Part | Four.

1249 Kata
Alexandria tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika pria itu membawanya ke apartemen mewah miliknya. Dalam pikirannya, ia masih bertanya – tanya mengapa Sean melakukan ini semua? Kenapa pria itu membelinya? “Kenapa?” tanya Alexandria yang membuat Sean yang baru saja akan pergi ke dapur di apartemen itu berbalik. “Kenapa kau melakukan ini?” Sean berbalik hanya untuk melihat Alexandria yang menatapnya dengan tatapan bertanya – tanya. Sean tidak menanggapinya, lelaki itu berbalik untuk mengambil minuman di dapur. Sean tidak mempedulikan Alexandria yang mengikutinya untuk meminta penjelasan dari lelaki tampan itu. “Sean.” Sean berbalik, kini ia menghela napas karena Alexandria terlalu banyak berbicara. “Aku membelimu.” Alexandria memutar bola matanya dengan kesal. “Aku tahu, Sean! Tapi, kenapa ?!” Sean mengangkat bahu sebagai jawaban. “Tertarik.” Sejujurnya, Sean tidak tahu untuk apa ia menghambur – hamburkan uangnya untuk membeli gadis itu. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang ada dalam diri Alexandria yang membuatnya begitu tertarik. Ia ingin gadis itu. “Itu konyol! Aku tidak percaya!” Alexandria tidak terima dengan jawaban Sean. Ia butuh uang, oleh karena itu ia nekad melakukan perkerjaan itu. Tapi, belum juga ia memulai, ia sudah mendapat nasib yang lebih buruk dari itu. Sean menarik napas dalam. “Oke, anggap saja aku menyelamatkanmu dari ‘dunia’ itu. Kau hanya bekerja denganku. Itu sudah cukup.” Jawaban yang masih belum memuaskannya, tapi Alexandria memilih bungkam. “Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Sean menghampirinya, berbisik pelan dengan suaranya yang berat, “Memuaskanku.”  *** Alexandria terkejut ketika bibir Sean merambat ke permukaan bibirnya. Tidak bisa menolak, Alexandria mengalungkan tangannya di leher pria itu, membalas ciuman pria itu. Gosh... siapapun yang pernah mengatakan jika berciuman dengan Sean Wijaya adalah surga, Alexandria akan setuju dengan itu. Kini, ia memang merasakan surganya. “Kau menikmatinya.” Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang keluar dari Sean begitu ciuman mereka terlepas. Alexandria menatap Sean dengan naps terengah. “It wasn’t you first kiss, was it?” Alexandria mengangguk. Ciuman pertamanya tentu saja ia lakukan dengan mantan pacarnya tujuh bulan yang lalu, dan kini bukan saat yang tepat untuk mengingatnya. Sean tersenyum miring. Ia kembali menangkup wajah Aleaxandria, mendekatkan wajah mereka hingga bibir mereka kembali bersatu. Sean tidak pernah merasakan bibir wanita yang semanis bibir Alexandria sebelumnya, entah karena Sean kurang menikmatinya saat itu atau memang bibir manis Alexandria membuainya dengan baik. Tapi, dengan berat hati Sean harus mengakui bahwa b******u dengan Alexandria bisa menjadi alasan kuat mengapa ia membeli gadis itu. Sean mulai memegang pinggang ramping Alexandria. Tangannya mulai bergerilya seiring dengan ciuman mereka yang semakin memanas. Seraya membuka atasan yang dipakai Alexandria, Sean menjatuhkan tubuh kecil gadis itu ke atas kasurnya. Sebuah momen langka karena Sean Wijaya tidak akan sudi jika wanita asing tidur di atas kasurnya. Alexandria membuka matanya ketika ciuman mereka terlepas dan Sean beralih untuk menciumi lehernya. Alexandria mencoba menahan desahan yang sekuat mati ia tahan. Bagaimana mungkin ia bisa menahan godaan gigitan kecil Sean pada lehernya sementara tangan satunya lagi mencoba untuk meraba – raba punggungnya. Berhasil membuka semua atasan Alexandria, kini tubuh indah gadis itu terpampang nyata di depannya. Sean tidak pernah berekspektasi tentang tubuh indah pasangan malamnya sebelumnya, tapi, ia juga sedikit berharap jika mereka memiliki tubuh indah yang cukup menggiurkan. Sekali lagi, harus Sean akui, tubuh Alexandria memenuhi semua kriterianya, tubuh gadis itu ...sangat menggiurkan. “Sean?” Lamunan liarnya terhenti ketika Alexandria memanggil namanya. Sedikit malu karena Sean kedapatan sedang memikirkan tubuh itu. Tidak memberi waktu Alexandria untuk bertanya lebih lanjut dan semakin membuatnya malu, Sean memilih untuk mencium Alexandria—entah untuk yang keberapa kalinya. Tangannya menyusup ke bagian yang sangat ia tunggu. Dengan cepat ia melepaskan celana milik gadis itu dan langsung bermain disana. Sementara Sean kembali asyik dengan tubuh Alexandria, gadis itu justru tersentak karena Sean menyentuh bagian bawah tubuhnya. Tanpa sadar, Alexandria menahan tangan Sean yang berniat menyusup lebih dalam. Sean mengerti apa maksud Alexandria. Jadi, lelaki itu bangkit dari tubuhnya, dan berdiri di depan Alexandria. Sean melepaskan semua pakaiannya di depan Alexandria hingga keadaannya sama dengan gadis itu. Kembali hanyut dalam buaian Sean, Alexandria merasa dirinya sudah rileks dan siap. “Your first time?” Alexandria tidak bisa menjawabnya karena Sean sudah masuk pada dirinya. Memekik dan mencakar punggung indah Sean, hanya itu yang bisa Alexandria lakukan. Tanpa Alexandria sadari, malam itu akan mengubah kehidupannya. *** Sean meraba – raba sisi tempat tidurnya yang terasa kosong. Jika ia tidak salah, semalam ia tidur dengan seorang perempuan. Berusaha mengingat, Sean akhirnya ingat jika ia sudah...membeli Alexandria. “Alexa?” tanyanya begitu menyadari bahwa gadis itu tidak ada. Sean bangkit dari tidurnya, disaat yang bersamaan,Alexandria masuk ke kamar itu dengan handuk yang melilit di badannya. “Hm, maaf, aku memakai kamar mandimu,” ucapnya dengan gugup, entah karena malu telah menggunakan kamar mandi pria itu tanpa ijin, ataupun karena melihat tubuh indah Sean di pagi ini. Sean mengangguk, ia memilih memperhatikan Alexandria yang akan bergegas kembali ke kamar mandi untuk memakai bajunya. “Pakai bajumu disini.” Gerakan Alexandria terhenti. Gadis itu berbalik untuk menatap Sean dengan penuh tanya. “It’s an order, Alexa.” Sean tersenyum miring begitu melihat Alexandria menjadi salah tingkah. Alexandria benci ketika ia mengikuti perintah Sean. Ia berbalik untuk memunggungi Sean, dengan gerakan kaku, ia mengganti bajunya di hadapan Sean. Alexandria bisa merasakan tatapan Sean yang seolah membakar punggungnya. Setelah selesai memakai semua pakaiannya, Alexandria berbalik untuk menatap Sean. “Astaga!” Alexandria benar – benar terkejut ketika Sean sudah ada di belakangnya. Tidak sempat memprotes, Sean sudah mencium bibirnya dengan kasar. Panas dari percintaan semalam masih berbekas di tubuhnya. Kini, Alexandria merasa semakin panas. Untuk Sean, ia sendiri merasa sulit untuk tidak mencium bibir menggoda Alexandria. Bibir manis yang semalam membuatnya mabuk kepayang. Astaga... Sean tidak percaya ini semua. “Sean...Sean,” bisik Alexandria yang menginginkan Sean untuk berhenti.  “Aku harus pergi.” Sean mengerutkan dahinya karena ucapan Alexandria. “Dan aku tidak menyuruhmu untuk pergi, Alexandria.” Alexandria menghela napas mendengar ucapan Sean.  “Aku harus pergi, Sean. Aku juga memiliki kehidupan,” ucapnya dengan frustrasi. Harusnya ia sudah ada di kelasnya pagi ini, dan sekarang ia berniat untuk pergi ke kampusnya. “Kemana?” Alexandria merasakan pipinya memanas ketika melihat Sean tanpa busana. Sialnya, ia baru menyadarinya sekarang, dan posisi mereka sangat dekat. “Kampus.” Ucapannya tidak bisa membuat Sean Wijaya menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Jadi... gadis ini masih kuliah. “Kau bercanda,” ucap Sean tidak percaya. Bagaimana mungkin ia berani meniduri dan membeli gadis yang masih berkuliah? b****y hell.... “Terserah kau, Sean.” Alexandria membawa barang – barangnya dan berniat untuk pergi sesegera mungkin dari apartemen Sean, sebelum pria itu melakukan hal gila lainnya. “Tapi kau harus kembali kesini, Alexa. That’s a deal, you’re link to me.” Alexandria menatap Sean tidak percaya. “Jadi aku harus tinggal disini?” Sean mengangkat bahunya. “Seperti itu lebih baik.” “No, Sean. Aku tidak bisa.” Sean menghela napas. Ia juga tidak tahu mengapa ia harus memaksa gadis di hadapannya ini untuk tinggal bersamanya. Jika Alesya Wijaya tahu, Sean akan menjamin jika wanita itu akan langsung menikahkan ia dengan Alexandria. “Oke, kau disini, ketika aku menginginkanmu.” Dan sepertinya aku akan selalu menginginkanmu. “Hanya ketika kau mau. Fine.” Alexandria keluar dari sana dan menghembuskan napas lega. Ini jalan hidupnya, dan hanya ini yang bisa ia lakukan. Jadi, ia tidak melihat adanya kesalahan dalam tindakannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN