19. Cinta yang Kandas

1303 Kata
Pagi itu, Lisa pergi ke panti, tapi dia tidak masuk. Gadis itu hanya ingin memastikan keberadaan Maira. Dia tidak berpikir ingin membawa gadis itu pada Sieera. Lisa justru ingin membawanya langsung pada kakaknya, Harley. Lisa sudah sempat berbincang pada pria itu semalam. "Kak," panggil gadis itu ketika melihat Harley hendak masuk ke kamar. "Hm?" jawabnya, Harley menunda niatnya. "Apa kau membeli seorang gadis?" Tatapan yang semula biasa saja itu kini berubah menjadi sedikit tajam, detik berikutnya, Harley melangkah maju dengan raut penuh selidik. Hal itu membuat Lisa melepas tatapan darinya. Gadis itu mundur satu langkah. "Kau menemuinya?" Harley berdiri tepat di depan adiknya. Lisa mengangguk. Namun gadis itu tidak bercerita tentang Sieera yang telah memberitahu hal itu padanya. "Lalu?" sambung Harley, menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya. "Apa kau ingin aku membawa gadis itu padamu?" Harley mengerutkan dahi. Dia tidak berpikir jika Lisa akan melakukan hal itu. Selama ini yang Harley tahu, Lisa selalu menentang setiap gadis yang ingin berurusan dengannya. Pria itu juga tahu jika Lisa bersikeras ingin membebaskan Nessa darinya. "Tidak perlu," jawab Harley. "Aku membelinya karena ingin membebaskannya dari tempat kotor itu." Pria itu kembali melangkah. Dia sudah memegang gagang pintu kamarnya. Namun, Lisa menghentikannya lagi. "Kak!" seru gadis itu. "Kak Nessa berjanji tidak akan menuntut apa pun darimu, asalkan kau membebaskannya. Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab atas hal ini," ucap Lisa memohon. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan kakaknya. Pria itu mengeluarkan uang lima ratus juta untuk membebaskan gadis yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya. Lalu mengapa dia tidak bisa membebaskan Nessa yang bahkan tidak meminta apa pun padanya. "Apa yang membuatmu ingin sekali melihatnya terbebas?" tanya Harley dengan nada dinginnya. "Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus-menerus sedangkan aku mengetahuinya. Aku bahkan bisa mendengar suara jerit tangisnya, Kak," ucap Lisa. "Bagaimana mungkin kau bisa hidup dengan tenang, sedangkan aku tidak. Padahal kau yang mengurungnya." Sejenak, Harley bergeming di depan pintu kamarnya. Salah jika Lisa berkata seperti itu. Harley bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan Nessa, dan mengeluarkan wanita itu dari dalam hatinya. Pria itu mendorong pintu kamar, lalu menutupnya kembali. "Huuh." Lisa menghembuskan napas lelah, menyadari kakaknya yang tidak peduli sama sekali. Kemudian, tanpa gadis itu sangka, Harley kembali membuka pintu kamarnya. Pria itu menyerahkan sebuah surat dan kunci pada Lisa. "Katakan padanya, aku sudah menceraikannya," ucap Harley sebelum melangkah kembali ke dalam kamar. Lisa terpaku dengan sebuah surat dan kunci di tangannya. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, bibirnya juga terbuka sebab tidak menyangka dengan hal ini. Lisa menatap pintu kamar Harley yang barusan ditutup. Baru dia sadari jika selama ini kakaknya itu masih mencintai Nessa. Hal itu yang menyebabkan Harley masih menahan wanita itu. Namun sekarang, pria itu sudah benar-benar melepaskannya. Lisa tidak tahu jika selama ini kakaknya itu menahan diri untuk tidak menikah lagi. Semua itu sebab Nessa masih menjadi wanita yang berada di hatinya. *** Maira melangkah keluar pagar, lalu menutupnya kembali. Gadis itu membawa sebuah tas keranjang di tangannya. Dia harus pergi ke pasar pagi ini. Lisa melangkah mundur, lalu menyembunyikan diri ketika Maira hendak berjalan melewatinya. Dapat dia lihat Maira yang mengenakan gamis hitam dan kerudung hitam. Perlahan, Lisa mengikutinya. Namun, sebuah notice pesan membuat langkahnya tertunda. Lisa menggerutu sebal, buru-buru dia melihat ponselnya. Sieera mengirim pesan. "Aku menunggumu." Gadis itu mendecak. "Dia pikir aku akan menuruti permintaannya!" gerutunya. Lisa menyimpan kembali ponselnya tanpa membalas pesan Sieera. Dia mempercepat langkah untuk membuntuti Maira. Sedangkan, di sisi lain kota, Sieera melihat pesannya hanya dibaca. Lisa telah berhasil membuat wanita itu marah. Segera Sierra melacak lokasi gadis itu menggunakan nomor ponselnya. Sieera melakukan ini sebab Lisa sudah berjanji akan membawa Maira padanya. Beberapa menit berlalu, Sieera berhasil menemukan lokasi keberadaan Lisa. Wanita itu memarkirkan mobilnya, lalu tersenyum getir setelah menyadari bahwa Lisa pergi ke pasar. Sieera menghela napas. Gadis itu membuka dasboard mobilnya, lantas mengambil plastik putih bening untuk melapisi sepatu mahal yang dia pakai. Tak lupa pula dia melapisi kedua telapak tangannya dengan sarung tangan karet yang juga tersedia di dalam sana. Wanita itu melangkah keluar setelah menutup hidung dan mulut menggunakan masker. Penampilan berlebihan Sieera itu mendapat tatapan-tatapan aneh dari para pengunjung pasar. Tak sedikit dari mereka memandangnya sinis, bahkan ada yang sampai berbisik-bisik sebab melihat wanita itu. Sieera tidak peduli, dirinya justru merasa semakin percaya diri. Wanita itu mengibaskan rambut cantiknya. Maira berada di amparan pedagang yang menjual sayur. Gadis itu melihat sayur-sayur segar di sana, dia memutuskan untuk memilih di satu tempat yang pedagangnya terlihat ramah. Maira bertanya harga padanya. Setelah tahu dan menghitung harga sayuran itu. Maira memilihnya untuk kemudian ditimbang oleh ibu penjual. Gadis itu terlihat sangat pandai dalam memilih sayuran. Terbukti dari buah-buah tomat sempurna yang berada di keranjang belanjaannya. Setelah selesai, Maira melangkah menuju tempat penjualan bumbu dapur. Uang belanja masih tersisa, dan Maira memutuskan untuk membeli bumbu dapur meski sebenarnya barang itu tidak ada dalam daftar belanjaan. Namun, belum sempat Maira menjangkau tempat itu, sebuah tangan menarik tubuhnya dengan cepat. "Aaakh!" seru Maira ketika tubuhnya dipaksa berjalan mengikuti gadis yang menariknya. Maira kebingungan. Dia berusaha melihat siapa gadis itu. Setelah menyadari bahwa dia adalah Lisa, Maira menghentikan langkahnya. "Lisa? Kenapa?" tanya Maira setelah menahan tubuhnya untuk tidak melangkah. "Ikut denganku kalau kau tidak mau diculik si nenek sihir," ucap Lisa. Wajah Maira berkerut sempurna. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu. Namun, melihat raut wajahnya, Lisa tidak terlihat sedang berbohong. Menit berikutnya, Maira maju mengikuti langkah gadis itu. "Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" ucap Maira dalam langkah itu. "Banyak," jawab Lisa. Mendengar jawaban itu, wajah Maira semakin berkerut saja. Seharusnya dia yang merasa seperti itu. Bagaimanapun juga, Maira masih menyimpan banyak curiga pada gadis itu tentang Julian dan Tuan Harley. Lisa terus menarik Maira menjauh dari pasar. Dia sudah sempat melihat bahwa Sieera mengikutinya. Hal itu yang membuat Lisa bergerak cepat membawa Maira. Namun, pada akhirnya mereka tetap bertemu dengan wanita itu. Sieera berdiri tepat di depan mereka, wanita itu melipat kedua tangannya di depan perut. Terpaksa Maira dan Lisa menghentikan langkahnya. Lisa sudah ingin putar balik dan berlari meninggalkan wanita itu. Namun, Sieera sudah lebih dulu menahan tangan Maira. Hal itu membuat Lisa tidak bisa berlari. "Jangan coba-coba lari!" titah Sieera. "Aw," keluh Maira sebab merasakan tangannya yang ditekan kuat oleh wanita itu. Lisa menarik Maira, membuat tubuh Maira bergerak sedikit ke arahnya. Namun, Sieera tidak melepaskannya begitu saja. Wanita itu menariknya kembali. Kini Maira tampak seperti piala yang sedang diperebutkan oleh dua finalis lomba, gadis itu mengaduh sakit. Keranjang belanjaannya sampai terjatuh sebab tubuhnya ditarik-tarik oleh dua wanita di kanan dan kirinya "Tolong hentikan," ucapnya dengan sedikit memerintah. Mendengar suara Maira, membuat dua wanita itu melepaskan tangan mereka. Maira segera mengambil keranjang belanjaannya yang terjatuh, lalu membereskan beberapa barang yang berserakan di sekitarnya. Setelah selesai, Maira melangkah mundur dari dua wanita itu. Mereka tampak saling pandang satu sama lain. Lisa dan Maira pun tidak bisa melepas perhatiannya dari kostum yang dipakai Sierra. Dua gadis itu memperhatikannya dari atas sampai bawah. Lisa tertawa getir sambil melipat kedua tangannya di depan perut. Dia sungguh tergelitik melihat pakaian Sieera. Wanita itu memakai kemeja putih dan rok hitam pendek, dengan sepatu highhils berwarna merah yang dilapisi plastik, lalu tangannya yang berlapis sarung tangan karet, juga wajah yang tertutup masker, membuat Lisa ingin mendorongnya ke sungai kapuas. "Hei, jaga ekspresi wajahmu," ucap Sieera sambil melangkah maju. Wanita itu sudah ingin melayangkan tangan untuk memukul Lisa. Namun, dengan cepat Lisa menendang kakinya. Membuat Sieera membungkuk dan meringis sakit. Maira terkejut melihat pristiwa itu, dia sudah ingin membungkuk menolong Sieera. Namun Lisa melarangnya, dia langsung menarik Maira pergi dari wanita itu. Maira berlari bersama Lisa. Meskipun begitu, dia tetap merasa kasihan pada Sieera yang berteriak kesakitan sambil memanggil-manggil nama mereka dengan nada marah. Setelah mendengar suara menyeramkan itu, Maira tidak lagi kasihan padanya. Dua gadis itu berlari sekuat tenaga. "Awas kalian nanti!!!" teriak Sieera dengan nada memperingati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN