Suasana aula SMA Monggi cukup ramai. Terbukti dengan adanya banyak siswa yang berdiri mengelilingi area papan pengumuman dan sibuk berebut tempat untuk jadi yang terdepan.
“Woah … bukankah ini akan menyenangkan?” ucap Doyoung dengan raut berseri.
“Apa yang akan menyenangkan?” Chang Kyun yang sedari tadi menggenggam tangan Doyoung berujar heran, pasalnya yang sedari tadi diketahuinya hanyalah suara-suara para siswa yang simpang siur di telinganya dan itu cukup membuat Chang Kyun terganggu dan tidak fokus dengan apa yang terjadi apalagi mereka berdesakan seperti ini.
Doyoung yang segera menyadari kebingungan sahabatnya itu segera menarik lengan Chang Kyun dan membawanya ke tempat yang sekiranya tidak seramai aula.
“Kau tahu?” Doyoung menepuk bahu Chang Kyun dengan semangat.
“Tidak,” sahut Chang Kyun sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya! Aku belum selesai bicara,” Doyoung hampir saja memukul kepala sahabatnya sebelum akhirnya tersadar dan kembali berucap riang.
“Sekolah kita akan mengadakan perkemahan di awal musim panas ini. Ah … membayangkan indahnya api unggun saja sudah membuatku tak sabar untuk mengikutinya,” tutur Doyoung antusias dengan ekspresi menerawang jauh.
Chang Kyun mengangguk menanggapi ucapan kawannya. Tak berselang lama ia buka suara.
“Apa itu wajib?”
“Maksudmu?”
“Perkemahan itu. Apa semua siswa wajib ikut?”
Doyoung nampak berfikir sejenak, ia sendiri lupa apakah itu wajib atau tidak karena ia bahkan tak membaca hingga akhir isi pengumuman tersebut karena terlalu bersemangat begitu membaca kata ‘PERKEMAHAN’ tercetak tebal di situ, ia langsung bersorak senang.
“Ah … sebentar aku lihat dulu.”
Chang Kyun bahkan belum sempat mengutarakan kalimatnya saat genggaman Doyoung terlepas dari tangannya dan terdengar langkah pemuda itu menjauh darinya.
“Ah … dia benar-benar bersemangat sepertinya,” gumam Chang Kyun.
“Chang Kyun! Kegiatan itu tidak wajib diikuti oleh semua, hanya yang berminat saja karena acara itu dilakukan saat liburan musim panas berlangsung,” terang Doyoung sekembalinya ia dari depan papan pengumuman.
Chang Kyun menganggukkan kepala.
“Apa kau akan mengikutinya?”
Tanpa berpikir dua kali pun Doyoung langsung mengangguk pasti.
“Tentu saja karena aku sangat menyukai kegiatan outdoor semacam berkemah, mendaki dan lainnya. Semuanya menyenangkan,” sahut pemuda itu dengan semangat menggebu.
Memang benar adanya, dia memang sosok orang pemuja keindahan alam dan menyukai segala sesuatu yang berbau hutan maupun alam liar. Yah, walaupun ia tak sepenuhnya berani jika benar-benar di alam liar. Tapi intinya dia suka alam.
Doyoung menatap pemuda di sampingnya yang lebih banyak diam dan terkesan tidak tertarik dengan yang dibicarakannya.
“Bagaimana? Apa kau juga akan ikut?” tanya Doyoung pada akhirnya.
Dan Chang Kyun tersenyum kemudian menggeleng.
“Entahlah. Aku belum tahu, karena aku sendiri belum pernah ikut kegiatan semacam itu.”
Tentu saja Doyoung paham dengan keadaan kawannya itu. Dan ia tak memaksa jika dia tak mau ikut dengan kegiatan perkemahan yang mungkin sedikit beresiko untuk orang spesial seperti Chang Kyun. Dan ia tak mau jika hal yang tidak diinginkan pada kawannya.
“Baiklah, aku tidak memaksa jika kau tak mau ikut, itu hakmu,” tukas Doyoung kemudian merangkul bahu Chang Kyun.
“Eum, terima kasih.”
“Ayo, aku sudah lapar. Bagaimana jika kita pergi ke kantin?”
“Baiklah.”
Keduanya berjalan beriringan dengan lengan Doyoung yang setia melingkar di bahu kecil Chang Kyun.
Sementara itu di lain sisi sepasang netra tengah menatap tajam di balik punggung keduanya.
“Menyebalkan,” desis pemuda itu yang kemudian berlalu.
#BLIND#
Pagi yang cerah dengan udara menyeruak ke dalam penciuman seorang pemuda yang tengah berdiri menatap ke luar jendela.
Dilihatnya beberapa burung tengah bertengger dengan nyaman di ranting pohon yang tepat berada di depan jendela tersebut. Bahkan burung-burung itu seakan tak terusik dengan keberadaan dirinya yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Sementara matanya tertuju pada makhluk indah di hadapannya, lain hal dengan pikirannya yang tengah berlabuh ke berbagai hal.
Akhir-akhir ini ia mulai berpikir akan sesuatu. Tentang apa yang seharusnya ia lakukan sekarang. Haruskah ia berubah? Melupakan yang lalu dan memulai semua dari awal.
Jujur ia ingin melakukannya, tapi di lain sisi dari hatinya menolak. Ia tahu jika semua yang dilakukannya salah namun dengan bodohnya ia masih tetap melakukan lagi dan lagi.
Cklek!
Ia menoleh begitu mendengar bunyi pintu kamarnya dibuka oleh seseorang dari luar.
“Hyung,” sapanya setelah tahu siapa orang tersebut kemudian kembali mengalihkan tatapannya seperti semula.
Hyun Woo menatap sekilas ke arah Joo Heon sebelum akhirnya berjalan menuju lemari pakaian sang Dongsaeng dan membukanya.
“Joo Heon! Boleh aku pinjam hoodie warna birumu? Aku ada acara dengan temanku pagi ini, semua hoodie-ku kotor,” ujar Hyun Woo sembari membuka lemari tersebut dan mulai mencari.
“Hmm.”
Merasa ada yang berbeda dengan adiknya, Hyun Woo melangkah mendekat dan mensejajarkan diri di samping Joo Heon dan melupakan niat awalnya. Melakukan hal sama yang dilakukan Joo Heon sejak awal.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
Merasa kurang puas dengan jawaban yang dilontarkan Joo Heon, Hyun Woo kembali bertanya.
“Lalu mengapa kau berdiri di sini? Bukankah biasanya kau akan pergi latihan bersama klub-mu di hari minggu seperti ini?”
“Ya, tapi hari ini kami tidak karena kami diberi satu hari bebas pasca kemenangan kemarin.”
Hyun Woo mengangguk mendengar jawaban dari adiknya.
“Apa ada hal yang kau pikirkan? Aku lihat kau melamun tadi,” tanya Hyun Woo lagi.
Joo Heon menggeleng.
“Tidak ada yang sedang aku pikirkan, Hyung.”
Bohong. Hyun Woo tahu itu. Joo Heon itu bocah ekspresif. Ia selalu menampilkan ekspresi dari setiap suasana hatinya bukan Chang Kyun yang selalu menutupi segala perasaannya dengan senyum dan mengatakan jika dia baik-baik saja.
“Katakan saja, apa kau tidak mempercayai kakakmu ini?” pancing Hyun Woo.
Joo Heon terlihat menghela nafas, nampak menimbang akan apa yang ingin disampaikan.
“Tentu aku mempercayaimu, Hyung. Hanya saja ….” suara Joo Heon terhenti.
“Hanya saja apa?” Hyun Woo mencoba bersabar untuk tidak mendesak karena ia tahu adiknya yang ini pasti akan mengatakannya tanpa harus dipaksa.
Joo Heon membalikan badannya dan langsung memeluk Hyun Woo, menyembunyikan wajahnya di balik d**a bidang milik Hyun Woo. Sedangkan Hyun Woo mundur selangkah karena tidak siap dengan tubuh Joo Heon yang hampir sama besarnya dengan tubuhnya memeluk dengan tiba-tiba.
“Ada apa?” dengan lembut Hyun Woo balas memeluk Joo Heon yang dengan manjanya mengusak rambut di baju yang ia kenakan.
Joo Heon menggeleng dalam dekapannya.
“Aku rindu Appa,” lirih Joo Heon, namun masih terdengar oleh pendengaran Hyun Woo karena suasana ruangan tersebut memang sedang senyap.
Mendengar pengakuan tersebut, membuat Hyun Woo terpaku. Tidak tahu harus menjawab apa.
Ia menghela nafas.
“Aku juga,” sahut Hyun Woo setelahnya.
“Hyung.”
“Ada apa?”
“Apa dia juga merindukan kita?”
“Entahlah,” jawab Hyun Woo diikuti dengan gelengan lemah. Jujur ia tidak suka dengan alur pembicaraan ini.
“Aku heran mengapa Appa meninggalkan kita? Padahal aku tidak pernah nakal, bahkan dulu aku selalu berusaha mematuhinya. Aku juga rajin berlatih agar bisa menjadi atlet seperti yang dia inginkan.”
