"Selamat pagi Karina" tanya dokter kepada Karina untuk mencek kesehatan serta kondisi Karina yang sudah mulai membaik.
"Pagi dok" jawab Karina dengan sebuah senyum yang merekah.
"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Baik?".
"Iya dok. Lebih baik dari sebelumnya".
"Sepertinya kondisimu memang lebih baik dan juga sepertinya kejadian yang menimpamu tidak membuatmu mengalami trauma berat".
"Ini hal yang sangat jarang terjadi. Biasanya para korban pemerkosaan akan mengalami gangguan mental yang luar biasa" kata dokter dengan nada sedikit heran.
"Ini sungguh sebuah keajaiban Karina. Kamu mengalami trauma dan gangguan mental hanya dalam waktu kurang lebih satu minggu".
"Kamu memang gadis yang kuat Karina" puji sang dokter.
"Terima kasih dok telah merawat saya selama ini".
"Sebenarnya saya merasa khawatir dan tidak percaya diri lagi. Pasti sekarang tidak ada lagi laki-laki yang mau menerima saya yang telah ternoda ini" kata Karina dengan nada sedih.
"Kamu jangan berkecil hati Karina. Pasti ada laki-laki yang mencintai dirimu dengan tulus" kata si dokter menenangkan Karina.
Kemudian tangan Karina memegang tangan dokter Bram. Ya dokter tersebut bernama Bram Prakoso. Tertulis jelas di name tag baju putih dokternya.
"Apakah saya masih menarik dan memikat dok?" tanya Karina dengan nada merayu.
Perlahan Karina mendekatkan dirinya ke tubuh dokter Bram. Nafas dokter Bram seperti sedang naik turun. Lelaki mana yang bisa menolak kecantikan Karina. Semua pasti menginginkannya termasuk dokter Bram yang merupakan pria normal.
"Tentu saja kamu masih cantik dan menawan Karina".
"Benarkah!!!".
Kini wajah Karina hanya beberapa inci dari wajah dokter Bram. Karina memulai mengecup bibir dokter Bram. Bak gayung bersambut dokter Bram pun membalas ciumannya. Kecupan demi kecupan pun mereka lakukan. Karina begitu sangat liar mencumbu dokter Bram. Sehingga dokter Bram pun tak mampu menahan birahinya. Tangannya mulai bergerlya di tubuh Karina. Namun permainan panas mereka terhenti karena ada suara langkah kaki yang menuju ke kamar rawat inap Karina.
"Oh ada pak dokter" kata ibu Karina terkejut.
"Iya. Saya sedang melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui kondisi Karina saat ini".
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya ibu Karina mulai cemas.
"Kondisi Karina sudah jauh lebih baik bu. Jadi ibu jangan khawatir".
"Ini saya kasih resep vitamin untuk memulihkan kesehatan Karina" kata dokter Bram sambil memberikan secarik kertas resep obat.
Karina hanya tersenyum dan melirik ke arah dokter Bram. Dokter Bram pun juga melirik Karina dengan lirikan nakal seraya keluar dari kamar rawat Karina. Permainan di pagi hari yang belum tuntas bagi dokter Bram. Karina hanya tersenyum dengan sinis.
"Sayang. Apa keadaanmu sudah membaik?" tanya ibu Karina yang masih mengkhawatirkan putrinya tersebut.
"Karina baik-baik saja bu. Ibu jangan khawatir ya. Semuanya akan membaik" kata Karina seraya memeluk ibunya.
Air matanya menetes dan memperlihatkan sorot mata yang tajam. Sorot mata yang penuh kebencian dan amarah.
"Ya sudah. Ibu mau nebus resep ini dulu. Tunggu ibu disini sayang" kata ibu Karina.
Karina mengangguk mengiyakan. Kemudian ibunya pun berlalu berjalan keluar.
****
"Ini bu vitamin dari resepnya" kata perawat yang melayani ibu Karina di apotik rumah sakit.
Setelah selesai ibu Karina pun berjalan menuju ke kamar Karina. Namun dia terfokus melihat sosok seorang yang sepertinya dia kenal. Seseorang perempuan berumur sekitar empat puluhan namun masih terlihat anggun dan cantik dalam balutan jubah putih kebanggaan seorang dokter.
"Dokter Karin" kata ibu Karina menyapa perempuan tersebut yang tengah mengobrol dengan seorang perawat.
"Iya. Saya" kata dokter tersebut sambil memperhatikan wajah yang menyapa. Raut mukanya seolah mengenali namun lupa siapa.
"Ini saya bu Fatimah yang dokter bantuin waktu melahirkan Karina" kata ibu Karina yang melihat reaksi dokter tersebut bingung untuk mengingatnya.
"Oh iya saya ingat bu. Bayi perempuan cantik itu".
"Gimana kabarnya bu?" tanya dokter tersebut kepada ibu Karina.
"Alhamdulillah baik bu dokter. Bu dokter sendiri bagaimana kabarnya?" tanya ibu Karina.
"Saya baik juga. Ibu ada perlu apa di rumah sakit?" dokter itu balik bertanya kepada ibu Karina.
"Karina,,bu dokter. Dia lagi dirawat disini" jawabnya sedih.
"Karina sakit apa bu?".
"Boleh saya jenguk dia. Pasti dia sekarang sudah tumbuh jadi gadis yang cantik ya bu" komentar si dokter dengan wajah yang tersenyum.
Mereka pun berbincang tentang masa lalu saat di desa dan sembari tertawa kecil mengenang cerita-cerita dulu. Sambil berjalan menuju ke ruangan Karina.
Saat memasuki ruang kamar Karina dokter Karin merasakan sesuatu hal yang aneh di ruangan tersebut. Bulu kuduknya langsung berdiri dan hawa dingin menusuk dikulitnya. Tercium aroma khas yang sepertinya sangat tidak asing baginya. Namun entah apa. Dia menatap kearah Karina yang tengah duduk bersandar pada bantal di atas kasurnya. Mereka berdua saling bertatapan. Ada sebuah energi yang tak biasa dirasakan dokter Karin pada tatapan Karina.
"Sayang. Ini lho dokter Karin yang sering ibu ceritakan ke kamu. Dia dulu yang membantu proses persalinan kamu" kata ibu Karina memperkenalkan dokter Karin yang berdiri disampingnya.
"Iya bu. Salam kenal bu dokter" kata Karina dengan tersenyum kepada dokter Karin.
Dokter Karin pun tersenyum kepada Karina. Entah perasaan aneh apa yang dirasakan dokter Karin terhadap Karina. Sebuah energi buruk dan jahat seolah menyelimuti Karina.
"Ibu sering cerita tentang dokter Karin. Dan ibu juga cerita kalau nama saya diambil dari nama bu dokter. Selaib itu bu dokter juga yang memberikan nama Karina Pertiwi".
"Saya tidak menyangka akan bertemu dengan bu dokter lagi" kata Karina.
Dokter Karin bingung dan berkata "lagi".
"Iya. Dulu kita kan bertemu saat Karina masih bayi bu dokter" kata Karina.
Ibu Karina tertawa mendengar perkataan Karina yang dianggapnya lucu. Namun dokter Karin hanya tersenyum. Dia berpikir perkataan Karina merupakan sebuah isyarat. Tapi apa?
Ponsel dokter Karin berbunyi. Rupanya ada panggilan darurat untuk dokter Karin. Dia pun mohon pamit sesegera mungkin. Padahal banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan tentang Karina. Apa penyebab Karina dirawat di rumah sakit tersebut.
****
Saat malam hari Karina berjalan keluar dari ruangan kamar perawatannya. Dia berjalan menuju ke ruangan dokter Bram. Ternyata dokter Bram mendapat giliran bertugas malam itu. Melihat sosok Karina yang memasuki ruangannya dokter Bram terkejut. Karina mengunci pintu dan kemudian berjalan perlahan mendekati dokter Bram.
"Ada apa Karina? Apa kamu mengalami masalah atau ada keluhan?" tanya dokter Bram.
"Iya dok. Saya punya masalah" kata Karina sambil membuka bajunya perlahan.
"Saya menginginkan dokter malam ini" kata Karina yang duduk di atas paha dokter Bram.
"Saya tau kok. Dokter juga menginginkan saya. Dokter seringkan meraba tubuh saya ketika saya tidak sadarkan diri" kata Karina.
Dokter Bram hanya terdiam. Seolah tidak percaya kalau Karina bisa merasakan dan mengetahui perbuatannya.
"Bukankah dokter sering meremas dadaku seperti ini?" kata Karina sambil meremas payudaranya.
Dokter Bram yang melihat bagian d**a Karina yang telah terbuka lebar. Sungguh benar-benar dalam birahi. Apalagi posisi Karina yang berada di pangkuannya membuatnya diliputi dengan syahwat ingin menikmati tubuh Karina.
"Remas lah d**a ini dan tuntaskan hasratmu mas Bram" bisik Karina di telinga dokter Bram sambil mengambil tangan dokter Bram dan menaruhnya di dadanya.
Dokter Bram pun langsung meremas d**a Karina dan menciuminya dengan liarnya. Karina pun merintih kenikmatan atas apa yang dilakukan dokter Bram. Sentuhan tiap sentuhan. Serta ciuman tanpa henti yang mereka lakukan hingga persetubuhan pun terjadi diantara mereka berdua. Erangan kenikmatan dari Karina membuat dokter Bram begitu bersemangat menyetubuhinya. Tampak rasa bangga dalam diri Bram menyetubuhi Karina. Karina pun begitu liarnya dalam pertarungan kenikmatan yang mereka lakukan. Tanpa henti dia menggoyangkan tubuhnya serta merintih nikmat dengan dahsyatnya hingga akhir pertempuran.
"Kamu memang hebat Karina. Kamu benar-benar nikmat" puji dokter Bram.
"Apakah dokter merasa puas?" tanya Karina.
"Tentu sayang" jawab dokter Bram.
"Kalau begitu saya akan mengambil apa yang saya inginkan" kata Karina.
"Kamu ingin apa sayang? Apapun yang kamu inginkan akan aku berikan" kata dokter Bram.
"Aku ingin nyawamu" kata Karina dengan sorotan mata yang merah dan tajam.
Melihat sorot mata Karina yang mengerikan dokter Bram merasa ketakutan. Badannya kaku tak bisa bergerak. Dia mencoba untuk berteriak minta tolong namun tak dapat bersuara. Karina mendekati dokter Bram dan kemudian mengigit kemaluan dokter Bram hingga terlepas. Seketika dokter Bram mati karena menahan sakit serta pendarahan yang luar biasa akibat terpotong k*********a karena gigitan Karina.
Kemudian Karina tersadar melihat dokter Bram yang mati dan Karina sedang memegang p***s dokter Bram yang terputus. Karina menjerit dan melempar p***s yang dipegangnya. Melihat lantai yang penuh darah membuat Karina ketakutan. Serta bagaimana dia bisa berada disana? Kenapa tubuhnya bisa bugil tanpa sehelai kain pun? Apa penyebab kematian dokter Bram? Apa dia yang telah membunuhnya? Kenapa dia tidak ingat apa-apa? Kemudian dia melihat lagi sosok wanita berbaju merah yang ada dimimpinya. Siapa sebenarnya wanita itu?