Pria itu menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesaraannya. Berbalik, pria itu memandang pemandangan kota di siang hari ini, hingga sebuah telepon menginterupsinya.
“Sean,” panggil seseorang di seberang sana.
“Ya, Mom?” jawabnya pada sang ibu.
“Jangan lupa perjanjian kita malam ini. Mom sudah memasakkan semua makanan kesukaanmu.” Sean terkekeh kecil mendengar perkataan ibunya. Alesya Wijaya.
“Tentu, Ratuku. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak lupa.”
“Jika kau lupa Kentzo dengan senang hati menghabiskan makananmu.” Sean kembali terkekeh.
“Oke, Mom. I’ll call you later.”
“Oke. Mom love you.”Sean tersenyum karena percakapannya dengan ibunya. Karena ia tinggal di apartment-nya, membuat ibunya sering kali menyuruhnya untuk makan malam bersama dengan anak – anaknya—untuk menjaga komunikasi dan hubungan mereka baik – baik saja.
“Tuan Sean?”
Sean mengalihkan pandangannya hanya untuk menatap sekretarisnya yang kini juga menatap ke arahnya.
“Meeting selanjutnya akan diadakan satu jam lagi.” Sean hanya mengangguk.
“Anda butuh sesuatu, Tuan?” tanya Sara padanya yang hanya dijawab dengan gelengan. Bagi Sara, menghadapi boss-nya yang super dingin dan irit bicara, sudah menjadi santapannya setiap hari. Sikap dingin dan wajah yang tampan yang diturunkan dari ayahnya—Kent Wijaya, membuat ‘santapan’ setiap harinya itu sedikit menarik.
“Kau bisa keluar dari ruangan saya, Sara.” Sara gelagapan bagitu tahu jika boss-nya mengetahui ia diam – diam memerhatikannya. Sean tersenyum miring ketika tahu reaksi Sara, setelah wanita itu menutup pitu ruangannya sehingga tidak melihat ekspresi Sean.
***
“Eve, berhenti berlarian!” Clarresta melihat anaknya berlarian kesana kemari di halaman belakang rumah orangtuanya. Anaknya yang berumur tiga tahun itu tetap tidak mendengarkannya hingga akhirnya berhenti ketika tak sengaja menabrak Kenneth yang merupakan pamannya.
“Easy, Eve,” kekehnya seraya mengambil Everly ke gendongannya.
Clarresta menghampiri anaknya itu. Tidak, Everly tidak mempunyai kembaran jika itu yang ingin kalian tahu. Kehamilan pertamanya tidak dikaruniai anak kembar, berbeda dengan kehamilan keduanya kini yang akhirnya mendapatkan anak kembar.
“Kau membuat Ibu lelah, Eve,” keluh Clarresta. Mengejar anak tiga tahun yang aktif dengan perut yang sudah membesar tentu saja bukan perkara yang mudah. Sementara Everly hanya tertawa kecil tanpa berdosa. Anak itu kembali meminta Kenneth menurunkannya dan berlarian kesana kemari.
“Eve! Astaga,” ujar Clarresta dengan lelah.
“Biarkan saja, Kak. Dia tidak akan kemana – mana,” ucap Kenneth membuat Clarresta mendelik tidak suka ke arahnya—persis seperti mata Alesya, ibunya.
“Kau tidak tahu bagaimana aktifnya Everly, Kenneth,” ujarnya dengan sebal membuat Kenneth terkekeh.
Seruan dari Alesya membuat keduanya menghampiri meja makan di tengah halaman itu yang ternyata sudah dihidangkan beberapa makanan yang menggugah selera. Ryan, suami Clarresta membantu istrinya untuk duduk karena Clarresta terlihat kesulitan dengan perutnya yang membesar karena kandungannya sudah menginjak usia lima bulan.
“Dimana Sean?” tanya Kent ketika menyadari anak pertamanya belum datang.
“Tidak datang. Mungkin,” ujar Kenneth seraya bercanda ria dengan Everly.
“Dia sudah bilang akan datang, Kenneth,” jawab Alesya. “Aku sudah mengatakan jika tidak datang, Kentzo akan menghabiskan makanannya,” canda Alesya seraya mengerlingkan matanya pada anak terakhirnya.
“Oh, dengan senang hati, Mom.” Kentzo membalasnya dengan nada jenaka.
“Jangan bermimpi dulu, Kentzo.” Suara itu mengintrupsi semua orang yang ada di meja makan yang sudah dihias dengan lampu – lampu kecil di sekitarnya.
“Uncle Sean!” pekik Everly dengan girang karena kedatangan Sean. Memang, Everly sangat dekat dengan kembaran ibunya itu. Anak kecil itu turun dari tempat duduknya untuk menghampiri Sean, memeluk pria itu dan membuat semua orang disana tertawa.
“Hello, love.” Sean membawa Everly ke gendongannya dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Kenap lama sekali, Sean?” tanya Kent pada anak pertamanya itu. “Meeting-nya tidak terlalu berjalan lancar, Dad. Client-ku terlalu banyak memprotes,” ujar Sean dengan kesal mengingat alasannya terlambat karena rapat yang dijalaninya mengulur- ulur waktu.
“Oke, aku yakin kalian kelaparan, so, ayo kita mulai makan malamnya,” ujar Alesya membuat Kentzo girang. Pria berumur dua puluh dua tahun yang sangat suka makan itu sudah tidak bisa lagi menahan laparnya.
***
“Mom dengar kau sedang dekat dengan seseorang, Sean,” ujar Alesya yang membuat Sean menatapnya dengan heran dan berhenti mengunyah.
“Darimana Mom tahu?” Alesya menghela napas, “Come on, Sweetheart. Semua orang tahu siapa dirimu dan bagaimana kehidupanmu.”
Sean menggeleng dan tersenyum kecil. “No, Mom. Aku tidak sedang dekat dengan perempuan manapun atau sedang menyukai seseorang.”
“Jadi kau gay?” celetuk Clarresta yang sontak membuat Kentzo terbahak.
Sean menatap tajam kembarannya yang kini terkekeh pelan.
“It’s okay, Brother. I can deal with it,” ucap Kentzo yang membuat Sean ingin menggorok lehernya.
“Shut up, Kentzo!” ucapnya dengan kesal.
Kenneth hanya tersenyum kecil melihat interaksi mereka berdua. Diantara mereka berempat, Sean adalah pribadi yang paling tertutup.
“Okay, Kids, enough.” Kent menginterupsi mereka dan membuat tawa Kentzo mereda.
“Kau sudah dua puluh delapan tahun, Sean. Sudah waktunya untukmu serius dengan seorang wanita,” ujar Kent menasihati anak pertamanya. “Bahkan Cla sudah mengandung anak keduanya, Sean,” balas Alesya yang membuat Sean semakin terpojokkan.
“Aku belum memiliki pemikiran untuk menikah. Aku akan menikah, tapi tidak dalam waktu dekat ini.” Dalam pikirannya, Sean masih ingin ‘berpetualang’, ia masih ingin menikmati masa lajangnya dengan pergi ke club, melakukan kencan satu malam, dan tidak terikat pada siapapun. Ia masih ingin bebas bekerja tanpa memikirkan bahwa ada seseorang yang menunggunya di rumah dan mengharapkannya pulang cepat.
“Lalu kapan, Kak?” tanya Kenneth berniat menggoda Sean—salah satu kesukaannya.
“Mungkin ia ingin melajang sepanjang hidupnya, Kenneth,” ujar Kentzo yang membuat Sean melemparkan serbet ke arahnya.
“Ya, dan kau juga akan mengikuti jejakku, Kentzo,” hardik Sean.
“Oh, tidak, Kak. Aku akan menikahi kekasihku dalam waktu dekat ini,” ujar Kentzo berusaha meninggikan harga dirinya di depan kakaknya.
“Kekasih yang mana, Kentzo?” goda Kenneth yang membuat Kentzo mendelik ke arahnya.
“La—siapa namanya? Layla atau satu lagi, yang aku temui di apart—“ Ucapan Kenneth terhenti begitu saja ketika Kentzo melempar serbet yang dilempar oleh Sean ke mulutnya.
Kent dan Alesya yang melihat semua interaksi itu hanya bisa tersenyum dan menahan tawa mereka. Kebiasaan anak – anaknya tidak pernah hilang walau mereka sudah dewasa, tapi Alesya bersyukur atas itu.
***
“Biar aku saja,” ujar Sean begitu melihat saudara kembarnya akan mengangkat beberapa piring kotor untuk dibawa ke dalam rumah. Makan malam sudah selesai dan semua orang sudah kembali ke dalam rumah.
“Oh, lucu sekali ketika melihat CEO perusahaan besar mengangkut piring – piring kotor, sepertinya kau juga cocok menjadi pembantu di apart-ku,” ledek Kentzo ketika melihat Sean masuk ke rumah, yang dibalas tatapan mata tajam oleh kakak pertamanya itu.
“Kentzo,” ujar Alesya memperingatkan anak terakhirnya yang senang sekali menggoda kakaknya. Wanita yang masih cantik di umurnya yang sudah tidak lagi muda itu kini sedang memangku Everly yang tertidur di pangkuannya.
Sean duduk di sofa tepat di pinggir Alesya. “Kau akan menginap disini, Sean?” tanya Alesya.
“Sorry, Mom. Aku ada rapat penting besok pagi.” Alesya menghela napas dan tersenyum kecil. “Oke, tidak apa.”
“Mom, biar aku yang membawa Eve ke kamar, dia sudah tertidur,” ujar Clarresta yang langsung dijawab gelengan keras oleh Alesya.
“Kau bisa membawanya dengan perutmu yang membesar itu?” ujar Alesya pada Clarresta yang membuat anaknya itu tersenyum kecil, akhirnya Alesya menyuruh Ryan—menantunya untuk memindahkan cucunya itu ke kamar, diikuti Clarresta. Kent sudah terlebih dahulu pergi ke kamar mereka, begitu pula Kenneth yang sepertinya sudah terlelap di kamarnya sendiri.
“Time flies, Sean. Aku tidak menyangka bahwa aku sudah memiliki cucu, dan anak – anakku sudah beranjak dewasa,” ujar Alesya pada Sean yang kini hanya menyisakan mereka berdua dan Kentzo di ruang keluarga itu.
Sean tersenyum menanggapi perkatan ibunya.
“Kau sudah dua puluh delapan tahun, Sean—"
“Oh, Mom. Jangan dibahas lagi, aku tau kemana arah percakapan kita,” ujar Sean begitu tahu jika ibunya pasti akan membahas tentang wanita dan pernikahan.
“Tapi, Sean, kau akan menginjak kepala tiga. Ayahmu dulu bahkan sudah memiliki anak diumurmu sekarang,” ujar Alesya yang membuat Sean menghela napas.
“Aku masih ingin melajang, kenapa kau tidak bertanya pada Kentzo?” ujar Sean dan melirik adiknya yang kini asyik dengan smartphone-nya.
“I’m still twenty two, jika kau lupa,” balas Kentzo tanpa melirik sang kakak.
“Lalu, siapa yang tadi mengatakan akan—“
“Enough, Sean. Mom sedang membicarakanmu,” ucap Alesya membuat Sean menghentikan ucapannya.
“Aku akan menikah, Mom. Mark my words. Tapi tidak dalam waktu dekat ini,” balas Sean yang membuat Alesya terkekeh kecil karena melihat ekspresi anak pertamanya itu yang sepertinya frustasi karena terus dicecari pertanyaan yang sama.
***