“Iya, Sayang! Mengapa kau tidak mengataka kepadanya kedatanganmu?” Clara menirukan ucapan dari gadis tidak tahu diri itu. Tabah sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan yang ditunjukkan Clara kepadanya. Ia meletakkan sendok yang ada di tangannya ke atas piring. “Mengapa aku harus memberitahukan kedatanganku kepadamu?” Tanya Tabah dengan dingin kepada gadis yang tadi menyerobot masuk. Gadis itu tidak takut kepada Tabah, ia malah berjalan mendekati Tabah. Ia, lalu meletakkan tangannya di pundak Tabah dengan nyamannya. “Bukannya, kau selalu mengatakan aku ini adik kecilmu setiap kamu datang ke sini? Kamu selalu mengajakku untuk berenang dan hal menyenangkan lainnya!” ucap gadis itu. Clara memutar bola matanya, wajahnya cemberut dengan bibirnya yang terkatup rapat. Ia merasa sangat

