BLIND-TEN

1273 Kata
“Ya! Lee Joo Heon! Apa yang sedang kau pikirkan? Kau melamun?” Hyung Won menepuk bahu Joo Heon pelan, tapi itu cukup untuk membuat Joo Heon kembali ke dunia sekarang. “Ah, tidak. Bukan apa-apa,” ujar Joo Heon pelan. “Tadi kau seperti orang melamun. Ada apa? Apa yang kau lamunkan?” “Ayo pulang, aku tidak ikut jam tambahan hari ini,” sahut Joo Heon kemudian berdiri dan mengambil tasnya. Terkesan ingin menghindari pertanyaan Hyung Won. Baiklah, sepertinya sahabatnya itu sedang dalam mood yang tidak baik. Jika sudah seperti itu Hyung Won angkat tangan. “Baiklah, baiklah. Pulanglah lebih dulu, aku akan ikut jam tambahan dulu. Akhir-akhir ini nialiku turun dan Eomma mengancamku jika nilaiku makin buruk, aku tidak boleh keluar rumah,” jawab Hyung Won yang malah menumpahkan isi hatinya. “Baiklah, see you.” “Sampai jumpa.” #BLIND# [Halte Bus] “Sial! Dia lagi?” ujar Joo Heon kesal. Moodnya kini makin buruk. Bertemu dengan Chang Kyun saat pulang sekolah merupakan kesialan tersendiri bagi Joo Heon. Dan mungkin kesialan itu sedang terjadi padanya kali ini. Dilihatnya Chang Kyun sedang duduk di bangku halte, menunggu bus. Dan nampaknya pemuda itu tidak sendirian. Saat itu Chang Kyun sedang bersama seorang pelajar yang Joo Heon kenal sebagai Jang Doyoung, juniornya di klub futsal. Joo Heon memutuskan untuk berdiri di bawah pohon dekat halte. Ia lebih memilih menjaga jarak dengan Chang Kyun yang pasti akan mengajaknya bicara jika ia di sampingnya. Karena dia harus melihat wajah polos Chang Kyun yang menurutnya menyebalkan. “Chang Kyun.” Chang Kyun memalingkan wajahnya menghadap Doyoung ketika teguran itu datang padanya. “Ya?” sahut Chang Kyun. Doyoung terdiam sesaat, “Eum … kita teman sebangku dan aku teman dekatmu,” nada suara Doyoung terdengar menggantung. “Benar, kau teman dekatku. Dan terima kasih sudah mau beteman denganku.” Doyoung menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dalam sekali helaan. “Tapi mengapa sampai sekarang kau masih belum mau terbuka padaku? Ceritakanlah tentang dirimu padaku. Paling tidak biarkan aku tahu sedikit tentangmu,” lanjut Doyoung. Chang Kyun terpaku begitu mendengar kalimat yang terlontar dari mulut sahabatnya. Hal seperti inilah yang ia takutkan jika berteman terlalu dekat dengan seseorang. Doyoung menatap lekat wajah sahabatnya yang kini menundukkan kepala. Sekali lagi ia menghela nafasnya berat. Sesulit itukah terbuka pada sahabat sendiri? Sedangkan dirinya selalu menceritakan segalanya pada Chang Kyun seorang. “Maafkan aku, Doyoung. Aku tidak bisa, karena ini terlalu sulit untuk dijelaskan,” sahut Chang Kyun pelan. “Kenapa? Apanya yang sulit? Bukankah sesuatu akan lebih sulit jika ditanggung sendiri?” Bus tiba di hadapan mereka. Dan itu menguntungkan bagi Chang Kyun pribadi. “Baiklah aku pulang dulu. Sampai bertemu di sekolah besok,” ucap Chang Kyun singkat, kemudian berdiri dan memasuki bus. “Hati-hati di jalan,” jawab Doyoung, ia pasrah karena lagi-lagi tak mendapat jawaban yang memuaskan. Mungkin belum saatnya, pikirnya. Bertepatan dengan itu juga, Joo Heon berjalan memasuki bus itu dan tak lupa menyapa Doyoung yang kebetulan beradu pandang dengannya. “Halo selamat sore, Doyoung,” sapa Joo Heon dengan senyum terkembang di kedua sudut bibirnya. “Ah, Jooheon Sunbae? Ya, apa kabar Sunbae?” sahut Doyoung sama tersenyumnya. Chang Kyun yang duduk tak jauh dari pintu masuk mendengar hal tersebut. Mengapa Joo Heon bisa semanis dan seramah itu pada orang lain tapi tidak pada dirinya? Tentu saja menyakitkan menyaksikan Joo Heon yang selalu ketus padanya tapi begitu ramah pada orang lain. ‘Kapankah kau bisa sebaik itu padaku, Hyung?’ batin Chang Kyun dengan wajah sendunya. Tapi itu tak berlangsung lama. Senyum manis kembali terukir di bibir indahnya. ‘Ya, benar. Pasti saat itu akan tiba. Aku hanya perlu bersabar, kan?’ #BLIND# Ahn Soon Young dan Park Jin Woo. Jika mendengar dua nama itu, apa yang terlintas di pikiran kalian? Tentu saja dua anak muda sialan yang tak akan pernah membiarkan hidup Chang Kyun tenang selama di sekolah. Ya. Tak akan pernah membuatnya tenang! Seperti saat ini, Chang Kyun sedang berada di dalam kamar mandi dan mereka mengunci ganggang pintu dengan batang kayu pel. Tentu saja itu membuat Chang Kyun terjebak di dalam dan tentu saja kesulitan untuk keluar. “Eh? Mengapa terkunci?” gumam Chang Kyun. Beberapa kali Chang Kyun mencoba membuka pintu toilet tersebut, tetapi tetap saja tak kunjung terbuka. “Permisi! Ada orang di luar? Tolong bukakan pintu ini,” ujarnya sembari mengetuk pintu tersebut. Tak ada jawaban dari luar. Itu berarti tak ada siapapun di toilet tersebut. Tapi Chang Kyun tak menyerah. Ia mencoba menarik ganggang pintu lagi. Byuurr Satu ember air telak mengguyur tubuh Chang Kyun. “Ahh … uhhuukk ... uuhhhuukk ....” Chang Kyun gelagapan karena tak menyadari adanya air yang tumpah di atasnya. Seragam yang dikenakannya basah seketika dan kotor. Tentu saja kotor karena dari bau airnya, bisa dipastikan itu adalah air pel dan tentu saja kotor. “Astaga! Kalian siapa? Tolonglah bukakan pintunya,” pinta Chang Kyun. “Clear,” lapor pemuda di luar tempat Chang Kyun seusai mengembalikan ember air. “Oke. Ayo kembali ke kelas. Ini jam terakhir, sepertinya ada ulangan,” ujar pemuda itu dan dijawab anggukan oleh kawannya. Suara itu?! Chang Kyun sangat mengenalnya. “Ahn Soon Young, apa itu kau? Tolong bukakan pintunya, aku mohon,” pinta Chang Kyun lagi. Soon Young sempat menghentikan langkahnya dan berucap, “Apa? Apa katamu?” “aKu mohon bukakan pintunya.” "Apa? Kau berbicara sesuatu? Aku tidak bisa mendengarmu. Jika berbicara, lakukan dengan benar!" lantang Soon Young yang sengaja menggoda Chang Kyun. Chang Kyun berujar lebih keras, "tolong bukakan pintunya. Jangan lakukan ini padaku, tolong buka pintunya!" Mereka justru tertawa. Chang Kyun sudah tahu bahwa melakukan hal itu hanyalah sia-sia, namun pemuda itu tetap melakukannya dan menjadikan dirinya semakin terlihat menyedihkan. “Eum ... bagaimana, ya? Bagaimana menurutmu Jin Woo? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Soon Young pada Jin Woo hanya untuk mempermainkan Chang Kyun lebih lama. “Hmm … Don’t do that,” jawab Jin Woo yang dilanjut dengan tawa lepas keduanya. “aKu mohon … apa salahku? Kenapa kalian melakukan ini padaku?” Kali ini suara Chang Kyun mulai terdengar serak. Ia mulai tak tenang. “Salahmu? Entahlah. Mungkin kami akan memikirkannya nanti. Kami hanya senang bermain denganmu.” “Aku pikir ini sangat menyenangkan,” lanjut Jin Woo. “Ayo Jin Woo! Biarkan saja, dia memang pantas mendapatkannya.” Terdengar langkah kaki menjauh. Kedua pemuda itu, mereka sudah keluar dari toilet. Mengabaikan Chang Kyun yang masih meminta pertolongan. “Ahn Soon Young, Park Jin Woo! Aku mohon jangan pergi. Buka pintunya! Aku mohon, jangan tinggalkan aku ... Ahn Soon Young!” Chang Kyun mengetuk pintu dengan lemah. Dadanya sesak sekarang dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya yang juga sudah basah. Ini salah satu hal yang dibenci dan ditakutinya, tentu saja selain Lee Joo Heon. “Aku mohon ... buka pintunya. Aku mohon ... jangan tinggalkan aku,” lirih Chang Kyun hampir tak terdengar. Tubuh Chang Kyun merosot, kedua kakinya sudah tak sanggup lagi menopang berat tubuh empunya. Chang Kyun terduduk di lantai yang basah, kemudian memeluk kedua kakinya. Air mata pun tak bisa lagi dibendungnya. “Tolong. Tolong aku ... hiks ... Hyung ... Eomma ... Appa .. a-aku takut ... hiks ....” “Uhh ....” Sia-sia saja, terus memohon untuk dibukakan. Sedangkan menanti seseorang tiba pun juga mungkin sulit, mengingat ini sudah jam terakhir pembelajaran. Dadanya terasa kian sesak dan sulit untuk bernafas. Chang Kyun coba mengatur nafasnya namun sepertinya sia-sia dan kesadarannya semakin menipis. “Hiks ... tolong ....” Pada detik berikutnya Chang Kyun benar-benar kehilangan kesadarannya. Tubuhnya roboh dengan air mata dan keringat yang membasahi wajah serta tubuhnya. #BLIND#
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN