Sehelai kertas tergenggam erat di tangan mungil Chang Kyun. Beberapa kali ia mengusap kertas tersebut kemudian mengibaskannya dengan lembut. Begitulah yang dia lakukan dan mengulanginya beberapa kali.
Bila kalian bertanya itu apa?
Kurasa kalian sudah tahu. Ya, itu tiket pemberian dari Kihyun beberapa minggu lalu yang masih disimpan degan baik oleh Chang Kyun. Dan dua hari lagi adalah waktu dimana Kihyun akan tampil dengan pianonya.
Tentu saja Chang Kyun sangat senang saat Kihyun memberinya kesempatan untuk menyaksikan kebolehannya dalam bermain piano. Apalagi Kihyun lah orang pertama yang membuat Chang Kyun tertarik dengan jajaran tuts berwarna hitam itu, meski jujur dulu ia juga bisa memainkan alat tersebut. Namun baru kali ini dia mau serius dalam memainkannya.
Yang menjadi masalah sekarang adalah dengan siapa ia akan pergi?
Karena yang ia tahu hanya nama tempat dan waktu dimana Kihyun akan tampil. Selebihnya dia tak mengerti, apa lagi ini kali pertamanya mendapatkan undangan semacam itu.
“Bagaimana ini?” gumam Chang Kyun.
Apakah sebaiknya ia meminta bantuan Hyun Woo saja? Atau Joo Heon?
Ah ... sepertinya pilihan pertama adalah yang paling memungkinkan. Meskipun kemungkinan ditolak juga besar
Dengan senyum pasti, Chang Kyun beranjak dari ranjang yang ia duduki dan berjalan menuju kamar Hyun Woo.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Hyun Woo baru saja melenggang keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Joo Heon. Dengan t-shirt putih dan celana jeans hitamnya, sudah bisa ditebak jika ia akan bepergian. Alasan ia menuju kamar Joo Heon tidak lain dan tidak bukan tentu saja meminjam hoodie koleksi adiknya. Mengingat tubuh mereka nyaris sama besarnya, jadi jika soal pakaian mereka bisa berbagi.
Sudah beberapa kali Chang Kyun mengetuk pintu itu, namun si pemilik tak kunjung membukanya. Ia berpendapat jika mungkin Hyun woo masih tertidur, karena ia juga tahu betapa sibuknya sang kakak sebagai seorang mahasiswa. Dengan berat hati, ia melangkah meninggalkan kamar Hyun Woo dan memutuskan kembali ke kamarnya.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara orang yang tengah berbincang. Ia yakin jika satu di antaranya adalah Hyun Woo. Maka ia memutuskan untuk menuju ruang tersebut yang tak lain adalah kamar Joo Heon dengan letak tepat di sisi kanan kamar Hyun Woo.
“Aku heran mengapa Appa meninggalkan kita? Padahal aku tidak pernah nakal, bahkan dulu aku selalu berusaha mematuhinya. Aku juga rajin berlatih agar bisa menjadi atlet seperti yang dia inginkan.”
“Ini semua karena dia.”
Itu suara Joo Heon dan terdengar serak di telinga Chang Kyun.
“Karena aku?” lirih Chang Kyun.
Chang Kyun terdiam di posisinya dan menajamkan pendengaran.
“Aku sungguh tak mengerti, apakah kita ini masih kurang membuatnya bangga hingga ia membawa orang asing di dalam keluarga ini? Dan setelah itu dengan seenaknya ia pergi meninggalkan kita oleh sebab melindungi anak itu.”
“Aku benci dengan dia… hiks… karenanya Appa pergi, karenanya keluarga kita tidak utuh lagi, karenanya sekarang Eomma harus bekerja keras sendiri… dan sekarang dia juga akan mengambil Eomma dari kita… hiks… menyebalkan…”
Dada Chang Kyun benar-benar sesak mendengar penuturan dari mulut Joo Heon. Bahkan bisa dipastikan bahwa air mata sudah menggenang kedua kelopak matanya. Ya, semua yang dituturkan oleh bocah itu memang benar adanya. Tapi mendengarnya langsung dari mulut Joo Heon membuatnya merasakan sesak berkali lipat. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha agar air matanya tidak terjatuh.
“Chang Kyun …”
Tubuh Chang Kyun tersentak begitu mendengar namanya disebut. Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Itu suara Hyun Woo dan pasti Hyun Woo sedang berjalan ke arahnya.
“Maaf .…” lirih Chang Kyun kemudian berbalik dengan tergesa dan berusaha menjauh dari tempat tersebut. Diusapnya air mata yang ternyata sudah lolos begitu saja dan sedikit berlari kecil tanpa peduli dengan suara Hyun Woo yang terus memanggilnya.
“Chang Kyun, tunggu sebentar.”
Hyun Woo dengan sigap menarik lengan Chang Kyun tepat sebelum bocah itu memasuki kamarnya dan menariknya hingga mereka saling berhadapan. Hatinya berdenyut saat melihat air mata mengalir di kedua pipi mulusnya.
“Maaf,” ujar Chang Kyun lirih dengan kepala menunduk.
Dengan lembut, Hyun Woo tangan mengusap kepala Chang Kyun dan bergerak turun untuk menghapus air mata di pipi Dongsaeng-nya. Namun belum hal itu belum selesai sempurna, Chang Kyun sudah menepis tangannya dengan lembut.
Dan dengan tangannya sendiri, Chang Kyun menghapus jejak air matanya.
“Tidak apa-apa, Hyung,” ujar Chang Kyun yang kemudian senyum.
“Tidak, apa yang kau dengar tadi bukan seperti yang kau pikirkan, itu tidak benar,” Hyun Woo menahan lengan Chang Kyun yang hendak memasuki kamarnya.
Lagi-lagi ia tersenyum. “Apanya yang tidak benar, Hyung?”
“I-itu ... apa yang tadi kau dengar di kamar Joo Heon,” tanpa sadar Hyun Woo sedikit tergagap saat melihat Chang Kyun tersenyum sedangkan jelas-jelas air mata masih menumpuk di pelupuk mata.
Kali ini tangan Chang Kyun bergerak untuk menghapus air matanya dan melepas genggaman Hyun Woo secara perlahan.
Chang Kyun menggeleng.
“Tidak ada yang salah dari apa yang kudengar dan dari apa yang Joo Heon Hyung katakan. Aku memang sudah merusak keutuhan dari keluarga ini. Membuat Appa pergi dari kalian. Aku adalah penghancur di sini, Hyung.”
Mendengar penuturan meluncur dari mulut Chang Kyun. Hyun Woo hanya bisa bungkam apa lagi melihat ekspresi datar yang sekarang ditunjukkan dari wajah yang biasanya dihiasi senyum itu. Dan itu membuatnya merasa risau.
“Aku minta maaf, Hyung. Maaf karena aku sudah hadir di antara kalian. Aku tidak tahu jika keegoisanku waktu kecil akan membawa dampak besar di masa sekarang. Jika aku tahu seperti ini akhirnya, lebih baik aku menolak saat Appa membawaku ke sini dan berada di antara kalian. Maaf….”
Setelah mengatakan hal itu, Chang Kyun segera memasuki kamarnya dan mengunci dari dalam meninggalkan sosok Hyun Woo yang mematung di depan pintu.
“Argh! Sial!” Hyun Woo mengacak rambutnya frustasi.
Mengapa tiba-tiba jadi rumit seperti ini? Padahal sepertinya baru kemarin keluarga itu terlihat hangat dan baik-baik saja. Eomma-nya yang sudah tidak berbicara kasar lagi pada adik terkecilnya itu dan bahkan beliau menyiapkan bekal untuknya. Dan akhir-akhir ini ia juga sudah sering melihat senyum Chang Kyun yang sesungguhnya, karena menurut Hyun Woo selama ini senyum Chang Kyun itu palsu, hanya untuk menutupi kesedihan bocah itu saja.
Tapi kenapa di saat seperti itu, malah hal yang tak seharusnya didengar malah sampai di telinga bocah itu. Ia yakin hatinya pasti terluka.
Tubuh Chang Kyun merosot begitu saja setelah ia mengunci pintu tersebut. Tak bisa dicegah lagi ketika air mata benar-benar deras mengalir.
Kata-kata Joo Heon kembali tergiang di telinganya dan terus terulang bagai kaset rusak.
Perusak. Penghancur. Penyebab perginya Tuan Lee. Membuat Nyonya Lee dalam kesusahan. Dan sekarang merebut Nyonya Lee.
Rasa sesal merasuk dalam jiwanya. Ingatan saat pertemuan pertamanya dengan Tuan Lee hingga berakhir dengan menjadi bagian dari keluarga bahagia itu kembali terlintas di fikirannya. Andai saja dulu dia menolak tawaran dari sang dermawan itu mungkin semua akan baik-baik saja sekarang. Tidak akan ada yang namanya Lee Junki, Lee Yoona, Lee Hyun Woo, dan Lee Joo Heon di hidupnya. Bahkan keluarga.
Mungkin sekarang ia hanya akan menjadi seorang Im Chang Kyun. Bocah yatim piatu yang orang tuanya tewas karena perampokan dan tidak memiliki sanak saudara dan tinggal di sebuah panti asuhan kecil di pinggir kota.
Tapi dulu egonya lah yang berkuasa. Yaitu ego seorang bocah yang ingin tahu seperti apa rasanya memiliki sebuah keluarga di saat ia hampir lupa seperti apa itu keluarga yang berisi ayah, ibu dan tentunya anak.
Dan kini ia tak tahu harus melakukan apa untuk memperbaikinya. Mengembalikan yang sudah pergi? Tak mungkin kan?
Atau dia saja yang pergi?
Tapi ia sudah berjanji pada sang ayah untuk selalu berada di sini apa pun yang terjadi.
Kalian mungkin berfikir ini hanyalah sebuah masalah sederhana. Tapi jika kalian berada di posisinya sekarang, masih bisakah kalian tersenyum?
Chang Kyun mendekap lututnya dengan erat kemudian menyembunyikan wajah di baliknya. Menangis dalam diam dan sendiri.
#BLIND#