"You don't listen to me right.." ucap William sambil menatap wajah Clara.
"I'll listen... After I s*x with you..."
Clara mulai nakal, dia mengusap tangannya ke p***s William yang masih ditutupi celana.
"Clara, we can't doing this" ucap William sambil mendorongnya perlahan.
"Don't you miss me?! Say it, William, say it to me,"
Clara mulai memberontak, dia bahkan memegang tangan William dan menaruhnya di payudaranya.
"Clara, STOP," ucap lantang William.
Clara kaget, dia berhenti melakukan aktivitas seksualnya pada William.
Clara bangkit lalu entah kenapa dia tidak mengucapkan sepatah kata apapun.
"Cl-Clara, I'm sorry.. I didn't mean to I-"
Clara hanya diam, lalu dia pergi meninggalkan William.
Ahh, William sangat pening dalam menghadapi situasi seperti ini.
Tapi, dia merasa bersalah pada Clara karena telah meneriakinya.
Apa dia harus menemuinya?
William pikir, dia harus tidur untuk memikirkan hari esok.
•••
Di sisi lain, Clara sedang menangis di kamarnya, dia berpikir bahwa apa dia sudah tidak Hot lagi?
Sehingga membuat guru kesayangannya itu menolak dia?
Knock....knock....knock..
"Clara, what's going on? Kok kamu nangis si?" ucap kakaknya yang setelah mengetuk pintu langsung masuk ke kamarnya.
"Go away,"
"Huh, kenapa si? kamu kenapa?"
"Pergi sana!"
Clara mendorong Shara keluar kamarnya, lalu dia menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Shara hanya kaget dengan yang adiknya lakukan padanya, dia berpikir mungkin wajar, mungkin Clara sedang mengalami menstruasi atau putus dengan pacarnya? Shara tidak tau akan hal itu.
"I hope everythings fine tomorrow sis!" ucap Shara dari luar pintu.
Clara mematikan lampu dan dia mencoba untuk tidur.
•••
Keesokan harinya, Clara mulai mencoba hari yang baru, dia berpikir mungkin dia kelewatan kepada William.
Mungkin saja William sedang itu tidak mood untuk berhubungan s*x dengannya.
Setelah semua aktifitas pagi yang sudah dia lakukan seperti, mandi, make up, memakai pakaian, dan sarapan.
Clara pun pergi berangkat sekolah.
Saat dia keluar rumah, dia melihat Stefan melambaikan tangannya dari luar mobil.
"Clara.. ayo bareng!" ucap Stefan dari dalam mobilnya.
Clara pikir tidak ada salahnya juga untuk pergi berangkat bersama dia.
Clara masuk ke dalam mobil Stefan.
"Tumben jemput, biasanya nggak tuh," ucap Clara.
Stefan hanya tersenyum mendengar Clara berkata seperti itu.
Di perjalanan mereka bahkan tidak mengobrol atau mengucapkan satu kata pun dan keadaan menjadi sangat canggung, dan tibalah mereka di sekolah.
"Makasih ya Stefan..," ucap Clara lalu dia keluar dari mobil Stefan.
"Clara tunggu.. aku antar sampai ke kelas ya..,"
Clara hanya mengangguk, toh kelas dia sama Clara tidak kejauhan.
Mereka berjalan ke arah kelasnya Clara.
Tepat di depan pintu masuk kas, saat Clara hendak masuk Stefan menepuk pundak Clara.
"Hmm... Ada apa?" tanya Clara.
"I can't stop thinking about you.. the other night,"
Ternyata Stefan masih memikirkan malam dimana dia dan Clara melakukan hubungan s*x di apartemen Stefan.
"Stefan.. nanti aja oke?"
"Malam apa?" ucap William yang hendak masuk ke kelas Clara.
"Couple stuff," ucap santai Stefan.
"Ahhha It's not like that" jawab Clara.
Stefan terheran heran mengapa Clara bersikap gugup saat berada di William.
"Stefan, aku masuk dulu, kamu juga masuk sana,"
Clara langsung masuk ke dalam kelasnya.
Stefan hanya menaikkan pundaknya lalu dia pergi ke kelasnya sendiri.
Clara mulai khawatir, dia berpikiran, apa William kecewa? Apa dia mulai berpikir yang aneh aneh tentang dia dan Stefan?
Sekarang saja dia tidak fokus belajar, dia hanya melamun memikirkan kejadian yang tadi.
Sampai habis pelajaran pun, pikiran dia kemana mana.
Teman teman sekelasnya sudah pada bubar, yang tersisa hanya William dan Clara saja.
"Hey, about Stefan please forget about it," ucap Clara.
"Selamat ya!"
"Selamat?"
"Kamu sudah punya pacar kan? Jadi bagus lah, daripada sama bapak bapak yang sudah punya anak satu"
"It's not like that.... I still love you," ucap Clara.
"And, I'm sorry about yesterday, aku seharusnya tahu kalau kamu sedang tidak mood mungkin? tapi aku malah memaksamu,"
William menutup pintu kelas.
"Kita akhiri saja hubungan ini Clara,"
"Huh?"
"Iya kita akhiri saja, kamu mungkin saja lebih bahagia bersama Stefan, karena dia seumuran mu,"
"Aku gak bisa... I love you..,"
"It's just, It's wrong.. you know that,"
"Tapi kamu suka kan?"
"Clara..,"
William lalu pergi meninggalkan Clara seorang diri di kelas.
•••
Sore hari sudah tiba, William yang sedang menilai hasil quiz dari murid muridnya tampak sangat sibuk.
"Daddy, ke mall yuk, Emily pengen makanan yang lain,"
Emily tiba tiba muncul dari balik pintu kamar William.
"Aduh sayang, daddy tidak bisa hari ini,"
"Ahh ayolah daddy,"
"Sebentar ya, daddy akan menelpon teman daddy,"
William mengambil handphone-nya, lalu pergi ke luar ruangan dan mulai memanggil seseorang.
....
....
....
"Shara bisa ajak Emily belanja ke mall yang ada disini tidak? Aku sedang banyak pekerjaan, aku harus memberikan nilai pada siswa siswaku, jika kamu punya waktu saja kalau tidak keberatan?" ucap William di telepon.
"Of course, I can, aku juga sedang dirumah nih, lagian kerjaan ku sudah selesai semua, aku bisa mengantar Emily ke mall, 5 menit aku sampai disana,"
"Terima kasih shara.." dia memutuskan panggilannya, lalu menemui anaknya yang ada di ruang tv.
"Sebentar ya sayang..."
Emily hanya mengangguk tersenyum berharap dia dan ayahnya akan pergi ke mall berdua.
5 menit berlalu akhirnya Shara sampai di rumah William.
"Haloo.. Emily sayangg... Yuk, sama kakak pergi ke mallnya," ucap Shara.
"Lah... Daddy?" ucap Emily sambil menunjuk William.
"Daddy, tidak bisa sayang.. dia masih banyak pekerjaan, Emily harus paham ya?" lanjut Shara.
William hanya tersenyum Shara mengatakan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih ya," ucap William.
"Tenang saja..,"
Kemudian, Shara dan Emily pergi meninggalkan William seorang diri dirumah. William pergi ke kamarnya, dan mulai mengerjakan pekerjaanya lagi. Tak selang beberapa menit kemudian setelah Shara dan Emily pergi. Clara-pun sampai di rumah William.
Dia masuk perlahan lewat pintu depan, dan ternyata tidak dikunci sama sekali. Dia berjalan memeriksa kamar William, dan terlihat William sedang memeriksa kertas kertas yang membuatnya berpikir sejenak.
Clara masuk pelan pelan, William benar benar tidak sadar bahwa Clara masuk ke dalam kamarnya, karena pintu kamar dan kursi yang sedang dia duduki menghadap jendela kaca luar dan sangat berlawanan arah. Clara berjalan perlahan mendekati William, lalu dia mengusap pundak William.
"Hai..."
William kaget, "Bagaimana, kamu bisa masuk ke sini?"
"Pintu depan ngga dikunci tuh, kamu cape kan? Udah istirahat dulu saja,"
"Aku sedang tidak mood Clara..,"
"Biarkan aku membuat kamu menjadi mood, Mr. William" bisik Clara di telinga kanan William.
•••