Hari Sabtu, pukul 23.45 KST.
Kali ini Hyun Woo sedang berbaring di kasurnya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Shin Hoseok mengirim pesan.
"Lee Hyun Woo, biasakan kau datang ke rumahku sekarang?"
Hyun Woo mengernyitkan dahinya. Now what?
Hyun Woo mengirimkan balasan.
"Ada apa? Sekarang apa lagi? Kau mau menyuruhku menemanimu lagi? Aku menolak."
Shin Hoseok membalas pesan Hyun Woo.
"Aku mohon. Rumahku terlalu besar, aku takut. Eomma dan Appa-ku sedang tak di rumah."
"Ya, ya, ya ... kau itu memalukan sekali. Kau sudah bukan anak kecil lagi. Dan lihatlah tubuhmu yang berotot itu."
Hoseok tetap bersikeras.
"Ayolah ... Lee Hyun Woo. Aku akan memberimu daging yang banyak jika kau kemari. Bahkan kau boleh habiskan seluruh stok daging di rumahku."
Hyun Woo menyerah. Temannya itu memang paling tahu cara untuk membujuknya.
"Aku tahu, aku tahu. Aku akan tiba dalam 10 menit lagi."
Shin Hoseok mengirim balasan terakahirnya, "Good Boy."
Hyun Woo beranjak dari kasur dan mengambil hoodie hitam kesayangannya kemudian mengenakan sebuah topi yang juga berwarna senada. Tidak ada salahnya jika ia pergi menemui Hoseok. Toh Nyonya Lee dan Joo Heon juga sedang tidak ada di rumah.
Hyun Woo menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seseorang seperti bergumam? Tapi siapa? Bukankah sudah tak ada orang di rumahnya selain dia?
Hyun Woo menepuk dahinya setelah mengingat sesuatu.
‘Changkyun?!’
Perlahan Hyun Woo membuka pintu kamar Chang Kyun yang terletak di antara kamar Joo Heon dan dirinya.
“Maafkan aku, Appa … hiks ... maafka aku, ini salahku. Hyung ... maaf ... hiks ... Semua ini salahku ….”
Im Chang Kyun, pemuda itu menangis ketika tak lagi menyadari keberadaan orang lain di sekitarnya. Menyalahkan diri sendiri hanya untuk mendapatkan ketenangan yang justru membuatnya semakin terjatuh dalam keputusasaan.
“Tolong jangan ... hiks … jangan benci aku … hiks … ini menyakitkan. Aku mohon ... selamatkan aku ....”
Terlihat keringat mengalir dari kening Chang Kyun. Ya, nampaknya bocah itu sedang mimpi buruk sekarang. Lihatlah! Bahkan di dalam mimpi sekalipun Tuhan tidak memberikan kebahagiaan bagi pemuda malang itu.
Hyun Woo. Apa yang dia lakukan? Hanya menatap Chang Kyun yang tenggelam dalam mimpi buruknya.
“Ini sangat menyakitkan ....” kali ini Chang Kyun menangis dalam lelapnya.
Perlahan Hyuniwoo melangkahkan kakinya mendekati ranjang tersebut. Perlahan mendudukkan diri di sisi ranjang Chang Kyun. Tatapan pemuda itu tanpa sadar melembut, menunjukkan rasa prihatinnya terhadap pemuda malang itu.
Apakah sesakit itu? Bahkan dalam tidur pun air mata mengalir begitu derasnya.
“Hiks … sakit … hiks ….”
“Chang Kyun, Im Chang Kyun! Bangunlah.”
Hyun Woo tak tega melihat hal itu dan mencoba membangunkan Chang Kyun dengan menepuk pelan tubuh mungil itu.
Bukannya terbangun, tangis Chang Kyun justru semakin terdengar menyesakkan.
“Ya! Im Chang Kyun! Bangunlah. Jangan membuatku takut!”
Kali ini Hyun Woo mengguncangkan tubuh Chang Kyun dengan sedikit kasar hingga membuat si pemilik tubuh itu tersentak dan membuka matanya.
“Hyun-Hyun Woo Hyung? Mengapa kau di sini?” Chang Kyun segera mendudukkan dirinya dan menoleh pada Hyun Woo, memandang dengan tatapan bingung.
Sepersekian detik kemudian Chang Kyun menyadari apa yang terjadi dan segera mengusap air matanya dengan kasar.
“Maaf sudah membuatmu terganggu, Hyung.”
Tanpa diduga Hyun Woo menarik tubuh Chang Kyun ke dalam lengan kekarnya. Dan tentu saja hal itu membuat Chang Kyun bingung. Baru kali ini ada orang di rumah itu yang mempelakukannya seperti itu.
