“Percayalah Ayah bukan yang pertama mengatakannya! Dan sekali lagi aku akan memberikan jawaban yang sama, kalau diriku tidak akan pernah menceraikan Clara!” Tabah menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. “Kau!” Ayah Tabah langsung bangkit dari duduknya, sambil melayangkan tatapan mata yang tajam. Ia, lalu berjalan menuju pintu rumah Tabah. Ia tidak mau berlama-lama lagi berada dekat dengan anaknya ini, yang hanya membuat dirinya naik darah saja. Sebelum keluar dari rumah Tabah, Ayahnya membalikkan badan. “Ayah peringatkan kepadamu, jangan pernah mendekati Clara lagi! Sudah cukup penderitaan yang kau berikan kepadanya!” Dengan cepat Tabah bangkit dari duduknya, lalu berjalan dengan langkahnya yang panjang mendekati Ayahnya. “Katakan kepadaku, apakah Ayah tau di mana Clara berad

