Suasana kelas sedikit riuh saat ini. Hari ini memang sedang tidak diadakan kelas tambahan karena guru yang mengajar tidak masuk dan tidak ada guru lain yang mwnggantikan. Alhasil begitu bel berdering, seluruh penghuni langsung berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama menginjakkan kaki di muka kelas.
Joo Heon sedang mengemasi perlengkapan sekolahnya kala Doyoung menerobos masuk ke dalam kelasnya.
“Hyung!” panggil Doyoung ketika sampai tepat di hadapan Joo Heon.
Tentu saja Joo Heon bingung saat tiba-tiba Hoobae satu klubnya mendatangi dirinya dengan wajah panik dan nafas putus-putus.
“Ada apa?”
Beberapa teman kelasnya bahkan sempat memandang heran Doyoung yang tiba-tiba masuk ke kelas senior tanpa permisi.
Mengabaikan pandangan dari para seniornya, Doyoung berucap dengan panik.
“Hyung, Chang Kyun … Chang Kyun .. dia .…”
Dahi Joo Heon langsung mengernyit kala nama Chang Kyun disebut.
“Chang Kyun? Ada apa dengan Chang Kyun?”
“Chang Kyun ... dia ... dia ....” belum selesai ia bicara, mendadak Doyoung terbatuk hingga wajahnya memerah.
“Hei, Bung. Tenanglah, tarik napas pelan, tahan, kemudian hembuskan. Cobalah ....” Hyung Won angkat bicara merasa kasihan dengan juniornya yang sepertinya habis berlari marathon.
Dan Doyoung pun melaksanakan apa yang diperintahkan Hyung Won dengan patuh. Menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Setelah merasa lebih baik. Doyoung menghela nafas kemudian mengusap peluh di wajahnya. Menengok sekeliling dan mendapati keadaan kelas yang sudah kosong, hanya meninggalkan mereka bertiga.
“Chang Kyun tidak kembali ke dalam kelas sejak jam makan siang tadi. Aku sudah mencarinya ke semua tempat dan tetap tak menemukannya, bagaimana ini?” terang Doyoung penuh akan kekhawatiran.
“Apa?! Bagaimana bisa? Bukankah setiap hari kalian selalu bersama, bahkan saat makan siang? Kenapa sekarang kau bilang Chang Kyun tidak kembali? Memangnya dia pergi ke mana?” Hyung Won langsung menghujani Doyoung dengan rentetan pertanyaan, membuat Doyoung sedikit merasa kesal.
“Mana aku tahu, dari pagi tadi dia bertingkah aneh. Hanya diam dan tidak mengatakan apapun jika aku tidak bertanya,” ucap Doyoung membela diri.
Lain Hyung Won, lain halnya juga dengan Joo Heon yang malah termenung setelah mendengar ucapan Doyoung. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya Joo Heon sudah menyadari perubahan sikap Chang Kyun sejak sarapan pagi tadi. Bukan hanya dia, tapi mungkin Hyun Woo dan ibunya juga. Bagaimana tidak? Chang Kyun yang biasanya tersenyum dan menyapa mereka satu persatu, tadi pagi hanya menunduk dan meyuapkan makanan ke mulutnya dalam diam.
Dan ia juga tahu pasti, penyebab dari perubahan bocah itu adalah karena ucapannya kemarin. Tentu saja ia tidak menyangka jika Chang Kyun akan mendegarnya. Padahal kalimat yang ia lontarkan waktu itu hanyalah sebuah kekesalan karena ia rindu sang Appa, tapi siapa yang menduga jika itu sampai di telinga bocah itu secara langsung. Dan ia juga yakin jika bocah itu pasti terluka hatinya.
“Yak! Apa kau hanya akan diam saja ketika adikmu menghilang, eoh?!” bentak Hyung Won yang menarik Joo Heon kembali ke alam sadarnya.
“Lalu aku harus apa, huh? Mencarinya? Aku lelah, mau pulang saja!”
Joo Heon benar-benar kesal ketika tiba-tiba Hyung Won membentaknya dan membuat kotak pensil yang dipegangnya terjatuh. Ia buru-buru mengambilnya dan memasukan ke dalam tas kemudian berlalu dengan langkah dihentak-hentakan.
“Ya ya! Mau ke mana kau? Bagaimana dengan Chang Kyun?!” Teriak Hyung Won namun tak digubris oleh orang yang dimaksud.
Hendak menyusul Joo Heon, namun Doyoung buru-buru menahan lengannya.
“Tunggu, Sunbae! Jangan dikejar, lebih baik bantu aku mencari Chang Kyun. Perasanku sungguh tidak enak soal ini,” ujar Doyoung, kemudian melepaskan lengan pemuda jangkung itu.
Hyung Won mengangguk, benar memang tidak ada gunanya mengurusi orang keras kepala seperti Joo Heon. Mencari Chang Kyun lebih bermanfaat menurutnya.
#BLIND#
Saat mengatakan ingin pulang, sebenarnya Joo Heon tak benar-benar melakukannya. Buktinya sekarang ia tengah berjalan menyusuri area sekolah yang mulai sepi.
Jujur Joo Heon juga khawatir saat tahu jika Chang Kyun keluar dari kelasnya dan tidak kembali. Kejadian beberapa minggu lalu kembali mampir di pikirannya. Apa lagi dua bersaudara itu tak pernah kenal ampun dalam memperlakukan mainannya, Joo Heon tahu itu bahkan sejak duduk di bangku junior.
Masih fokus pada kegiatan mencarinya, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan dengan cepat memutar badannya kemudian berlari secepat yang ia bisa. Semoga dugaannya benar, semoga Chang Kyun berada di sana.
Atap adalah tempat yang menjadi tujuan utamanya. Seingatnya, atap di gedung sebelah utara adalah tempat di mana dua bersaudara itu berkumpul dan tentu saja menindas. Tidak ada siswa yang berani menginjakkan kakinya di tempat itu, kecuali mau membuat masalah dengan keduanya.
Joo Heon menaiki anak tangga satu demi satu hingga sampailah pada lantai ke empat gedung tersebut. Satu lantai lagi, ia sampai.
Cklek!
Pintu itu terbuka saat Joo Heon memutar knop tersebut.
“Huhft ....” desah Joo Heon, merasa lega ketika mendapati pintu tidak dalam keadaan terkunci.
Mata sipitnya menelisik sekeliling. Di sapunya setiap sudut bangunan tersebut hingga pandangannya tertuju pada satu sosok yang tengah duduk dengan wajah bersembunyi di balik lututnya. Dengan cepat Joo Heon menghampiri sosok tersebut.
Puk
Puk
Dua kali Joo Heon menepuk bahu bocah itu pelan, namun ia sama sekali tak bergeming. Sedikit khawatir, kali ini Joo Heon mengguncangkan tubuh itu. Dengkuran halus terdengar di telinganya, membuat ia yakin jika bocah itu tengah tertidur.
“Hei, bangun,” ujar Joo Heon, masih mengguncangkan tubuh Chang Kyun.
Dan kali ini berhasil. Bocah itu mengangkat wajahnya. Joo Heon merasa lega melihat Chang Kyun merespon sekaligus terkejut mendapati kondisi wajah anak itu yang tidak bisa disebut dengan baik-baik saja.
“Eung ... ya?” Chang Kyun sedikit meringis karena luka di sudut bibirnya kembali terbuka kala ia berucap.
Pemuda itu mengucek kedua matanya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya terasa kebas karena terlalu lama menjadi tumpuan kepala.
Tunggu! Apa itu artinya ia tadi tertidur? Hah, yang benar saja?! Dan sudah berapa lama? Pasti Doyoung sedang mencarinya sekarang. Ia sontak berdiri dan panik. Dia harus segera kembali ke kelas sekarang.
Belum sempat ia mengayunkan kaki, tubuhnya limbung nyaris jatuh jika tidak ada sebuah tangan yang menahan lengannya.
“S-siapa kau?” tanya Chang Kyun sedikit panik, ia belum menyadari jika ada orang lain di tempat itu selain dirinya.
“Mau ke mana kau?”
Chang Kyun terpaku begitu mendengar suara orang yang sangat dikenalnya.
“Joo-Joo Heon Hyung?”
“Jawab pertanyaanku, mau ke mana kau? Dan apa yang terjadi?!” tanya Joo Heon dengan nada sedikit meninggi.
“H-hyung, mengapa kau bisa ada di sini?” Bukan menyahut, Chang Kyun justru menjawab pertanyaan Joo Heon dengan pertanyaan lainnya.
“Yak! Aku bertanya! Jadi jawablah dan jangan bertanya balik!” geram Joo Heon, kemudian menghempaskan lengan Chang Kyun yang tadi digenggamnya.
Chang Kyun bungkam, ia lantas menundukkan kepala dan meremas ujung seragamnya erat. Jantungnya berdegup kencang sekarang dan perasaan takut menyelimuti hatinya. Apa yang harus dia katakan pada Joo Heon sekarang?
Joo Heon menarik dagu Chang Kyun dan membuat bocah itu mendongakkan kepalanya. Bisa dia lihat dengan jelas luka sobek di sudut bibir bocah itu dan masih ada sedikit darah segar yang menghias luka itu. Ia menyibak poni yang sedikit menutupi kening Chang Kyun, dan lagi-lagi ia mendapati sedikit lebam di dahi mulus itu, terbentur benda tumpul mungkin.
Bocah itu juga sedikit meringis saat Joo Heon menyentuh tangannya tadi dan kali ini ia paham bahwa telapak tangan itu terdapat beberapa garis luka gores.
Saat itu juga Joo Heon baru menyadari jika kelopak mata Chang Kyun membengkak. Apa bocah ini sehabis menangis?
“Menyebalkan! Sebenarnya apa yang membuat mereka melakukan ini padamu? Apa kau membuat kesalahan pada mereka?”
Tanpa diduga, Chang Kyun mengangguk.
“Ya, aku berbuat kesalahan dan itu sangat besar,” sahut Chang Kyun.
“Apa?!” Joo Heon membelalakan matanya. Yang benar saja, bocah seperti Chang Kyun bisa membuat masalah dengan Kim bersaudara.
“Kesalahan apa maksudmu?”
“Hidup. Kesalahan terbesarku adalah hidup,” sahut Chang Kyun yang membuat Joo Heon membeku seketika.
Plakk!
“Jaga ucapanmu! Sialan!”
Joo Heon melayangkan satu tamparan keras ke pipi Chang Kyun hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Ia sendiri terkejut setelah berbuat hal tersebut.
Chang Kyun memegang pipinya yang kini terasa panas, ia tersenyum.
“Apa yang harus aku jaga, Hyung? Itu memang benar adanya, persis seperti yang mereka bilang. Hidup adalah satu-satunya kesalahan terbesarku. Karena aku hidup, kedua orang tuaku mati. Karena aku hidup, Appa pergi. Karena Appa pergi, keluarga kalian tak utuh. Karena aku hidup, sekarang Eomma harus bekerja sangat keras,” Chang Kyun menghentikan kalimatnya bersamaan dengan setetes aliran bening meluncur dari netra hitamnya.
“Benar, benar sekali. Apa yang Hyung lakukan selama ini memang benar. Aku memang pantas untuk kau benci. Adalah sebuah kesalahan juga jika aku berharap mendapat tempat jadi salah satu orang yang kau kasihi, padahal akulah penyebab hancurnya kebahagiaanmu ....”
“Cukup.”
“Cacat, tidak berguna, lemah, merepotkan. Banyak sekali hal buruk yang mereka katakan tentangku. Selalu kata yang sama, setiap hari. Tapi kenapa rasanya selalu sakit? Aku bahkan membenci diriku sendiri. Hanya membawa kesialan pada orang disekitarku. Aku heran mengapa Tuhan masih mebiarkan manusia sepertiku ada di dunia ini? Bukankah lebih baik aku .…”
Plakk!
Tamparan kedua mendarat di pipi Chang Kyun, membuat bocah itu menghentikan kalimatnya.
“Aku bilang cukup!” bentak Joo Heon lantas menarik Chang Kyun ke dalam dekapannya.
Joo Heon tak ingin mendengar kelanjutan dari kalimat itu. Melihat Chang Kyun mengatakannya dengan ekspresi kosongnya, tiba-tiba terasa menyakitkan. Bahkan bocah itu sama sekali tak membalas pelukannya.
“Maaf ... aku benar-benar minta maaf. Aku yang salah, maafkan aku yang bodoh ini. Aku mohon jangan menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi. Bukan salahmu, semua bukan salahmu. Ini takdir, tidak ada yang bisa menghidarinya.” Joo Heon mengeratkan pelukannya kemudian buru-buru menghapus air mata sialan yang ternyata juga terlepas dari matanya.
“Maafkan aku yang sudah membencimu selama ini. Maafkan karena kebodohan dan keegoisanku selama ini, kau jadi tersiksa. Chang Kyun, sebenarnya ... aku menyayangimu,” lanjut Joo Heon yang kini membuat Chang Kyun mendongakkan kepalanya.
“A-apa maksudmu, Hyung?” tanya Chang Kyun melepas diri dari pelukan Joo Heon.
Joo Heon tersenyum, ya, untuk pertama kalinya ia tersenyum untuk Chang Kyun. Meskipun ia tahu bocah itu tak dapat melihatnya.
“Kau bocah cerdas. Apa aku harus mengulanginya lagi? Jangan membuatku malu bung,” sahut Joo Heon, kemudian mengacak surai Chang Kyun gemas.
Masih terlihat bingung, Chang Kyun menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, ayo. Kawanmu sudah heboh tadi, mengatakan jika kau hilang,” ujar Joo Heon kemudian memungut tongkat Chang Kyun yang sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
“Hyung,” panggil Chang Kyun, membuat Joo Heon yang semula bersiap melangkah berhenti dan menoleh.
“Eoh? Ada apa?” Dahi Joo Heon mengernyit saat melihat Chang Kyun bergeming dan menunduk.
Bukannya menyahut, Chang Kyun malah menunduk dengan sebelah tangan memegang kepala. Joo Heon melihat hal tersebut kemudian bergerak mendekat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Joo Heon yang kemudian menyentuh bahu Chang Kyun.
“Sakit,” Chang Kyun menjawab kemudian menunjuk bagian telinganya.
Joo Heon mengikuti arah telunjuk Chang Kyun, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati darah segar mengalir begitu saja dari dalam telinga kiri Chang Kyun.
“Yak! Apa yang mereka lakukan lakukan hingga bisa seperti ini?!” ungkapnya panik sambil memandang ngeri darah yang terus mengalir dari telinga yang kini mulai menuruni leher Chang Kyun.
Pada detik selanjutnya, tubuh Chang Kyun limbung ke depan nyaris mencium tanah jika saja Joo Heon tidak menangkapnya terlebih dulu.
“Ya Tuhan! Chang Kyun!” pekik Joo Heon terkejut. Joo Heon memegangi lengan Chang Kyun was-was. Dilihatnya wajah bocah itu kini memucat dan menahan sakit.
“Hyung, t-telingaku sakit …” tutur Chang Kyun dengan suara yang lemah.
“Sstt ... diamlah, kita harus ke rumah sakit sekarang.”
Dengan cekatan Joo Heon mengambil sapu tangan di saku seragamnya dan menggunakannya untuk membersihkan darah yang mengalir dari telinga Chang Kyun. Setelahnya ia menuntun Chang Kyun dan mengajaknya pergi dari tempat tersebut.
Brakk!
Pemuda itu membanting ponselnya kesal, setelah tulisan “GAME OVER” tertera di layar benda pipih tersebut.
“Sialan! Semua tidak akan berakhir semudah itu,” desisnya kesal kemudian berlalu begitu saja.
#BLIND#