Raga membawa mobilnya ke sebuah alamat yang berada cukup terpencil dari ibu kota Jakarta. Tempat yang memang sangat bagus untuk dijadikan sebagai sarang persembunyian. Kali ini, dia nggak akan melepaskan orang itu. Lo salah sudah berurusan sama gue, Devon! Brak! Pintu kayu rapuh itu ditendang kasar oleh Raga hingga terdengar suara besi terpelanting ke lantai. Nampak terlihat jelas kekagetan seorang cowok yang sedang duduk di sofa usang menonton sebuah acara televisi, menikmati berita yang sedang melanda Kim. "Lo... Lo ke-kenapa bisa di sini?" Devon meringsek mundur. Dia sudah dua kali merasakan bagaimana ganasnya seorang Raga. Apalagi saat ini sekujur tubuhnya belum sembuh sepenuhnya. Tangannya yang patah saja masih di-gips. Raga menatap Devon bagaikan serigala yang sedang menatap man

