Bab 3 : Selingkuhan Naira

2998 Kata
Telepon Khalid berdering, tetapi diabaikan olehnya. Rasa panik telah menguasai hati dan pikirannya, takut jika terjadi sesuatu pada Naira. Bagaimana-pun Naira adalah tanggung jawabnya. Pandangannya menyusuri jalanan yang tampak lengang, sedari tadi mencari sosok wanita yang telah dinikahinya itu. Namun, tak ditemukannya di sisi jalan manapun, Khalid menepikan mobilnya, mengangkat telepon yang sedari tadi menganggu konsentrasinya. Melihat Abinya yang menelepon sedari tadi, Khalid beristigfar lirih karena sudah mengabaikan. "Assalamualaikum, Bi." "Waalaikumussalam, Khalid. Kamu di mana? Naira sudah di rumah ...." Khalid mengucap syukur, lalu mengucapkan salam, izin mematikan sambungan telepon. Kemudian melajukan mobilnya menuju rumah. *** Khalid menyalimi tangan Umi dan Abinya bergantian. Kemudian menanyakan keberadaan Naira. Habibah mengaku sudah menyuruh menantunya itu untuk istirahat. Di samping Habibah, tampak Harun menghela napas, lalu meminta Khalid untuk duduk sebentar bersama mereka. "Khalid, Abi tau kamu dan Naira itu dijodohkan. Abi, paham, kalau Naira itu hanya pengantin pengganti untukmu. Namun, perlakukanlah dia selayaknya seorang suami pada isterinya, jaga dia, Nak. Muliakan isterimu, kamu dididik dengan pemahaman agama yang baik. Tentu kamu tau betul, tak perlu Abi ajarkan tata caranya. Perbaiki sikapmu, Khalid. Jangan mempermalukan Abi," pungkas Harun, lalu beranjak pergi. Khalid terdiam. Habibah mengusap punggung putra bungsunya tersebut. "Temui isterimu, dia tampak kacau saat pulang tadi, entah apa yang sudah terjadi," kata Habibah. Khalid mengangguk, kemudian pamit menuju kamarnya. Pintu kamar itu terbuka, di sudut ruangan tampak seorang wanita tengah khusyuknya berdoa. Dia baru saja selesai melaksanakan salat isya. Entah apa yang sedang dipintanya pada Pemilik Semesta. Khalid melangkah perlahan, lalu duduk di tepian ranjang. Bersamaan detik itu, Naira bangkit dari duduknya, lalu melipat sajadahnya. Saat berbalik, mata Naira dan Khalid beradu pandang. Naira mengulurkan tangannya, menyalimi lelaki yang berstatus suaminya itu. "Dari mana, Nai? Bukankah aku menyuruhmu pulang?" Khalid melontarkan pertanyaan, yang hanya dibalas senyuman oleh Naira. Wanita itu membuka mukenanya, melipat, lalu memasukkannya ke dalam lemari. "Nai, aku bertanya." "Aku dengar, Mas," sahutnya, lalu menghela napas. "Maafkan, aku, tadi aku jalan-jalan sebentar." "Kamu kan aku suruh pulang, bukan jalan-jalan. Kamu bikin orang rumah khawatir," ujar Khalid. Naira tersenyum tipis, lalu duduk pada sofa di sudut ruangan. "Maafkan, aku, Mas," ucapnya. Khalid menatap Naira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Besok aku ke luar kota, ada urusan bisnis sekaligus mau sowan ke pondok teman," paparnya. Kemudian beranjak menuju kamar mandi hendak membersihkan diri. Naira menyerka air matanya yang jatuh tiba-tiba. Sedari tadi wanita itu memang berusaha menahan agar tangisnya tak tumpah, matanya berkaca-kaca. "Andai kamu tau apa yang aku alami, Mas," gumamnya. Setelah beberapa menit. Khalid keluar dari kamar mandi, pandangannya jatuh pada sosok Naira yang sudah terlelap di tempat tidur. Dia mungkin saja kelelahan jalan-jalan seharian, pikir lelaki itu, lalu menyusul merebahkan dirinya di samping Naira. *** Khalid memasukkan kopernya ke dalam bagasi, Naira berdiri menunggu suaminya itu untuk berangkat. Khalid menghampiri Naira seraya tersenyum tipis. Wanita itu menyalimi tangan suaminya dengan takzim. Namun, Khalid tak segera melepaskan genggamannya pada tangan Naira. "Nai, tanganmu terluka? Kenapa?" tanya Khalid beruntun. Naira gegas menarik tangannya dari genggaman Khalid. "Ini kena pisau dapur." "Lain kali, kalau kerja hati-hati. Yauda, aku berangkat dulu," ucapnya hendak memasuki mobil. Namun, urung dilakukan sebab dihentikan oleh panggilan seseorang. Naira dan Khalid menoleh bersamaan pada gadis yang sedikit berlari sembari menarik sebuah koper. "Khalid, aku boleh menumpang denganmu? Kebtulan kita menuju kota yang sama. Aku ada urusan di sana." Huriyah sedikit melirik pada Naira, lalu kembali menatap Khalid dengan sorot pandang memelas. Khalid mengangguk mengiyakan, lalu memasuki mobil. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan Naira yang terdiam. Naira menghela napas pelan, lalu menyerka sudut matanya yang berair. Saat hendak melangkahkan kaki memasuki rumah, lagi-lagi panggilan seseorang mrnghentikan. Naira menoleh pada Fatimah yang menuju ke arahnya. "Abi sama Umi ada, kan?" tanyanya. "Ada, Kak, mereka masih di meja makan," jawab Naira sembari tersenyum. Fatimah melengos, tanpa membalas senyuman dan ucapan Naira, wanita itu masuk ke rumah. Naira mengikuti langkah kakak iparnya itu. *** "Kamu ada urusan apa di sana?" tanya Khalid. Huriyah tersenyum, "Mau ketemu temen," jawabnya. Kemudian dibalas anggukan oleh Khalid. "Istrimu itu rada sombong, ya," kata Huriyah. "Lah, kenapa begitu?" "Yah, buktinya dia tak pernah bicara padaku. Bahkan tak pernah tersenyum padaku. Sombong sekali, tak kusangka isteri sahabatku seperti itu," pungkas Huriyah. "Mungkin dia masih sungkan," sahut Khalid. "Sungkan apanya, emang karakternya begitu," kata Huriyah dengan bibir mengerucut. Khalid menoleh sekilas padanya, lalu tersenyum. "Sudah, lain kali kamu aja yang ngajak dia ngomong duluan," ucap Khalid. "Dih, nggalah! Setelah memakan waktu beberapa jam perjalanan, Khalid dan Naira telah sampai di kota tujuan mereka. Khalid mengantarkan Huriyah ke sebuah hotel, lalu melanjutkan perjalanannya menuju pesantren milik temannya. Dia berencana hendak menginap di sana Khalid yang sudah setengah perjalanan menuju pondok pesantren terpaksa berbalik arah, kembali ke tempat Huriyah. Wanita itu tiba-tiba saja meneleponnya. Mendadak menyuruhnya kembali. Mobil berhenti tepat di depan Huriyah berdiri. Lelaki itu keluar dari mobilnya, menghampiri wanita yang tampak gelisah tersebut. "Kenapa, Huri?" tanyanya menampakkan raut bingung. Huriyah tampak memilin jarinya, menatap Khalid dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Ee, Khalid, temanku mendadak membatalkan janji. Katanya dia ada urusan keluarga yang mendadak. Aku tidak mungkin menginap tanpa tujuan, kan? Boleh aku ikut denganmu? Lagi pula aku pengen melihat suasana pesantren," jelas Huriyah. Khalid tampak berpikir sejenak, di hatinya terbesit rasa segan membawa wanita yang bukan siapa-siapanya ke pondok tersebut. Namun, rasa tidak enak hati juga menjalarinya. Tidak enak bila menolak permintaan sahabat masa kecilnya itu. Apa lagi dia tidak punya tujuan lain, sudah kepalang tanggung bila dia harus pulang. Khalid mengangguk mengiyakan, setelah beberapa saat berpikir. Huriyah tampak semringah, lalu memasuki mobil. Kemudian kembali melaju menuju tempat tujuan. Di halaman yang terdapat berbagai macam tanaman, Khalid memarkirkan mobilnya. Di halaman itu tampak dua orang remaja—tebakan Khalid, mungkin mereka adalah santri. Ya, benar saja. Dua orang itu menyapa dan menyaliminya, mereka mengaku ditugaskan oleh Ustaznya menjemput Khalid, menuntunnya menuju ruangan. Khalid dan Huriyah menarik koper mereka, mengikuti langkah santri tersebut. Menyusuri jalan setapak yang dihiasi tanaman ber-pot di sisi kanan dan kiri. Tanaman bunga mawar dan anggrek yang tampak sangat terawat. Sampai akhirnya mereka tiba pada gerbang pesantren. Di depan gerbang tersebut, berdiri laki-laki yang tampak sebaya dengan Khalid. Menyalami Khalid, kemudian memeluknya. Namanya Afif, teman Khalid semasa belajar di Negeri Kinanah dahulu. Mereka saling bertanya kabar, lalu Afif mengalihkan pandangannya pada sosok wanita di samping Khalid. "Ini istrimu, kah?" tanya Afif menatap Huriyah. Huriyah tersenyum, pipinya kemerahan. Raut wajahnya jelas menunjukkan kalau dia tersipu. "Iya," sahutnya. *** Huriyah menyahut. Namun, tentu saja sahutan itu hanya di dalam benaknya. Tak mungkin diutarakan, dia cukup tau diri dan tau malu. "Bukan, Fif. Ini Huriyah, dia, temanku, yang kebetulan ada urusan di sini. Boleh bila dia menumpang bersama santriwatimu?" Afif mengangguk, "Tentu saja." Afif mengajak Huriyah dan Khalid menuju ruangan Ndalem di mana Uminya berada. Lelaki itu meneruskan mengurus pondok pesantren sepeninggalan mendiang Abinya dua tahun lalu. Sesampainya di ruangan ndalem, Umi Nyai meminta santriwati untuk membawakan barang-barang Huriyah. Wanita itu menginap di kamar ndalem bersebelahan dengan kamar Umi Nyai. Sedangkan Khalid bersama Afif. Dua orang Santriwati menemani Huriyah menuju kamar, seraya membawakan barang-barangnya. "Ee, punten, Mbak. Mbak ini istri temannya Ustaz Afif, toh?" celetuk salah satunya. Huriyah tersenyum. "Iyaa," sahutnya. "Wahh, cocok, Mbak. Ganteng sama cantik," sahut yang satunya lagi. Huriyah tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. Lalu mengangguk pada dua orang santriwati tersebut, setelah beberapa saat akhirnya mereka pamit undur diri pada Huriyah. *** "Buat saja Khalid nyaman denganmu, Huriyah. Mbak tau perasaan adiknya, Mbak, padamu. Dia hanya belum menyadari kalau kamulah yang dia cintai," ucap Fatimah pada sambungan telepon. Lalu setelahnya mengucapkan salam, memutuskan sambungan. Sudah dua hari Khalid berada di luar kota. Kemarin malam lelaki itu mengabari isterinya melalui kolom chatting sosial media kalau dirinya berada selama tiga hari di sana. Dua hari ini, Fatimah sudah mulai bersikap manis dan hangat pada adik iparnya. Sering dia mengajak Naira berbincang perihal ringan, seperti menanyakan hobi, makanan yang disukai, atau kisah masa kecilnya. Naira pun merasa cukup senang memiliki teman bicara. Karena memang dia sering sendirian. Habibah dan Harun sering bepergian bahkan kadang seringkali menginap. Seperti saat ini, Fatimah menemani Naira di rumah itu. Di ruang tengah, ruangan yang digunakan untuk kumpul keluarga. Naira datang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat. Fatimah yang sedang asik dengan ponselnya menoleh seraya tersenyum. "Dek, setelah ini, kita keluar, yuk! Jalan-jalan ngemall," kata Fatimah tampak semringah. Naira tampak berpikir. Mengingat bahwa dirinya belum pernah ke tempat itu. Sedari kecil tempat yang sering dikunjunginya hanyalah dapur pesantren. Atau seringkali bila keluar kota, hanya mengikuti Zayyan dan Hanifa yang sowan ke pondok lain. Naira hanya sering melihat mall pada layar ponselnya. Pada postingan-postingan selebriti. "Abi sama Umi ngizinin, kah?" tanyanya. "Izin, kok, tenang aja." Sahut Fatimah seraya tersenyum. Setelah menghabiskan teh yang terhidang. Naira dan Fatimah berangkat, menuju sebuah mall di kota Jakarta. Fatimah mengemudi mobilnya yang didapat dari suaminya sebagai hadiah ulang tahun tahun lalu. "Kamu bisa nyetir?" tanyanya menoleh pada Naira. Naira tersenyum seraya menggeleng kecil. Senyuman tipis terukir pada bibir Fatimah, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Mereka telah sampai pada tujuan. Fatimah mengajak Naira masuk, lalu duduk di sebuah kafe yang ada di mall tersebut. Memesan dua gelas kopi dan dan cemilan sebagai kudapan. Setelah sepuluh menit berlalu mereka di sana. Huriyah pamit sebentar menuju toilet. Dia berpesan agar Naira tak ke mana-mana. Seraya menunggu kembalinya Fatimah. Naira menggulir layar sosial medianya. Namun, seorang laki-laki mengenakan kemeja bewarna biru muda tiba-tiba saja mengahmpirinya, tanpa izin mendudukki kursi di depannya. Kursi yang diduduki oleh Fatimah sebelumnya. "Hai, Naira, kan? Aku Rayhan, maaf sudah membuatmu menunggu," katanya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Naira tak bergeming, pikirannya dipenuhi tanda tanya perihal lelaki itu. Tiba-tiba saja lelaki yang mengaku bernama Rayhan itu menjabat tangannya. Hal itu tentu saja membuat Naira merasa takut. Dia tak kenal siapa si Rayhan ini. "Hey, aku temannya Daffa! You know?" Naira menarik paksa tangannya. Menatap lelaki itu dengan sorot bingung, lalu menyapu pandangannya ke dalam kafe, mencari sosok Fatimah. Namun, nihil ditemukan oleh netranya. "Kamu gak mau bicara? Aku ini temannya suami Fatimah. Kamu ke sini bareng Fatimah, kan? Di mana dia? Naira menghela napas, berpikir mungkin saja lelaki ini ada janji dengan kakak iparnya. Saat ingin menjawab pertanyaan lelaki itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Membuat gerakan bibirnya terhenti lalu melihat isi pesan tersebut. [Nai, Mbak ada urusan mendadak. Mbak harus segera menjemput Mas Daffa, kamu pulang sama Rayhan aja, ya, dia baik kok.] "Halloo!" Panggilan itu membuat Naira tersadar, lalu menoleh pada Rayhan. Dalam benaknya Naira bertanya-tanya. Bagaimana bisa dia pulang bersama lelaki asing? Selama ini dia tak pernah berinteraksi dengan lelaki manapun selain Abi dan suaminya. *** Sebuah pesan masuk ke ponsel Khalid, membuatnya menghentikan aktivitasnya sejenak. Setelah melihat pesan itu berasal dari kakaknya. [Kelakuan isterimu.] Bunyi pesan tersebut menunjukkan sebuah foto yang cukup membuat percikan rasa marah di hati Khalid. Bersamaan detik itu, Huriyah menghampiri Khalid dengan membawa secangkir kopi. "Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanyanya pada Khalid yang menatap tajam ke layar ponsel. "Astagfirullah, itu Naira, kan? Bisa-bisanya dia bersama laki-laki lain di saat suaminya bepergian, sungguh wanita tak tau malu," papar Huriyah, setelah melihat ke layar ponsel. Huriyah mengusap bahu Khalid, seolah mencoba menenangkan hati lelaki itu. "Kemasi barang-barangmu, kita akan pulang sekarang," kata Khalid, lalu bangkit berdiri. Kemudian melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan ndalem. Meninggalkan Huriyah dengan senyuman khas yang penuh arti. "Aku-lah yang seharusnya menjadi isterimu," gumamnya. Kemudian kembali membawa kopi yang ada di tangannya itu menuju dapur ndalem. Sedangkan di sisi lain. Naira tengah dalam perjalanan pulang. "Terima kasih," ucap Naira sesaat setelah keluar dari mobil Rayhan. Ya, Rayhan mengantarkan Naira pulang atas permintaan Fatimah. Setelah melemparkan seulas senyuman, Rayhan pamit undur diri meninggalkan Naira di depan rumah bercat abu-abu itu. Fatimah tersenyum senang menyetirkan mobilnya menuju pulang. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya sehingga senyum tak lepas dari bibirnya. "Beberapa jam lagi, akan ada sebuah pertunjukkan yang menakjubkan, kau sungguh keren Fatimah," monolognya. Kadang beberapa hal membuat manusia kerap kali merasa dirinya tinggi hati. Setan beramai-ramai membisikkan keangkuhan dan kesombong ke dalam qalbu. Membuat jiwa itu rusak merasa dirinya lebih baik dari siapapun. Jadilah manusia yang memanusiakan manusia. Bukan menjadi dewa di atas sesamanya. Penyakit hati itu mampu merusak jiwa hingga lupa pada siapa Tuhan yang sebenernya. *** Terpaksa Menikahi Ustaz Muda (6) Huriyah menyahut. Namun, tentu saja sahutan itu hanya di dalam benaknya. Tak mungkin diutarakan, dia cukup tau diri dan tau malu. "Bukan, Fif. Ini Huriyah, dia, temanku, yang kebetulan ada urusan di sini. Boleh bila dia menumpang bersama santriwatimu?" Afif mengangguk, "Tentu saja." Afif mengajak Huriyah dan Khalid menuju ruangan Ndalem di mana Uminya berada. Lelaki itu meneruskan mengurus pondok pesantren sepeninggalan mendiang Abinya dua tahun lalu. Sesampainya di ruangan ndalem, Umi Nyai meminta santriwati untuk membawakan barang-barang Huriyah. Wanita itu menginap di kamar ndalem bersebelahan dengan kamar Umi Nyai. Sedangkan Khalid bersama Afif. Dua orang Santriwati menemani Huriyah menuju kamar, seraya membawakan barang-barangnya. "Ee, punten, Mbak. Mbak ini istri temannya Ustaz Afif, toh?" celetuk salah satunya. Huriyah tersenyum. "Iyaa," sahutnya. "Wahh, cocok, Mbak. Ganteng sama cantik," sahut yang satunya lagi. Huriyah tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. Lalu mengangguk pada dua orang santriwati tersebut, setelah beberapa saat akhirnya mereka pamit undur diri pada Huriyah. *** "Buat saja Khalid nyaman denganmu, Huriyah. Mbak tau perasaan adiknya, Mbak, padamu. Dia hanya belum menyadari kalau kamulah yang dia cintai," ucap Fatimah pada sambungan telepon. Lalu setelahnya mengucapkan salam, memutuskan sambungan. Sudah dua hari Khalid berada di luar kota. Kemarin malam lelaki itu mengabari isterinya melalui kolom chatting sosial media kalau dirinya berada selama tiga hari di sana. Dua hari ini, Fatimah sudah mulai bersikap manis dan hangat pada adik iparnya. Sering dia mengajak Naira berbincang perihal ringan, seperti menanyakan hobi, makanan yang disukai, atau kisah masa kecilnya. Naira pun merasa cukup senang memiliki teman bicara. Karena memang dia sering sendirian. Habibah dan Harun sering bepergian bahkan kadang seringkali menginap. Seperti saat ini, Fatimah menemani Naira di rumah itu. Di ruang tengah, ruangan yang digunakan untuk kumpul keluarga. Naira datang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat. Fatimah yang sedang asik dengan ponselnya menoleh seraya tersenyum. "Dek, setelah ini, kita keluar, yuk! Jalan-jalan ngemall," kata Fatimah tampak semringah. Naira tampak berpikir. Mengingat bahwa dirinya belum pernah ke tempat itu. Sedari kecil tempat yang sering dikunjunginya hanyalah dapur pesantren. Atau seringkali bila keluar kota, hanya mengikuti Zayyan dan Hanifa yang sowan ke pondok lain. Naira hanya sering melihat mall pada layar ponselnya. Pada postingan-postingan selebriti. "Abi sama Umi ngizinin, kah?" tanyanya. "Izin, kok, tenang aja." Sahut Fatimah seraya tersenyum. Setelah menghabiskan teh yang terhidang. Naira dan Fatimah berangkat, menuju sebuah mall di kota Jakarta. Fatimah mengemudi mobilnya yang didapat dari suaminya sebagai hadiah ulang tahun tahun lalu. "Kamu bisa nyetir?" tanyanya menoleh pada Naira. Naira tersenyum seraya menggeleng kecil. Senyuman tipis terukir pada bibir Fatimah, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Mereka telah sampai pada tujuan. Fatimah mengajak Naira masuk, lalu duduk di sebuah kafe yang ada di mall tersebut. Memesan dua gelas kopi dan dan cemilan sebagai kudapan. Setelah sepuluh menit berlalu mereka di sana. Huriyah pamit sebentar menuju toilet. Dia berpesan agar Naira tak ke mana-mana. Seraya menunggu kembalinya Fatimah. Naira menggulir layar sosial medianya. Namun, seorang laki-laki mengenakan kemeja bewarna biru muda tiba-tiba saja mengahmpirinya, tanpa izin mendudukki kursi di depannya. Kursi yang diduduki oleh Fatimah sebelumnya. "Hai, Naira, kan? Aku Rayhan, maaf sudah membuatmu menunggu," katanya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Naira tak bergeming, pikirannya dipenuhi tanda tanya perihal lelaki itu. Tiba-tiba saja lelaki yang mengaku bernama Rayhan itu menjabat tangannya. Hal itu tentu saja membuat Naira merasa takut. Dia tak kenal siapa si Rayhan ini. "Hey, aku temannya Daffa! You know?" Naira menarik paksa tangannya. Menatap lelaki itu dengan sorot bingung, lalu menyapu pandangannya ke dalam kafe, mencari sosok Fatimah. Namun, nihil ditemukan oleh netranya. "Kamu gak mau bicara? Aku ini temannya suami Fatimah. Kamu ke sini bareng Fatimah, kan? Di mana dia? Naira menghela napas, berpikir mungkin saja lelaki ini ada janji dengan kakak iparnya. Saat ingin menjawab pertanyaan lelaki itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Membuat gerakan bibirnya terhenti lalu melihat isi pesan tersebut. [Nai, Mbak ada urusan mendadak. Mbak harus segera menjemput Mas Daffa, kamu pulang sama Rayhan aja, ya, dia baik kok.] "Halloo!" Panggilan itu membuat Naira tersadar, lalu menoleh pada Rayhan. Dalam benaknya Naira bertanya-tanya. Bagaimana bisa dia pulang bersama lelaki asing? Selama ini dia tak pernah berinteraksi dengan lelaki manapun selain Abi dan suaminya. *** Sebuah pesan masuk ke ponsel Khalid, membuatnya menghentikan aktivitasnya sejenak. Setelah melihat pesan itu berasal dari kakaknya. [Kelakuan isterimu.] Bunyi pesan tersebut menunjukkan sebuah foto yang cukup membuat percikan rasa marah di hati Khalid. Bersamaan detik itu, Huriyah menghampiri Khalid dengan membawa secangkir kopi. "Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanyanya pada Khalid yang menatap tajam ke layar ponsel. "Astagfirullah, itu Naira, kan? Bisa-bisanya dia bersama laki-laki lain di saat suaminya bepergian, sungguh wanita tak tau malu," papar Huriyah, setelah melihat ke layar ponsel. Huriyah mengusap bahu Khalid, seolah mencoba menenangkan hati lelaki itu. "Kemasi barang-barangmu, kita akan pulang sekarang," kata Khalid, lalu bangkit berdiri. Kemudian melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan ndalem. Meninggalkan Huriyah dengan senyuman khas yang penuh arti. "Aku-lah yang seharusnya menjadi isterimu," gumamnya. Kemudian kembali membawa kopi yang ada di tangannya itu menuju dapur ndalem. Sedangkan di sisi lain. Naira tengah dalam perjalanan pulang. "Terima kasih," ucap Naira sesaat setelah keluar dari mobil Rayhan. Ya, Rayhan mengantarkan Naira pulang atas permintaan Fatimah. Setelah melemparkan seulas senyuman, Rayhan pamit undur diri meninggalkan Naira di depan rumah bercat abu-abu itu. Fatimah tersenyum senang menyetirkan mobilnya menuju pulang. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya sehingga senyum tak lepas dari bibirnya. "Beberapa jam lagi, akan ada sebuah pertunjukkan yang menakjubkan, kau sungguh keren Fatimah," monolognya. Kadang beberapa hal membuat manusia kerap kali merasa dirinya tinggi hati. Setan beramai-ramai membisikkan keangkuhan dan kesombong ke dalam qalbu. Membuat jiwa itu rusak merasa dirinya lebih baik dari siapapun. Jadilah manusia yang memanusiakan manusia. Bukan menjadi dewa di atas sesamanya. Penyakit hati itu mampu merusak jiwa hingga lupa pada siapa Tuhan yang sebenernya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN