WRC is Back

1706 Kata
Kim adalah obat penenang yang bisa membuat seorang Raga menjadi manusia. *** "Jadi, mereka mulai bergerak?" Tanya Raga begitu mendengar cerita Aldi tentang bangkitnya geng WRC kembali. "Iya, Ga. Dan gue rasa mereka sedang membangun kekuatan penuh buat melawan kita lagi." "Siapa ketua mereka sekarang?" "Lo nggak akan percaya kalau gue sebutin," ujar Aldi. "Siapa?" "Er-lang-ga," sebut Dika dengan menekankan setiap suku kata. Raga cukup terkejut mendengarnya. Nama Erlangga sangatlah tidak asing di telinganya. Bahkan dengan mendengar nama itu saja, seluruh otot Raga seakan menegang. Musuh terbesar dalam hidupnya, pembunuh yang telah mengajarinya cara membunuh. Dialah Erlangga. "Gue nggak habis pikir gimana bisa Erlangga gabung dengan WRC. Padahal Lo tau sendiri kalo dia nggak pernah mau berurusan sama geng seperti kita. Menurut kalian, apa motif dia kali ini?" Raga mulai mengingat bagaimana dia mengenal Erlangga. Satu persatu ingatan tentang Erlangga bermunculan. Bila ada yang lebih menakutkan di muka bumi ini, jawabannya sudah pasti adalah Erlangga. Cowok yang sama sekali nggak punya hati. Bahkan dia nggak segan-segan menyakiti bayi tak berdosa hanya untuk membuat dirinya puas. Flashback... Raga awalnya begitu tenang menjalani masa-masa SMA nya di Pelita Bangsa. Dia sama sekali nggak berminat menjadi pusat perhatian dan terus menyembunyikan diri dari keramaian. Tempat Favorite Raga ketika menyendiri adalah Gudang belakang sekolah yang sudah dia tata rapi dan bersih. Dia bisa menghabiskan waktu istirahatnya di sana dengan bermain game di ponsel. Sampai tiba-tiba... "Toloooongggg." Suara teriakan itu membuat bulu kuduk Raga meremang. Teriakan nyaring yang begitu menyayat hati. Raga segera mematikan ponselnya dan mencari sumber suara. Dia terus mencari, mengelilingi tempat sepi yang ada di dekat sana. Sampai matanya menemukan sesuatu. Hal yang membuat Raga terguncang. Bagaimana tidak, seorang cewek sedang dianiaya oleh sekelompok cowok yang seakan bersorak senang layaknya menonton bola saat melihat cewek tersebut diperkosa oleh satu orang tanpa ampun. Cewek itu ditelanjangi. Sekujur tubuhnya membiru. Cowok yang menindihnya terus saja memompa tubuh, nggak sekalipun membiarkan cewek itu beristirahat dari rasa sakit. "Berhenti!!" Teriak Raga marah. Semua menoleh kaget ke arah Raga. Termasuk si p*******a yang menyeringai malas padanya. Teriakan Raga membuat cowok itu berhenti dan melepaskan cewek tadi. "Mau cari mati dia," ujar salah seorang di antara mereka. Raga sama sekali nggak takut saat semua cowok itu mendekat ke arahnya. Bahkan seorang Raga justru ikut maju dan menantang mereka semua. Raga laki-laki dan dia adalah manusia. Dia merasa dilahirkan dari rahim seorang perempuan, melihat ketidak Adilan yang terjadi pada cewek itu membuat Raga menggertakkan rahangnya. BUGH! Satu tinju seketika melayang di rahang Raga karena dia lengah. Namun Raga segera bangkit. Dia membalas pukulan itu dengan sama kerasnya. Satu persatu mulai maju, hingga terjadilah pengeroyokan. Raga melawan semua cowok di sana; kecuali si p*******a tadi, dengan begitu mudah. Dia menguasai ilmu bela diri yang telah dipelajarinya sejak SMP. Hal itu memudahkan Raga untuk menumpas mereka semua. "Berhenti," ujar si p*******a pada semua kawanannya. Semua berhenti, mundur beberapa langkah seiring dengan majunya si p*******a ke hadapan Raga. "Lo cukup tangguh," ujarnya pada Raga. Raga sendiri sudah hampir kehabisan nafas melawan kawanan yang menyerangnya tadi. Tapi dia tetap berdiri tegak dengan mata menancap tajam pada si p*******a. BUGH! Raga terhuyung ke belakang begitu mendapatkan tendangan keras di perutnya. Si p*******a itu menendangnya dengan keras. BUGH! Satu tendangan lagi Raga dapatkan begitu dia maju dan ingin menyerang. BUGH! Lagi. BUGH! Lagi. BUGH! Dan lagi. Raga terhempas ke lantai, tak berdaya. Seluruh tubuhnya sakit. Dia merasa mual karena tendangan bertubi-tubi di perutnya. Kepalanya terasa pening dan berkunang-kunang. Ini pertama kalinya Raga kalah melawan seseorang. Sabuk hitam yang disandangnya seakan tak berarti pada si p*******a yang hanya menggunakan kekuatan biasa untuk melawannya. "Bawa cewek itu ke sini," ujar si p*******a. Beberapa orang menyeret cewek tadi dengan dua kaki diangkat serta tubuh tetap terseret di lantai layaknya menyeret seekor hewan. Cewek itu menatap Raga dengan jenis tatapan memohon untuk diselamatkan. Raga ingin. Sangat ingin menolongnya. Tapi dia sendiri kesulitan untuk berdiri. Tulang rusuknya begitu sakit, pasti patah akibat tentangan si p*******a. "Aaarrrggggghhh!" Di depan mata Raga, cewek itu kembali diperkosa. Raga melihat begitu jelas bagaimana darah mulai mengaliri s**********n cewek itu. Bahkan tanpa belas kasihan si p*******a terus saja membuat cewek itu kesakitan. "Lepaskan!" Ujar Raga dengan sisa kekuatan yang masih ada. Kejinya lagi, bukan hanya si p*******a yang melakukannya. Tapi sekawanannya juga. Mereka memperkosa cewek itu bergiliran. Mengabaikan teriakan kesakitan yang memilukan. Hingga cewek itu pingsan, dialah Vishaka. "Gue Erlangga, cari gue kalo Lo masih penasaran," ujar si p*******a. Lalu semua cowok-cowok itu pergi meninggalkan Raga dan Vishaka yang tergeletak di lantai. Suara tawa mereka terdengar sumbang di telinga Raga. Hingga akhirnya semua gelap, Raga kehilangan kekuatannya. *** "Gue denger setelah kasus yang kemaren dulu itu dia dipenjara. Tapi Lo tau lah money is always above all, dia langsung dibebasin besoknya." Raga menggertakkan giginya. Dia menatap lurus ke bawah, dari balkon tempatnya berdiri. Memperhatikan Kim yang sedang bercanda bersama Zeta di sana. "Ga, kalau mereka emang bangun kekuatan buat ngelawan kita. Kita juga harus..." "Nggak. Kalian sebaiknya nggak usah ikut campur dan libatkan ICC dalam hal ini. Erlangga terlalu berbahaya," tolak Raga. "Maksud Lo, Lo mau melawan mereka semua sendirian?" Dika nggak percaya memikirkan itu. "Jangan gila Lo, Ga. Gue tau setelah kejadian itu Lo belajar ilmu bela diri lebih giat lagi. Bahkan level Lo sudah pendekar sekalipun, Erlangga punya pasukan, Ga." Raga menatap serius ke kedua sahabatnya itu. "Gue cuma minta kalian jaga Kim, juga Zeta. Mereka pasti mengincar dua cewek itu." Aldi dan Dika saling menatap dengan cemas. Kalau Raga sudah berkata seperti itu, artinya memang masalah sudah berada di tahap berbahaya. *** "Woi!!" Zeta mengagetkan 3 cowok yang tengah berdiskusi serius di balkon kamar Raga. "Ngomongin apaan sih kayaknya dari tadi tegang banget," tanya Zeta lagi. Tak lama, Kim pun masuk dengan membawa beberapa minuman kaleng yang baru keluar dari mesin pendingin. Raga segera mengubah wajahnya menjadi biasa. Dia nggak mau membuat Kim cemas. Raga menarik tangan Kim hingga cewek itu terduduk di pangkuannya. Dia mengeratkan pelukan di pinggang Kim yang duduk di belakangnya. Raga sedang berusaha menenangkan diri dengan cara itu. "Nggak usah pegang-pegang!" Bentak Zeta galak pada Aldi yang berusaha ingin memeluknya juga. Aldi langsung mengerucutkan bibir. Zeta masih tak mengizinkannya menyentuh cewek itu karena masih marah atas insiden malam itu. Mereka nggak putus, tapi sebagai hukumannya Aldi nggak boleh nyentuh Zeta seujung kuku pun sampe Zeta merasa kalo Aldi sudah sangat bersih dari tubuh cewek jalang malam itu. Dika tertawa. "Sungguh malang nasib mu, Nak..." Ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Aldi. "Sialan Lo," Aldi langsung menepis tangan Dika dengan kasar. Membuat tawa Dika semakin terdengar keras. "Ga, ke puncak yok! Mumpung kita masih liburan, nginep di sana beberapa hari kan lumayan," ajak Zeta. "Kita mau Markas malam ini, Ga," Dika keceplosan. Dia langsung mendapat serangan pelototan dari mata Aldi. "Markas? Udah lama banget kalian nggak kesana. Mau ngapain lagi? Balap?" Tanya Zeta penasaran. "Ah, enggak kok Beib. Kita cuma kangen aja sama Bang Oscar. Nggak enak dicariin terus sama dia." Aldi berbohong. "Ikut," kata Zeta langsung. "Jangan!" Aldi refleks menjawab cepat. Menimbulkan kecurigaan pada Zeta dan Kim. Biasanya cowok-cowok itu nggak pernah melarang mereka untuk datang ke sana. Walaupun Markas Drunks adalah tempat menyeramkan, tapi di sanalah tempat paling aman menurut para cowok itu. Raga memainkan jari-jari Kim dalam genggamannya. Sesekali bibirnya merayapi leher cewek itu dengan kecupan-kecupan kecil. "Mau ngapain ke Markas?" Tanya Kim sambil menolehkan kepalanya ke belakang agar bisa menatap Raga. "Main aja," jawab Raga santai. "Kalo mau ikut nggak papa." "Ga," Dika langsung diam saat Raga menatapnya dengan tajam. Artinya dia harus diam untuk nggak membuat para cewek semakin curiga. "Yeaayy kita ikut!" Teriak Zeta. Kim mengeluarkan ponselnya. Dia bersandar di d**a Raga sambil membaca satu persatu pesan line yang masuk. Raga ikut memperhatikan layar ponsel Kim. Ikut membaca apa yang Kim baca. Dia meletakkan dagunya di pundak Kim hingga jarak mereka begitu dekat. Terkadang Kim harus menggeliat karena geli dengan belaian nafas Raga di tengkuknya. Zeta menoleh ke Aldi. Melihat Raga dan Kim yang mesra seperti itu membuatnya merindukan kedekatannya dengan Aldi. Kan nyebelin! Kenapa sih cewek itu nggak bisa marah lama-lama. Bawaannya baper dan malah jadi kangen sendiri. Apalagi si sialan Aldi malah sudah tenggelam dengan ponsel di pojokan. Zeta berjalan mendekati Aldi, dia duduk di samping cowok itu. Menyerah pada ketidakberdayaan seorang wanita yang merindukan belaian. Melihat itu, Aldi langsung memanfaatkan kesempatan dengan memeluk Zeta. Akhirnyaaaaa, jerit Aldi dalam hati. "Bisa nggak sih kalian berdua nggak bikin gue kayak nyamuk di sini?" Protes Dika. "Cari pacar makanya!" Sentak Aldi. "Banyak," jawab Dika seadanya. "Bukan pacar ONS doang. Cari yang beneran kayak kita ogeb!" Dika tersengir. Jika bisa punya pacar One Night Stand berganti-ganti setiap malam, lantas kenapa harus memilih satu doang? Bukannya rasa dari setiap wanita itu berbeda dan Dika suka merasainya. *** Malamnya, Raga bener-bener nggak bisa tidur. Meski dia sudah berulangkali mencoba memejamkan mata, tetap saja dia nggak bisa tidur. Pikirannya terganggu setelah mendengar nama Erlangga. Saat itu, setelah sadar dari pingsan dan mendapati dirinya berada di rumah sakit, Raga langsung mencari Vishaka. Untunglah Vishaka juga dirawat di rumah sakit yang sama. Hanya saja cewek itu berada di ruangan khusus, yaitu ICU. Raga masuk ke dalam ruangan dengan pasien koma yang bertarung melawan kematian di sana. Beberapa pasien nampak memiliki kondisi yang sama, yaitu ditancap oleh berbagai selang dan alat indikator kehidupan. Dengan sedikit tertatih Raga mendekati Ranjang Vishaka yang berada di paling pojok. Hati Raga sakit melihat luka di sekitar wajah cewek itu. Memar di sekujur tubuh serta... Sudah pasti sakit di bagian itu. "Maaf, gue nggak bisa nolong Lo," bisik Raga. Dia mengusap rambut Vishaka dengan penuh penyesalan. Raga menyesal telah berada di sana saat itu. Andai dia nggak ada disitu, dia mungkin nggak perlu merasa begitu menyesal karena nggak bisa nolongin cewek ini. Cewek yang nggak Raga kenal sebenernya, hanya saja dia memakai seragam yang sama seperti Raga. Raga mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mencoba melenyapkan bayangan Vishaka serta kejadian saat itu. Dia melirik jam di dinding, jarum menunjukkan angka 12 lewat 37, Artinya sudah lewat tengah malam. Hanya Kim satu-satunya yang bisa membuat Raga tenang saat ini. Dia pun bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju ke kamar Kim. Raga nggak perduli seandainya ada salah satu anggota di rumahnya itu yang melihatnya masuk ke kamar cewek itu. Dia butuh Kim, obatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN