Part | Five.

1536 Kata
Alexandria hampir terlonjak kaget ketika melihat pria itu bersandar di mobil mewahnya dengan tangan melipat di d**a. Di suasana kampus yang sangat ramai siang ini, penampilan Sean sangat mencolok. Dengan jas kerja, jam tangan mahal, dan mobil mewah yang ia kendarai. Semuanya terlalu mencolok. Semua perhatian di pelataran kampus itu seakan tertarik padanya. “Oh my gosh! Is that Sean Wijaya? Maksudku, the real Sean Wijaya,” seru Erlina pada Alexandria yang kini mematung.  “Al?”Alexandria masih menatap Sean yang kini juga menatapnya. Dengan gerakan kepalanya, Sean menyuruh Alexandria masuk ke mobil mewah itu sebelum akhirnya pria itu masuk terlebih dahulu. “Ya Tuhan, Al. Apa tadi ia menyuruhku untuk pergi dengannya? Al, seriously?” Mata Erlina sudah berbinar ketika Alexandria menatap perempuan itu. “Look, Er. I gotta go, aku tidak bisa menceritakan ini padamu.” Alexandria berkata dengan cepat dan langsung pergi untuk mengikuti Sean. Erlina sendiri masih terpaku ketika melihat Alexandria masuk ke mobil yang sama dengan yang dikendarai Sean. “Gosh! That little bit*ch!” gerutu Erlina karena ia yakin Alexandria menyembunyikan sesuatu darinya. Sementara itu, Alexandria mencoba untuk menahan kekesalannya dan tidak menyemprotkan semuanya langsung pada Sean.  “Sean, kau gila! You tottaly insane! That was—” “Tenang, Alexandria. Take a deep breath,” ujar Sean dengan santai dan setengah menahan senyum melihat tingkah laku Alexandria. Bodohnya, Alexandria juga mengikuti apa yang diperintahkan Sean. Ia mengambil napas sedalam – dalamnya seolah ingin meredam semua kekesalannya pada Sean. “Kau tahu, Sean. Aku sangat membencimu.” Alexandria berucap setelah mampu menormalkan degup jantungnya. “Aku tidak melihat alasan untuk kau membenciku, Alexandria.” Sean berucap—masih dengan santainya. Gerakannya terlalu elegan, sangat menceminkan kepribadiannya. “Aku juga tidak melihat alasan untuk aku menyukaimu, Sean.” Alexandria mengikuti gaya bicara Sean. “Yes, you have. Aku membelimu, you owe me, Alexa.” Seketika itu juga Alexandria terdiam. Alexandria membuang pandangannya ke jendela mobil. Ia lelah berdebat dengan pria yang di sampingnya. "Untuk apa kau menjemputku ke kampus?” tanya Alexandria. “Seperti yang aku bilang. Kau harus ada saat aku membutuhkanmu.” Sean berucap dengan santai namun dengan ada dingin. “Maksudmu, membutuhkan tubuhku.” Alexandria meralat ucapan Sean. Pria di sampingnya itu tersenyum miring dan mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggalnya. *** Sean memperhatikan gerakan Alexandria yang luwes ketika memotong sayur – sayuran untuk makan malam mereka. Dengan memakai kemeja berwarna hitam milik Sean, rambut tergerai, dan tanpa memakai bawahan—Alexandria sangat seksi di mata Sean. “Astaga!” Wanita itu terkejut setengah mati ketika ia melihat Sean sedang melipat kedua tangannya dengan mata yang tertuju—pada tubuhnya. “Maaf—A—Aku memakai kemejamu,” ucap Alexandria terbata – bata. Setelah melakukan apa yang Sean inginkan sejak sampai di apartemen pria itu, Alexandria yakin bahwa pria itu terlelap sebentar. Membuat Alexandria memutuskan untuk membuat makan malam untuk mereka berdua. Perutnya perlu diisi setelah kegiatan berjam – jam yang mereka lakukan. Sean hanya mengangkat kedua bahunya dengan tidak peduli, yang Alexandria tangkap bahwa pria itu tidak masalah jika kemejanya dipakai oleh dirinya. “Aku menyiapkan makan malam, untuk kita berdua.” Alexandria menyodorkan beberapa piring berisi makanan yang akan mereka santap. Sean tidak bisa menyembunyikan ekspresinya ketika melihat bagaimana lezatnya masakan Alexandria. Sepertinya rasanya bisa seenak masakan buatan Alesya Wijaya. Mereka makan dalam diam. Alexandria sempat mencuri pandang ketika Sean mencicipi masakannya, takut – takut pria itu tidak suka dengan apa yang ia masak. Tapi, sepertinya pria itu menyukainya, terbukti kini sudah dua kali Sean menyendokkan kembali lauk – pauknya. Suara bel apartemen membuat gerakan Alexandria berhenti. Ia menatap Sean yang kini masih santai dengan makanannya. “Bisa kau membukakannya untukku?” tanya Sean seolah mengerti arti tatapan Alexandria. Wanita itu hanya mengangguk dan pergi untuk membukakan pintu apartemen Sean. “Ya?”  Alexandria seketika ingin menenggelamkan dirinya di lautan ketika melihat siapa tamu yang datang ke apartemen Sean. Alesya Wijaya. “Dimana Sean?” Nada bertanya wanita itu sangat dingin dan datar. Wajahnya menunjukkan wibawa dan keeleganan. Alexandria membuka pintu apartemen itu perlahan. Cukup malu mengingat ia hanya memakai kemeja Sean tanpa bawahan. Ia yakin Alesya Wijaya akan beranggapan buruk tentangnya. “D—Dia sedang...makan,” cicitnya seraya menundukkan kepalanya. Alesya melipat kedua tangannya di depan d**a. “Dan... kau?” Matilah Alexandria. Kini, wanita itu tidak tahu apa yang harus ia jawab.  “Aku—” “You know what, kau tidak perlu memberitahuku. Aku tahu siapa kau.” Satu poin untuk Alesya karena kini Alexandria sudah sangat menginginkan dirinya untuk lenyap dari tempat itu. “Mom?” Alexandria sedikit bernapas lega begitu Sean tiba di belakang tubuh Ibunya dan membuat perhatian Alesya pada Alexandria buyar. “Kau kemari. Ada apa?” tanya Sean seraya menuntun Ibunya untuk duduk di salah satu sofa di ruangan itu.  Alexandria dapat melihat bahwa Sean sangat menghormati Ibunya—menambah satu kesan positif pada diri pria itu. Sialnya, kini Alexandria tidak tahu apa yang harus ia lakukan, jadi, ia memilih untuk tetap berdiri mematung di sana. “Wait, Sean. Sebenarnya siapa dia?” tanya Alesya secara terang – terangan menatap Alexandria yang kini memilin ujung kemeja Sean karena gugup. “Dia... gadisku.” Sean menjawab dengan santai dan tanpa beban. “Pardon?” Alesya setengah tidak percaya dengan apa yang anak sulungnya katakan. “Kau bisa berkenalan dengannya, Mom.” Sean tersenyum tipis. Alesya mengalihkan pandangannya untuk menatap Alexandria. “Bisakah kau berpakaian dengan benar dan kita bisa mengobrol?” tanya Alesya dengan nada menyindir. Alexandria hanya bisa mengangguk dan pergi dari sana untuk berganti pakaian. “Aku tahu apa yang telah kau lakukan dengan wanita itu, Sean.” Alesya mengatakan hal tersebut sesaat setelah Alexandria pergi dari hadapan mereka. “Aku yakin Mom tahu apa kegiatanku.” Sean membalas ucapan Ibunya seolah Alesya tidak menganggap bahwa hal itu pertanda jika ada kemungkinan dirinya bisa memaksa Sean menikahi wanita itu. “Kau bisa menikahinya, Sean.”  Sean hampir tersedak dengan ludahnya sendiri ketika ibunya mengatakan hal tersebut. “You kidding me, right?” Alesya menggeleng. “Kalian sudah sedekat itu, tidak ada halangan bagi kalian untuk menikah.” Sean ingin sekali mengatakan bahwa hubungannya dengan Alexandria tidak seperti itu. Ia tidak mencintai Alexandria. Tidak akan pernah. Baginya, Alexandria hanya sebatas wanita untuk menuntaskan nafsunya saja. “Al, kemari.” Sean melihat Alexandria yang kini sudah memakai celana panjang yang tadi ia pakai ke kampus dengan kaos putih milik Sean. Pria itu tahu mengapa Alexandria tidak memakai kaosnya sendiri—Sean merobek kaos malang Alexandria. “Alexandria Neville.” Wanita itu mengulurkan tangannya pada Alesya yang dijabat oleh Alesya. “Alesya Wijaya.” Sean mengulum senyum melihat kegugupan Alexandria ketika berhadapan dengan Alesya. Ibunya memang bisa memperlihatkan sisi kelembutan dan sisi dinginnya dalam waktu yang bersamaan. Semua orang berpikir Alesya tidak memiliki kelembutan sama sekali—sangat dingin. Tapi, Sean sudah menjadi anak Alesya selama dua puluh delapan tahun, ia tahu ibunya tidak seperti itu. “Aku hanya ingin mengenalmu, Alexandria. Kau tidak perlu gugup,” ucap Alesya begitu melihat gerak – gerik Alexandria yang begitu ketakutan. “Aku—untuk apa kau ingin mengenalku? Maksudku, kau Alesya Wijaya.” Alexandria memang keheranan untuk apa Alesya ingin mengenalnya. Alesya Wijaya—istri dari Kent Wijaya, bukan sembarang orang yang bisa berkenalan baik dengan wanita itu. Alesya memiliki kesan sederhana tapi berwibawa dalam sekali waktu. Bergitulah apa yang dipikirkan Alexandria. Alesya tersenyum. “Aku ingin tahu siapa wanita yang dekat dengan anakku.” Yap, semua Ibu sepertinya akan berlagak seperti Alesya begitu anaknya yang sudah dewasa berdekatan dengan seorang wanita. “Aku tidak dekat dengan Sean.” Alexandria melirik Sean yang kini juga menatapnya. “Ya, kalian tidak dekat hingga mengharuskan kau bermalam di apartemen anakku.” Sindiran yang bagus, Alesya. “Setidaknya, aku hanya memastikan kau perempuan yang baik.” Alesya melanjutkan perkataannya. Alexandria menggeleng dengan keras. “Bukan, kau salah jika berpikiran seperti itu. Aku bukan perempuan yang baik.” Alesya sedikit mengerutkan dahinya. “Jika ini caramu untuk membuat aku tidak menyukaimu dan membuatmu menjauh dari Sean, itu tidak berhasil. Kau semakin membuatku penasaran, Alexandria.” “Mom.” Sean menegut ibunya ketika melihat tanda – tanda bahwa Alesya terlalu semangat melihat ia diketahui sedang dekat dengan seorang wanita. “Oke, fine. Sean, akhir pekan ini kau bisa datang ke rumah, kan?” tanya Alesya yang dibalas anggukan oleh Sean. Alesya tersenyum pada Sean, lalu ia menatap Alexandria dengan tatapan melembut. “We’ll be in touch, Alexandria. Nice to see you.” Alexandria terlalu terkejut dengan reaksi Alesya Wijaya yang di luar ekspektasinya. Jadi, ia hanya tersenyum tipis melihat Alesya pergi dari apartemen Sean. “Apa maksudnya, Sean?” tanya Alexandria ketika Alesya sudah pergi dari sana. “Dia menyukaimu.” Alexandria mengerutkan dahi. “Dan?” “Dia akan berhenti mengenalkanku dengan wanita – wanita random pilihannya.” Sean melepaskan bajunya dan menghampiri Alexandria. “Lalu, apa hubungannya denganku?” Alexandria menjadi gugup ketika Sean yang tanpa atasan itu menghampirinya dan membuatnya terlentang di sofa. “Dia akan memaksa kita untuk menikah secepatnya.” Alexandria melotot mendengar jawaban Sean. Sedikit terkejut ketika pria yang kini menciumi lehernya dengan tangannya yang merambat untuk melepaskan celana yang dipakai Alexandria. “Aku—Aku tidak mau. Tidak akan pernah.” Napas Alexandria semakin tersenggal. “Aku juga.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN