Jadi Baby Sister

1263 Kata
Terkadang, cinta bisa membuat kita jadi apa aja. Kita yang dingin seketika menjadi hangat. -Back Street- *** "Ya ampun Ragaaaaa, ini Kim kamu apain?" Evelyn langsung cemas setengah mati melihat tubuh Kim yang biasanya putih cling berubah menjadi merah-merah kayak udang rebus. "Kim nggak papa, Ma..." Jawab Kim sambil sesekali menggaruk tangannya. "Alergi, Ma," Raga ikut menjawab. "Alergi apa?" Tanya Evelyn lagi. Dia membantu membimbing Kim seperti anak kecil. "Langsung ke kamar aja," ujarnya. Jessica, Agnes dan Aisyah memilih untuk nggak ikut ke kamar Kim. Mereka ditahan oleh Oma Tersisa untuk menceritakan apa yang terjadi hingga Kim bisa pulang dalam keadaan seperti itu. Di kamar, Kim disuruh berbaring udah kayak lagi sakit parah aja. Padahal dia cuma gatel-gatel akibat alergi, bukannya terkena stroke. "Mama, Kim nggak papa loh ini," ujar Kim merasa nggak enak. "Nggak papa gimana. Lihat kulit kamu sampe melepuh gini," sahut Mama berlebihan. Melepuh? Serem banget dengernya. Padahal asli, kulit Kim cuma merah-merah kayak bayi kena keringat malam. Bahkan nggak juga separah itu. "Ga, kamu temenin Kim dulu. Mama mau bikin ramuan tradisional." "Nggak usah Ma. Ini udah ada obatnya dari dokter," cegah Raga. "Obat dari dokter nggak akan sehebat obat buatan Mama," kata Mama sambil berjalan keluar dari kamar. Raga cuma bisa menggeleng pasrah. Dia lalu menoleh pada Kim yang sibuk menggaruk kedua tangan. "Jangan digarukin. Potong dulu kukunya," cegah Raga sambil menahan tangan Kim. "Gatel, Ga," rengek Kim. "Aku mau mandi aja. Nggak tahan," Kim udah mau turun dari ranjang tapi Raga kembali menahannya. "Kamu lupa dokter bilang apa? Nggak boleh kena air dulu. Ngeyel banget sih!" "Ihhh kan aku cuma lagi alergi doang. Bukannya kena cacar!" "Sama aja," Raga mendengus. "Lagian kenapa sih nggak bilang kalau punya alergi se-ekstrim ini?" Raga kesel banget jadinya. "Lupa," jawab Kim sekenanya. "Sama badan sendiri aja lupa. Gimana kamu mau inget aku." Kim tertawa. "Kayak anak kecil deh," ledeknya. "Biarin." Raga kembali serius mengamati wajah dan leher Kim yang masih merah. "Pernah kayak gini?" Tanyanya. Dia yang cuma ngeliat aja rasanya gatel, apa lagi Kim yang mengalami langsung. "Pernah. Lebih parah dari ini juga pernah," jawab Kim. "Kapan?" "Waktu kecil. Waktu belom tau kalo aku ada alergi Merica." "Abis itu nggak pernah lagi?" Kim menggeleng. "Nggak berani coba. Makanya aku nggak pernah makan makanan kotak kalo di lokasi foto. Soalnya kan pasti ada campuran merica nya." "Merica sama cabe sama nggak sih?" Raga bener-bener penasaran. Dia nggak pernah denger ada orang yang punya alergi terhadap merica atau pun pedas. "Hampir sama. keduanya bikin aku alergi." Tak lama, Evelyn sudah kembali ke kamar Kim dan membawa semangkuk cairan berwarna putih yang sedikit agak kental. Dia meletakkannya ke atas nakas lalu duduk di tepi kasur. "Kim, Mama nggak bisa nemenin kamu dulu. Ini Mama sama Papa mau ke acara nikahan anak rekan bisnis Papa. Kamu nggak papa kan sama Raga dulu?" Ujar Evelyn dengan wajah nggak enak. "Mama, nggak papa. Kim cuma alergi, bukan sakit parah. Mama pergi aja," Kim lebih lagi merasa nggak enak. Calon mertuanya ini begitu perhatian. Sampai-sampai untuk hal sekecil ini aja segitu cemasnya. "Tau nih Mama. Kim udah biasa sama Raga juga," protes Raga. "Karena kebiasaan sama kamu makanya bahaya," rutuk Evelyn. Kim tertawa ketika Raga cemberut. "Ya udah Mama mau siap-siap dulu. Terus langsung pergi. Semua pada ikut loh. Harusnya kalian juga ikut. Tapi karena kamu lagi kayak gini, kamu di rumah aja istirahat," cicit Evelyn lagi. "Iya Ma," Kim mengangguk paham. "Jangan macem-macem," pesan Evelyn pada Raga. "Itu dioleskan ke tempat yang gatel. Mama jamin nggak bakal gatel lagi, langsung dingin." "Bawel," Raga melengos. Mama tersenyum pada Kim. Mengusap puncak kepala cewek itu penuh sayang lalu menciumnya. Segera meninggalkan kamar ketika suara teriakan Indra terdengar memanggilnya. Raga mengambil mangkuk berisi cairan putih yang dibawa mamanya tadi. Dia meletakkannya dengan hati-hati di atas kasur. "Buka bajunya," suruh Raga. Dia menaikkan bagian bawah kaus Kim ke atas. Kim mengangkat tangannya, membuat Raga mudah untuk meloloskan kaus ketat itu dari tubuh Kim. Seketika Raga harus meneguk salivanya saat bola matanya dihadapkan pada bagian atas tubuh Kim yang hanya tertutup Bra berwarna putih. Bra itu terlihat nggak cukup besar untuk menampung p******a indah Kim yang menggelembung di baliknya. Kim tersenyum dikulum melihat ekspresi Raga yang menegang. Dia yakin cowok itu tengah menahan hasrat untuk menyerangnya saat ini. Dengan sangat hati-hati, Raga mengolesi cairan putih itu ke atas kulit Kim yang memerah. Dimulai dari kedua tangan. Lalu naik ke leher dan sedikit di wajah. Kim membusungkan dadanya yang juga ikut memerah ke hadapan Raga. Meminta Raga untuk mengolesinya juga. Sekali lagi, Raga harus mengumpat dalam hati melihat pemandangan itu. Namun dia sama sekali nggak sungkan membalas tatapan Kim yang terlihat jelas sedang menggodanya. Kim menggigit bibir bawahnya merasakan usapan tangan Raga di sekitar payudaranya. Cowok itu dengan sengaja mengusap lebih lama dan pelan. "Gimana, agak enakan?" Tanya Raga ketika tugasnya selesai. "Enak. Dingin," sahut Kim. Sungguh, gatal-gatalnya hilang. Berganti rasa sejuk yang membuat seluruh tubuh nyaman. Raga terus menatap Kim. Melalui tatapan dia mencoba menyalurkan hasratnya yang terpendam agar segera terkendali. "Kamu kalo lagi ngeliatin aku tatapannya gitu banget," jantung aku berdebar Raga. Raga tersenyum. "Suka aja." Tangan Raga terangkat membelai wajah Kim yang nggak terkena olesan obat tradisional tadi. "Ga..." Kim melengos. Raga semakin terkekeh. "Cieee blushing," goda Raga. "Abis ngeliatinnya gitu banget," Kim nggak mengingkari kalau dia memang merasa sedikit malu bercampur deg-degan. "Terkadang aku bingung. Kamu ini yang mana sih Kim. Kadang cuek, dingin, datar. Tapi kadang gemesin, hangat, penuh ekspresi. Aku suka semuanya," ujar Raga sungguh-sungguh. Kim balas menatap Raga. "Kamu juga. Kalau lagi sama orang lain aku kayak ngeliat Raga yang beda. Raga yang dingin, cuek, datar, nggak ada ekspresi dan kadang terlihat nggak punya hati. Tapi anehnya tiap kamu sama aku, kamu selalu bisa bikin aku merasa aku ini penting buat kamu." "Kamu emang penting buat aku," timpal Raga menanggapi. "Sepenting apa?" "Jiwa. Raga nggak akan hidup tanpa ada jiwa di dalamnya." Kim terpana mendengarnya. Itu adalah kata-kata paling indah yang pernah didengarnya. Dan luar biasanya lagi, itu keluar dari mulut seorang Raga. *** Malam semakin larut, Kim sudah tidur dengan nyenyak saat tiba-tiba sesuatu yang dingin menempel di kulitnya. Dengan berat dia membuka mata karena mengira Raga sedang melakukan sesuatu pada tubuhnya. Ya, Raga memang sedang melakukan sesuatu. Cowok itu sedang mengolesi tubuhnya dengan cairan putih buatan Mama yang masih tersisa banyak. "Ga?" Kim kaget banget. Dia langsung melihat ke arah jam dan mendapati jarum jam sudah berada di angka 11. "Kamu kebangun ya?" Tanya Raga. "Maaf ya... padahal aku udah pelan-pelan banget." "Kamu ngapain? Ya ampun Ga ini udah malem. Dari tadi kamu ngolesin ini?" "Abisnya kamu garuk-garuk terus. Kasian aku liatnya," jawab Raga masih sambil terus mengolesi cairan itu. Kim bener-bener terharu. Raga merawatnya dengan sangat baik. "Makasih..." Ujar Kim tulis. "Apaan sih. Udah kamu tidur lagi aja," suruh Raga. Dia mendorong jidat Kim agar kembali berbaring. "Kamu juga tidur kalo udah selesai." "Iyaaa." "Nggak ada good night kiss?" Pancing Kim. Raga mengerang. Permintaan bodoh Kim itu malah membuatnya hilang kendali. Dia langsung aja mencium bibir Kim dengan tekanan yang begitu kuat. Kim dengan sukarela membalas ciuman itu sama panasnya. Dia melingkari tangannya ke leher Raga. Nggak perduli kalau cairan putih itu mengenai tubuh Raga. Raga lebih dulu melepaskan ciuman, mereka sudah terengah-engah kehabisan nafas. Terlebih, tubuh Kim sedang dalam masa perawatan. Bila mereka melakukan lebih, maka akan sangat nggak nyaman buat Kim berhubungan sambil menggaruk-garuk. "Good night," bisik Raga. "Kamu tidur di mana?" "Sofa." "Kenapa nggak di sini?" Raga menggeleng. "Aku nggak akan bisa nahan lebih lama lagi. Jadi mending aku di sofa." Kim tertawa. Good night, Ga. Makasih buat semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN