BLIND-THIRTY SEVEN

1509 Kata
Waktu bergulir dengan cepat, dua remaja tanggung yang tadinya sibuk berkutik dengan rumus-rumus di papan tulis kini tengah berjalan di lorong sebuah rumah sakit. Tak ada perbincangan yang terjadi selama keluar dari gerbang sekolah hingga sekarang. Sebenarnya Hyung Won bukanlah orang yang banyak bicara, namun jika terlalu lama terjebak dalam keheningan. Ketika di dalam bus, beberapa kali dirinya memancing Joo Heon untuk bicara dengan beberapa topik yang disukai bocah itu namun respon yang ditunjukkan sangat mengecewakan. Ia hanya mengangguk maupun berdeham pelan. Kamar dengan nomor 145 adalah tujuan mereka, dan keduanya sudah berdiri tepat di hadapan pintu ruangan tersebut. Bukannya meraih ganggang pintu dan masuk ke dalamnya, Joo Heon malah mematung di depannya. “Hei, kenapa diam?” Hyung Won menepuk bahu Joo Heon pelan setelah tahu bocah itu tak menampakkan niat untuk membuka pintu. Joo Heon mendesah pelan. “Kau tahu? Setiap aku memasuki tempat ini dan mendapati Chang Kyun berada di atas ranjang pesakitan, membuatku sadar jika aku ini tak berguna. Aku tahu, tak ada gunanya menyesal berkepanjangan jika semua sudah terlanjur. Tapi bukankah ini semua tak adil untuknya? Dia sudah mengalami banyak kesulitan sejauh ini, tapi mengapa Tuhan seakan tak mau membiarkan kebahagiaannya bertahan lama? Aku baru saja melihat dia tersenyum bahagia setelah sekian lama hanya bisa melihat wajah tertunduknya.” “Hei, Bung. Jangan begitu, kalian bisa membahagiakannya lebih setelah dia bangun,” ujar Hyung Won yang sebenarnya bingung harus memberi tanggapan apa atas curahan hati kawannya. Joo Heon tak menyahut dan dengan berat hati diraihnya ganggang pintu bernuansa putih tersebut kemudian menggesernya perlahan. Keduanya masuk dengan tenang ke dalam ruangan yang berwarna senada dengan pintu tersebut. Sesak dalam dadanya semakin menjadi kala mendapati pemandangan yang selama sebulan ini menyapa penglihatan Jooheon. Chang Kyun yang masih setia berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan mata terpejam. Beberapa perban yang sebelumnya melilit bagian tubuh anak itu sudah di lepas. Luka ringan seperti goresan-goresan yang dulu menghiasi tubuh mungil itu pun sebagian sudah hilang. Secara fisik, kesehatan Chang Kyun sudah jauh lebih baik dari sebulan lalu. Alat bantu pernapasan berbentuk masker yang sebelumnya menutupi sebagian wajah manis itu sudah berganti dengan selang. “Hai. Maaf, Hyung baru bisa datang sekarang,” sapa Joo Heon begitu duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang. Hyung Won yang semula berdiri di belakang Joo Heon kini memilih duduk di sofa yang berada dalam ruangan tersebut. Ia tak mau mengusik kegiatan sahabatnya itu “Dokter bilang keadaanmu sudah normal. Syukurlah, dengan begitu kau akan bangun, kan?” Joo Heon berucap sembari mengusap punggung tangan Chang Kyun yang berada dalam genggamannya. “Satu bulan sudah berlalu, tidak lama memang. Tapi banyak sekali yang sudah terjadi, ada beberapa pertandingan futsal yang kuhadiri, temanmu juga. Dan kau tahu? Aku, maksudku kami memenangkan hampir semua pertandingan tersebut,” lanjutnya terkekeh sama sekali tak ada air mata yang menetes. Bahkan mata pun sudah lelah untuk sekedar memberinya pasokan air mata untuk ditumpahkan. “Oh, dan hari ini aku membawa teman kemari. Siapa lagi kalau Hyung Won Hyung,” terangnya lantas menatap ke arah Hyung Won. Hyung Won yang sedari tadi memperhatikan aktivitas sahabatnya tersebut seketika terkesiap begitu namanya disebut. “Eoh, halo, Chang Kyun. Maaf baru bisa menemuimu, dua minggu terakhir ini karena keluargaku terlalu banyak menghadiri acara bisnis,” sahut Hyung Won canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia tak tahu harus berucap apa sekarang. Dirinya bangkit dari duduk dan mendekat ke arah ranjang Chang Kyun. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala bocah itu dengan lembut. Meski tak begitu dekat dengan Chang Kyun, namun Hyung Won sering memperhatikan anak itu diam-diam. Dirinya benar-benar kagum dengan Chang Kyun yang bisa sabar dalam menghadapi sikap dan perlakuan keluarganya. Tetap bertahan di saat keberadaanmu tak diindahkan bukanlah perkara yang mudah, kawan. Dan Chang Kyun menjadi salah satu dari segelintir orang yang mampu melalui itu, hingga akhirnya orang-orang yang semula acuh kini mulai sadar, betapa penting keberadaan bocah itu untuk mereka. Mungkin inilah yang dinamakan karma, peristiwa yang terjadi saat ini adalah balasan atas apa yang mereka lakukan di masa lalu. Ini lah salah satu bukti jika penyesalan selalu datang di akhir, karena jika di awal adalah pendaftaran. Maaf, bercanda. “Bangunlah, kami menunggumu,” tutur Hyung Won pada akhirnya setelah hening beberapa saat. ~ Tak langsung pulang, keduanya memilih untuk mampir ke sebuah warnet yang terletak di daerah tersebut. Tentu saja ini mengandung sedikit unsur paksaan dari Hyung Won, jika tidak mana mau Joo Heon datang ke tempat itu sedangkan untuk berjalan saja dia malas. “Bukankah aku ini baik? Dilihat dari wajahmu, kau itu butuh hiburan. Jadi, mari kita bermain sebentar,” celetuk Hyung Won begitu mereka menginjakkan kaki di dalam warnet tersebut. Joo Heon merotasi bola matanya malas. “Kau pikir itu membantu? Yang benar saja. Aku akan bertambah gila karena kalah darimu.” Untuk informasi, Joo Heon dan Hyung Won bukanlah pemain yang handal karena bermain hanyalah untuk hiburan semata. Namun entah mengapa ketika bermain, Joo Heon selalu kalah dari sahabat tingginya itu. “Setidaknya kau ada kegiatan dari pada melamun,” balas Hyung Won sembari terkekeh. “Ah, tidak mau! Aku lelah, mau pulang saja,” tolak pemuda sipit itu saat Hyungwon menariknya untuk mencari bilik yang kosong. “Ya! Kita sudah berjalan sejauh ini dan kau mau menyerah begitu saja, eoh?” Yang dimaksud jauh oleh Hyung Won adalah mereka berjalan sekitar dua ratus meter dari rumah sakit tempat Chang Kyun di rawat. Sedikit berlebihan memang, namun jika berjalan dengan perut kosong tentu saja cukup menguras tenaga, bukan? “Terserah, pokoknya ….” Ucapan Joo Jeon terpotong kala sebuah getaran yang berasal dari saku almamater seragam mengusiknya. Tertera nama “EOMMA” pada layar ponsel tersebut. “Eoh. Halo, Eomma?” Mendengar apa yang baru saja sang ibu utarakan melalui telepon sontak membuat bola mata Joo Heon membola. “B-baiklah, aku akan segera datang,” ucapnya lantas menutup sambungan. “Ada apa?” Hyung Won yang semula memasang wajah masam kini nampak bingung dengan Joo Heon yang tiba-tiba berlari keluar warnet. Dengan susah payah pemuda jangkung menyamai langkah Joo Heon yang terbilang cepat atau dengan kata lain, lari. “Yak! Hah ... hah … katakan dulu padaku, a-apa yang terjadi? Da-dan berhenti berlari seperti orang gila!” Hyung Won berusap dengan napas tersengal. Joo Heon menatap kawannya dengan mata berbinar. “Chang Kyun, dia sudah membuka matanya, Hyung Won!” Tak perlu diulang dua kali, keduanya lantas memacu langkah kembali menuju tempat yang belum lama mereka tinggalkan. “Jika ujian menghampiri, tetaplah bertahan dan yakinlah akan ada ujian yang lebih sulit dari apa yang Tuhan berikan saat ini. Ingatlah jika bongkahan batu bahkan bisa berlubang oleh setetes air.” . Bahagia. Itu adalah kata yang tengah menggambarkan perasaan mereka saat mengetahui jika seseorang yang sudah ditunggu selama ini akhirnya terbangun dari tidur yang cukup panjang. Semua keluarga yang terdiri dari Nyonya Lee, Hyunwoo, dan Jooheon berada di sana. Namun bahagia tersebut sepertinya tak sepenuhnya dapat dirasakan. Ini hari kedua sejak bocah itu sadar, namun sampai sekarang tak ada sepatah kata pun meluncur dari bibir tipisnya. Chang Kyun selalu diam sejak ia pertama kali membuka matanya. Semua orang -keluarga Lee- sudah berusaha mengajak bocah itu bicara dengan berbagai topik namun sama sekali tak ada respons yang diberikan selain anggukan dan gelengan jika Nyonya Lee menawari sesuatu seperti makan atau minum. Kekhawatiran tentu saja hinggap dalam benar mereka. Bagaimana tidak? Dokter mengatakan jika ini adalah efek yang biasa terjadi pada orang yang baru saja bangun dari koma, hanya butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan diri atas kebingungan yang terjadi. Namun ini sudah dua hari berlalu dan Chang Kyun sudah sadar sepenuhnya, lalu mengapa dia masih bungkam? Bahkan sesekali bocah itu terlihat menyeka air matanya. “Chang Kyun, mau makan sesuatu?” tawar Nyonya Lee setelah terjadi keheningan yang cukup lama. Hyun Woo dan Joo Heon hanya bisa diam menyaksikan usaha sang ibu demi membuat anak itu bicara barang sepatah kata. Hari ini keduanya libur dari mata kuliah maupun sekolah. Tak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selain duduk diam di atas sofa sembari menanti bocah itu angkat bicara. Mereka pun sudah berusaha, namun hasil yang di dapat tetap nihil. Sekarang apa yang harus mereka lakukan? “Chang Kyun,” panggilan halus dari Jooheon membuat bocah itu menoleh ke arah sumber suara. “Mau jalan-jalan?” Tawaran tersebut membuat Hyun Woo mau pun Nyonya Lee mengernyit bingung. Namun tak lama kemudian mereka di buat ternganga saat Chang Kyun memberikan anggukan atas ucapan Joo Heon. “Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling. Taman di rumah sakit ini sangat indah saat pagi,” tutur Joo Heon sembari menyiapkan kursi roda untuk bocah itu. Sesaat kemudian, keduanya sudah melenggang meninggalkan ruangan tersebut dengan menyisakan dua orang lagi yang masih terheran-heran. “Ekhem … Hyun Woo. Lebih baik kau temani kedua adikmu. Eomma akan pergi menemui rekan sebentar, dan akan kembali saat jam makan siang. Hibur dia dan buat dia mengeluarkan suaranya, Eomma tidak tega melihatnya terus seperti itu,” ucap wanita itu kemudian meraih tas yang berada di atas nakas dan beranjak meninggalkan kamar tersebut. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN