“Des, aku akan pulang ketika waktunya aku memang ingin pulang! Aku tidak suka dipaksa! Kau bisa pergi keluar berbelanja atau apapun yang kau suka, kecuali kembali ke Mami!” Tegas Tabah, melalui sambungan telepon. Ia, kemudian menutup sambungan telepon tersebut, karena tidak mau mendengar bantahan dari Desi. Tabah meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Hilang sudah rasa kantuknya, yang ada sakit kepalanya yang semakin bertambah saja. Tabah berjalan menuju kamar mandi, begitu sudah berada dalam kamar mandi dilepasnya seluruh pakaian, kemudian ditaruhnya di dalam keranjang. Ia, kemudian menju pancuran dan memutar kerannya. Air dengan suhu hangat pun mengguyur seluruh badannya yang terasa letih. Tabah mengepalkan tangannya, lalu ia pukulkan ke dinding, sambil mengumpat. ‘Sial! Ap