Melepaskan pelukannya pada Hyun Woo, Joo Heon kembali menatap keluar jendela.
“Ini semua karena dia.”
Hyun Woo menatap ke arah adiknya yang malah asik memperhatikan burung-burung di luar sana.
“Aku sungguh tidak mengerti, apakah kita ini masih kurang membuatnya bangga hingga ia membawa orang asing di dalam keluarga ini? Dan setelah itu dengan seenaknya ia pergi meninggalkan kita oleh sebab melindungi anak itu,” lanjut Joo Heon.
“Hei apa maksudmu berkata begitu? Itu tidak benar.” Kali ini Hyun Woo menyangkal.
“Cih! Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu, Hyung. Kecelakaan itu … Appa pasti selamat jika saja ia tidak menggunakan tubuhnya untuk melindungi bocah itu, kan?”
“Joo Heon ....” Hyun Woo menarik lengan Joo Heon hingga pemuda itu menghadap ke arahnya.
Bisa dilihat mata bocah itu menatapnya dengan sendu dan terdapat genangan air di setiap sudutnya.
“Ini sudah hampir sepuluh tahun kejadian itu berlalu, dan sudah seharusnya kita melupakan semuanya. Meskipun aku tahu itu sulit, tapi bukan hal benar juga jika menyalahkan orang lain dalam hal ini. Karena terlepas dari semua itu adalah takdir, kau tahu kan tak ada manusia di dunia ini yang bisa melawan takdir dari-Nya?” Diulurkan tangan kekar itu dan mendarat di bahu Joo Heon.
“Dengar, aku tahu jika Appa meninggalkan kita karena melindungi Chang Kyun. Tapi bukanlah hal yang tepat juga jika kita menyalahkan anak itu, karena bahkan ia sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi.”
Terdengar tawa getir terlontar dari mulut Joo Heon.
“Hyung, kau pikir aku tidak memiliki pemikiran begitu? Aku sering melakukannya ‘oh, itu semua takdir, aku tak boleh menyalahkannya, terima saja dia sebagai adikmu, sayangi dia dan buat hubungan selayaknya adik dan kakak’ dan itu semua akan lenyap seketika saat aku mengingat fakta bahwa Appa pergi karenanya.”
Ia menarik napasnya dalam.
“Aku tahu semua yang kulakukan selama ini salah. Dan yang kau katakan tadi ada benarnya. Tapi apa salah jika aku menginginkan Appa kembali? Setidaknya buat dia memenuhi janjinya dulu, dia bilang akan kembali dan membelikan aku sebuah sepatu. Dia bilang ingin melihatku berlari di lapangan dengan itu, tapi mengapa dia malah pergi tanpa mengucapkan sekedar kata pamit?”
Satu tetes air mata berhasil lolos dari sudut mata Joo Heon.
Menyadari hal tersebut, Hyun woo lantas menarik Joo Heon kembali dalam dekapannya. Ia tahu bahwa Dongsaeng-nya ini hanya sedang rindu dengan sosok sang ayah yang hanya dapat mereka temui dalam waktu yang singkat.
“Aku benci dengan dia … hiks … karenanya Appa pergi, karenanya keluarga kita tidak utuh lagi, karenanya sekarang Eomma harus bekerja keras sendiri … dan sekarang dia juga akan mengambil Eomma dari kita … hiks … menyebalkan ….” Rancau Joo Heon sembari mengeratkan dekapannya pada tubuh Hyun woo.
“Hei, jangan begitu ….”
Belum sempat Hyun Woo melanjutkan kalimatnya, kini pandangannya tertuju ke arah pintu kamar yang terbuka. Matanya membulat seketika saat tahu sosok itu berdiri diam di sana. Mematung dengan tangan memainkan ujung kaos yang dikenakannya.
“Chang Kyun ....” lirih Hyun Woo.
Mendengar sebuah nama disebut, Joo Heon mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah pandangan sang kakak.
“Maaf ...” Chang Kyun buru-buru berbalik meninggalkan keduanya yang masih mematung.
“Chang Kyun, tunggu sebentar.”
Hyun Woo lantas melepas pelukannya pada Joo Heon dan berlari kecil menyusul Chang Kyun yang mungkin masih terkejut dengan pembicaraan mereka. Memang sebuah kecerobohan darinya karena ia lupa menutup kembali pintu kamar Joo Heon saat ia masuk tadi. Bisa dipastikan Chang Kyun mendengar semua yang mereka katakan, mengingat kemampuan mendengar Chang Kyun yang melebihi orang pada umumnya.
Sementara itu Joo Heon hanya tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Hyun Woo.
“Tapi aku lebih membenci diriku sendiri.”
#BLIND#