Setelah melahap habis omlete nya ,
Arra memutuskan untuk mencoba memejjamkan matanya kembali namun kali ini ia tidak berada di kamar tamu yang di sediakan oleh gara.
Ia berada di kamar gara dan tidur pada Kasur gara hingga membuat sang empunya harus mengalah dan memilih tidur di atas Kasur kecil yang memang biasanya di pakai ketika bersantai menonton televise.
Pandangan gara masih terus tertuju kepada arra yang sudah begitu lelap tertidur ,
Ia memandang raut wajah arra yang sesekali Nampak berbeda dan terkadang juga terlihat jika arra tanpa sadar mengerutkan kening nya sampai membuat kedua alisnya hampir menyatu.
Gara pun juga serasa sering mengalami dejavu atas apa yang ia alami beberapa hari kebelakang ini , tapi ia juga masih belum paham dengan andilnya arra di dalam kisah nya.
Apa yang membuat arra bisa rela masuk dan ikut menjalani semua yang juga sudah di alami oleh gara.
Bukan kah itu adalah suatu hal yang bisa di bilang mustahil ,
Jika dari pertemuan mereka dulu seperti menarik seutas benang panjang untuk menyatukan mereka kembali dalam sebuah tragedy yang akhirnya sama-sama membuat gara dan juga arra merasa jika semua ini penuh dengan teka-teki yang harus segera di pecahkan.
Tapi gara sendiri pun belum tau hal apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menyelesaikan semua nya dan kembali pada kehidupan normal nya sebelum ia mendapat terror kejam dari sosok yang memang gara sendiri tidak tau siapa mereka.
Dan yang aneh nya lagi ,
Gara kembali teringat disaat ia merasa jika ada sebuah mimpi aneh yang ada menghampiri dirinya namun gara sendiri sadar jika saat itu ia bukannya tertidur.
Melainkan ada sesuatu hal yang menimpa gara saat itu.
Mimpi yang menunjukkan gara adaah seseorang yang sangat luar biasa dan ia mampu mengalahkan banyak nya sosok berjubah hitam.
“ pergi , pergi.
Jangan bawa ibu. “
igau arra yang seketika membuat gara tersadar dari lamunan nya , gara mendekat kearah arra namun saat ini ia melihat jika arra masih dalam posisi tertidur.
Gara semakin di buat cemas karena melihat banyak nya peluh keringat yang keluar dari pori-pori seluruh wajah arra.
“ raa , bangun raa. “
Gara mencoba membangunkan arra dengan menggoyangkan tubuh arra yang juga terasa begitu dingin.
Wajah ketakutan sangat terpancar jelas pada penglihatan gara ,
Ia masih terus mencoba untuk menyadarkan arra dan tak selang lama arra pun terbangun dari mimpi buruknya.
“ ada apa raa? “
“ mimpi itu lagi.. “
Jelas nya yang masih tak di mengerti oleh gara.
Dan sontak membuat gara mengerutkan kening nya.
“ mimpi yang setiap malam hadir , mimpi yang menakutkan.
Dimana aku harus melihat ibu ku yang di bawa paksa oleh dua orang yang aku tak kenal sama sekali. “
Timpa nya.
“ memang dimana ibu mu? “
Tanya gara lugu.
“ dia sudah tenang di atas dan emnjadi bintang yang sangat terang setiap malamnya. “
Gara terkejut mendengar jawaban arra ,
Ia sangat merasa tak enak hati atas apa yang telah ia tanyakan.
Bukan kah itu seperti menorehkan luka untuk luka yang masih baru , mengingatkan kembali dengan seseorang yang ternyata sudah tak ada lagi di dunia ini.