Joo Heon menghela napasnya berat.
Sial. Mengapa dia harus satu sekolah dengannya?
Dan lihatlah sekarang! Setiap hari ia harus melihat wajah Chang Kyun muncul di hadapannya.
Jujur, Joo Heon membenci segalanya yang ada pada anak itu. Wajahnya, senyumnya, tawanya. Semua, semua Joo Heon membencinya!
Dia memang sudah membenci anak itu sejak pertama kali melihatnya dan menjadi adiknya.
Bagaimana tidak? Ayahnya mengadopsi Chang Kyun secara sepihak. Tanpa meminta persetujuan dari Eomma, Hyung dan dirinya.
Apalagi sejak kehadirannya di keluarga Lee, membuat ayah lebih memperhatikan Chang Kyun daripada Joo Heon yang notabenenya adalah anak bungsunya.
Okey! Sampai di situ Joo Heon masih bisa menahan rasa bencinnya. Sang kakak Hyun Woo pun hanya diam dan mengacuhkan begitu saja.
Tapi tidak ketika hal itu terjadi. Hal yang membuat keluarganya tak utuh lagi.
“Ayo, Chang Kyun!” ajak Tuan Lee yang disambut anggukkan oleh bocah enam tahun itu.
“Ke mana? Appa mau ke mana?” tanya Joo Heon yang kala itu baru berusia 7 tahun.
“Appa mau mengantarkan Chang Kyun ke toko buku,” sahut Tuan Lee sambil mengelus kepala Chang Kyun.
“Aku ikut,” rengek Joo Heon kecil.
“Tidak Joo Heon. Kau di rumah saja bersama Hyung-mu, kami tidak akan pergi lama.”
“Kenapa? Kenapa tidak boleh? Aku kan juga ingin melihat-lihat buku,” sungut Joo Heon kecil kemudian.
Tuan Lee tertawa renyah mendengar penuturan putranya.
“Kau ini. Bahkan buku yang kau beli sebulan lalu saja belum kau baca dan sekarang mau membeli lagi,” ujar Tuan Lee usai tawanya.
“Tapi aku ingin ikut, kenapa hanya mengajak dia saja?” kali ini Joo Heon kecil mulai mengerucutkan bibirnya dan menatap Chang Kyun kesal.
Chang Kyun kecil hanya menyembunyikan dirinya ke belakang tubuh Tuan Lee. Takut dengan Joo Heon yang menatapnya tajam. Sampai sekarang ia masih belum bisa dekat dengan Hyung yang satu ini. Meskipun Hyun Woo juga tidak, tapi setidaknya Hyun Woo lebih bisa bersikap dewasa.
“Appa, biarkan Joo Heon Hyung ikut,” bujuk Chang Kyun pada Tuan Lee.
“Aku, kan tidak meminta bantuanmu untuk membujuk Appa-ku,” sengit Joo Heon tak terima.
Chang Kyun semakin merapatkan dirinya di belakang Tuan Lee.
Tuan Lee sampai geleng kepala melihat sikap putranya yang satu ini.
“Astaga … putraku ini memang pecemburu sekali, ya,” ucap Tuan Lee sambil mengelus kepala Joo Heon.
“Tapi ini hanya sebentar, jadi Appa mohon agar kau di rumah saja, ya?”
Joo Heon tak menjawab dan malah menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dengan bibir mengerucut.
“Baiklah, baiklah. Appa akan membelikanmu sepatu bola yang baru lagi jika kau mau tinggal,” bujuk Tuan Lee yang sepertinya berhasil menarik atensi Joo Heon.
Joo Heon terdiam sesaat, bisa ditebak jika ia sedang memikirkan penawaran ayahnya.
“Baiklah. Untuk kali ini saja aku tidak akan ikut,” sahut Joo Heon kemudian.
Tuan Lee akhirnya tersenyum lega mendegar keputusan putranya, kemudian beranjak dari rumah diikuti langkah kaki dari Chang Kyun kecil.
Belum sampai Tuan Lee melangkahkan kakinya keluar rumah, Joo Heon kembali bersuara.
“Appa! Aku menanti janjimu!” teriaknya dari dalam.
“Baiklah, Tuan Muda,” ujar Tuan Lee gemas.
#BLIND#
Seperti yang dikatakannya. Joo Heon dengan setia menanti kepulangan Tuan Lee di depan pintu rumahnya. Hyun Woo yang melihat tingkah Dongsaeng-nya itu hanya geleng kepala.
“Joo Heon ... mau sampai kapan kau menunggu di sana? Kemari dan duduklah, di sini juga bisa,” ujar Hyun Woo sambil menepuk tempat di sampingnya.
“Tidak mau. Aku mau menunggu Appa di sini saja,” sahut Joo Heon tanpa menoleh.
“Ayolah, sudah tiga jam kau berada di situ.”
“Tidak mau!” ujar Joo Heon dengan lebih tegas.
Hyun Woo mendesah pelan. Bocah 10 tahun itu hanya pasrah jika adiknya sudah keras kepala seperti itu.
Pada akhirnya Joo Heon tetap menunggu di depan pintu sampai petang tiba. Tuan Lee yang ditunggu pun tak kunjung datang. Kali ini Joo Heon menyerah, perutnya sudah terlampau lapar dan matanya tak bisa diajak kompromi.
Dia memutuskan untuk makan dan naik ke kamarnya untuk tidur. Hatinya sudah terlampau dongkol untuk tetap menanti kepulangan Appa-nya.
Dilihatnya Hyun Woo yang juga sudah terlelap di sofa karena menunggu Joo Heon yang keras kepala. Pasalnya Nyonya Lee juga sedang tidak di rumah karena mengurusi bisnisnya di luar kota dan baru pulang larut malam nanti.
“Hyung, bangunlah. Tidurlah di kamarmu,” ucap Joo Heon sembari mengguncangkan tubuh Hyun Woo pelan.
Tak perlu waktu lama untuk membuat Hyun Woo terbangun. Karena Hyun Woo langsung membuka matanya setelah sentuhan pelan itu dan berjalan sedikit terhuyung menuju kamarnya.
#BLIND#
Entah mimpi apa Joo Heon semalam. Begitu pagi menjelang. Ia mendengar kabar bahwa ayahnya sudah pergi untuk selamanya. Mobil yang dikendarai Tuan Lee mengalami kecalakaan karena menghindari sebuah truk yang mana sopir truk tersebut dalam pengaruh alkohol.
Jadi hari itu menjadi hari terakhirnya bertemu dengan sang ayah.
Suasana duka menyelimuti keluarga Lee selama hampir sebulan lebih. Terutama Joo Heon yang benar-benar tak menyangka bahwa ayahnya pergi sebelum menepati janjinya.
Bagaimana dengan Chang Kyun?
Ya, bocah itu selamat dalam kecelakaan maut itu. Meski ia sudah tidak bisa lagi menikmati indahnya warna dunia karena indra penglihatannya tak lagi berfungsi.
‘Kejam! Bukankah ini tak adil. Mengapa Tuhan mengambil nyawa Appa-ku, sedangkan bocah itu tidak?!’ Pikir Joo Heon kecil.
Dan kebencian Joo Heon pada Chang Kyun benar-benar dimulai sejak hari itu. Hari di mana penantiannya justru membuat batinnya menderita seumur hidupnya. Sebuah janji yang telah terucap tak pernah menjadi nyata ketika sang pembuat janji telah pergi lebih dulu sebelum bisa menepati janji itu.
Alih-alih penyesalan, hanya ada rasa benci yang tersisa di dalam hati Joo Heon. Dan ia tumbuh dewasa dengan membawa perasaan itu. Perasaan yang selalu menyalahkan seseorang atas apa yang harus keluarganya hadapi. Perasaan selalu menyalahkan seseorang atas rasa kehilangan yang ia alami.
Lee Joo Heon tak tahu sampai kapan perasaan itu akan bertahan dalam hatinya, ia juga tidak berniat untuk mengakhirinya dengan mudah. Meski terkadang ada perasaan asing yang tiba-tiba muncul di hati kecilnya ketika melihat Chang Kyun terluka. Joo Heon tidak mengerti perasaan apa itu, namun karena harga dirinya yang terlalu tinggi, pemuda itu berusaha keras mengusir perasaan asing itu setiap kali ia melihat Chang Kyun dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan.
Seseorang mungkin berpikir bahwa dia adalah monster karena memperlakukan Chang Kyun dengan tidak baik. Namun Lee Joo Heon, pemuda itu memiliki alasan yang kuat kenapa dia tidak bisa memperlakukan Chang Kyun dengan layak, untuk saat ini.
#BLIND#