“Kau berbohong, bukan? Kau hanya ingin aku pulang ke rumah saja dengan berpura-pura sakit!” sahut Clara di ujung sambungan telepon, dengan suara yang bergetar. “Aku tidak berbohong, Cla! Aku sedang tidak baik-baik saja!” Setelahnya, Tabah menutup sambungan telepon. Clara memandangi layar ponselnya yang sudah berubah menjadi gelap. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Tabah, tetapi ia juga merasa tidak mungkin Tabah berbohong. Terlebih lagi ia sempat mendengar suara tangis Tabah, sebelum ia menutup panggilan telepon. ‘Apa aku harus ke rumah dan melihat keadaan Tabah? Bagaimana, kalau ia berbohong dan hanya ingin memperlihatkan kemesraannya bersama dengan istri mudanya?’ batin Clara. Clara bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju meja mengambil tas dan kunci

