BLIND-SIX

1548 Kata
“Yoo Kihyun!” Seorang pria berlari kecil ke arah Kihyun dengan senyum cerahnya. Kihyun sedang duduk di sebuah sofa di roof top sekolahnya sambil menikmati pemandangan kota yang dapat dilihat dengan jelas dari sini. Kihyun tersenyum mendapati sahabatnya yang terlihat sedang bahagia. Terlihat di tangannya sudah penuh dengan makanan ringan yang dipastikan siap disantap bersama. Pemuda itu mendudukkan dirinya di samping Kihyun dan melemparkan beberapa camilan pada remaja mungil itu. Dengan senang hati Kihyun menerima, karena kebetulan bocah itu sedang lapar sekarang. “Aigoo! Hari ini aku sungguh bahagia,” tutur pemuda yang baru saja datang itu. Kihyun memandang sesaat kawannya dan tertawa pelan. “Kenapa? Bukankah kau selalu bahagia setiap hari, Tuan Lee Min Hyuk?” Min Hyuk balas tertawa menanggapi ucapan kawannya. “Benar, aku memang selalu bahagia. Tapi hari ini aku sedang sangat-sangat bahagia,” sahut Min Hyuk masih dengan senyum jenaka. Kihyun memasang ekspresi herannya. Kali ini apa lagi? “Kenapa? Kenapa? Kenapa? Ada apa? Apa yang membuatmu sangat-sangat bahagia hari ini?” Kihyun tak bisa menyembunyikan tawanya jika sudah melihat tingkah Min Hyuk yang selalu mengekspresikan rasa bahagianya secara berlebihan. “Entahlah. Aku hanya sedang ingin merasa bahagia saja,” sahut Min Hyuk kemudian yang disambut gelengan kepala dari Kihyun. Persis seperti yang diduganya. “Aku tahu, aku tahu ... aku sudah menduga itu akan terjadi.” Min Hyuk menyodorkan beberapa bungkus makanan yang tadi dibawanya pada Kihyun. “Aku lihat akhir-akhir ini kau dekat dengan murid baru,” Min Hyuk membuka percakapan. “Benar,” jawab Kihyun singkat dan sibuk mengunyah biskuit. “Kenapa?” “Kenapa? Apa maksudmu?” Kihyun memandang Min Hyuk tak mengerti. “Mengapa kau dekat dengannya?” “Bukankah aku selalu dekat dengan semua orang? Dan kau pun tahu itu,” Kihyun makin tak mengerti maksud pertanyaan temannya ini. Min Hyuk menggaruk kepalanya, mencoba mencari kata yang tepat untuk disampaikan pada Kihyun. “Bukan, bukan itu maksudku. Aku tahu kau adalah seorang Sunbae yang ramah dan baik pada Hoobae, aku kan juga seperti itu.” Kihyun memutar bola matanya malas. Selain ceria, Min Hyuk juga suka memuji diri sendiri. “Lee Min Hyuk!” “Hahaha … baiklah baiklah. Jadi maksudku, kedekatanmu dengan bocah itu terlihat berbeda. Kau terlihat seperti menaruh perhatian padanya. Dan satu lagi, dia buta, kan?” Min Hyuk memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat yang terakhir. Jadi itu yang dimaksud sahabatnya. Kihyun diam sejenak, ia menarik nafas panjang dan membuangnya dengan berat. “Ya! Kenapa malah diam? Jawab aku,” Min Hyuk menepuk bahu Kihyun. “Benar. Dia buta, tapi bukan itu yang membuatku ingin dekat dengannya dan tentu saja aku dekat bukan karena aku kasihan,” sahut Kihyun dengan pandangan lurus ke depan. “Lalu?” “Kau akan tahu jika kau sudah bertemu dengannya dan menatap matanya.” “Maksudmu?” kini giliran Min Hyuk yang tak paham. Kihyun mengalihkan pandangannya dan menatap Min Hyuk. “Dia selalu tersenyum, dan aku akui matanya indah. Tapi ….” Kihyun memberi jeda antar kalimatnya. Min Hyuk mengernyitkan dahinya menanti lanjutan cerita dari kawannya. “Di dalam mata itu