BLIND-FIVE

1054 Kata
Waktu pulang sekolah sudah usai beberapa waktu yang lalu. Chang Kyun baru saja pulang karena ia masih mengikuti kelas musik, dan alhasil ia baru pulang saat waktu menunjukkan pukul 20.30 KST. Ia sedang berdiri di Halte saat seseorang berdiri di sampingnya. Aroma ini? “Joo Heon Hyung? Ini Joo Heon Hyung, ‘kan?” Joo Heon hanya diam saat seseorang di sampingnya menyebut namanya. Ia memang tak peduli. Dalam hatinya ia mengutuk kepekaan bocah itu terhadap bau. “Hyung, hari ini kau pulang naik bus?” Masih tak menyerah, Chang Kyun bertanya lagi. Dan Joo Heon, tetap tak menyahut. “Kalau begitu kita pulang bersama saja, aku ingin bersamamu, Hyung,” ajak Chang Kyun takut-takut. Lagi-lagi tak ada jawaban, dan bodohnya Chang Kyun yang terus bebricara. “Sudah satu bulan aku sekolah di sini, dan kita belum pernah berangkat maupun pulang bersama,” ujar Chang Kyun penuh harap. Entah sudah berapa kali Chang Kyun berceloteh dan terus di abaikan oleh sosok yang berdiri di sampingnya. Pria berlesung pipi itu mulai geram, didorongnya tubuh bocah yg lebih kecil darinya itu dengan sedikit keras hingga Chang Kyun terhuyung mundur. “Diam kau! Jangan berbicara denganku seakan kau mengenalku,” sahut Joo Heon dingin. Pemuda itu juga bergeser menjauh. “Kenapa? Aku ‘kan memang mengenalmu?” Chang Kyun sedikit bingung, namun tak perlu waktu lama untuk tahu maksud di balik ucapan kakaknya. Chang Kyun menundukkan kepalanya. Selalu merasakan sakit yang sama, padahal sering terluka. Seharusnya kebas, bukannya makin sakit. Haruskah ia menjadi monster terlebih dulu agar bisa melupakan apa itu rasa sakit? “Apa kau malu karena aku bu—” “Ya, karena kau buta! Maka diamlah dan jangan pernah berbicara padaku saat berada di sekolah. Memalukan!” sahut Joo Heon dengan sedikit membentak sebelum Chang Kyun selesai mengucapkan kalimatnya. Wajah Joo Heon sedikit memerah karena menahan rasa kesal dan marahnya. Ia tak ingin sampai memukul Chang Kyun di tempat umum. Chang Kyun bungkam seketika mendengar kalimat kasar dan sarkas dari mulut Joo Heon. Ia menundukkan kepalanya dan merasakan cairan hangat menggenangi pelupuk matanya. Ia buru-buru mengusap matanya guna mencegah agar cairan itu tidak jatuh. Joo Heon tentu saja menyaksikan hal itu, tapi ia memilih diam dan tak mau peduli. Ia tahu hati Chang Kyun terluka karena ucapannya, tapi itu belum seberapa dengan luka miliknya. Jadi tak masalah bukan? Tak berselang lama bus tiba. Joo Heon melangkahkan kakinya memasuki bus, begitu juga Chang Kyun yang masih setia dalam diamnya. Isi bus cukup penuh, namun masih menyisakan dua buah kursi yang saling berjajar. Joo Heon memutuskan untuk duduk dengan poisi di dekat jendela sambil menikmati indahnya suasana malam di kota Seoul. Sementara Changkyun? Bocah itu berdiri sembari memegangi tiang dalam bus dikarenakan tak tahu letak pengangan. Hingga sang sopir menegurnya, bocah itu tak tahu harus bagaimana. “Hei Nak, kenapa kau berdiri? Duduklah di sebelah siswa sipit itu, kursinya masih kosong. Dia ada tepat di sebelah kananmu,” ujar sang sopir yang melihat Chang Kyun berdiri, tangannya menunjuk kursi di samping Joo Heon masih kosong. Tampaknya pria itu tahu jika Chang Kyun tak bisa melihat. Hanya dengan instruksi dari si sopir, Chang Kyun segera paham jika yang dimaksud dengan orang sebelah kanan adalah Joo Heon. Namun, bocah itu takut untuk langsung mengambil keputusan. “Bolehkah, Hyung?” Alhasil ia bertanya pada Joo Heon yang masih tetap memandang keluar. “Duduk saja. Abaikan keberadaanku,” sahut Joo Heon tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Mendengar jawaban sang kakak, Chang Kyun tahu jika Joo Heon sebenarnya enggan duduk dengannya tapi juga tak bisa menolak. Meskipun begitu, Chang Kyun sangat senang pada akhirnya bisa duduk di samping Joo Heon. Bukankah itu suatu hal yang langka baginya karena bisa duduk dengan orang yang disayanginya? Bagi seorang Im Chang Kyun, hal seperti ini mungkin adalah hal yang langka. Mengapa? Karena besok belum tentu ia akan berdampingan dengan Joo Heon, kakak berhati batu. •°•BLIND •°• Udara malam begitu dingin, keduanya turun dari bus dan harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai ke kediaman mereka. Joo Heon berjalan di depan, mengabaikan Chang Kyun yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Bunyi ketukan yang berasal dari tongkat Chang Kyun memecah keheningan malam. Waktu menunjukkan pukul 21.45 KST ketika mereka berjalan menaiki jalan setapak. Ya, itu adalah jalan pintas yang biasanya digunakan oleh penduduk setempat yang menggunakan bus sebagai transportasi. “Hyung … tunggu sebentar.” Chang Kyun berseru pada orang yang berjalan dua meter di depannya. Joo Heon yang merasa kesal karena udara semakin dingin lantas mendengkus gusar. Ia memutar badan hingga berhadapan dengan orang yang baru saja memanggilnya. Dilihatnya sosok Chang Kyun yang berhenti sembari memegangi dadanya. Entah apa yang terjadi pada anak itu, Joo Heon tidak terlalu ingin tahu. Chang Kyun mendengar langkah kaki Joo Heon terhenti lantas berujar, “Dadaku sakit, Hyung. Bisa tolong jangan terlalu cepat berjalan.” Chang Kyun mencoba mengatur napas. Mendengar hal itu, Joo Heon jadi ingat kejadian siang tadi. Meski tak melihat secara langsung, ia mendengar cerita detail dari Hyung Won bahwa Chang Kyun ditindas oleh teman sekelasnya. Apakah ia terluka karena itu? “Apa hakmu memerintahkanku untuk berhenti? Tidakkah kau merasa dingin? Aku ingin segera pulang dan tidur, sial!” u*****n Joo Heon dengan kesal. Kendati begitu, Joo Heon tetap berhenti dan mengamati gerak-gerik Chang Kyun selama beberapa saat. Dia ingin memastikan, apakah bocah itu sungguh terluka atau hanya mencari perhatian saja. Di samping itu, Chang Kyun yang semula menunduk dan mengelus dadanya kini kembali berdiri tegak dan tersenyum kecil. “Maaf, tadi dadaku sedikit sakit. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Kau boleh melanjutkan jalanmu, aku akan mengikuti pelan-pelan, Hyung,” tukas Chang Kyun tanpa mengurangi senyum. Joo Heon berdecak kesal. “Aku bahkan tidak peduli jika kau mati saat ini juga. Berhenti mencari perhatian dan pulanglah atau Eomma akan mengunci pintu dan membiarkanmu tidur di luar,” tegasnya tanpa beban. Setelah itu, Joo Heon berbalik dan melanjutkan langkahnya. Mengabaikan sosok yang berdiri membeku dan termangu. Ucapan sang kakak benar-benar menusuk ulu hati bocah itu. Sangat sakit sampai-sampai Changkyun ingin lenyap seketika. Dengan serpihan hati yang semakin hancur, bocah itu berusaha melanjutkan langkah. Dadanya terasa sesak, namun sakit itu tak sebanding dengan kehancuran hatinya. Di malam yang dingin dan semakin menjerumuskannya dalam kegelapan, Chang Kyun berharap bahwa hatinya tidak akan hancur sebanyak apapun luka yang akan ia terima setelah hari itu. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN