"Entalah, Daf, gue lebih nyaman kita kayak gini." Daffa mendongakan wajahnya menatap Daisha, mencari kejujuran dari raut wajah gadis itu. Dan sialnya, wajah itu menampakan keseriusan yang amat nyata. "Dai, lo gak..." Nafas Daffa tiba-tiba tercekat, bibirnya ingin segera mengatakan apa yang saat ini berkecambuk didalam otaknya tapi seolah direnggut kekuatannya bibir Daffa hanya bisa terdiam. "Lo nolak gue, Dai?" Daffa memejamkan matanya, apa ini yang dimaksud denga karma? Sesakit ini kah. Daffa yakin ini semua masih belum pantas untuk membalas apa yang dia lakukan terhadap Daisha. "Hah, lo itu kebiasaan banget sih! Mangkanya kalo gue bicara itu didengeri baik-baik!" "Maksudnya?" "Gue mau jadi pacar lo lagi. Tapi, dengan syarat hubungan kita akan seperti ini. Lo bebas cerita sama gue