terdapat kebalikan dari senyum yang selalu dia suguhkan, dia sendirian.” Min Hyuk terdiam mencoba mencerna maksud ucapan sahabatnya itu. Entahlah, ia masih belum paham sepenuhnya. Tapi dalam hatinya timbul niat untuk membuktikan ucapan Kihyun. “Baiklah, Yoo Kihyun. Kau sudah membangkitkan rasa ingin tahuku. Jadi aku akan menemui bocah itu dan membuktikan kata-katamu,” ucap Min Hyuk mantap. Ctakk!! Kihyun melayangkan satu jentikkan ke kening Min Hyuk. “Awww! Ya! Kau gila?” “Dia bukan bocah. Dia punya nama dan namanya Im Chang Kyun,” sahut Kihyun santai dan tersenyum. Min Hyuk mengelus keningnya yang mungkin kini sudah berubah warna. Ia mengutuk jari Kihyun yang selalu seenaknya mendaratkan ttakbam di dahi Minhyuk. •°•BLIND•°• “Halo Joohoney,” sapa Hyung Won tepat saat Joo Heon membukakan pintu rumahnya. “Yak! Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu. Menjijikan,” sahut Joo Heon memasang wajah tak sukanya. “Kenapa? Bukankah itu terdengar menggemaskan dan cocok dengan wajahmu?” ujar Hyung Won masih menggoda sahabatnya. “Diam atau kau pergi dari hadapanku?” Joo Heon bersiap menutup pintu, tapi dengan sigap Hyung Won menerobos masuk. Joo Heon menggerutu dan mengucapkan u*****n yang ditujukan padanya. Tapi Hyung Won tak peduli. “Heisshh … kau kejam sekali pada teman sendiri.” Hyung Won melangkahkan kaki memasuki rumah besar itu selayaknya rumah sendiri. Berjalan dengan tas yang tersampir di punggungnya menuju ruangan dimana mereka biasa mengerjakan tugas bersama. Tapi langkahnya terhenti ketika ruang tersebut sudah terisi oleh seseorang. Joo Heon yang tadi mengekor di belakang Hyung Won ikut menoleh. “Huh! Tunggu di sini, biar aku urus dia dulu,” ujar Joo Heon dengan nada kesal dan berjalan menuju Chang Kyun, tapi ditahan oleh Hyung Won. “Biar aku saja. Kau ambil saja bukumu.” Joo Heon menatap kawannya heran. “Cih! Sejak kapan kau peduli dengan buku?” Hyung Won tersenyum dan menurut Joo Heon itu menyebalkan. Sok tampan, pikirnya. “Aku hanya ingin bermain sebentar dengan adikmu. Apa tak boleh?” “Terserahlah.” Joo Heon lebih memilih pergi ke kamarnya dan mengambil beberapa buku yang akan ia kerjakan bersama Hyung Won. Hyung Won melangkahkan kakinya semakin dekat dengan Chang Kyun. Anak itu sepertinya sedang fokus belajar sampai tak menyadari langkah seseorang yang mendekatinya. Bahkan mulutnya tampak bergerak seperti anak kecil yang sedang menghafalkan sebuah kalimat dari buku braille. Bohong jika Hyung Won tidak gemas melihatnya. Ia mendudukkan dirinya di samping tubuh mungil Chang Kyun. Anak itu langsung menghentikan kegiatan membacanya ketika tahu ada seseorang yang duduk di sampingnya. “Siapa kau?” Chang Kyun menoleh ke arah orang di sampingnya. “Owh … maaf aku sudah menganggumu,” sahut Hyung Won. Chang Kyun mengernyitkan dahinya. Suara orang ini cukup asing di telinganya, dan ia yakin belum pernah mendegarnya. Hyung Won menyadari kebingungan Chang Kyun. “Aku Shin Hyungwon, teman Joo Heon sejak kecil. Kau ingat? Oh … dan aku sekarang satu kelas dengan Joo Heon,” ucap Hyung Won memperkenalkan diri. Chang Kyun mengedipkan matanya beberapa kali dan mencoba mengingat. Siapa? Entahlah. Bagaimana ia bisa tahu siapa saja teman Joo Heon sedangkan ia selalu bersembunyi di kamarnya saat Joo Heon membawa temannya ke rumah. Joo Heon mengatakan bahwa ia hanya membuat malu di depan temannya. Berbeda dengan Hyun Woo yang lebih memilih tidak peduli dengan keberadaan dirinya dan menurut Chang Kyun itu lebih baik. Hyung Won menepuk bahu Chang Kyun. Anak ini sedang melamun ternyata. “Kau melamun?” “Eoh. Maaf Sunbae, tapi aku tidak ingat.” Chang Kyun buru-buru merapikan bukunya yang berserakan di atas meja dan beranjak dari duduknya. Joo Heon pasti akan memarahinya jika ada temannya yang tahu kalau dia adalah adiknya. “Hei. Hei. Hei. Kau mau ke mana? Tak usah takut begitu. Di sini saja, kau bisa belajar bersama kami,” Hyung Won meraih pergelangan tangan Chang Kyun untuk menahan langkah anak itu. “Maaf, aku sudah selesai,” sahut Chang Kyun singkat lalu menepis tangan Hyung Won dan melanjutkan langkahnya. “Baik, baik. Kalau kau keberatan. Tapi kau jangan berjalan seperti itu, pelan-pelan saja. Aku tidak akan mengejarmu.” Hyung Won mengangkat kedua tangannya pasrah. Ia tahu penyebab ketakutan Chang Kyun adalah Joo Heon. Apa yang sudah Joo Heon perbuat sampai-sampai Chang Kyun takut dengan segala yang berhubungan dengan Joo Heon? Keluarga yang menyedihkan. Oh, bukan keluarga, tapi hanya bocah itu. Batin Hyung Won. Chang Kyun melangkahkan kaki terburu-buru menuju kamarnya sampai tak sengaja menabrak Joo Heon yang baru saja keluar dari kamarnya. Buku yang tadi dibawa oleh Joo Heon kini jatuh berserakan bersamaan dengan tubuhnya yang terduduk di lantai. Tentu saja ia kalah kuat dengan tubuh Joo Heon yang lebih besar darinya. “M-maafkan aku, Hyung. Aku tak sengaja,” ucap Chang Kyun gugup. Ia berdiri, kemudian membungkuk 45 derajat. “Yak! Kau mau membuatku sakit jantung hah?!” Bagaimana tidak? Ia baru saja keluar dari kamarnya dan langsung ditabrak begitu saja. “Maaf.” Nyali Chang Kyun semakin ciut. “Menyingkirlah dari hadapanku, sialan!” Joo Heon mendorong bahu kecil Chang Kyun dan sekali lagi membuat pemuda itu terduduk di lantai. Kemudian ia pergi begitu saja menemui Hyung Won. “Aishh … benar-benar. Mood-ku rusak sekarang,” gumam Joo Heon kesal yang masih bisa ditangkap oleh telinga Chang Kyun. Chang Kyun membereskan bukunya yang berserakan di lantai. Hatinya kembali terluka dan satu tetes cairan hangat lolos begitu saja dari netra hitamnya yang masih indah meski tak berfungsi. “Jangan menangis, Im Changkyun ... ini, kan salahmu,” Chang Kyun mencoba menenangkan diri sendiri dan menghapus air matanya yang hendak menetes lagi. Hyun Woo yang tak sengaja melintas mengerutkan keningnya. Kamar mereka memang berjajar. Dan kamar Hyun Woo berada di paling ujung lantai dua. Ada apa lagi? Pikir pemuda itu. “Hyun Woo Hyung,” sapa Chang Kyun yang menyadari kehadirian Hyun Woo. Pemuda itu sudah selesai menata bukunya. “Kau menangis?” tanya Hyun Woo tepat sebelum Chang Kyun melangkahkan kakinya. “Eh?” Chang Kyun tak terlalu mengerti ucapan Hyun Woo. “Tidak. Lupakan,” Hyun Woo melanjutkan langkahnya dan mengutuk mulutnya sendiri yang sudah mengucapkan pertanyaan bodoh. Chang Kyun mematung beberapa saat di depan pintu kamarnya. Apakah tadi adalah sebuah perhatian? •°• BLIND •°•
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN