BLIND-TWENTY SEVEN

1798 Kata
Joo Heon terduduk gelisah di kursi tunggu rumah sakit tersebut. Dua puluh menit yang lalu ia berhasil mengajak Chang Kyun ke rumah sakit terdekat dengan taksi yang sudah di pesan oleh Hyung Won begitu ia bertemu di lantai bawah tadi. Ia nyaris jadi korban amukan Doyoung dan Hyung Won jika saja Chang Kyun tak menjelaskan pada kedua pemuda tersebut. Joo Heon sudah memberi kabar pada Hyun Woo dan Nyonya Lee, mungkin mereka akan sampai beberapa saat lagi. "Bagaimana itu bisa terjadi, Hyung?" Doyoung yang membuka percakapan pertama kali sejak mereka menyentuhkan kaki di lantai rumah sakit tersebut. Joo Heon yang tengah bersandar pada dinding rumah sakit hanya menggeleng lemah sembari memainkan ujung sepatunya dengan lantai hingga menimbulkan ketukan tanpa nada. "Joo Heon. Sepertinya masalah ini sudah tidak bisa dianggap remeh lagi. Lihatlah luka yang di dapat Chang Kyun itu sudah berlebihan untuk ukuran pem-bully-an semata, ini termasuk dalam tidak kriminal. Kekerasan fisik yang dapat menimbulkan kerusakan fatal pada organ," tutur Hyung Won sembari mengusap dagunya. "Aku setuju dengan Hyung Won Sunbae. Kita harus melaporkannya pada pihak sekolah, bahkan jika perlu pada badan perlindungan anak," Doyoung menambahkan dengan geram. Ia benar-benar tidak rela melihat sahabat kesayangannya terluka. Joo Heon masih bergeming sambil sesekali memijit pangkal hidungnya. Dirinya bingung harus memberikan penjelasan macam apa pada sang Eomma nantinya saat beliau mendapati putra bungsunya dalam keadaan babak belur bahkan harus mendapat penanganan di rumah sakit. "Joo Heon! Astaga apa yang terjadi, Nak? Mengapa Chang Kyun bisa ada di sini?" Nyonya Lee muncul dengan suara sepatu berhak tingginya yang menggema di lorong rumah sakit. Wanita pertengahan empat puluhan itu toba dengan wajah panik diikuti Hyun Woo yang setia mengekor di belakangnya, meskipun tenang, gurat kekhawatiran juga nampak di wajah namja minim ekspresi tersebut. "Aigoo, Joo Heon ... apa yang terjadi? Kenapa Chang Kyun bisa sampai terluka?" Nyonya Lee langsung berucap ke inti masalah. Hal itu membuat Joo Heon menundukan kepalanya dalam, tak sanggup menatap mata ibunya. "Eomma, tenanglah. Jangan panik seperti itu, sebaiknya Eomma duduk dan tunggu dokter selesai memeriksa." Hyun Woo bergerak merengkuh bahu Nyonya Lee dan mengusapnya pelan, mencoba memberikan ketenangan. Menuntunnya untuk duduk di salag satu kursi kosong tempat tersebut lantas memeluknya. Suasana kembali hening kala Nyonya Lee berhasil mengotrol kekhawatiran berlebihannya, hingga bunyi pintu terbuka serempak membuat mereka menoleh ke sumber suara. Belum genap dua langkah sang dokter melewati pintu, Nyonya Lee langsung menghambur ke arahnya. "Dokter, bagaimana? Bagaimana keadaan anak saya?" tanya wanita itu sarat akan kekhawatiran. "Maaf sebelumnya, bisa saya bicara dengan keluarga pasien Im Chang Kyun?" Dokter itu nyaris terjatuh kala Nyonya Lee mencengkeram jas yang dikenakannya. "Saya, saya ibunya," sahut Nyonya Lee tak sabar. "Baiklah, keadaan pasien baik namun saat ini beliau sedang tertidur akibat efek suntikan bius yang kami berikan saat penanganan tadi," terang dokter tersebut yang membuat mereka menarik nafas lega secara bersamaan. "Mohon maaf sebelumnya, bolehkah saya berbicara sebentar dengan wali pasien?" "Ah, ya. Saya Ibunya, bicaralah pada saya," sahut Nyonya Lee cepat dan langsung mengikuti langkah sang dokter begitu dokter tersebut mengarahkannya. Mereka yang semula bernapas lega kini kembali dilanda gelisah ketika melihat raut serius tergambar di wajah dokter tersebut. "Lee Joo Heon, bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi?" Suara Hyun Woo memecah ketegangan di antara mereka. Pasalnya, Hyun Woo benar-benar tak tahu apa pun selain kabar bahwa Dongsaeng-nya masuk rumah sakit. Sementara Joo Heon masih setia dalam diamnya, menunduk dengan kaki terus berulah dan tak berani menatap sang kakak. "Joo Heon." Hyun Woo akhirnya berjalan mendekat dan menepuk bahu Dongsaeng-nya pelan. "Hyung, bisa kita bicarakan itu nanti? Aku ingin menemui Chang Kyun." Dengan cepat pemuda sipit itu menepis tangan Hyun Woo dan melangkah memasuki ruangan yang sudah sejak setengah jam tadi ingin dimasukinya. Tak lama setelahnya dua insan yang sedari tadi menjadi penonton adegan singkat antar anggota keluarga itu masuk, mengekor Joo Heon yang lebih dulu masuk ruangan tersebut. Jika sudah seperti ini maka Hyun Woo mau tak mau hanya bisa pasrah dan menanti penjelasan dari Joo Heon nantinya dan pada akhirnya ia pun ikut memasuki ruang tersebut. Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah sosok Chang Kyun yang tengah terlelap karena efek dari suntikan bius yang digunakan saat dokter mengobati lukanya. Keempatnya hanya bisa mematung, melihat betapa damai ekspresi dari wajah di hadapannya. Terlihat begitu polos, seakan tanpa dosa membuat siapa pun yang melihatnya ingin selalu melindungi soaok tersebut. Dan ini adalah kali pertama Joo Heon melihat wajah tertidur Chang Kyun setelah lebih dari sepuluh tahun mereka hidup dalam satu atap, selebihnya ia memilih untuk tak mau tahu dengan apa yang bocah itu lakukan. Jujur, ia benar-benar menyesal sekarang. Betapa bodoh dirinya selama ini. Melimpahkan segala kesalahan pada bocah yang bahkan belum paham apa itu arti mati yang sebenarnya. Tanpa sadar, ia sudah menggores banyak sayatan di hati bocah itu. Sedikit demi sedikit namun setiap hari. Astaga, kau benar-benar bodoh Lee Joo Heon! t***l! Joo Heon menunduk dan air matapun turut terjatuh bersamaan dengan rasa sesal yang kini melingkupi hatinya. Hyun Woo yang pertama menyadari hal tersebut lantas meraih bahu namja itu kemudian mendekapnya. "Bukan salahmu," ujarnya menenangkan. Menggeleng, Joo Heon tahu kata itu hanya sekedar penenang belaka. "Tidak, semua salahku. Dari awal semua salahku. Andai saja aku menyadari kebodohan ini sejak awal, dia mungkin tidak akan terluka seperti ini," bantah Joo Heon dengan suara serak. Terlihat lucu bukan? Satu jam yang lalu dia bersikap sok kuat demi menguatkan Chang Kyun, namun sekarang dia menjadi seperti butiran debu yang seolah bisa terbang kapan pun angin datang menerpa. "Hei, bukankah lebih baik kita lupakan ini dan mulai semua dari awal?" Hyun Woo menepuk bahu dongsaeng-nya pelan berusaha memberikan penjelasan bahwa penyesalan bukanlah hal yang berguna. Memperbaiki dan memulainya dari awal bukankah lebih baik? Tak ada jawaban keluar dari bibir Joo Heon. Pemuda itu lebih memilih untuk berjalan mendekati ranjang di mana Chang Kyun masih terlelap. Sementara Hyun Woo, Doyoung serta Hyung Won hanya memperhatikan tiap gerakan pemuda sipit itu. "Maafkan aku." Hanya kata itu yang mampu terucap ketika Joo Heon memandang polos tersebut. Tidak mengucapkannya secara langsung, namun Joo Heon berjanji bahwa setelah ini dia akan melindungi Chang Kyun dan membuat perhitungan pada dua bersaudara yang sudah melukai Chang Kyun. Tampaknya, dia tidak sadar jika dirinyalah yang paling banyak menorehkan luka pada Chang Kyun. #BLIND# 'Secara keseluruhan, kondisi pasien tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Ada banyak luka memar di tubuhnya, sejauh ini kami memperkirakan jika luka itu didapat dari kekerasan fisik. Kami tidak tahu pasti kekerasan apa yang pasien dapat, namun dugaan sementara ini adalah masalah pembullyan yang sering terjadi di usia remaja seumurannya. Lukanya akan pulih dalam beberapa hari, jadi pastikan dia meminum obatnya dan beristirahat. Namun, pendarahan yang terjadi pada telinga sebelah kiri pasien menyebabkan kerusakan pada indra pendengaran pasien. Tidak permanen memang, namun selama menanti kepulihan pasien harus menggunakan alat bantu pendengaran. Mengingat pedengaran adalah indra yang sangat dibutuhkan bagi seorang tunanetra.' Itulah rangkuman penjelasan yang didapat Nyonya Lee ketika sang dokter membawanya ke dalam ruang kerja. Mengejutkan, tentu saja. Baiklah, ia tahu sikap baik yang ia berikan pada Chang Kyun memang belum terhitung lama. Namun, bukan berarti ia tidak memperhatikan apa saja yang ada pada bocah itu. Sebelumnya, dia tidak pernah mendapati Chang Kyun dalam keadaan seperti ini. Maksudnya, selama ia memutuskan anak bungsunya untuk bersekolah di sekolah umum ia belum pernah menemui anaknya dalam keadaan semacam ini. Oh, benar-benar kelewatan anak-anak jaman sekarang. "Eomma, ada apa?" Joo Heon menatap heran ke arah Nyonya Lee yang tengah duduk di sofa ruang keluarga sembari memijit pelipisnya. Sekedar informasi, Chang Kyun sudah diperbolehkan pulang begitu penanganan selesai dan anak itu sedang beristirahat di kamarnya sendiri sekarang. "Duduklah," perintah Nyonya Lee dan Joo Heon patuh, ia mendudukan diri di sisi Eomma-nya. Nyonya Lee melayangkan satu tangannya guna mengusap surai legam Joo Heon. Dielusnya kepala itu lembut kemudian mengecupnya. Menanggapi hal tersebut, Joo Heon lantas menyandarkan kepalanya ke bahu sang Eomma kemudian memeluknya. "Eomma," lirih Joo Heon. "Ada apa?" Nyonya Lee berusaha melihat wajah Joo Heon, namun pemuda itu malah menenggelamkan wajahnya. "Apa yang harus kulakukan? Aku sungguh merasa bersalah pada Chang Kyun. Aku bingung," tutur Joo Heon penuh penyesalan. Nyonya Lee terkekeh. Ia tidak menyangka jika putranya ini akan mengungkapkan tentang penyesalannya dengan raut seperti orang yang memendam rasa cinta pada gadis yang disukainya. Kembali dielusnya surai namja tersebut sembari berujar. "Jika kau menyesal jangan hanya bercerita tentang penyesalan itu, tidak ada gunanya. Perbaikilah sikapmu pada Chang Kyun. Memang, di awal akan terasa sulit. Namun Eomma yakin jika kau mau melakukannya dengan senang hati maka itu akan terasa mudah dengan sendirinya," terang Nyonya Lee yang dengan mudah diterima oleh Joo Heon. "Tapi, apa Chang Kyun mau memaafkanku?" "Tanyakan saja sendiri pada Chang Kyun, dasar pengecut." Hyun Woo yang tiba-tiba muncul dari arah dapur langsung membalas pertanyaan yang seharusnya tertuju untuk Nyonya Lee. Joo Heon menegakkan posisi duduknya dan menatap tak suka pada Hyun Woo. "Eomma," rengek Joo Heon yang membuat Nyonya Lee geleng kepala. "Hyun Woo. Mengapa kau mengambilnya?" "Memangnya aku mengambil apa?" tanyanya tak paham. Hey! Dia baru tiba di sana dan langsung mendapat tuduhan tak jelas. Tak mau bertambah pusing dengan tingkah kedua putranya, Nyonya Lee memilih berdiri dan mengambil langkah menuju dapur. Sebentar lagi waktu makan malam. "Bangunkan Chang Kyun untuk makan malam, Joo Heon. Kau bisa memulainya dari situ," ujarnya memberi saran sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu dapur. Tak berselang lama, Joo Heon pun bangkit mendekati Hyuniwoo yang masih terlihat bingung dengan tuduhan yang baru saja dilayangkan padanya. "Berhenti mengambil s**u pisangku!" tegas Joo Heon lantas merebut sekotak s**u yang berada di genggaman Hyun Woo kemudian menyedotnya hingga tandas. Selesai menghabiskan isi dari kotak tersebut, Joo Heon mengembalikan bungkus tersebut pada Hyun Woo dan berlalu. "Ahh ... jadi ini miliknya? Ck ... mana aku tahu," ujar Hyun Woo bermonolog sebelum akhirnya bergerak mendekati tempat sampah dan melempar kotak tersebut ke dalamnya. . . . Dilihatnya Changkyun tengah mengeliat kecil guna mengubah posisi tidurnya. Awalnya terlihat biasa saja, nyaman dan tentram. Namun hal itu tak bertahan lama ketika Joo Heon melihat pemuda mungil itu mulai bergerak gelisah sembari bergumam tak jelas. Dahinya mengernyit membentuk kerutan halus dengan raut wajah ketakutannya. Dari kesimpulan yang diambil, Joo Heon tahu jika bocah itu tengah memimpikan suatu hal yang tak menyenangkan dalam tidurnya. Mimpi apa? "Jangan ... jangan ...." gumam Chang Kyun gelisah. Melihat hal itu, Joo Heon tentu tak tinggal diam. Ia bergerak mendekati Chang Kyun kemundian mengelus dahi pemuda itu pelan, berharap mimpi buruk itu hilang dan diganti dengan mimpi lain yang indah. Seolah paham dengan kehendak Joo Heon, kerutan di kening Changkyiun perlahan menghilang dan bocah itu tak lagi bergerak gelisah melainkan kembali terlelap dan mengeluarkan dengkuran halus. Joo Heon menghela nafas lega menanggapi perubahan tersebut, tanpa sadar seulas senyum kecil terpatri di sudut bibirnya. "Biarkan aku memulai semua dari awal," lirih Joo Heon kemudian kembali mengusap pucuk rambut bocah yang tengah terlelap. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN