BLIND-THIRTY SIX

1428 Kata
Tiga jam sudah pintu tersebut tertutup rapat, namun masih belum ada tanda-tanda jika pintu tersebut segera terbuka. Lima orang yang berada di luarnya semakin dibuat gelisah akan hal itu. Nyonya Lee yang menangis di pelukan Hyun Woo, Joo Heon yang duduk di kursi tunggu berdekatan dengan Nyonya Lee kepalanya tertunduk serta tangan yang tak henti-hentinya mengusap air mata yang sedari tadi mengalir dari sepasang mata sipitnya. Ada Hyung Won yang memandang prihatin keadaan keluarga Lee saat ini dan juga Kihyun yang berdiri mematung dengan tatapan kosongnya. Doyoung serta dua sekawan nakal yang merupakan teman satu kelas Chang Kyun sudah pulang ke rumah masing-masing dengan sedikit paksaan dari Hyung Won. Tidak baik juga jika terlalu banyak orang di tempat tersebut. Joo Heon memandang iba pada sang ibu. “Maafkan aku, Eomma. Andai aku datang lebih cepat, mungkin Chang Kyun tidak akan terluka separah itu. Aku gagal melindunginya, maafkan aku,” sesalnya sembari menggenggam jemari sang ibu. Nyonya Lee menggeleng kuat lantas merengkuh tubuh putranya dalam dekapan. “Tidak, kau sudah berusaha keras demi adikmu. Jika ditanya siapa yang salah di dalam hal ini, maka jawabannya adalah tak ada. Ini semua memang sudah takdir-Nya, kita tak bisa menghindarinya. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri,” tuturnya menenangkan. Tak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka. Semua kembali bungkam dan hanyut dalam fikiran masing-masing. Hingga hal yang sedari tadi dinanti pun tiba, di mana pintu itu terbuka dan menampakkan sosok dokter yang terlihat kelelahan. Nyonya Lee bangkit dari duduknya dan langsung menyerbu sang dokter dengan pertanyaan, “Dokter! Ba-bagaimana keadaan putraku? Dia baik kan? Operasinya berjalan lancar kan? Aku mohon jawab aku?” pintanya penuh cemas. Tak hanya Nyonya Lee, keempat pemuda yang berdiri di sana pun seakan melontarkan kata yang sama melalui tatapan matanya. Dokter muda bernama Do Jihan tersebut menghela napas lelah kemudian berujar, “Nyonya, bisakan Anda datang ke ruang kerja saya? Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan mengenai putra Anda,” ujar sang dokter yang langsung dihadiahi anggukan oleh lawan bicara. Pada akhirnya Nyonya Lee dan ditemani Hyun Woo yang pergi menemui sang dokter mengenai Chang Kyun. Sementara bocah itu sendiri sudah dipindahkan ke ruang ICU, tanpa ada satu pun yang diizinkan untuk menjenguk. Ketiga remaja itu hanya bisa memandang dari luar pintu kaca, di mana sosok lemah itu terbaring di atas ranjang pesakitan. Joo Heon maupun dua remaja di sampingnya benar-benar tak tega sekaligus ngeri dengan pemandangan yang dilihatnya. Tubuh itu dipenuhi dengan alat-alat yang tak sepenuhnya mereka mengerti dan tak hanya itu, bebarapa bagian dari tubuh lemah itu dibalut dengan perban yang menandakan betapa banyaknya luka yang didapat. “Astaga! Aku benar-benar tak paham dengan jalan pikiran Lee Min Hyuk itu? Mengapa dia bisa melakukan hal sekeji ini pada Chang Kyun? Apa salah adikku padanya? Dasar psikopat gila!” runtuk Joo Heon mengacak rambutnya frustasi. “Aku tidak menyangka jika orang yang terkenal ceria dan ramah itu bisa berbuat semenyeramkan ini,” imbuh Hyung Won dengan pandangan tak lepas dari kaca di depannya. Kihyun yang semula terpaku pada sosok Chang Kyun, kini menoleh pada Joo Heon begitu nama sahabatnya disebut. Tatapan bersalah ia layangkan pada namja berlesung pipit tersebut. “Aku meminta maaf atas nama Min Hyuk,” kata Kihyun yang membuat dua pemuda itu menoleh. “Kenapa?” tanya keduanya bersamaan. “Dia yang salah, mengapa Sunbae yang meminta maaf?” Joo Heon berujar tak terima. Kihyun menghela napas sejenak. “Min Hyuk, dia adalah seorang posesif. Dia tidak suka jika ada orang lain yang menjadi temanku. Kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya, saat itu aku dekat dengan seorang teman yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan Chang Kyun. Min Hyuk nyaris melukainya, namun gagal karena aku datang tepat waktu. Aku senang karena ia selamat, namun pada akhirnya aku harus kehilangan juga. Dia bunuh diri akibat depresi yang melanda setelah peristiwa itu.” “Salahku, andai dulu aku tidak mengenalkan Chang Kyun padanya, mungkin semua tak akan seperti ini. Semua tak akan rumit hingga harus mepertaruhkan nyawa bocah tak bersalah itu,” lanjutnya kemudian menatap pada Chang Kyun. Keduanya hanya bisa ternganga dengan penjelasan Kihyun. Tak bisa dipungkiri jika keduanya cukup terkejut akan hal itu. Posesif katanya? Senior idola para siswi di kelas mereka adalah seorang posesif pada sahabatnya sendiri dan rela melakukan apa pun demi agar sang sahabat tetap di sisinya. Memang benar apa yang sering dikatakan orang-orang. Jangan mudah menilai sesuatu hanya dari apa yang kita lihat, karena kita tak akan tahu apa isi di dalamnya. Sebagai contoh, sebuah apel tak akan terlihat busuknya jika kita tak membelahnya karena ulat menggerogoti dari dalam bukan luar. . . . . . . . “Begini, Nyonya. Terdapat banyak luka di sekujur tubuh putra anda, beberapa di antaranya adalah luka yang cukup serius. Benturan di kepalanya menyebabkan pendarahan, namun beruntung kami dapat mengatasinya dengan baik sehingga tak ada efek berbahaya yang mungkin di timbulkan oleh benturan itu. Tapi ….” Dokter itu menghela napas dengan berat. Itu menimbulkan kecemasan tersendiri bagi Nyonya Lee mau pun Hyun Woo yang tengah mendengar penjelasan sang dokter dengan khidmat. “Dua luka tusuk di bagian perut kanannya melukai dua organ penting di dalam tubuh. Tusukan cukup dalam merusak ginjalnya dan satu tusukan yang lebih dangkal mengenai organ hatinya. Oleh karen itu, dengan terpaksa kami mengangkat ginjal kanan tersebut karena organ itu benar-benar tak bisa diselamatkan. Untuk bagian hati, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya dan kini kita hanya bisa menanti perkembangannya yang terjadi. Untuk saat ini putra anda dalam kondisi koma, dan kami masih belum bisa memprediksi sampai kapan masa itu berakhir.” “Apa?” pekik dua orang dewasa tersebut. Runtuh sudah pertahanan yang sudah Hyun Woo bangun sedari tadi. Air mata yang sebisa mungkin ia simpan di balik pelupuk matanya kini tanpa dapat dicegah mengalir begitu saja. Ia peluk sang ibu yang juga sudah banjir dengan air mata. Apa kini Tuhan tengah membalas perbuatan buruk mereka pada Chang Kyun selama ini? #BLIND# Hari-hari yang berlalu belakangan ini merupakan hari terburuk yang pernah Joo Heon alami. Berawal dari Chang Kyun yang menghilang kemudian ditemukan dengan kondisi tubuh penuh luka dan sejak empat minggu lalu hingga kini bocah itu tak kunjung membuka matanya. Eomma-nya bilang jika Chang Kyun sekarang koma dan tak tahu kapan bocah itu akan terbangun. Empat minggu berlalu, itu berarti sudah satu bulan Chang Kyun dalam keadaan koma dan Joo Heon serasa kehilangan semangat hidupnya. Ia tidak jadi mengikuti Perkemahan Musim Panas dan memilih untuk berada di sisi sang adik. Ketika masa libur berakhir, ia menjadi lebih pendiam dari biasanya. Jarang menghadiri klub futsalnya dan lebih sering melamun saat jam pelajaran. Bukannya menyepelekan, namun akhir-akhir ini pikiran Joo Heon tak lepas dari Chang Kyun. Kepalanya hanya berisi sebuah pertanyaan yaitu, kapan Chang Kyun bangun? Sekarang sedang jam istirahat dan ia lebih memilih untuk duduk dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja dari pada menghabiskan waktu makan siang di kantin seperti teman-teman kelasnya. Sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya di saat Joo Heon tengah tenggelam dalam lamunan. “Makanlah,” titah pemuda yang ternyata adalah Hyung Won sembari meletakan sekotak s**u pisang dan sebungkus sandwich ke atas meja. Tersenyum tipis Joo Heon menjawab, “Terima kasih. Mengapa kau di sini?” tanyanya sembari meraih kotak s**u tersebut. “Kau pikir aku bisa makan dengan tenang di saat lebah ini tidak lagi gendut?” sahut sang kawan sarkas yang hanya mendapat kekehan pelan dari lawan bicaranya. Sepertinya Hyung Won tak menyadari jika dirinya sendiri sudah seperti bambu berjalan. Tinggi dan kurus. “Aku turut prihatin dengan adikmu, tapi aku juga tidak suka melihatmu seperti ini tiap hari. Mana Lee Joo Heon yang aku kenal dulu?” Hyung Won melanjutkan kalimatnya masih sarkas. “Hyung Won, jika kau bertanya mana diriku yang kau kenal? Maka, aku pun tidak bisa menjawabnya. Ak-aku tidak tahu seperti apa diriku yang dulu? Karena yang aku tahu hanyalah diriku saat ini, yaitu manusia tidak berguna yang tidak bisa melindungi adiknya sendiri.” Balasan itu cukup untuk membuat Hyung Won mendengus frustasi. Pada akhirnya, ia hanya bisa memberi tepukan ringan pada bahu sang sahabat dan duduk di bangkunya. “Terserah apa katamu. Tapi pulang sekolah nanti aku mau menjenguk Chang Kyun. Boleh, ‘kan? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya,” jujur Hyung Won seraya menatap Joo Heon yang tengah menikmati sandwich pemberiannya. Pemuda bermata sipit hanya membalas permintaan kawannya dengan anggukan lesu. Joo Heon memang menjadi sangat irit bicara semenjak kejadian sebulan yang lalu menimpa Chang Kyun. Jika ada yang membandingkan, maka sekarang Joo Heon bisa dikatakan mirip Hyun Woo, sang kakak, yang hanya berbicara sepatah dua patah kata ketika diperlukan. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN