Part | Three.

1406 Kata
Seperti biasa, kelab malam itu sudah sangat ramai ketika Sean memasukinya. Sudah menjadi kebiasaannya pula untuk pergi ke tempat ini ketika pekerjaannya sedang lengang ataupun sedang suntuk—hanya untuk mencari ‘hiburan’. Sean menyapu pandangannya ke sekeliling, memperhatikan beberapa orang menjadi gila di atas lantai dansa, ataupun orang – orang yang tidak peduli dengan sekitar dan berfokus pada dunia mereka masing – masing. “Sean!” Lelaki itu mengalihkan pandangannya saat merasa namanya dipanggil. Ternyata, Daniel—teman dekatnya—yang memanggilnya. “Aku kira kau tidak akan datang,” ucap Daniel sesaat setelah Sean menghempaskan bokongnya di sampingnya. Sean hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Seorang wanita berambut coklat dengan baju merah darah datang ke tempat mereka dan dengan lancang duduk di pangkuan Daniel. Sean mendengus ketika melihat Daniel sudah siap memangsa wanita itu. “Aku sudah dapatkan satu, Sean. Giliranmu,” ledek Daniel yang membuat Sean geleng – geleng kepala. Sudah menjadi rahasia umum jika Sean dan Daniel sering bermain dengan wanita. Sudah menjadi rahasia umum juga jika kelab yang mereka datangi adalah kelab yang menyediakan jasa perempuan bayaran. Dan bagi Sean, hal itu bisa dijadikan hiburan tersendiri baginya. Sean mendengus, “Aku akan ke lantai atas. Mungkin ada yang bisa aku jadikan santapan malam ini.” Sean melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan dengan penerangan remang – remang itu. Banyak w*************a berseliweran dimana – mana, sebagian dari mereka menatap Sean dengan pandangan yang memancing—dan Sean tidak terpengaruh dengan itu. Mengambil duduk di pojokan, Sean memperhatikan ke sekelilingnya, beberapa orang b******u, penari striptease yang kini menatapnya, dan semua hal yang sudah menjadi santapannya. Ia menghela napas setelah mengetahui bahwa sepertinya malam ini ia akan sendiri. *** Alexandria menarik napas dalam – dalam dan memejamkan matanya sejenak sebelum melangkahkan kakinya ke kelab malam itu. Sebelumnya, ia diminta menunjukkan kartu identitasnya—untuk memastikan bahwa ia sudah cukup umur untuk menjejaki dunia malam ini. Alexandria menangkap tatapan aneh dari kedua penjaga tadi, tentu saja Alexandria tahu kenapa, dengan jeans dan kaos putihnya, membuat orang – orang terheran karena ia menggunakan pakaian yang tidak sesuai untuk pergi ke kelab malam. Whatever. Alexandria tidak peduli. Wanita itu pergi ke meja bar dan terdiam untuk beberapa saat. Ini pertama kalinya ia datang ke kelab malam dan tentu saja euforia yang seperti ini mengejutkannya. “Kau ingin sesuatu?” tanya seorang bartender pada Alexandria dan membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. “Hm—tidak, aku—“ “Ada yang salah?” tanya bartender itu ketika melihat kegugupan Alexandria. Lagi, Alexandria menghela napas berharap kegugupannya akan hilang bersama dengan helaan napasnya. “Aku—Aku butuh uang,” jawab Alexandria yang membuat bartender lelaki itu mengerutkan dahinya. “Apa? Kau ingin melamar kerja, menjadi bartender?” tanya lelaki itu. Alexandria menggeleng. “Itu memakan waktu. Aku butuh cepat dan banyak,” ucap Alexandria menatap lelaki itu. Untuk sesaat, lelaki itu kembali mengerutkan dahinya. Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alexandria. Hingga akhirnya, lelaki itu seolah mendapat pencerahan dan tahu apa maksud dibalik ucapan wanita yang ada dihadapannya itu. “Oh, oke. Ikut aku.” Alexandria hanya bisa mengikuti lelaki itu yang membawanya ke lantai atas yang ada di kelab. Mereka memasuki ruangan yang ada di ujung lorong. Pemandangan ini lebih mengejutkan Alexandria dibandingkan pemandangan di lantai bawah. Wanita itu memperhatikan lelaki yang mengatarnya tadi berbicara dengan seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang berlebihan. Alexandria gugup ketika wanita itu mengalihkan pandangan untuk memandangnya. “Wanita di sebelah sana, dia yang akan membantumu,” ucap lelaki itu ketika sudah ada di hadapannya. “Thank you,” ucap Alexandria dengan tulus. Ia melangkahkan kaki menuju wanita tadi. Alexandria tersenyum kecil, hanya untuk sebagai sapaan pada wanita itu. “The new one,” ucapnya ketika Alexandria menghampirinya. Asap rokok mengepul keluar dari mulutnya dan membuat Alexandria tidak nyaman. “Aku tahu apa yang kau butuhkan. Aku bisa membantumu,” lanjut wanita itu, Alexandria mengangguk. “Kau—pasti sudah tahu apa yang akan kau lakukan, bukan?” Alexandria kembali mengangguk. “Oke, pertama, siapa namamu?” “Alexandria Neville.” Wanita itu mengangguk, “Good, Alex. Kau akan bekerja hari ini?” “Secepat mungkin, agar aku bisa mendapatkan uang secepatnya,” ucap Alexandria. Persetan! Keputusan ini sudah aku buat. “Aku harap, kau tahu apa yang akan kau lakukan dan bisa menanggung resikonya.” Wanita itu memberi Alexandria sebuah peringatan dini agar Alexandria tidak menyesal di kemudian hari, dan membuat bisnisnya rugi. Lalu, ia juga memberi tahu apa saja dan bagaimana cara bekerja di kelab itu. Wanita yang bernama Maddie itu juga tidak langsung menarik Alexandria ke ruangan tempat para wanita bayaran itu berkumpul untuk mempersiapkan diri mereka, Maddie tahu Alexandria butuh pemanasan. “Aku tahu, dan aku bisa menanggung resikonya.”  *** Sean memperhatikan wanita muda dengan kaos putih yang baru masuk ke ruangan remang – remang ini. Pakaiannya begitu mencolok untuk berada di tempat hina ini—membuat Sean penasaran. Wanita muda itu menghampiri Maddie—wanita yang mengelola tempat ini dan semua wanita bayaran yang ada—seketika Sean tahu apa yang wanita muda itu lakukan.  Sean tetap memperhatikan mereka. Ada sesuatu dalam diri wanita muda itu yang membuat Sean tertarik. Ketika Maddie berbalik melihatnya juga, Sean langsung menggerakan jari telunjuknya untuk memerintahkan Maddie menghampirinya. “Siapa dia?” tanya Sean ketika Maddie ada di hadapannya. “Seperti biasa, orang baru. Namanya Alexandria Neville,” ucap Maddie yang membuat Sean mengangguk.  "Aku ingin menemuinya.” Jawaban Sean membuat Maddie terkejut, baru saja ia akan membalas perkataan Sean jika saja pria tampan itu tidak menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat nyalinya menciut. Sean memandang Maddie yang menghampiri Alexandria dan Sean bisa menangkap keterkejutan Alexandria ketika tahu Sean ingin menemuinya di pojok ruangan. “You know who i am, right?” tanya Sean begitu Alexandria duduk di hadapannya. Wanita muda itu mengangguk. Tentu saja ia tahu, Sean Alent Wijaya—anak dari Kent dan Alesya Wijaya—pengusaha muda yang sukses dan tentu saja, gemar bermain wanita. “Aku tahu siapa namamu.” Ucapan Sean membuat Alexandria bingung untuk menjawab apa, sehingga ia memilih diam. “Apa yang membuatmu melakukan ini?” tanya Sean yang membuat Alexandria mendongak untuk menatapnya karena sedari tadi Alexandria berusaha setengah mati untuk menghindari tatapan tajam Sean. “Aku butuh uang.” Sean mendengus seraya tersenyum mengejek. “Everyone needs money, Alexandria,” ucap Sean seraya memandang Alexandria dengan tajam. “Ya, dan kini aku benar – benar membutuhkannya,” balas Alexandria dengan nada datar. Maddie yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka akhirnya angkat bicara, “Kau tertarik padanya, Sean?” Sean masih memandang Alexandria dan tidak menghiraukan ucapan Maddie. Tatapan dan perilaku Sean membuat Alexandria merasa terintimidasi. “Sean, jika kau tertarik padanya, jangan lupakan bahwa dia sudah bekerja denganku. Jadi, well, kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ucap Maddie yang lagi – lagi dihiraukan oleh Sean. Lelaki tampan itu seolah sedang mengobrak – abrik apa yang ada di dalam Alexandria sehingga membuatnya tertarik hanya dengan satu tatapan. “Aku menginginkannya,” ucap Sean pada Maddie, ia berbicara seolah Alexandria tidak ada disana. “So?” “Aku akan membelinya.”  Seakan ada petir yang menyambar kepalanya, Alexandria tidak bisa berkata – kata karena ia terlalu terkejut. “Wait, Sean. Kau tahu dia baru dan bahkan belum berpengalaman. Dia belum mendatangkan keuntungan apapun untukku—“ “Berapa yang kau mau?” Sean memotong ucapan Maggie dan membuat Alexandria semakin tidak terima. Ini bukan yang ia inginkan, walau sedari awal niatnya sudah buruk, tapi bukan hasil seperti ini yang ia mau. Ia tidak ingin menjadi barang yang diperjual belikan. Nominal harga yang dilontarkan oleh Maggie membuat Alexandria kelabakan, sementara Sean mengangguk. “Aku akan segera memberikannya padamu.” “Sean, kenapa kau sangat menginginkannya?” tanya Maddie penasaran. Setahunya, Sean menginginkan seseorang yang berpengalaman, dan tentu saja, bisa memuaskannya. Sementara Alexandria? Ia masih belum apa – apa. Sean mengangkat bahunya, “Karena aku menginginkannya.” “Oke, wait. Aku yang menjadi topik pembicaraan kalian. Maddie, bukan ini yang aku mau, aku bekerja disini, tapi bukan seperti ini—“ “Jadi kau lebih memilih menjajakan tubuhmu ke semua pria dibanding hanya menyerahkan tubuhmu padaku?” ucap Sean dengan tajam dan membuat Alexandria bungkam. “Kau milikku. Jangan membuat uang yang sudah aku keluarkan menjadi sia – sia.” Satu kesalahan Alexandria; ia tidak membalas perkataan Sean. Ia terdiam, semua amukannya ia simpan di kepalanya. Karena, ia tahu, ia tidak ada apa – apanya dibanding Sean Wijaya. Dan kini, pria itu memilikinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN