Trauma

1182 Kata
Rio cs dan Amora pergi meninggalkan air terjun. Sedangkan Karina masih tergeletak dalam keadaan telanjang diatas batu dipinggiran kolam air terjun. "Lu yang bersihkan" bisik Amora sebelum pergi. Akhirnya Dira membersihkan tubuh Karina dari muncratan s****a dan bekas darah perawannya. Ada rasa bersalah dalam hati Dira atas kejadian yang dialami Karina. Penyesalan pun merasuk ke dalam dirinya. Dira menangis sambil membersihkan tubuh Karina dan merapikan diri Karina. Dia memakaikan baju Karina satu persatu. "Maafin gue Karina" kata Dira penuh sesal. Kemudian Dira pergi meninggalkan Karina sendirian disana. Dira berlari ke atas kembali ke tempat perkumpulan para mahasiswa dan mahasiswi darmawisata yang tengah melakukan riset alam. **** "Pak Herman tolong....tolong...tolong" teriak Dira. "Ada apa Dira? Kenapa kamu terlihat begitu panik?" tanya pak Herman ke Dira. "Karina pak...Karina pak...". "Ada apa dengan Karina?". "Dimana dia sekarang?" tanya pak Herman. "Dia dibawah sana pak. Karina tidak sadarkan diri". "Apa yang terjadi?" tanya pak Herman cemas. "Entah pak. Saya nggak tau. Tadi kami terpisah. Saya menemukan Karina sudah dalam kondisi tak sadarkan ddiri kata Dira seolah-olah tidak mengetahui apa yang telah terjadi terhadap Karina. "Ayo kita kesana". "Cepat yang lain ikut bapa bantuin Karina" perintah pak Herman kepada beberapa mahasiswa. Amora dan Rio tersenyum melihat akting Dira yang meyakinkan orang-orang kalau dia tidak tau apa-apa atas apa yang menimpa Karina "Kenapa Karina bisa berada di area terlarang ini?" kata pak Herman saat akan memasuki kawasan air terjun. "Saya tidak tau pa" kata Dira. "Saya tadi berpisah dengan Karina". Pak Herman dan yang lainnya turun kebawah menuruni anak tangga. Mereka terkejut melihat Karina yang tergeletak begitu saja di atas batu. Pak Herman langsung memegang tangan Karina untuk mencek nadinya. Wajah Karina terlihat sangat pucat dan pak Herman terlihat begitu sangat panik memegang tubuhnya mulai dingin. Dengan segera pak Herman menggendong tubuh Karina untuk dibawa keatas. Dira hanya berdiri terpaku dan merasakan hawa yang aneh disekitarnya. Bulu kuduknya merinding dengan suasana yang terlihat mencekam baginya sekarang. Padahal sebelumnya dia begitu menikmati suasana dan pemandangan keindahan air terjun disana. "Tolong cepat ambilkan kunci mobil bapa di dalam tas sana" kata pak Herman menyuruh salah satu mahasiswanya. "Ada apa dengan Karina?" tanya bu Arin yang juga menemani acara darmawisata alam tersebut. "Saya juga tidak tau. Tapi Keadaan Karina harus secepatnya dibawa ke rumah sakit". "Dira kamu ikut bapa untuk menemani Karina" "Iya pak". "Bu Arin tolong urus anak-anak yang lainnya. Serta pembimbing yang lain juga harus lebih mengontrol para mahasiswa dan mahasiswi kita pergi kemana saja". "Jangan sampai terjadi hal yang tak diinginkan" pesan pak Herman kepada bu Arin dan dosen yang lainnya. **** Orang tua Karina panik mendengar apa yang telah menimpa putrinya setelah di telpon oleh pak Herman. Mereka sedih melihat kondisi Karina yang memprihatinkan.Ibu Karina tak berhenti menangisi putri semata wayangnya yang terbaring tak sadarkan diri di kasur rumah sakit. Dokter pun memanggil kedua orang tua Karina dan memberitahukan hasil visum yang telah keluar. "Terlebih dahulu saya mengucapkan berduka atas apa yang menimpa kepada putri ibu dan bapa". "Maafkan saya harus memberitahukan berita buruk kepada kalian. Tentang apa yang telah terjadi kepada Karina" kata dokter. Ibu Karina terlihat sedih saat akan mengetahui berita buruk tersebut. Dia sesekali mengusap air matanya dengan tisu. "Karina telah mendapatkan kekerasan seksual" ucap sang dokter. Suara tangis ibu Karina pun pecah. Dan ayah Karina merangkulnya untuk menenangkan. Ayah Karina mencoba untuk tegar walaupun sebenarnya dia merasa sangat terpukul. Siapa yang tega melakukan hal buruk tersebut kepada putrinya. "Ada beberapa bagian tubuh Karina yang mengalami luka serta lecet dan lebam. Terutama dibagian p****g payudaranya lukanya sedikit parah. Seperti sebuah gigitan". Belum selesai pak dokter menjelaskan ibu Karina menangis dan berkata" Ya allah anakku". "Lanjutkan pak" kata ayah Karina. "Selain itu selaput dara Karina juga telah sobek. Diliat dari lecet dibagian vaginanya kemungkinan lebih dari satu orang yang melakukan hubungan seks terhadap Karina". Mendengar perkataan dokter ibu Karina tiba-tiba saja pingsan. Dokter memahami kondisi ibu Karina yang terpukul anaknya mengalami kekerasan seperti itu. **** "Tidaaaaaaaaak......". "Jangan. Aku mohon jangan". Teriak Karina dalam keadaan setengah sadar. Ibunya langsung memeluknya dan mencoba menenangkan. Tapi Karina mendorongnya. "Jangan sentuh aku. Pergi kalian". Dokter pun datang beserta suster mencoba untuk menenangkan Karina. Dia pun diberi suntikan penenang agar tidak melukai dirinya. "Dia mengalami masalah gangguan traumatis atas apa yang telah menimpanya. Sebaiknya biarkan dia beristirahat dulu untuk membuatnya lebih tenang" kata si dokter. **** Suasana mencekam pas malam hari di acara darmawisata. Angin ribut dan hujan deras terjadi. Tenda-tenda yang dibangun semuanya roboh. Sehingga mereka semua harus menghabiskan malam didalam bis. Surya yang sedang asyik mendengarkan musik di handphonenya terkejut melihat ada sosok wanita yang menatap ke arahnya. Siapa yang berani keluar malam apalagi saat sedang cuaca ribut seperti ini? Dia pun langsung menutup matanya. Banyak yang berpendapat kalau penghuni gunung tersebut lagi marah. "Hah. Mitos aja" ucap Amora yang mendengarkan cerita anak-anak didalam bis. "Hari gini percaya setan. Bullshit". "Tuh setannya" dia menunjuk ke arah Ringgo sambil tertawa. Namun Amora tiba-tiba terkejut melihat penampakan seorang wanita dibelakang Ringgo. Menatapnya dengan sorotan tajam. "Gila lu. Masa gue ganteng begini lu bilang setan. Kenapa lu kaget?". "Habis liat setan ya" ledek Ringgo dan membalik badan melihat ke arah belakang. Namun tak ada siapapun. "Kenapa lu jadi pucat kaya gitu?" tanya Ringgo. "Ah nggak apa-apa" jawab Amora. Rio hanya diam menutup matanya. Mendengarkan percakapan mereka. Namun Rio merasa ada yang menyentuh kepalanya. Dan mengusap rambutnya. Serta dia mendengarkan bisikan. "Aku sudah menunggumu lama". Sontak saja Rio terbangun dan membuka matanya. Namun hanya melihat anak-anak yang ramai mengobrol di dalam bis. Mungkin hanya mimpi pikirnya. **** Berhari-hari Karina dirawat di rumah sakit. Setiap kali dia sadar dia akan menjerit dan berteriak ketakutan. Dia tampak tak bisa di ajak komunikasi. Terlihat badan Karina mulai kurus dan wajahnya tampak kusam. Karina yang ceria dengan senyum manis sudah tidak ada lagi. Ibu Karina jadi khawatir dengan kondisi Karina. Dira yang datang menjenguk juga merasa terpukul dan bersalah melihat kondisi Karina yang sudah terlihat seperti orang tidak waras. Karina terkadang mencoba untuk melukai dirinya dan menangis serta menjerit jika dia dalam kondisi sadar. Dia tidak bisa diajak berinteraksi seolah-olah tidak mengingat siapapun. Hanya kejadian buruk yang menimpanya yang teringat dikepalanya. Dokterpun selalu memberikan suntikan penenang kepada Karina setiap kali dia mulai mengamuk dan menjerit histeris. Suatu malam dalam mimpi Karina dia didatangi seorang wanita cantik berbaju merah. "Karina. Kemari!". "Aku akan bebaskan sedihmu". "Aku akan hapuskan lukamu". "Pegang tanganku karina". Kata wanita berbaju merah tersebut. Sambil tersenyum ke arah Karina yang tengah bersedih dan menangis meratapi kehancuran nasibnya. "Kamu siapa?". "Kamu cantik sekali" kata Karina. "Aku akan membantumu membalaskan sakit hatimu pada mereka yang merenggut kehormatanmu Karina" kata wanita berbaju merah dengan nada penuh kemarahan. Karina merasa ragu dengan kata-kata wanita berbaju merah tersebut. "Jangan takut. Jangan ragu". "Aku akan membantumu". "Peganglah tanganku". Secara perlahan Karina mengulurkan tangannya dan memegang tangan wanita berbaju merah tersebut. Si wanita berbaju merah tersenyum kepada Karina kemudian memeluk Karina. Karina terbangun dan tersadar dari tidurnya. "Sayang. Kamu baik-baik saja!" tanya ibu Karina melihat putrinya terbangun. "Karina baik-baik saja bu" kata Karina sambil memeluk ibunya. Tubuh Karina sekarang bukan milik Karina seutuhnya. Raganya sudah ditempati oleh wanita berbaju merah tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN