Hari ini Senin, Raga dan Kim mengajak para sepupu berkeliling Jakarta. Menuruti kemauan Agnes dan Aisyah, rute pertama mereka adalah Monas. Untungnya ini bukan hari liburan, juga di siang hari mana ada yang mau leha-leha di Monas.
"Fotoin Kak!" Suruh Agnes ke Jessica yang sejak tadi nggak berselera sama sekali diajak ke tempat ini.
Meski begitu, Jessica tetap ikut melangkah kemana pun kaki Agnes dan Aisyah berjalan. Dia nggak mau adik sepupunya itu nyasar atau digangguin oleh orang jahat.
Raga dan Kim sendiri sudah berbaikan. Mereka bergandengan sepanjang jalan.
"Ga," panggil Kim.
"Hmm?"
"Jangan ulangin lagi. Aku nggak mau kamu bersentuhan sama cewek lain. Kissing sekali pun..."
Raga mengulum senyum. "Kamu cemburu? Bisa cemburu juga?"
"Ga ih! Siapa sih yang nggak cemburu liat tunangannya naked sama cewek lain? Aku ini cewek... Punya hati lah!"
Raga terkekeh.
"Kamu inget aku pernah bilang apa?" Kim menatap Raga lekat-lekat. Lalu melanjutkan, "apa yang kamu lakuin di depan mata aku, itu artinya kamu nggak sedang khianatin aku. Tapi kalo di belakang aku, baru aku marah."
"Berarti waktu sama Vishaka kamu juga cemburu?"
Kim diam sebentar. "Yaaa.. sedikit."
"Kalo aku tau kamu cemburu, harusnya aku lakuin lebih saat itu. Lumayan kan sambil menyelam minum air!"
"Apaan sih!" Kim sontak mencubit pinggang Raga.
Ngomong-ngomong soal Vishaka...
"Sebenernya kamu sama dia pernah ada hubungan apa sih, Ga?" Tanya Kim penasaran.
"Nggak ada. Cuma temen," jawab Raga tanpa terdengar berbohong.
"Temen tapi sedekat itu?" Selidik Kim lebih jauh.
Raga mengangkat bahu. "Dia itu udah kayak adek buat aku, Kim. Nggak tau ya, bersentuhan sama dia efeknya biasa aja ke aku. Ciuman sama dia juga nggak ada rasanya."
"Kamu pernah ML sama dia?"
"Nggak. Aku nggak akan sejauh itu," Raga menggeleng.
Kim mengangguk. Masih banyak pertanyaan yang menggantung di otaknya. Tapi menanyakannya sekarang, hanya akan memakan waktu seharian.
"Kak Kim, siniiii!" Jerit Agnes.
Kim tersenyum, dia melepaskan genggaman tangan Raga dan berjalan mendekati Agnes serta Aisyah.
Klik.
Satu jepretan foto berhasil mengabadikan 3 generasi itu; Kim, Agnes dan Aisyah.
"Ga, fotoin dong," Jessica memberikan kamera ke Raga. "Lumayan kan bisa foto gratis sama model," candanya.
Raga mulai mengarahkan kamera ke ketiga cewek yang sedang berpose di depan tugu Monas itu.
Klik.
"Lagi kak lagiiiiiiii," minta Aisyah dengan manja.
Raga kembali mengarahkan kamera. Tiga cewek itu berganti pose dan posisi. Kebanyakan dari mereka lebih ingin berdempetan dengan Kim. Ada yang meluk, ada yang nyandar di pundak dan satunya mengangkat jari tengah dan telunjuk di atas kepala Kim sambil tersengir.
Lucu, batin Raga.
"Giliran Kak Kim sama Kak Raga," ujar Agnes sambil mengambil kamera dari tangan Raga.
Jessica bertugas mendorong Raga mendekat pada Kim.
"Oke ya.. satu.. dua.. tiga..!"
Cup.
Klik.
"Ihhhh Kak Raga genit!!" Protes Agnes begitu Raga mencium pipi Kim di detik foto diambil.
Jessica dan Aisyah pun ikut meledek. Dua sejoli itu serasa cuma berdua aja. Selalu aja mesra dan bahkan lebih ke intim sebenernya.
Raga menanggapi itu dengan santai. Baginya cuma cium pipi itu biasa. Dia bahkan sudah lebih dari sekedar cium kalo sama Kim, mah.
Jessica juga pasti sama lah. Dia seumuran sama Raga dan Kim, tinggal di Amerika yang super bebas. Punya orangtua yang juga nggak over protektif terhadap putri tunggalnya itu. Bahkan yang Raga denger, Jessica tinggal bersama pacarnya di Amerika sana.
Nah kalo Aisyah pasti "anak baik-baik", dia dididik ketat oleh orangtuanya soal akhlak yang baik dan agama yang kuat. Nggak mungkinlah dia macem-macem.
Beda lagi dengan Agnes, dia Seumuran dengan Aisyah tapi sangat tomboi. Agnes benci laki-laki. Mungkin karena Papanya yang pergi meninggalkan dia dan Mamanya hanya untuk wanita lain, membuatnya trauma.
Sambil menunggu ketiga sepupu mereka berfoto dan keliling tugu Monas, Raga dan Kim duduk di taman deket sana yang teduh.
Raga memainkan jari-jari halus Kim menggunakan jarinya. "Aku nggak pernah liat kamu perawatan," ujar Raga mengomentari jari Kim yang nampak begitu terawat dengan kuku-kuku bening dan rapi.
"Emang nggak pernah," jawab Kim.
Raga menaikkan matanya mengamati wajah Kim lebih dekat. Kim hari ini nggak memakai make-up sama sekali. Kim banget sih emang, kalo dia nggak lagi kerja dia nggak akan menyentuh make-up.
"Kenapa?" Tanya Kim begitu Raga bener-bener mengamati wajahnya dengan cukup dekat.
"Mencari celah di wajah kamu buat bisa aku katain jelek," ujar Raga spontan.
Kim tertawa dibuatnya. "Nggak akan ketemu," ujar Kim sambil menjulurkan lidahnya.
"Mulus banget sih," ujar Raga sambil mengelus pipi Kim dengan punggung tangannya. "Beneran nggak perawatan?"
"Nggak, Ga! Hadiah dari Tuhan, semuanya alami."
Raga nggak tau lagi harus memuji cewek di sampingnya ini seperti apa. Seluruh tubuhnya dari rambut hingga ke ujung kaki terpahat begitu sempurna. Wajar aja Marco sempat sangat murka waktu dia merebut cewek cantik ini.
"Ga, udah deh ngeliatinnya," Kim mendorong pipi Raga menjauh dari wajahnya. Soalnya Jessica, Agnes dan Aisyah sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kak ayo kita ke Dufan!" Ajak Agnes antusias.
"Lo kayak nggak pernah ke Disneyland aja," keluh Jessica. "Sama aja kali."
"Ah Kak Jessi protes Mulu! Beda dong Dufan sama Disneyland. Gimana sih," Agnes melipat tangan di d**a.
"Gue pengen ke Sea World," ujar Jessica dengan bibir maju ke depan.
"Abis dari Dufan kita ke sea World dehhh," bujuk Aisyah. Sebelas dua belas dengan Agnes, selera mereka berdua selalu saja sama.
"Udah jangan berantem. Kita makan dulu aja," Raga selaku sopir yang ambil keputusan. Dia menggandeng Kim mendahului ketiga cewek yang sedang bertengkar itu.
Baiklah, ketiganya diam setelah makan menjadi opsi terbaik untuk membungkam mereka semua. Toh, emang udah jam nya makan dan perut sudah menangis minta diperhatikan.
***
Makanan khas Indonesia menjadi pilihan mereka berlima untuk mengisi perut di siang nak terik ini. Semua setuju untuk menikmati nasi Padang yang super pedas.
"Nyam.. nyam.." Aisyah sudah merindukan rendang. Di Kairo sih ada yang jual masakan Padang, tapi beda banget kalo makannya nggak di Indonesia.
"Aku mau ayam balado Kak," kata Agnes ke Jessica yang sedang menyebutkan keinginannya.
"Kim apa?" Tanya Jessica.
Kim menggeleng. "Aku nanti aja," ujarnya pada Jessica.
"Kenapa?" Tanya Raga.
"Nggak laper," jawab Kim.
"Harus makan," Raga mengambil keputusan. "Samain aja dengan gue, Jes," ujar Raga kemudian.
"Ga, aku belum laper."
"Laper atau nggak, ini udah jam makan," tegas Raga.
Kim memberengut. Terlebih ketiga cewek di situ seakan menggodanya karena nggak bisa ngelawan sama Raga.
Tak lama, hidangan pun telah di siapkan di atas meja persegi panjang itu. Wangi khas masakan Padang memang selalu menggugah selera. Terutama sambal ijo nya yang terasa bikin perut meleleh.
"Makaaaann!" Seru Agnes. Dia mengendus ayam sambal ijo nya dengan nikmat. "Anjirrrrr lama banget nggak makan ini."
"Sama," timpal Aisyah yang sudah mengunyah rendang dengan lahap.
Jessica beda lagi, dia ratu nya diet. Jadi, khusus untuk urusan makan, dia hanya memesan setengah piring nasi beserta para tahu dan tempe. Nggak lebih dari itu.
"Yakin Kak kenyang?" Tanya Aisyah sangsi.
"Yakin," jawab Jessica tanpa terbebani sama sekali dengan pola diet nya itu. Jika semua orang akan sangat menikmati makanan lezat penuh minyak, maka Jessica akan merasa mual mencicipinya.
"Makan," Raga menyikut lengan Kim.
Sumpah Kim nggak bisa memakan ini semua. Bukan karena dia diet. Tapi...
"Makan," paksa Raga.
Mau nggak mau Kim mulai menyuap nasi dan mencoba menggigit rendang. Tiba-tiba saja wajahnya merah. Dia langsung minum dan minum sampai satu gelas besar berisi air putih itu habis.
"Kak Kim makan baru sesuap minumnya udah segelas," ledek Agnes.
Kim hanya bisa membalas itu dengan setengah membuka mulut dan mengipasinya. Dia kembali menuangkan minum dan meminumnya sampai habis.
Anjirrrrr pedes banget, keluh Kim.
"Kenapa?" Tanya Raga begitu Kim menghabiskan 3 gelas minum.
"Kepedesan Kak," jawab Aisyah.
Raga nggak pernah tau kalo Kim nggak bisa makan pedes. Karena selama ini tuh cewek kayaknya makan apa aja. Ya... Walaupun emang nggak pernah terlihat memakan makanan yang pedas tapi Kim nggak pernah bilang.
"Pedes banget?" Tanya Raga khawatir.
Kim mengangguk. Dia kembali minum, gelas yang keempat. Perutnya sudah kembung tapi lidahnya masih terasa menyengat.
"Hahaha, Kak Kim lucu mukanya merah gitu kalo kepedesan," ledek Agnes. Dia sendiri super tahan pedas, mau makan cabe mentah juga tahan.
"Diem ah," marah Jessica. "Mintain air anget, Ga," suruh Jessica.
Raga langsung menghampiri para pelayan di sana dan meminta air hangat. Tak lama dia sudah kembali membawa segelas air tersebut ke Jessica.
Jessica dengan sangat telaten menyuruh Kim meminum air tersebut. Berdasarkan teori yang entah dari mana, katanya kalau kita kepedasan itu harus minum air anget biar pedasnya sedikit berkurang.
Kim meminumnya. Rasa pedas bercampur panas membuatnya semakin mengipasi lidahnya. Apa teori itu benar?
"Kamu kok nggak bilang sih kalo nggak bisa makan pedes?" Tanya Raga. Dia udah cemas setengah mati karena efek dari nggak bisa makan pedes Kim ini terlalu berlebihan. Baru juga makan satu gigitan, tapi reaksi tubuh Kim udah kayak makan cabe satu kilo.
Kim mana mengurusi pertanyaan Raga itu. Dia terus minum air hangat yang disodorkan oleh Jessica.
Dan berhasil!
Rasa pedasnya berkurang. Kim baru bisa bernafas dengan hidung sekarang. Tadinya dia menghembuskan nafas keluar masuk dari mulut dan mengipasinya dengan tangan.
"Emang pedes banget ya?" tanya Raga. Dia mencicipi rendang milik Kim siapa tau rasanya beda dengan miliknya. Raga merasainya dengan lidah, sama sekali nggak pedes. Ada sih rasa pedes dikit, tapi masa iya cewek seumuran Kim nggak bisa tahan dengan pedas biasa kayak gini?
"Aku alergi cabe," ujar Kim. Rekasi dari alergi itu baru bermunculan dk kulit Kim. Terutama pada area sekitar lehernya yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
"Astaga!" Raga cemas melihat itu. "Kita ke dokter," ujarnya sambil menarik Kim berdiri.
Agnes dan aisyah yang tadinya santai aja jadi ikutan cemas. Jessica yang bawa mobil kali ini. Mereka langsung pergi menuju rumah sakit terdekat dengan mengandalkan GPS.
Begitu sampai di rumah sakit, Jessica langsung mendaftarkan Kim ke pasien gawat darurat. Lantaran uang bermain di atas segalanya, Kim bisa ditangani dengan cepat tanpa harus menunggu antrian lagi.
"Gimana dok?" tanya Raga cemas.
Dokter Natasha tersenyum pada Raga. "Nggak papa, cuma alergi biasa. Untung cuma dimakan sedikit, jadi reaksi alergi nya tidak terlalu berlebihan," beritahu sang dokter cantik.
Raga mengangguk.
"Ini ada obat dan salep yang harus kamu tebus. Untuk salep dipakai rutin 3x sehari untuk mengurangi gatal-gatal di sekitar alergi. Dan obat diminum 3x sehari sampai alergi nya menghilang."
"Iya dok. Terima kasih," ujar Raga sambil menerima salinan resep tersebut.
Kim baru keluar dari ranjang pasien dan menghampiri Raga. Lehernya masih memerah dan bahkan sampai menjalar ke sekitar wajahnya.
"Ayo," ajak Raga sambil menggandeng Kim keluar dari ruangan dokter Nastasha.
Di luar, Jessica, Agnes dan Aisyah sudah menunggu dengan wajah cemas. Mereka pengen banget masuk tadi kalo aja dibolehin.
"Gimana Kak? Nggak papa, kan?" todong Aisyah langsung.
"Nggak papa. Cuma alergi, nggak perlu cemas," ujar Kim sambil terenyum.
Kim merasa begitu gatal di sekitar leher dan wajahnya, tangannya refleks terangkat untuk menggaruk area yang gatal.
Untung Raga tau dan langsung menurunkan tangan Kim. "Kuku kamu panjang gitu. Nanti lecet," ujar Raga melarang.
"Gatel banget," keluh Kim.
"Sabar ya. Nanti ada salepnya biar nggak gatel lagi. Tahan dulu," ujar Raga lembut.