“A-aku tidak berbohong, Mas! Tadi aku memang mendengar suara-suara yang membuatku merasa takut. Itulah sebabnya aku menghubungimu, karena aku tidak berani sendirian saja!” ucap Desi, dengan gugup. Tabah menyisir rambutnya dengan kedua tangannya, sehingga menjadi berantakkan. Ia, kemudian memejamkan mata dan memukulkan kepalan tangannya ke dinding yang ada di kamar tersebut. Dengan nada suara yang lelah dan kecewa. Tabah berkata, “Tahukah, kau? Karena kau yang meneleponku tadi telah menciptakan masalah yang besar antara diriku dengan istriku!” Mendengar Tabah menyebut kata istri membuat Desi marah. Ia tidak bisa terima, kalau Tabah menyalahkan dirinya dan kini mulai peduli kepada istrinya itu. “Kau memintaku untuk tidak menghubungimu, sementara aku sedang ketakutan. Dan seandainya saja

