hyuk. Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini?” Kihyun menepuk bahu Min Hyuk pelan namun segera ditepis oleh Min Hyuk sendiri. “Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya takut jika kau akan meninggalkan aku lagi karena orang yang bahkan belum lama kau kenal hanya karena dia mengingatkanmu pada Yoongi,” Min Hyuk menatap mata Kihyun sendu. Kihyun beberapa saat bungkam dan balas menatap netra kawannya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. “Aku tahu, aku yang salah di sini. Memberi perhatian pada Chang Kyun hanya karena dia mengingatkan aku pada Yoongi. Tapi apa juga salah jika aku mencoba untuk menebus kesalahan di masa lalu melalui Chang Kyun?” “Aku … aku hanya tidak ingin apa yang terjadi pada Yoongi juga terjadi padanya,” lanjut Kihyun degan suara berat. Di lain sisi Min Hyuk menghela napas dengan kasar. “Baiklah, itu terserah padamu dan kali ini aku tidak mau ikut campur dengan kawan cacatmu lagi. Dan aku harap kau masih bisa paham di mana batasanmu, karena bocah itu juga masih punya orang lain di sisinya.” Min Hyuk bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Kihyun yang masih setia menatap pemandangan di hadapannya. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN