20. Asisten Rumah Tangga

1316 Kata
Sieera berjalan dengan susah payah menuju mobilnya. Sepanjang melangkah gadis itu menggerutu tiada henti. Bahkan dia sempat menendang dinding sebuah toko yang tak bersalah sebab rasa kesalnya. Namun, nyatanya, hal itu tidak mengurangi rasa sakit, justru semakin menambah rasa sakitnya. Wanita itu membuka pintu mobil, lantas menutupnya kasar. Dia sangat menyayangkan kaki mulusnya yang lecet sebab ditendang Lisa. Sieera meracau tidak jelas. Dia tidak akan membiarkan gadis itu lolos. Sedangkan, di trotoar jalan, Maira dan Lisa melambatkan larinya. Mereka tidak melihat tanda-tanda Sieera yang mengejar. Dua gadis itu memutuskan untuk melanjutkan langkah dengan berjalan. Maira melirik Lisa yang melangkah di sampingnya. "Ada apa?" tanya gadis itu kemudian. Lisa menoleh. "Apa maksudmu ada apa?" protesnya. "Bukankah kau gadis yang dibeli kakakku." Sontak, Maira menghentikan langkah, tiba-tiba saja dia merasa was-was dengan gadis di depannya. Lisa ikut menghentikan langkah, dapat dia lihat Maira yang menatap dengan penuh selidik. Sungguh, Maira merasa telah masuk ke kandang macan. Setelah tadi dirinya lari dari singa, kini dia harus berurusan dengan macan. Lisa melangkah maju. "Stop!" perintah Maira dengan kedua tangannya. "Hei, dengarkan aku dulu," ucap Lisa. "Tidak, berhenti di tempatmu atau aku akan berteriak," ancam Maira. Gadis itu terus melangkah mundur. Lisa menghela napas gusar. Maira membuatnya terlihat seperti pencuri. Padahal Lisa hanya ingin bertanya banyak hal padanya, sedangkan Maira menganggap gadis itu adalah kaki tangan Tuan Harley. 'Jangan gila. Untuk apa aku menculikmu!" ucap Lisa jengkel. "Bukankah kau bilang kau adiknya Tuan Harley," ucap Maira dengan polosnya. "Jadi benar! Kakakku membelimu?" Lisa menaikkan nadanya satu tingkat. Maira mundur satu langkah. Gadis itu menelan air mulutnya sambil mengangguk. "Berapa?" tanya Lisa sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Lima ratus," cicit Maira, dia sedang memikirkan cara untuk menebus semua itu. "Juta?" tanya Lisa lagi, tapi kali ini nadanya terdengar lebih menekan. Maira mengangguk. Hal itu membuat Lisa membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menggeram kesal. Lisa tertawa prustasi. "Haha! Lima ratus juta ... aaarrgh! Lima ratus juta! Dia bahkan tidak mau membiayai sewa apartemen untukku. Dia malah menghamburkan uang untuk gadis lain yang bahkan tidak memberikan apa-apa untuknya," racau Lisa. "Aaarrghhh! Tuhan! Cabut saja nyawaku. Aku tidak mau tinggal lebih lama lagi dengannya." Lisa berlutut di atas trotoar jalan sambil menjambaki rambutnya. Sungguh, dia benar-benar kesal pada Harley. Lisa sudah pernah meminta kakaknya itu untuk menyewakan apartemen untuknya. Namun pria itu menolak dengan alasan tidak mau menghamburkan uang. Harley memaksa Lisa untuk tetap tinggal di rumah dengannya, dan hal itu membuat Lisa prustasi. Sekarang, tambah prustasi saja gadis itu sebab mengetahui kakaknya membeli Maira dengan harga lima ratus juta. Ingin rasanya Lisa menelan kepala kakaknya itu mentah-mentah. Maira mengurungkan niatnya yang ingin berlari meninggalkan Lisa. Setelah menyaksikan dan mendengar sendiri ucapan Lisa, Maira merasa bahwa gadis itu sedang tertekan oleh keadaan. Hal itu membuat Maira sedikit kasihan padanya. "Kau ... baik-baik saja?" tanya Maira yang tampak ragu untuk menyentuhnya. "Bagaimana mungkin aku baik-baik saja!" Suara itu membuat Maira hampir terlonjak ke belakang. Lisa bangkit dari posisinya. Gadis itu menatap Maira serius sambil menadah tangan kanannya. "Sekarang mana uangnya?" kata Lisa. Maira menggeleng jujur. Dari awal memang bukan dia yang menerima uang itu. "Jangan bercanda. Berikan padaku uangnya," paksa Lisa. "Apa kau tidak tahu kalau aku dijual oleh suamiku?" Lisa terpaku di tempatnya. Seketika, kedua bola matanya membesar. Dia tidak menyangka jika seperti itu kenyataannya. Kini, dapat Lisa lihat raut sendu di wajah Maira. "Aku akan berusaha untuk mengembalikan uang kakakmu, tapi aku tidak bisa janji kapan akan melunasinya," ucap Maira. "Kalau kau ingin membantu, bisa tolong aku mencari pekerjaan?" Lisa menatap lantai trotoar di bawah kakinya. Tiba-tiba saja tatapannya berubah nanar, dan benaknya kacau berantakan. Baru saja dia lega sebab bisa membuat Nessa keluar dari kurungan kakaknya. Namun kini, bencana apalagi yang menimpanya. "Baiklah, aku akan membantumu mencari pekerjaan," ucap Lisa kemudian. "Sungguh?" Lisa mengangguk, membuat mata Maira bersinar hangat. Lisa memang tidak terlihat ramah padanya, tapi entah mengapa, Maira merasakan gadis itu memiliki sifat yang penyayang. *** Gerbang besar dan tinggi di depan rumah gedung itu Lisa buka seorang diri. Dia baru sampai di rumah setelah tadi dirinya pergi ke tempat Nessa. Lisa sudah membawa Nessa pergi dari sana, dan kini perasaan mengganjal atas wanita itu sedikit berkurang di hatinya. Lisa mendorong pintu rumahnya setelah memutar kunci. Belum sempat gadis itu masuk, dia melihat mobil Harley berhenti di depan gerbang. Dengan cepat Lisa berlari ke arah gerbang, lalu membukanya untuk sang kakak. Satpam yang biasa kerja di rumah mereka harus pulang sebab istrinya sakit. Harley baru ingin menyentuh gerbang, tapi gerbang itu sudah bergerak sebelum tangannya mendarat di sana. Pria itu menyadari keberadaan Lisa di dalam. Harley segera kembali ke mobilnya. Rumah gedung itu terasa sepi setiap kali Lisa menginjakkan kaki di sana. Tidak ada siapa pun di rumah itu selain dia dan Harley. Terkadang Lisa merindukan sosok yang sudah lama pergi, siapa lagi kalau bukan ibu dan ayahnya. Selain itu, dia pun merindukan kehangatan yang dulu selalu terpancar dari wajah sang kakak. Harley mengambil botol air di kulkas sebelum melangkah naik ke kamarnya. Pria itu meneguk botol air yang dia dapat. Lisa yang berdiri tak jauh darinya hanya menatap dalam diam. Dia mengingat lagi pertemuannya dengan Nessa siang tadi. "Aku berterima kasih padamu Lisa. Aku harap kakakmu segera mendapat pengganti, dan sampaikan maafku padanya," ucap Nessa pada Lisa beberapa jam yang lalu. "Kak Nessa ... aku ... apa kau tahu jika kakakku mencintaimu?" tanya Lisa. "Maafkan aku Lisa. Aku pikir kami memang tidak cocok untuk bersama. Aku pergi, terima kasih untuk semuanya." "Kak Nessa...!" panggil Lisa sebab wanita itu langsung pergi dari hadapannya. Hal itu membuat Lisa berpikir jika kakak iparnya itu memang tidak menginginkan kakaknya. Seharusnya dia mengerti apa yang Harley rasakan. Namun, situasinya baru dia sadari sekarang. "Apa?" kata Harley sebab dia merasakan tatapan Lisa tidak berpindah darinya. Lamunan gadis itu buyar. Dapat dia lihat Harley yang sudah berdiri tak jauh darinya. Lisa menggelengkan kepala, membuat Harley melanjutkan langkah menuju anak tangga. "Kak," panggil Lisa kemudian. Harley berhenti, lantas memutar tubuh ke arahnya. Pria itu menunggu Lisa berbicara lagi. "Kak Nessa bilang, terima kasih untuk semuanya," ucap gadis itu dengan nada turun. Harley memalingkan matanya, embusan napas pun terdengar dari lubang hidungnya. Pria itu tidak merespon dengan kata-kata. Dia kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Lisa menjatuhkan tubuhnya di kursi makan. Entah mengapa, dia baru merasakan sakit hati yang mungkin sebelumnya sangat mengganjal hati pria itu. Ketika menghampiri Nessa tadi, Lisa sedikit berharap agar wanita itu meminta maaf kembali pada kakaknya. Dia juga sempat berharap mereka bisa rujuk. Namun ternyata situasinya memang tidak semudah yang dia bayangkan. Malam itu, Harley meminta Lisa untuk membeli makanan di luar. Lisa menurutinya dengan sedikit berat hati. Malam itu hujan, dan dengan teganya Harley menyuruh gadis itu keluar sendirian. Lisa kembali dengan beberapa bingkisan di tangannya. Gadis itu meletakkan semuanya di meja makan, lantas bergegas mengganti pakaiannya yang basah sebab cipratan air. Harley melihat Lisa yang berjalan sambil berjinjit-jinjit. "Sepertinya kau memang membutuhkan asisten rumah tangga," ucap Harley ketika Lisa berjalan melewatinya. "Bukankah sudah kubilang dari waktu itu. Kau selalu saja menolaknya!" geram Lisa. "Oke, baiklah, kau boleh cari asisten rumah tangga." Lisa memutar bola matanya, malas. Giliran sudah seperti ini, kakaknya itu baru ingin mencari. Sempat Lisa menggerutu dalam langkahnya. Namun tidak bertahan lama. Setelah dia mengingat tentang pekerjaan, seketika dirinya mendapat ide. "Kau bilang apa tadi? Aku boleh mencari asisten rumah tangga?" ulang Lisa sambil memutar tubuh ke arah kakaknya yang sudah duduk di kursi makan. "Ya." "Sungguh? Berapa gajinya?" tanya gadis itu, entah mengapa tiba-tiba menjadi sangat antusias. Harley melirik ke arahnya, curiga. "Asalkan kerjanya bagus, gajinya juga pasti akan bagus," ucap pria itu. "Berapa kalau bagus?" Tiba-tiba saja Lisa sudah berada di depan meja Harley. "Hei, ingat, aku tidak menerima pekerja yang sedang kuliah atau bersekolah," ucap Harley. Entah mengapa dia merasa adiknya itu ingin merekrut teman kampusnya. "Aaah, tidak-tidak, tentu saja tidak sedang kuliah ataupun bersekolah." Lisa melangkah kembali menuju kamarnya. Harley bergeming di tempatnya dengan mulut sedikit terbuka. Dapat dia lihat Lisa yang tiba-tiba saja tampak bahagia. Memangnya apa kaitannya asisten rumah tangga dengannya, pikir Harley. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN