Part | One.

1094 Kata
“Dasar jalang! Anak tak tahu diri!” Teriakan itu menggema di seisi rumah sederhana itu, disusul oleh bunyi pecahan barang yang begitu nyaring.  Alexandria menutup telinganya seraya meringkuk tak berdaya di pojok ruangan, berusaha melindungi diri agar serpihan dari guci yang pecah itu tidak berhasil mengenai tubuhnya. Percuma. Beberapa serpihan itu mengenai kakinya dan sukses membuatnya berdarah. “Ibu.. hentikan..” lirihnya. Wanita yang dipanggil ibu olehnya itu menatap nyalang padanya. Menarik tubuhnya dan membuatnya tak sengaja menginjak serpihan kaca tadi, Alexandria meringis. PLAK! “Berani sekali kau memangilku dengan sebutan itu!”  Alexandria memejamkan matanya begitu merasakan pipinya semakin memanas akibat tamparan tadi. Entah sudah keberapa kalinya ia mendapatkan tamparan itu. “Jika saja adikku tidak pernah memukanmu! Jika saja dia masih hidup! Jika saja, kau! Tidak pernah hadir di keluargaku! Aku tidak akan pernah merasakan hal seperti ini!” pekik Diandra pada Alexandria yang kini menundukan kepalanya. Tidak berani menatap wajah ibunya—itulah yang selama ini ia percayai, bahwa Diandra adalah ibunya. “Kau pembawa s**l, Alex! Karena kamu, suamiku kini terbaring koma! Karena kamu, adikku kehilangan nyawanya!” “Ibu... aku mohon.” PLAK! “Jangan panggil aku seperti itu, Alex!” Diandra akan kembali menyiksa Alexandria jika saja pintu rumahnya tidak terbuka dan menampilkan sosok pria tampan yang hanya geleng – geleng kepala melihat pemandangan mengerikan di rumahnya. Aiden—pria itu, melenggang dengan tenang melewati Alexandria yang menunduk dan menangis tersedu – sedu. “Jangan terlalu keras padanya, Bu. Atau kau bisa membuatnya mati,” ucapnya seraya menuangkan bir ke dalam gelas kecil yang ada di hadapannya. Diandra menatap anak lelakinya dengan malas, ia melepaskan cengkramannya pada Alexandria dan menghempaskan diri ke sofa dengan lelah. “I wish. Anak itu hanya membawa s**l untuk keluarga kita, Aiden. Harusnya ayahmu yang bodoh itu tidak pernah setuju untuk mengadopsinya. Atau, adik sialanku tidak harus menemukannya di jalanan.” Diandra berbicara seolah Alexandria tidak mendengar perkataannya. Seolah wanita yang kini kembali meringkuk di pojok ruangan itu tidak mendengarkan setiap perkataan yang terlontar dari mulutnya yang brgitu menyakiti hatinya. “Suruh ia membayar semua yang sudah kita beri.” Aiden duduk di samping Diandra, tidak memedulikan Alexandria yang setia mendengar semua ‘pujian’ dari Aiden dan Diandra. “Hey, Jalang. Kau dengar ‘kan? Kau harus membayar semuanya. Kau berhutang budi padaku, dan jangan pikir kita memberikannya secara cuma – cuma. Hidup tidak semudah itu, Sayang.” Diandra memandang Alexandria dengan tatapan merendahkan. Ia bergerak untuk menghampiri wanita muda itu dan menjambak rambutnya dengan kencang. “Kau tidak tuli ‘kan? Bayar semua ‘jasa’ yang sudah keluargaku berikan padamu,” ucap Diandra seraya menyentak wajah Alexandria agar menatapnya. Dari sorot mata itu, Diandra sudah jelas melhat ada ketakutan mendalam pada diri Alexandria. Si Anak sialannya. *** “Al, kau tidak lupa tugasmu, bukan?” tanya Erlina pada Alexandria yang kini sedang memasukkan buku – bukunya ke dalam tas. Alexandria hanya mengangguk sekilas dan beranjak dari duduknya untuk keluar kelas. “Hei, ada apa?” tanya Erlina ketika mereka menyusuri koridor kampus yang ramai. Alexandria berbalik menatap Erlina. Tersenyum tipis seolah hanya itu yang dapat ia tunjukkan. “Aku tahu kau ada masalah. Ibumu lagi?” Erlina adalah satu – satunya teman yang dimiliki Alexandria dan hanya gadis itu yang tahu permasalahan keluarganya. Tidak semua, tapi paling tidak ia tahu bagaimana sikap Diandra padanya selama ini. Alexandria hanya mengulas senyum lagi, membuat Erlina menghela napas. “Come on, Al. Kau tahu kau bisa menceritakan apapun padaku, ‘kan?” Alexandria tersenyum dan mengangguk. “Thanks, Er.” Alexandria memutuskan untuk membaca novel kesukaannya ketika ia menaiki bus yang akan membawana pulang. Pulang ke tempat yang tidak bisa ia sebut rumah. Diam – diam Alexandria menghela napas lelah. Garis hidupnya begitu s**l, dan ia tidak bisa memprotesnya pada siapapun. Ia tidak bisa memberontak pada Diandra ataupun Aiden—kakak pemabuk yang selalu menganggapnya rendahan. Alexandria tidak bisa berteriak meminta Tuhan mengubah jalan hidupnya. *** “Alexa.” Alexandria berbalik ketika merasa seseorang memanggilnya. Ternyata Diandra sudah berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah amplop. Seketika Alexandria terkejut begitu Diandra melempar amplop itu ke wajahnya. “Baca dengan teliti.” Alexandria menurut. Surat dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat karena kecelakaan. Kecelakaan yang disebabkan olehnya. Penyesalan terbesar dalam hidup Alexandria. Seandainya— “Aku tidak punya uang sebanyak itu, Al. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Diandra berkata dengan nada dingin, membuat Alexandria mendongak dan menatapnya dengan heran. “Oh, ayolah, Dear. Kau tahu persis apa maksudku. Menurutmu, apa yang harus kau lakukan ketika kau didesak untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu cepat, hm?” Diandra berubah lembut pada Alexandria. Walaupun, Alexandria dapat menangkap kepalsuan dalam sikapnya. “No.” “Apa yang tidak, Al? Bukankah ini saat yang tepat bagimu untuk membalas budi padaku? Pada suamiku? Dan Aiden?” ujar Diandra dengan nada remeh membuat Alexandria semakin percaya bahwa Diandra memang tidak pernah menyayanginya sejak awal. Semua yang ia tunjukkan selama ini hanyalah palsu. “Kau—“ “Alexandria Neville. Kau memiliki tubuh yang bagus, wajahmu—aku tidak ingin mengatakannya—tapi, kau punya paras yang cantik,” ucap Diandra seraya memperhatikan Alexandria dari atas kepala hingga kakinya, seakan sedang menilai sejauh mana kualitas seorang Alexandria. “Kau harus melakukannya, Jalang.” Alexandria tertohok oleh perkataan ibunya. Sungguh, ia tidak mau lagi menyebut wanita yang ada dihadapannya itu dengan panggilan ibu. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang menyuruh anak perempuannya untuk— “Jual dirimu. Jadilah p*****r. Dapatkan uang itu.” —menjadi wanita bayaran. “No, aku tidak akan melakukannya.” Diandra mendengus dengan tatapan mengejek. “Oh begitu? Fine, Al. Aku bisa menyuruh Aiden untuk membunuhmu secara perlahan hingga kau merasakan bagaimana rasaya tinggal di neraka dunia.” Aku sudah tinggal di neraka dunia. “Bu, aku mohon—“ “Do not begging me. Itu tidak akan berpengaruh padaku, Jalang. Do it or i will make you suffer.” Alexandria menatap Diandra yang kini meninggalkannya sendirian di dapur rumah sederhana itu. Ia kembali menatap surat rumah sakit yang menunjukkan nominal biaya perawatan yang harus dibayar. Bahkan  Alexandria tidak pernah membayangkan uang sebanyak itu. Alexandria tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada ayahnya. Bagaimanapun juga, hanya pria itu yang bersikap baik padanya. Hanya pria itu. Untuk sesaat, Alexandria memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya jika semua akan berjalan baik – baik saja. Ini semua akan berlalu. Sekarang, ia hanya tinggal mencari cara untuk mendapatkan uang itu. Harus. Mungkin perkataan Diandra benar, lagipula, jika ia mencari pekerjaan biasa, butuh waktu lama untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Oke, Alex, everything’s gonna be fine. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN