BLIND-TWENTY FIVE

1805 Kata
Saat ini Doyoung sedang dilanda gelisah. Pasalnya sejak pagi tadi sahabatnya itu terlihat sedikit aneh. Hanya sedikit memang, namun tetap dapat di tangkap oleh mata kelincinya. Sebagai contoh, tadi pagi ketika ia melihat Soon Young melancarkan aksinya yaitu membuat Chang Kyun terjatuh di depan pintu kelas. Biasanya bocah itu akan tersenyum ketika dia datang sebagai penolong, tapi hari ini Chang Kyun hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi dan bahkan tidak menyambutnya ketika duduk. Dan siang ini ketika dia mengajaknya makan di kantin hanya dijawab dengan gelengan kepala. Aneh, pikirnya. Alhasil sekarang Doyoung menghabiskan waktu makan siangnya sendiri tanpa ada sosok Chang Kyun yang biasanya setia mendengarkan celotehannya. Doyoung tampak kehilangan minatnya terhadap apapun, hanya mengaduk isi nampannya dan menyuapkan ke dalam mulut tanpa semangat. Brakkk! Brakkk! “Ya Tuhan!” Doyoung hampir mengumpat ketika seseorang, maksudku dua orang dengan kasar meletakan nampan makan siang di mejanya. Doyoung mendegus ketika tahu siapa pelakunya. “Ada apa?! Apa mau kalian, huh?” Doyoung sedang dilanda gelisah tapi malah dua iblis ini seperti mau mencari masalah dengannya. Sungguh ia sedang malas berdebat dengan orang-orang menyebalkan seperti mereka. Bukannya menyahut, keduanya malah dengan santai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Hal itu membuat Doyoung semakin kesal, ia berdiri dan membawa serta nampan berisi makan siangnya dengan niatan berpindah ke bangku lain. Namun sial saat ia mengedarkan pandangan ke sekeliling nyatanya sudah tak ada lagi bangku kosong di sana selain tempatnya sekarang. Dengan kesal ia kembali menaruh –setengah membanting– nampannya kembali ke bangku tersebut. Doyoung kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan kesal. “Omong-omong, kemana si buta itu? Mengapa dia tidak ikut makan?” Soon Young bertanya dengan makanan yang belum sepenuhnya ia telan. “Aigoo! Mengapa aku merindukannya, ya? Seperti ada yang kurang di sini,” sambung Jin Woo. Brakkk! Kali ini Doyoung meletakkan sumpitnya dengan kasar di atas meja dan membuat dua orang di hadapannya berjenggit kaget, bahkan Soon Young nyaris tersedak jika saja Jin Woo tidak tanggap dan menyodorkan segelas air. Sebenarnya beberapa penghuni kantin juga sempat menoleh dan memandang mereka dengan bertanya-tanya. “Berhenti menganggu Chang Kyun, atau aku akan mematahkan tangan kalian!” papar Doyoung dengan geramnya. “Hey, calm down boy! Calm down. Astaga, siapa juga yang ingin mengganggunya? Aku hanya bertanya,” jelas Soon Young sedikit ngeri, ia saling bertukar pandang dengan Jin Woo seolah mengatakan ‘ada apa dengan bocah ini?’ dan dibalas dengan angkatan bahu dari Jin Woo. “Aish! Mood-ku benar-benar rusak sekarang.” Dengan raut wajah kesalnya, Doyoung bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan dua sejoli yang terbingung-bingung dengan sikapnya. “Ya! Mau ke mana kau? Makananmu belum habis,” seru Soon Young ketika Doyoung mulai melangkah. “Untukmu!” Soon Young menatap nampan di hadapannya dengan jijik. Yang benar saja, ia harus makan makanan bekas! “Apa yang salah dengan anak itu?” gumam Jin Woo heran. “Mana aku tahu,” Soon Young mendengus kesal. Enak saja dia disuruh memakan sisanya. #BLIND# Chang Kyun tengah berdiri mematung di suata tempat yang ia sendiri tidak tahu di mana itu, yang jelas itu masih di lingkungan sekolah. Ia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa ada di situ? Karena ia hanya menurut begitu ada seorang siswa yang mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Ia juga menurut ketika siswa itu membimbingnya ke tempat yang dimaksud dan meninggalkan dia sendirian begitu sampai tujuan. Sekarang ia bingung dengan suasana sepi di sekitarnya. Siswa yang mengantarnya sudah pergi entah ke mana. Tanpa pikir panjang, Chang Kyun segera berbalik dengan maksud kembali ke kelasnya karena beruntung ia sudah menghafalkan jalan di setiap langkahnya tadi. Jam istirahat sudah nyaris selesai dan ia tak mau membuat Doyoung mencarinya. “Ohoo ... mau ke mana, Bung? Kenapa terburu-buru?” Sebuah tangan menghadang di depan Changkoyun ketika pemuda itu sampai di depan pintu. Suara itu membuat tubuh Chang Kyun tegang seketika. “Su-sunbae?” ucap Chang Kyun dengan suara yang gemetar. Keduanya tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah Chang Kyun. Han Bin merebut paksa tongkat di tangan Chang Kyun dan membuangnya ke sembarang arah. “Yak! Hyung, kau lihat dia bergetar hanya karena mendegar suaramu?” Han Bin menunjuk tepat ke wajah Chang Kyun. Tae Hyung hanya tersenyum miring mendengar ucapan adiknya. Tangannya terulur meraih pergelangan tangan Chang Kyun dan menariknya paksa, membuat bocah itu sedikit meringis. “T-tolong lepaskan, Sunbae,” pinta Chang Kyun sedikit berontak. “Aigoo, mengapa kau selalu tidak mau menurut? Membuatku kesal, tahu!” Kali ini Han Bin ikut berpartisipasi untuk membantu Tae Hyung menyeret Chang Kyun. Keduanya menyeret paksa Chang Kyun ke sebuah tempat lapang di area yang merupakan atap sekolah tersebut. Brukkk!! Tubuh Chang Kyun didorong hingga menghantam lantai dengan keras dan menghasilkan goresan ringan di telapak tangannya. “Hyung, boleh aku yang memulainya dulu?” tanya Han Bin dengan wajah penuh harap. “As you wish, Brother,” sahut Tae Hyung dengan senyum miringnya kemudian duduk di salah satu bangku yang ada. Seringai semakin jelas tergambar di wajah Han Bin setelah mendapat persetujuan dari sang kakak. Han Bin berjalan mendekati Chang Kyun yang masih dalam posisi terduduk dan sedang mengusap telapak tangannya yang terasa perih. Namun belum hilang rasa sakit di tangannya, tendangan keras menghantam dadanya. “Uhhuukk,” Chang Kyun terbatuk dan merasakan sedikit sesak di dadanya. “Woah~ kau lemah sekali, ya? Pantas saja teman kelasmu itu suka mengganggumu. Kau benar-benar menyedihkan.” Han Bin menarik kerah seragam Chang Kyun hingga bocah itu kini berdiri dengan tangan menyentuh d**a, kemudian mendorongnya hingga punggung Changkyiun bertemu tembok. “Ke-kenapa?” suara Chang Kyun terdengar gugup. Han Bin mengernyit. “Maksudmu?” “Kenapa kalian melakukan hal ini padaku? Tolong katakan apa salahku?” Chang Kyun menggengam erat tangan Han Bin di kerahnya. “Huh! Mengapa kau bertanya itu lagi? Menyebalkan!” Bugh! Satu pukulan dilayangkan Han Bin mengenai perut Chang Kyun dan membuat anak itu menunduk kesakitan. “Mudah saja, karena kau itu lemah dan tidak berguna. Sungguh, aku heran kenapa sekolah elit ini mau menampung siswa sepertimu? Cacat dan lemah. Kau hanya hebat secara akademis dan pintar bermain tuts, menjijikan.” Bugh! Bugh! Pukulan kedua dan tiga kembali mendarat mulus di perut Chang Kyun dan kali ini membuat bocah itu kembali terduduk. Dengan kasar, Han Bin menarik surai bocah itu hingga mendongak kemudian menghempaskannya begitu saja. “Kim Han Bin! Tunggu sebentar!” Tae Hyung yang semula hanya menonton kini berdiri meghampiri. “Kenapa?” Raut gusar tergambar di wajah Han Bin karena Tae Hyung mengganggu kesenangannya. “Hei, aku dengar kau pernah dilecehkan. Apa itu benar?” ujar Tae Hyung setelah berdiri di hadapan Chang Kyun. Pertanyaan itu sontak membuat Chang Kyun terkesiap dan refleks menengadahkan kepalanya dengan raut terkejut. Bangaimana dia bisa tahu? “Haha ... jangan terkejut, Kawan. Aku bahkan bisa membuatmu berjumpa dengan mereka lagi,” Tae Hyung tertawa iblis. “A-apa maksud Sunbae?” Chang Kyun bergidik ngeri ketika kejadian malam itu kembali terulang di fikirannya bahkan tanpa sadar kini ia sudah bergerak memeluk kedua lututnya sendiri. “Mempertemukanmu dengan mereka dan membuat kalian menyelesaikan urusan yang tertunda.” Chang Kyun menggeleng keras. “A-aku mohon jangan .…” ucap Chang Kyun memohon dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Tae Hyung menggeram tertahan. “Ck! Jangan menangis di hadapanku, menjijikan!” Duakh!! Tanpa pikir panjang, Tae Hyung melayangkan tendangan keras ke kepala Chang Kyun, membuat tubuh itu limbung dan tersungkur ke lantai dengan mulus. Darah segar mengalir dari sudut bibir bocah malang itu. Kepalanya pun terasa benar-benar pusing sekarang, tapi ia berusaha agar tetap terjaga. Belum sempat ia menarik nafas lelah, kerah bajunya kembali ditarik dan memaksanya berdiri. “A-aku mohon, lepaskan aku. Ini sakit …” “Diam! Sialan!” Brakk! Tanpa peri kemanusiaan, Tae Hyung mendorong tubuh Chang Kyun hingga terjatuh di antara tumpukan kursi bekas di belakangnya. “Arrgghh!” Erangan yang sedari tadi ditahan dengan susah payah kini lolos dari bibir tipis Chang Kyun. Ia yakin akan ada bekas membiru di punggungnya kini dan itu sangat sakit. “Hyung, hentikan!” Han Bin menarik lengan Tae Hyung sebelum pemuda itu kembali mendekati Chang Kyun. “Jangan halangi aku.” Tae Hyung menepis tangan Han Bin degan kasar. “Yak! Ingat, kita hanya bermain, bukan membunuh,” tegas Han Bin mempererat cengkraman ditangan sang kakak. Han Bin tak habis pikir dengan tingkah Tae Hyung. Dia sendiri yang mengatakan padanya untuk tidak melukai terlalu banyak tapi dia juga yang membuat bocah di hadapannya sulit bergerak. Dia hampir merusak mainan. Cuih! Tae Hyung meludah dan tepat mengenai wajah Chang Kyun. “Sungguh, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menggoresnya. Jadi jangan menahanku,” geram Tae Hyung marah dan mendorong Han Bin hingga cengkramannya terlepas. Di lain sisi, Chang Kyun masih terduduk di tempat semula tak bergeming. Rasa sakit di tubuhnya benar-benar membuat ia tak mampu bergerak ditambah lagi dengan pusing akibat tendangan tadi yang belum sepenuhnya hilang. Tae Hyung berjongkok kemudian menepuk bahu Chang kurun pelan, namun hal itu berhasil membuat bocah itu beringsut mundur. “Sebenarnya aku ingin melakukan yang lebih dari ini,” dengan kasar Tae Hyung mencengkram dagu Changkiyun dan membuat bocah itu sedikit meringis karena luka di bibirnya tertekan. “Hmmm ... tapi sepertinya ini bukan di tempat dan waktu yang tepat. Lagi pula ini bukan urusanku, jadi biar aku serahkan saja sisanya padanya,” lanjutnya kemudian melepaskan cengkramannya dan berdiri. Chang Kyun pikir dia akan kembali mendapat pukulan lagi sehingga ia refleks melindung kepalanya dengan kedua lengan. Namun hal itu salah, ia malah mendengar langkah kaki menjauh dan disusul dengan suara pintu tertutup. Mereka pergi. Dan Chang Kyun akhirnya bisa menarik nafas lega sekarang. Setidaknya untuk beberapa detik, karena ia kembali didesak oleh rasa panik ketika mengingat keadaannya sekarang. Dia yakin dirinya pasti terlihat menyedihkan sekarang. Baju yang kotor ditambah bibirnya yang sobek. Ia tentu tak bisa menyembunyikan luka itu seperti dulu. Sedikit gemetar, Chang Kyun berusaha berdiri dan mencoba mencari tongkat miliknya yang ia yakini berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lima menit berusaha mencari dan ia harus menerima kenyataan jika tongkat itu dalam kondisi patah. “Rusak. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada Eomma nanti?” tanyanya pada diri sendiri. Seluruh tenaganya mendadak habis sekarang. Chang Kyun terduduk lesu di lantai. Dipeluknya kedua lutut itu lagi dan ia gunakan untuk menyembunyikan wajah di baliknya. Ia menangis. Lagi. ‘Tuhan. Kau menyebalkan! Aku pikir dengan bersabar semua akan baik dan indah pada waktunya. Kau suka sekali mempermainkan hidupku yang menyedihkan ini, ya?! Kau suka membuatku tiba-tiba merasa seperti terbang ke awan yang indah namun setelahnya Kau menghempaskanku secara tiba-tiba pula hingga jatuh dan tenggelam ke laut terdalam! Sungguh ini menyakitkan bagiku, Tuhan! Apa Kau pikir hidupku hanyalah sebuah permainan tak berharga bagi-Mu? Jika iya, mari kita akhiri ini. Lebih baik ambil saja nyawaku. Aku tidak butuh! Aku sudah lelah jadi mainan-Mu.’ #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN