"Gak papa tinggi, gue daki. Asal sama lo nikmatin puncaknya." Daisha menatap Daffa datar, membuat lekaki itu salah tingkah. "Receh lo, Daf. Gak ada seninya buat lo ngegombal." Daisha menepuk pundak Daffa kemudian mendaratkan bokongnya di atas jok motor Daffa. "Padahal gue udah segenap hati dan jiwa loh, Dai," "Belum bisa bikin gue nge-fly lo-nya." "Besok gue coba lagi, dah." "Emang yakin besok masih idup?" "Lo ngedoain gue mati?" tanya Daffa berbalik badan untuk mengahadap Daisha. Daisha mengehendikan bahunya. "Siapa tahu besok kita udah beda sebutan. Gue masih manusia, lo udah jadi setan." Daffa mendengus, kemudian melajukan sepeda motornya membela jalan raya. Untung saja setiap Daisha berada digoncengannya, jalanan selalu sepi dan lenggang membuat Daffa bisa bebas beraksi di jal

