Sebuah Janji

1132 Kata
"Tidak...Tidak...Tidak...". "Bukan...Bukan...Bukan saya. Tapi dia" teriak Karina dalam keadaan tertidur. "Sayang. Ada apa Karina?" tanya ibu Karina. "Hah...Ibu...." kata Karina sambil memeluk ibunya. "Ibu. Bukan Karina yang membunuh bu. Tapi wanita itu bu". "Kenapa kamu sayang?" tanya ibunya keheranan. "Karina melihat dokter Bram tewas bu" kata Karina. "Apa maksudmu sayang? Kamu ini bermimpi apa sih". "Sekarang istighfar sayang. Kamu cuma mimpi buruk" kata ibu Karina mencoba menenangkan Karina. "Tapi semua itu terasa nyata bu" kata Karina gemetaran. "Ya sudah. Sekarang cuci muka dulu sana. Ibu mau keluar dulu beli makanan buat sarapan". "Ibu bangunnya tadi agak kesiangan. Mendengar kamu teriak ibu jadi terbangun tadi". "Sudah. Itu tidak usah dipikirkan. Itu cuma mimpi buruk" kata ibu Karina sambil membelai rambut anak semata wayangnya. Karina mengangguk dan beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi. Ibu Karina merasa heran dan janggal dengan suasana rumah sakit yang terlihat panik dan begitu banyak ada polisi disana. Banyak para perawat yang bergosip. Tapi entah apa? Dia tidak dapat memastikannya dengan jelas. Dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya karena penasaran. "Suster. Memangnya kenapa jadi begitu banyak polisi disini?" tanya ibu Karina kepada salah satu perawat yang ada disana. "Oh. Tadi pagi dokter Bram ditemukan tewas di ruangannya dalam kondisi yang mengenaskan bu". "Dia sepertinya dibunuh seseorang sehabis berhubungan badan. Maklum bu,dokter Bram orangnya genit. Dia sering merayu perawat dan dokter disini". "Mungkin salah satu dari mereka menyimpan dendam kepada dokter Bram bu" kata perawat itu dengan semangat menceritakan perihal kejadian dokter Bram. Ibu Karina seperti tersambar petir setelah mengetahui kebenaran tentang dokter Bram. Dia teringat dengan ucapan Karina sebelumnya. "Bagaimana mungkin Karina mengetahuinya?". "Semalaman dia ada dikamar. Kapan dia mengetahui soal kematian dokter Bram?" tanya ibu Karina dalam benaknya. "Ah...pasti cuma kebetulan". Ibu Karina tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Dia tidak ingin Karina mengetahui masalah ini. Dia takut Karina akan merasa terguncang dan kondisinya akan memburuk seperti semula. Jadi dia memutuskan untuk menyembunyikan dan tidak memberitahu Karina. **** Karina mencuci mukanya dan masih terpikirkan tentang dokter Bram yang dia lihat dimimpinya seperti nyata. Darah segar yang mengalir serta potongan alat vital yang dipegangnya ditangan terasa begitu sangat nyata. Mustahil jika semua itu hanya sebuah mimpi. Tiba-tiba dia melihat sosok wanita berbaju merah tersebut di cermin dan tersenyum kearah Karina. Karina tampak terkejut melihatnya. "Siapa kamu sebenarnya?". "Apa mau kamu?" kata Karina. "Aku adalah bagian dari dirimu Karina" kata sesosok wanita berbaju merah tersebut. "Bohong" teriak Karina. Kemudian bayangan wanita berbaju merah itu pun menghilang. Karina merasa ada yang tidak beres pada dirinya. Dia bertanya didalam hatinya. Siapakah sebenarnya wanita berbaju merah tersebut? Kenapa dia mengikuti dirinya? Karina pun menjadi bingung dan bertanya sendiri tentang siapa sosok tersebut. Siapakah sosok misterius tersebut? Tanya Karina didalam hatinya **** "Sus,boleh tanya sesuatu?" tanya dokter Karin kepada salah satu perawat dirumah sakit. "Iya dok. Ada apa?" jawab si perawat. "Kamu tau pasien yang bernama Karina. Sakit apa ya kalo boleh tau sehingga dia dirawat disini?" tanya dokter Karin dengan penasaran. "Owh...gadis itu. Dia korban pemerkosaan dok" kata perawat tersebut dengan santai. "Tidak hanya satu orang dok pelakunya. Hasil visum menunjukkan pemerkosaan tersebut dilakukan lebih dari 2 orang" kata si perawat itu menjelaskan kepada dokter Karin. Dokter Karin terkejut mendengar jawaban dari si perawat tersebut. Sungguh malang sekali ternyata nasib Karina pikirnya. Dia tidak menyangka kalau nasib gadis cantik dan polos seperti Karina begitu tragis. Lelaki seperti apa yang tega merusak hidup seorang gadis seperti Karina. Dokter Karin merasa begitu murka atas perbuatan yang tak senonoh dari pria yang tega memperkosa Karina. "Sungguh biadab sekali mereka" kata dokter Karin geram. "Oh ya dok. Bagaimana tentang peristiwa yang menimpa dokter Bram?" "Menurut dokter itu manusiawi atau nggak. Kalau menurut saya sich itu pembunuhan yang sadis dok" kata si perawat yang ternyata suka menggosip ini. "Hush. Pamali kalau membicarakan orang baru meninggal. Sudah selesaikan pekerjaan kamu sana" kata dokter Karin,kemudian pergi meninggalkan si perawat tadi. **** Rio selalu merasa gelisah dan selalu dihantui oleh sosok wanita berbaju merah. Dalam mimpinya wanita tersebut datang untuk menagih sebuah janji. Rio tidak tau dan tidak mengerti janji apa yang dimaksud. Tapi Rio menyembunyikan masalah ini dari teman-temannya dan juga Amora. Semenjak mengetahui kondisi Karina yang sudah mulai membaik Dira tidak pernah lagi mengunjungi Karina di rumah sakit. Dia takut kalau Karina mengetahui bahwa dia ikut andil atas peristiwa buruk yang telah dialami Karina. Namun Dira juga sering melihat sosok wanita berbaju merah tersebut. Tapi dia tidak berani mengatakan tentang hal tersebut. Takut dia akan anggap gila atau sedang berhalusinasi. Tidak hanya Dira dan Rio yang mendapat teror wanita berbaju merah tersebut. Surya cs dan Amora pun juga mendapatkan teror yang sama. Namun Amora menganggap itu hanya sebuah khayalan atau imajinasinya belaka. Sedangkan Rio cs merasa ketakutan. Mereka berpendapat kalau sosok berbaju merah tersebut adalah penunggu air terjun tersebut. Mereka merasa dihantui oleh wanita itu setelah kejadian di air terjun. Amora malah menganggap kalau Surya cs adalah para pria penakut yang percaya dengan hantu. **** "Kamu sebenarnya siapa?". "Kenapa kamu selalu mengikutiku?" kata Karina kepada si wanita berbaju merah tersebut didalam mimpinya. "Panggil saja aku nyai Dasima". "Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?". "Aku ingin membantumu membalaskan dendam kepada mereka yang telah menyakitimu". "Mereka yang telah merusak kehormatanmu" kata nyai Dasima penuh dengan amarah. Karina pun teringat akan kejadian pilu yang menimpanya dibawah air terjun tersebut. Dia terisak dan menangis mengingat hal yang menjijikan itu. "Bukankah itu sakit Karina". "Mereka tertawa bahagia. Sedangkan kamu menderita tanpa harga diri". Nyai Dasima sangat menghasut Karina hingga Karina merasakan emosi dan kemarahan dalam dirinya. "Marahlah Karina. Dengan amarah ini kamu bisa membalaskan sakit hatimu" kata nyai Dasima dengan bujuk rayu. "Baiklah. Jika kamu bisa membantuku membalaskan sakit hatiku. Kepada mereka yang merusak hidupku" kata Karina dengan perasaan penuh kemarahan. "Maka hancurkanlah mereka" senyum Karina penuh dendam. Nyai Dasima pun tersenyum membuat Karina menerima dirinya sepenuh hatinya. Raga Karina sekarang seutuhnya telah menjadi milik nyai Dasima. Kini dia telah benar-benar mendapatkan wadah untuk kebangkitannya. Tubuh Karina sekarang telah dihuni oleh nyai Dasima. **** "Karin...Karin...Karin...". "Aku kembali untuk menagih janjimu". "Akan aku ambil apa yang harusnya menjadi milikku Karin". Dokter Karin gelisah dalam tidurnya karena dihantui oleh nyai Dasimaa. Nyai Dasima selalu hadir dalam mimpi dokter Karin untuk menagih sebuah janji. Dalam ketakutan dokter Karin terbangun dan tampak khawatir. "Apa dia benar-benar kembali?". "Bagaimana bisa dia bangkit lagi?"tanya dokter Karin kepada dirinya sendiri. Dokter Karin tak bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di benaknya. Dia kemudian teringat hari dimana pertama kali bertemu dengan Karina. Ada sesuatu yang janggal baginya terhadap sorotan mata Karina pada saat itu. Sebenarnya ada hubungan apa antara dokter Karin dengan nyai Dasima? Janji apa yang ditagih nyai Dasima kepada dokter Karin? Apa hubungan sebuah janji tersebut dengan Rio? Apakah Karina akan melakukan hal yang mengerikan lagi tanpa dia sadari? Bagaimana hubungan pertemanan Karina dengan Dira selanjutnya? **Ditunggu next nya ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN