"Khalid," panggilan Fatimah membuyarkan lamunan Khalid.
Lelaki itu tengah berkutat dengan laptopnya. Ditemani secangkir kopi.
"Ya, Kak?"
"Kamu belum berikan klarifikasi," ucap Fatimah mendudukkan dirinya di samping Khalid.
"Mau bilang apa? Biarkan saja, nanti juga diam."
"Di mana istrimu?"
"Dalam kamar mungkin."
"Khalid, kamu terpaksa dengan pernikahan ini?"
"Kak, tak guna membahas hal itu."
Fatimah terdiam.
***
Naira baru saja selesai melakukan salat ashar. Saat keluar dari kamarnya, dari atas dia melihat Khalid tengah berbincang dengan seorang wanita. Mereka tertawa, di sana juga ada Fatimah.
"Kok nyesek si," gumamnya.
Fatimah melirik pada Naira yang memperhatikan mereka, kemudian tersenyum miring.
Naira mengurungkan niatnya untuk turun, wanita itu kembali melangkah memasuki kamarnya. Dia berdiri di balkon kamar. Naira memejamkan matanya seraya menghembuskan napas pelan.
"Naira," panggil seseorang. Naira menoleh ke bakang, sosok Fatimah sudah berdiri di sana.
"Kak, ada apa?"
Fatimah melangkah mendekati Naira, lalu berdiri tepat di sampingnya.
"Wanita tadi adalah teman masa kecil Khalid. Kami bertiga memang cukup akrab, namanya Huriyah. Dia mengagumi Khalid, aku tau hal itu. Tapi, rasanya terpaksa dia kubur dalam-dalam, sebab mengetahui Khalid telah dijodohkan dengan Ilmi. Andai saja aku tau, Ilmi tidak setuju. Tentu lebih baik dia digantikan oleh Huriyah, daripada dirimu. Huriyah sedang merintis karir menjadi musisi religi. Itu pasti membantu karir Khalid, bukan menyusahkannya dengan klarifikasi. Hari sudah petang, berhentilah melamun. Turunlah ke dapur untuk memasak makan malam, aku duluan."
Setelah mengatakan semua hal itu, Fatimah meninggalkan Naira yang terpaku dengan perasaan yang tak menentu.
"Istigfar, Naira. Bersabarlah," monolognya seraya menekan d**a.
Naira turun ke bawah, dengan berat hati dia melangkahkan kakinya. Pandangannya dia buang ke arah lain agar tak melihat suaminya tengah berbincang dengan wanita lain.
Khalid melirik pada Naira, kemudian melanjutkan percakapannya.
Harun dan Habibah tengah menghadiri undangan di sebuah majlis taklim. Naira membuka kulkas, melihat-lihat bahan masakannya. Niat hatinya hendak memasak tumis kangkung dan sambal cumi. Dia fokus pada pekerjaannya, Naira tengah mencuci sayuran. Saat berbalik badan, dia dikagetkan dengan sosok Khalid yang berdiri tepat dibelakangnya.
Lelaki itu mengulum senyum. "Butuh bantuan?" tanyanya.
Naira menggeleng, "Tidak perlu," jawabnya.
Khalid mengangguk pelan. Kemudian duduk di atas meja kompor.
"Aku dan Huriyah sedang merencanakan program video clip sebuah album duet sholawat," ucapnya.
Naira hanya diam.
"Aku mengundangmu untuk menyaksikan langsung pembuatan video," lanjut Khalid.
"Aku tidak mau," sahut Naira.
"Kenapa? Aku menyuruhmu. Kamu tau kan kewajibanmu?"
Naira menghembuskan napas pelan. "Baiklah, kapan?" tanyanya.
"Dua hari lagi."
Setelah itu Khalid pergi meninggalkan Naira sendirian. Fatimah dan Huriyah pun sudah pulang.
"Dasar tidak peka," gumam Naira.
***
Malamnya selepas salat isya Naira melantunkan surah Maryam. Tepat saat itu Khalid baru saja pulang dari masjid. Langkahnya terhenti saat mencapai pintu kamar. Lelaki itu menyimak bacaan istrinya, suaranya merdu.
Setelah Naira selesai, barulah dia melangkah masuk seraya mengucapkan salam. Dengan cepat Naira meraih tangan suaminya itu, menyalaminya dengan takzim.
"Bersiaplah, ayo jalan-jalan," ucap Khalid.
Naira tampak sumringah, matanya berbinar cerah. Lalu bergegas mengganti mukenanya dengan gamis. Wanita itu memakai lipcream bewarna nude dan polesan bedak tipis.
Khalid pun sudah menunggu di dalam mobilnya. Saat Naira keluar dari rumah, Khalid memperhatikan langkah istrinya itu.
"Cantik," gumamnya.
Gawainya berdering, nama Fatimah tertera di layarnya. Khalid mengangkat telepon itu, berbicara mengenai sesuatu dengan sang kakak.
Lalu, mematikannya setelah Naira masuk ke mobil dan duduk di sampingnya.
"Em ... Nai, maaf ya, keluarnya lain kali aja. Aku ada urusan mendadak," ucapnya.
Naira terdiam. Setelah itu keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Nai!" teriak Khalid. Namun tak dipedulikan olehnya.
Khalid meninggalkan perkarangan rumah menuju rumah Huriyah. Ya, di sana Fatimah sudah menunggunya. Entah ada urusan apa.
***
Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Naira sudah tertidur pulas, sedangkan Khalid baru saja pulang. Dilihatnya wajah sang istri dengan cukup lama.
"Maafkan aku, Nai," gumamnya.
Setelah itu menuju kamar mandi, berwudu sebelum tidur.
Tidur Naira terusik saat sayu-sayup suara bisikan menyapa indra pendengarannya. Perlahan dia membuka mata. Netranya beradu dengan netra seseorang. Kesadarannya belum sepenuhnya datang, setelah berkelana ke alam mimpi.
"Bangun, Sayang. Tahajud dulu baru subuhan," ucap lelaki itu.
Rasanya gunung everest sedang menghimpit d**a Naira. Sesak, banyak kupu-kupu yang bertebaran di hatinya. Namun, dia teringat dengan kejadian semalam. Di mana dirinya sudah bereskpetasi tinggi tentang makan malam romantis dengan sang suami. Tetapi gagal terjadi, padahal dia sudah bersiap.
"Walaupun aku belum punya hak untuk marah sama kamu. Tapi aku tetap aja mau marah sama kamu. Aku ngambek!" ujarnya seraya bangkit meninggalkan Khalid.
Lelaki itu terdiam. Dia terkekeh, lalu berujar, "Uda berani ngomong ya!"
***
"Cantiknyaa," ucap Khalid saat melihat Naira selesai mandi.
Naira tak mengacuhkannya.
"Yauda iya, ngambek. Sarapan di luar, yuk? Mau apa? Seblak? Bakso? Mie ayam? Bubur ayam?"
"Ga!"
"Hayoo, itu semua enak lo," ucap Khalid.
"Emang, yang gak enak itu uda siap-siap mau pergi. Eh, ternyata diprank," sahut Naira.
Khalid terdiam, lelaki itu berusaha menahan tawanya melihat ekspresi wajah Naira. Menurutnya itu lucu. Kemudian langkahnya mendekati sang istri yang tengah duduk di depan cermin rias. Tangannya merangkul pundak Naira, membuat wanita itu hendak pingsan rasanya. Ketahuilah, Naira sudah mengagumi Khalid cukup lama. Dia mengidolakan lelaki itu. Rasanya tak percaya ketika akhirnya doanya terwujud, sang idola kini tengah mendekapnya mesra.
Naira merasa lemas, kemudian jatuh ke lantai.
***
Lelaki itu panik ketika melihat tubuh Naira jatuh ke lantai, napasnya tidak teratur.
"Nai," panggil Khalid membopong tubuh istrinya ke tempat tidur. Dengan tangan gemetar Naira membuka laci nakas, lalu mengambil obatnya. Air putih memang sudah tersedia di kamar mereka.
Setelah sepuluh menit akhirnya wanita itu sudah lebih tenang. Khalid melihat dahi Naira yang dipenuhi peluh.
"Kamu sesak napas?" tanyanya.
Naira mengangguk pelan. "Ya, aku punya penyakit asma," jawab Naira.
Naira tak ingin Khalid tahu kalau penyakitnya kambuh karena gugup saat didekap olehnya. Dalam keadaan gugup dan panik, biasanya hal itu membuatnya sesak napas. Entah bagaimana penyakit itu diderita oleh Naira setelah mengalami kecelakaan bersama orang tuanya dahulu.
"Kamu belum makan, tapi sudah minum obat. Itu bahaya," ucap Khalid sembari mengusap kepala Naira. "Baiklah kalau kamu memang tidak mau pergi, aku saja yang pergi. Kamu mau sarapan apa?" tanyanya.
Naira menghembuskan napas pelan. "Kalau begini bisa-bisa aku sesak napas lagi karena usapannya," batin Naira.
"Bubur ayam," jawabnya.
Khalid tersenyum, lalu berdiri. Lelaki itu menggunakan celana kain dan juga kaos kerah bewarna hitam. Sungguh, tampannya bukan main.
"Mas," panggilan Naira menghentikan langkah Khalid.
"Apa?" tanyanya setelah menoleh.
"Ikut."
Khalid tersenyum, "Ayo!"
***
Mereka berdua membeli bubur ayam di pinggir jalan. Khalid tak menyetujui permintaan Naira yang ingin makan di sana, takut andai saja ada penggemarnya. Dia tidak mau terganggu, karena biasanya kaum perempuan terlalu memfanatikan dirinya.
"Kita makan di taman rumah saja," ucap Khalid. Naira hanya mengangguk.
Perjalanan itu dipenuhi oleh diam. Hanya terdengar deru mobil dan detak jantung dari kedua insan tersebut.
"Nai, kamu punya hobi apa?" tanya Khalid memecahkan keheningan.
"Menulis, aku sangat ingin suatu saat nanti bisa menerbitkan sebuah buku. Berdakwah melalui tulisan," sahut Naira.
"Wah, kereen. Aku mendukungmu, kamu bisa menulis menggunakan laptopku, setelah itu nanti kita ajukan ke penerbit," jelas Khalid.
Naira tersenyum senang. "Terima kasih," ucapnya.
Khalid menoleh padanya, setelah itu mengusap lembut kepala Naira dengan tangan kirinya. Naira terpaku, hatinya menghangat karenanya.
***
"Wah, ini apa?" tanya Habibah yang berada di ruang tamu. Naira menyerahkan dua kantong plastik padanya.
"Bubur ayam untuk Umma sama Abi," jawab Naira.
Setelah itu Naira menghidangkan bubur untuknya dan Khalid. Lalu, membawanya ke taman belakang rumah. Di sana ada gazebo untuk bersantai, Khalid pun sudah menunggu dengan laptopnya.
Khalid tersenyum saat menyadari Naira ada di sampingnya.
"Nai, kita di undang ke stasiun TV, untuk menjadi bintang tamu suatu acara," jelas Khalid.
"Kapan?" tanyanya.
"Minggu depan."
"Mas, mau?"
"Kalau kamu mau."
"Aku mau."
Khalid menatap mata Naira cukup lama. Mereka hanyut dalam sebuah rasa yang entah apa namanya, sebuah gelenyar aneh pada hati mereka cukup menggelitik bibir untuk tersenyum dan pipi untuk tersipu.
Naira membuang pandangannya, tak tahan lama-lama beradu pandang dengan mata elang milik Khalid. Namun, Khalid memegang pipinya menahan agar mata Naira kembali menatap matanya.
"Tatapanmu menghunus jantungku, dengan paksa meminta hatiku untuk mengukir namamu. Tatapanmu membiusku," ucap Khalid memejamkan matanya.
Naira memberanikan dirinya menyentuh pipi Khalid, lalu menempelkan dahinya pada dahi sang suami. Deru napas mereka bersatu, begitu pun detak jantung yang serupa bertaut.
"Astagfirullah!" pekik seseorang.
Khalid dan Naira terkejut lalu memandang ke sumber suara. Di sana sudah berdiri Habibah dengan membawa nampan yang berisi pisang goreng. Khalid dan Naira merasa malu, walaupun sudah sah tetap saja rasanya malu di depan sang umma.
"Ini pisang goreng buatan Umma tadi, masih anget. Cocok jadi hidangan penutup sarapan romantis kalian di pagi ini," ucap Habibah. Khalid hanya menyengir tidak jelas, sedangkan Naira tersenyum kikuk.
"Umma sama Abi mau keluar, mungkin pulangnya agak sorean. Kalian bisa bebas sayang-sayangan," ucap Habibah.
Lagi, pasangan itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Habibah dikarenakan malu. Setelah itu Habibah melangkah pergi.
"Tuh kan, malu banget," celetuk Naira.
Khalid menatap Naira yang bersemu, nampak dari pipinya yang kemerahan seperti mengenakan blush. Tangannya menyentuh pipi wanita itu, lalu mendekatkan dirinya.
"Bersiaplah, mungkin dalam waktu dekat ini aku akan memintak hakku," bisik Khalid.
Naira terdiam.
"Makan, ntar buburnya dingin," ucap Naira seraya menyuap bubur ke mulutnya.
Wanita itu hanya sedang menyembunyikan rasa gugupnya saja.
***
Naira dan Khalid dalam perjalanan menuju studio perekaman, untuk duet sholawat Khalid dengan Huriyah. Di sana juga sudah ada Fatimah. Sesampainya di studio, Khalid disambut ramah oleh kakaknya. Fatimah langsung menuntun adiknya itu masuk ke dalam. Sedangkan Naira hanya mengikuti suaminya itu dari belakang. Lelaki itu tampak sibuk berbincang.
Seorang wanita cantik menghampiri Naira yang berdiri, dia adalah wanita tempo hari.
"Istrinya Khalid?" tanyanya.
Naira mengangguk.
"Sahabatnya Khalid, Huriyah."
Naira menerima uluran tangannya, lalu tersenyum tipis. Huriyah membawa Naira duduk pada sofa di sudut ruangan.
"Kok gak pernah foto berdua bareng Khalid? Khalid juga gak pernah upload foto kamu di medsosnya," ujar Huriyah. "Eh, lupa, pengantin pengganti. Maaf," lanjutnya.
Naira menghembuskan napas pelan. "Iya, gak papa," jawabnya.
Setelah itu Huriyah pamit pergi menuju Khalid, mereka memulai perekaman. Suara Khalid memang merdu begitu pula Huriyah, mereka berdua kelihatan sangat serasi. Yah, di pandangan Naira mereka tampak sangat cocok. Pikiran wanita itu mulai melayang, andai dia tidak menggantikan Ilmi, mungkin saja Huriyah adalah penggantinya. Insecure, Naira merasa rendah diri. Sebab dirinya hanyalah yatim piatu yang dirawat karena belas kasihan. Sedangkan Huriyah dan Ilmi? Tak diragukan dari segi nasab, status sosial, kekayaan, dan juga fisik. Mereka seperti tak punya celah kekurangan.
Beberapa kali dua orang itu bernyanyi dengan scene saling tatap. Hal itu membuat Naira merasa cemburu. Hingga perekaman selesai, mereka semua berfoto. Khalid seolah lupa bahwa di sana juga ada Naira. Lelaki itu tak sedikitpun menoleh pada sang istri yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Naira memilih keluar dari ruangan itu, dia memilih untuk menunggu di dalam mobil saja.
"Ditarik ulur terus kayak layangan," celetuknya membanting pintu mobil.
Bosan, dia memilih berselancar di sosial media. Namun, bukannya merasa sedikit lebih baik, Naira malah merasa kian terbakar. Saat foto itu diunggah oleh Khalid dan dibanjiri oleh komentar para netizen yang menjodoh-jodohkan Khalid dengan Huriyah.
"Ih, gimana si ini. Pada ga tau apa kalau Khalid uda nikah, padahal heboh," monolognya.
Pintu mobil terbuka menampilkan sosok Khalid dengan full senyumnya menatap Naira.
"Kok gak masuk?" tanyanya.
"Uda tadi, tapi ga dianggep," jawab Naira.
"Eh, serius? Maaf gak sadar," sahut Khalid. Lelaki itu tampak menggaruk kepalanya, lalu tersenyum aneh menatap sang istri.
"Nai, kamu pulang sendirian aja, ya? Aku pesenin taksi online, aku sama Huriyah ada urusan," jelasnya.
Bola mata Naira membulat sempurna, kemudian helaan napas pelan terdengar setelahnya.
"Iya, gak papa. Aku pulang sendiri aja," ucap Naira.
"Yauda, taksinya uda aku pesenin. Aku duluan ya, kamu tunggu di sini aja."
Naira keluar dari dalam mobil. Setelahnya tampak Fatimah dan Huriyah keluar dari studio menuju ke arahnya. Tanpa menoleh, dua wanita itu langsung masuk ke mobil. Huriyah menduduki kursi di samping sopir. Naira menelan salivanya, bahkan Khalid langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi
padanya.
"Aku ini apa," gumamnya bergetar menahan tangis agar tak tumpah.
Matanya berkaca-kaca.
***
Khalid pulang saat sore menjelang maghrib. Sesampainya di rumah lelaki itu langsung menuju kamarnya. Ruangan bernuansa abu-abu itu kosong.
"Naira," panggilnya di depan pintu kamar mandi. Tak ada sahutan, dia membuka pintu itu, tidak ada siapapun. Khalid pun memutuskan mandi karena sebentar lagi maghrib. Setelah itu pergi menuju masjid.
Sekembalinya dari tempat ibadah, Khalid melihat abi dan ummanya yang sudah berada di meja makan.
"Umma, Naira mana?" tanyanya.
"Loh, bukannya pergi sama kamu?"
Khalid terdiam beberapa detik, lalu berucap, "Dia pulang duluan."
"Tapi dia tidak pulang, Khalid."
Khalid tampak gelisah. Rasa khawatir sudah menjalari hatinya.
"Bagaimana bisa dia pulang duluan?" tanya Harun.
"Khalid menyuruhnya pulang, Bi. Soalnya Khalid pergi sama Huriyah," jawabnya.
"Khalid, kamu itu sudah menikah. Di mana tanggung jawab kamu? Naira itu istri kamu, kamu meninggalkannya dan pergi sama wanita lain?" ujar Habibah.
"Ada Kak Fatimah juga, Ma," sahutnya.
"Cari istrimu, dia itu wanita Khalid!" tekan Harun.
Khalid terdiam, tak pernah orang tuanya berkata dengan nada seperti ini padanya sebelumnya. Namun, dia sadar ini karena kesalahannya sendiri. Lelaki itu pamit untuk pergi mencari Naira. Hari sudan gelap, Naira tak tahu benar kota Jakarta, wanita itu meninggalkan Kediri karena menikah dengannya. Sebelumnya tak pernah dia bepergian. Itulah yang membuat Khalid merasa khawatir.
***