“Kenapa, Hyung?”
“Menagislah jika itu menyakitkan,” sahut Hyun Woo singkat.
Tidak ada suara keluar dari mulut bocah yang ada di pelukannya. Bocah itu hanya diam dan membalas pelukan darinya. Tak lama kemudian punggung kecil itu bergetar dan disusul isakan di detik berikutnya.
Hyun Woo menepuk bahu itu. Memberikan sedikit kehangatan yang bahkan ia sendiri pun tak yakin bahwa itu yang di inginkan oleh Chang Kyun. Tapi jika pemuda itu diberikan kesempatan untuk mengatakan kejujuran, maka Chang Kyun akan mengatakan bahwa saat-saat seperti itulah yang paling ia nantikan selama ini.
Seseorang yang menawarkan bahunya ketika ia merasa kesakitan. Seseorang yang memperlakukannya layaknya keluarga yang sesungguhnya. Seseorang yang membuatnya merasa aman. Im Chang Kyun telah menantikan hal itu dalam waktu yang sangat lama.
“Benar. Menagislah ... setidaknya biarkan yang seharusnya mengalir itu mengalir. Jangan ditahan.”
Hyun Woo mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan sebuah nomor.
“Ya! Kau bilang akan tiba dalam 10 menit. Tapi kenapa belum sampai hah!”
Hyun Woo menjauhkan benda kotak pipih itu dari teliganya ketika suara Hoseok yang cukup nyaring itu menyerang pendengarannya dengan membabi buta.
“Maafkan aku, Hoseok. Hari ini aku tidak bisa. Mungkin kau bisa suruh yang lain selain aku.”
“Apa? Tapi kenapa? Bukankah beberapa menit yang lalu kau mengatakan bahwa kau akan kemari? Kenapa tiba-tiba membatalkan janji yang baru saja kau buat?”
“Akan aku jelaskan nanti. Aku tutup dulu teleponnya.”
Hyun Woo memutuskan sambungan secara sepihak sebelum kawannya itu berbicara lebih banyak lagi.
Hyun Woo kembali fokus pada Chang Kyun yang masih setia dalam isaknya tersebut. Perlahan ia mengelus bahu Chang Kyun. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia bahkan tidak yakin dengan perasaannya sendiri saat ini.
Beberapa menit kemudian, Chang Kyun menarik diri dari tubuh Hyun Woo. Menunduk dalam dengan sisa isak tangis yang masih kerap terdengar.
“Maafkan aku, Hyung. Aku sudah merepotkanmu,” gumam pemuda itu.
“Tidak masalah, kau bisa melakukannya selama mungkin.”
“Sungguh?” Chang Kyun refleks mengangkat wajahnya. Memandang Hyun Woo dengan binar mata yang menunjukkan sebuah harapan.
Hyun Woo menganggukkan kepalanya, membiarkan Chang Kyun kali ini memiliki harapannya.
“Terima kasih, Hyung.”
Chang Kyun kembali memeluk tubuh kekar Hyun Woo dan menyembunyikan wajahnya ke dalam d**a bidang pria itu. Dan tentu saja kembali menangis.
"Terima kasih banyak, Hyun Woo Hyung ... terima kasih ..."
Hyun Woo mengelus punggung Chang Kyun sehalus mungkin. Ia tahu bocah ini sangat rapuh, tapi ia sendiri tak tahu mengapa ia masih saja menyakitinya.
Sakit di masa lalu tak mudah untuk dilupakan begitu saja. Hei … ayolah. Hyun Woo bukan tipe orang yang mudah melupakan kesalahan seseorang. Yah ... meskipun dia juga bukan tipe pendendam seperti adiknya. Tapi yang masih dipertanyakan di sini adalah. Benarkah bocah ini telah melakukan kesalahan? Entah … Hyun Woo sendiripun masih memikirkannya.
Dan lihatlah wajah bocah ringkih ini. Rupanya yang sangat tenang begitu mimpi buruk itu pergi. Dia bersih dan tanpa dosa. Orang bodoh mana yang tega menorehkan luka padanya? Ada. Dan salah satu dari orang itu adalah dirinya sendiri. Lee Hyun Woo, kakak dari si berandal bermata sipit yang sangat manja.
Hyun Woo dengan hati-hati meletakkan kepala Chang Kyun kembali ke bantal. Anak itu sudah terlelap di akhir tangisnya. Wajahnya sangat damai saat tidur dan itu menjadi kelegaan tersendiri bagi Hyun Woo yang melihatnya.
#BLIND#