bc

Possesive Fiance

book_age16+
996
IKUTI
3.8K
BACA
drama
tragedy
comedy
twisted
sweet
humorous
like
intro-logo
Uraian

Setelah bertunangan, nyatanya Raga malah semakin mengekang Kim dalam segala hal. Mulai dari cara berpakaian, Ke mana-mana harus bilang, apa-apa dilarang dan paling parah Kim nggak boleh deket-deket sama cowok mana pun.

Tapi Kim mencintai Raga, alasan itulah membuatnya mau saja diperlakukan Raga seperti itu.

Sampai tiba pada suatu titik, Di mana Raga harus berhadapan dengan musuh besarnya. Di mana Raga harus memilih. Sebuah pilihan yang akan menentukan kelanjutan dari hubungan Raga dan Kim selanjutnya.

Akankah mereka bisa bertahan di tengah cobaan yang menerjang?

Atau memilih untuk saling melepaskan demi kebahagiaan bersama.

chap-preview
Pratinjau gratis
Marah atau Cemburu
Raga terbangun dari tidurnya. Dia merasa pusing langsung menghantam kepalanya begitu membuka mata. Rasa dingin langsung menyergap permukaan kulitnya ketika dia menyadari tubuhnya telanjang. "Sayang," panggil Raga pada sosok yang tidur di sebelahnya. Tapi nggak ada sahutan. Raga pun menoleh, dia langsung terduduk begitu melihat bukan Kim yang terbaring di sana. Tapi Aldi? s**t! "Woi setan bangun Lo!!" Teriak Raga panik. Dia juga melihat Dika dengan kondisi yang sama sepertinya, telanjang. Raga turun dari ranjang, dia bergegas berpakaian. Dia sama sekali nggak inget kenapa bisa telanjang bersama dua sahabatnya itu. Apa karena mabuk sehingga mereka bertiga lupa diri dan melakukan itu? Rasanya nggak mungkin. Dengan membiarkan dua cowok itu tetap tidur, Raga keluar dari kamar. Dia mencari Kim. Tunangannya itu entah berada di mana. "Bik, liat Kim?" Tanya Raga ke Bik Lani yang sedang lewat membawa gelas kosong. "Non Kim kayaknya ada di ruang tengah sama keluarga yang lain, Den." "Makasih, Bik," kata Raga sambil berlalu. Raga pun langsung berjalan ke ruang tengah yang dimaksud oleh Bik Lani tadi. Belum juga sampai, suara tawa langsung menyapa telinga Raga. Pasti sekarang semua keluarga yang belum pulang sedang berkumpul. "Ehhh Tuan Muda kita baru bangun. Kenapa nggak sekalian besok aja bangunnya?" Sindir Oma Teresia. Raga menggaruk kepalanya, merasa nggak enak sebenernya. Matanya menemukan Kim, cewek itu terlihat cuek dan malah sibuk ngobrol dengan Jessica dan Aisyah. "Temen-temen kamu udah pada bangun, Ga?" Tanya Evelyn. Raga menggeleng. Dia terus memperhatikan Kim yang bener-bener bertingkah aneh menurutnya. Cewek itu sempat menoleh ke arahnya, tapi wajahnya datar dan nggak bersahabat sama sekali. "Kamu sarapan dulu aja. Kita semua udah makan," kata Evelyn lagi. "Nanti Ma. Belum laper," sahut Raga. Raga sih udah kenyang sama cincin tunangannya Tante," sindir Jessica. Semua keluarga tertawa. Terkecuali Kim. Cewek itu benar-benar sedang mengabaikan Raga saat ini. Anehnya Raga sama sekali nggak inget apa kesalahannya dan kenapa Kim sampai marah. Raga yakin semalam mereka baik-baik aja. Malah, mereka sempat ML sebelum bergabung dengan tamu undangan dan Party. "Liat aja tuh Tante, dia dari tadi ngeliatin Kim doang. Kayak di sini cuma ada Kim aja," goda Jessica lagi. Kali ini Kim tersenyum, tapi jenis senyum yang dipaksakan. Sudah satu jam Raga bersabar dengan tingkah Kim itu. Dia merasa nggak enak kalau bertanya secara spontan di depan para keluarga yang lagi asyik ngobrol. Sampai akhirnya Kim dipanggil oleh Bik Lani lantaran ada telepon. Kebetulan ponsel Kim diletakkan di kamar dan berbunyi saat Bik Lani sedang membersihkan kamar tersebut. "Raga mau mandi dulu ya," ujar Raga sambil berdiri. No, bukan mandi tujuannya. Tapi Kim. Dia ingin menyusul cewek itu dan bertanya ada apa. (๑ơ ₃ ơ)♥ Raga memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum menemui Kim. Tubuhnya dipenuhi bau alkohol dan asap rokok, Kim juga pasti nggak akan nyaman nanti. Dia masuk ke kamar tamu yang menjadi tempatnya tidur semalam untuk membangunkan kedua sahabatnya. "Udah bangun Lo," ujarnya pada Aldi yang sudah terduduk dengan ponsel di telinga. Wajah Aldi kusut, sejak tadi dia menggerutu dengan ponsel. "Woi Dik, bangun!" Raga membangunkan Dika menggunakan kaki. Diterjangnya cowok itu hingga terjungkal dari sofa. "Banci sialan Lo!" Umpat Dika. Dia sebenernya udah bangun, cuma lagi mager dan pura-pura tidur aja biar nggak digangguin. "Bangun. Inget ini rumah gue," kata Raga lagi. "Emang sejak kapan rumah Lo ada aturan bangun harus jam berapa?" Rutuk Dika sambil mengelus kepalanya yang sempat menabrak kaki meja tadi. "Di bawah banyak sodara-sodara gue. Pada nanyain kalian tuh," bohong Raga. "Ada Aisyah? Jessica sama Agnes juga ada?" Berhasil kan. Dika langsung semangat 45 kalo sudah menyangkut 3 sepupu cantik Raga itu. Jessica yang sexy, Agnes yang bohai dan Aisyah yang sukses bikin penasaran di balik cadarnya itu. Kembali ke Aldi, Raga penasaran kenapa cowok itu kusut. Aldi kayak orang gila, bentar-bentar melempar ponselnya ke kasur, lalu diambil lagi dan menelpon. Terus dilempar lagi, diambil lagi. Begitu seterusnya. "Lo kenapa, Nyet?" Tanya Raga. "Zeta kenapa ya nggak mau angkat telpon gue. Tadi sih sempet angkat terus marah-marah. Dimatiin nggak mau angkat lagi," curhat Aldi. "Lagi PMS kali," sahut Raga asal. "Ah nggak mungkin. Dia udah kelar PMS seminggu yang lalu." Tau banget Aldi. "Kim juga aneh. Nyuekin gue dari tadi," ujar Raga. Namun Versi Raga ini santai aja, nggak kayak Aldi yang keliatannya ketakutan banget. "Eh taik Lo berdua emang nggak inget?" Tanya Dika yang tiba-tiba teringat sesuatu tentang kejadian semalem. Raga dan Aldi langsung menoleh ke Dika. "Lo lupa sama 3 cewek sexy yang kita ajak minum semalem?" Ujar Dika lagi. Tiba-tiba saja bayangan mereka mengajak cewek-cewek itu masuk ke kamar ini terlintas di otak Raga dan Aldi. Juga bagaimana mereka naked... "Ah s**t!!" Raga langsung melempar handuk ke muka Dika dan keluar dari kamar terburu-buru. Begitu pun Aldi yang langsung menyambar jaket dan kunci mobil, berlari keluar dari kamar itu. Hanya Dika yang terbengong melihat tingkah kedua sahabatnya. Ini nih enaknya jadi jomblo. Bisa naked kapan aja, sama siapa aja, tanpa harus perduli sama yang namanya pacar. Yuhuuuuuu! (๑ơ ₃ ơ)♥ Kim menerima telepon dari Ron, cowok itu mau mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf karena nggak bisa hadir kemarin malam di acara besar Kim. "Iya nggak papa," ujar Kim saat Ron meminta maaf berulang kali. "Minggu depan gue bakalan balik. Nanti kita adain pesta buat Lo," kata Ron lagi. "Ih nggak usah. Apaan sih Lo," Kim langsung menolak. "Kim Lo dapet kontrak dari BMC Modelling buat produk mereka. Lo udah tau?" "Oh soal itu. Udah denger sih tapi belum gue pelajari." Deg! Dia tangan kokoh memeluk Kim dari belakang. Kim nggak perlu mencari tau siapa orangnya, karena sudah pasti Raga. Karena masih marah, Kim mencoba melepaskan pelukan Raga tapi cowok itu malah semakin mengeratkan tangan di pinggangnya. "Jangan nggak diambil. Itu agency besar, sayang loh," ujar Ron menasehati. "Iya. Nanti gue.. Emhhh. Pikirin," kata-kata Kim mulai terbata-bata diiringi dengan desahan tertahan dari mulutnya. Karena apa? Raga tengah menciumi lehernya saat ini. "Kim, bulan depan BMA bakal ganti boss loh," ujar Ron lagi. Kim mencoba melepaskan diri dari Raga tapi cowok itu malah semakin mengeratkan pelukan. Raga bahkan terkekeh saat Kim harus berkonsentrasi pada telepon namun terganggu oleh godaannya. "Ragaaaa," erang Kim sambil menjauhkan telepon. "Hallo Kim. Lo masih di sana?" suara Ron terdengar kembali. "i-iya Ron. Gue.. Emhh.. Gue denger kok," demi apapun dia akan mencekik Raga setelah ini. "Lo lagi joging ya? Kok suara lo ngos-ngosan gitu?" Raga tertawa pelan di sela ciumannya di leher Kim. Dia bisa mendengar Ron berkata apa karena ponsel Kim berjarak dekat dengan telinganya. "Ah, oh ng-nggak," sekali lagi Kim menggeliat menghindari ciuman Raga. "Kim lo harus tau gue bener-bener tersiksa di sini. Team di sini sama sekali nggak profesional. Masa mereka..." Setelah itu Kim nggak bisa mendengar apapun lagi. Raga merampas ponselnya dan melemparnya ke sembarang arah. Kini, bibir Kim sudah dibungkam oleh ciuman panas Raga. Kim menolak ciuman itu, dia masih marah tentu saja. Tapi seorang Raga nggak akan mungkin menyerah. "Rag.. Mpphh. Ud... Rag..." Raga menekan tubuh Kim ke pembatas balkon. Dia menggigit bibir bawah Kim, cewek itu langsung membuka mulut dan membuat lidah Raga merasai lidah Kim yang berusaha menghindari belitan lidahnya. Kim menginjak kaki Raga. "Aw!" Raga terpekik melepaskan ciuman. Kim memanfaatkan itu dengan berniat kabur tapi Raga jauh lebih gesit menangkap tangannya. "Apaan sih Ga!" sentak Kim. "Kamu marah?" tanya Raga lembut. "Menurut kamu?" balas Kim tajam. "Maaf sayang. Sumpah aku mabuk. Aku nggak inget apa-apa," ujar Raga menjelaskan. "Nggak inget apa-apa? Enak banget ya cara kamu ngebela diri!" "Sumpah Kim aku bener-bener nggak inget." "Aku males ngebahas ini," Kim menarik tangannya tapi susah buat dilepas. "Nggak sebelum ini selesai. Aku nggak mau berantem," tegas Raga. "Jadi kamu berharapnya apa, aku maafin kamu yang udah ML sama cewek itu?" Raga terpana. "ML? Maksud kamu?" "Nggak usah sok b**o deh," Kim berhasil melepaskan tangannya. Sebelum Kim sempat menggapai pintu, Raga kembali menarik tangan Kim dan menekan tubuh cewek itu ke tembok. "Sumpah aku nggak inget, Kim." Kim mendengus geram. "Ya udah kalo nggak inget!" "Ya jangan marah dong. Demi Tuhan bahkan wajah cewek itu aja aku nggak inget lagi. Aku cuma inget Dika bawa mereka, terus mereka temenin kita minum. Terus..." Kim menatap tajam ke Raga menunggu kelanjutan. "Terus..." Raga ragu mengatakannya. "Kissing..." ucapnya pelan. "Ciuman aja terus sama semua cewek!" bentak Kim. Kali ini dia berhasil lepas dari cengkraman Raga dan langsung keluar dari kamar setengah berlari. Raga mengusap mukanya dengan kasar. Ketimbang mengejar Kim, Raga lebih tertarik untuk menghajar Dika saat ini. Karena gara-gara Dika semua kejadian itu terjadi. *** Kim ternyata beneran marah. Dia menghindari Raga sebisa yang dia bisa. Contohnya, Kim lebih memilih duduk bersama para keluarga sehingga Raga nggak punya kesempatan buat menahannya seperti tadi. Siapa yang nggak marah liat tunangannya naked sama cewek lain? Ya... Walau alasannya dia mabuk, tetep aja naked is naked. "Kim, Oma denger kamu ini model ya?" Tanya Oma Teresia. "Cuma sampingan Oma," jawab Kim. "Bohong Oma! Wong mukanya Kim sering banget nongol di cover depan majalah. That means it's her work, not just the side," sahut Jessica. "Tapi nggak rutin, Jess," Kim masih mencoba membela diri. Dia nggak enak aja kalo semua orang menganggapnya seolah-olah model profesional yang sering bermunculan di TV. Nyatanya dia cuma model dari sebuah cover majalah untuk iklan produk tertentu. "Kapan-kapan kasih lihat Oma majalahnya ya Jess," minta Oma ke Jessica. "Siappp Oma!" "Kak, ajakin aku dong foto-foto," minta Agnes. "Nggak laku ntar," ledek Jessica. "Ih Kak Jessi, nyebelin!" Agnes langsung memberengut. "Hop!" Raga tanpa tau malunya melompat duduk di tengah-tengah Jessica dan Kim. Padahal sofa itu hanya muat untuk diduduki oleh 2 orang doang. "Raga sempit ih!" Jessica protes dan berusaha mendorong tubuh Raga. "Kalo sempit pindah," ujar Raga santai. "Yang ada elo yang duduk tempat lain. Sana!" Usir Jessica. Raga menggeleng. Dia mengedipkan mata pada Kim yang memandangnya dengan datar. "Lama-lama Kim bisa sesak nafas Lo tempelin Mulu," rutuk Jessica sambil pindah ke sebelah Agnes. "Raga, kamu ini selalu aja menggoda mereka," marah Oma. "Mereka aja yang selalu kegoda sama Raga, Oma," sahut Raga kepedean. "Najis!" Jawab Jessica, Agnes dan Aisyah kompak. Raga langsung memberengut. Tapi lalu dia menatap Kim yang cuma diam sambil menatap ke arah lain. Raga tau Kim berhak untuk marah. Tapi dia nggak betah didiemin kayak gini. Dia lebih suka Kim memakinya atau sekalian memukulnya dan setelah itu mereka berdamai. "Sayang," panggil Raga. Seketika panggilan itu menuai pro dan kontra di kalangan keluarga. Kalo para orangtua menganggap itu panggilan sayang yang mesra. Bagi ketiga anak muda di sana, malah menganggap itu lebay. "Sayangggg," panggil Raga lagi. Demi apapun Kim malu! Raga pasti sengaja cuma mau memancingnya agar nggak marah lagi. "Apaan sih?" Tanya Kim pelan. "Jangan marah," bisik Raga, pelan kali ini. Kim berniat berdiri untuk pindah duduk, tapi Raga malah memegang tangannya. Membuat mereka berdua digoda dengan lirikan dan kekehan nakal. "Raga apaan sih," Kim mencoba menarik tangannya. "Coba aja. Tangan kamu lepas, bibir kamu aku cium," ancam Raga. Kim sontak terdiam. Raga bukan tipikal manusia yang main-main kalo ngomong. Kalo dia udah bilang kayak gitu ya pasti akan gitu. "Apaan sih, Ga," pasrah dan menyerah. Kim nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain dua kata itu. "Duh sakit mata gue liat kalian pegang-pegangan gini," protes Jessica. "Panas yaaaa," sahut Agnes berkomplot. Kim langsung melepaskan tangannya dari tangan Raga. Tapi digenggam Raga kembali. "Nantangin aku ya?" Bisik Raga. "Ga, nggak enak..." Lirih Kim setengah berbisik. "Lebih nggak enak pegangan tangan atau ciuman?" Kim melotot. Dia menggertakkan giginya menahan emosi untuk mematahkan hidung Raga. "Kak, jalan-jalan yok keliling Jakarta!" Ajak Agnes. "Iya mau mau mau," Aisyah langsung semangat 45. Raga menatap Kim, "gimana?" Tanyanya. Kim mengangguk. "Mau kemana emang?" Tanya Raga. "Monas!" Jawab Agnes dan Aisyah barengan. "Ogah!" Tolak Jessica. "Dih kak Jessi kok gitu banget!!" Protes Agnes. "Ayolah kak Jessi kapan lagi kita bisa ke Monas," rayu Aisyah. "Kalian ini ngeributin soal jalan-jalan aja. Waktu kita di sini masih banyak. Bisa besok-besok toh," ujar Oma Teresia sambil menggeleng. "Nggak mau!!" Jawab Jessica, Agnes dan Aisyah kompak. "Hahaha. Biarin aja, Mi. Mereka kan jarang bisa ke Indonesia. Mungkin mau nostalgia," kata Evelyn mendukung keinginan para anak muda. "Tapi kan Mami mau ajak Jessica sama Agnes ke gereja," kata Oma Tersisa lagi. "Mereka itu selalu pura-pura lupa kalau nggak dipaksa." "Omaaaa," rengek Agnes. "Pokoknya kita ke Gereja dulu. Abis itu terserah kalian mau kemana," tegas Oma Teresia. Jessica dan Agnes pasrah. Mereka cemberut saat Oma Teresia menyuruh mereka untuk siap-siap.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook