Part | Six.

1435 Kata
Alexandria kembali menahan tangis ketika melihat sosok yang sangat ia cintai itu terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Ia menyentuh tangan dingin milik pria paruh baya itu dan menggenggamnya dengan cukup erat. “Ayah, kapan kau bangun?” tanya Alexandria pada udara yang hampa dan dijawa oleh alat pendeteksi di samping ranjang Ayahnya yang menunjukkan pria itu masih hidup—bisa bertahan hidup. “Maafkan aku, Ayah. Aku tahu kau akan kecewa padaku.” Alexandria tidak dapat menahan tetes air matanya. “Aku membuatmu kecewa,” ujar Alexandria dengan lirih. Ia yakin Ayahnya akan sangat kecewa begitu mengetahui kebenaran bahwa Alexandria melakukan cara kotor untuk membayar tagihan rumah sakit. “Maafkan aku.” Jika saja Alexandria tidak melakukan kesalahan itu, Ayahnya akan berada di sampingnya dan ia tidak akan pernah mengecewakan pria itu. Beberapa bulan yang lalu... Alexandria memandang ke sekelilingnya, berjaga – jaga jikalau mobil Ayahnya akan terlihat. Entah mengapa Alexandria memiliki perasaan yang buruk tentang Ayahnya—seakan – akan sesuatu akan terjadi. “Alexa!” Alexandria melihat Brian—Ayahnya berada di seberang jalan dimana ia memarkirkan mobilnya. Brian memberi tanda pada Alexandria untuk tetap di sisi jalan lain agar ia bisa membantu anaknya itu menyebrang. Alexandria menurutinya. Waktu sangat lambat begitu Alexadria melihat tubuh Brian terpelanting karena sebuah mobil menabraknya. Teriakannya seakan tertahan, lidahnya kelu dan kakinya seakan kehilangan tulangnya. Seharusnya Alexandria melarang Brian untuk menyebrang. Seharusnya Aexandria menolong Ayahnya. Alexandria terjatuh ketika melihat Brian tak sadarkan diri. Orang – orang di sekitarnya mulai mengerubungi pria itu—beberapa orang berusaha menghubungi rumah sakit dan beberapa lainnya menahan si penabrak supaya tidak kabur. Alexandria tidak peduli dengan itu semua. Yang bisa ia lakukan kini hanya melihat Brian yang terbujur kaku. Sementara dirinya tidak bisa melakukan apapun—untuk menyelamatkan ayahnya. “Jangan menangis, Alexa. Tangisanmu tidak bisa mengubah apapun.” Suara itu membuat Alexandria mendongak dan melihat Aiden melipat kedua tangannya di depan d**a. “Aiden, kau—untuk apa kau kemari?” tanya Alexandria dengan suara parau. Maksud Alexandria, terasa aneh melihat kakak angkatnya menjenguk Brian—pasalnya, lelaki itu tidak pernah menjenguk Ayahnya. Bahkan terkesan tidak peduli. “Dia Ayahku, Alexa.” Aiden menarik bangku di sampingnya dan kini berhadapan dengan Alexandria yang berada di sisi ranjang yang lain. Alexandria hanya mengangguk. Ia merasa canggung jika harus berdua di ruangan yang sama dengan Aiden. Selama ini, Aiden seperti tidak pernah menganggapnya ada. Ketika Diandra memarahi atau bahkan memukulnya, Aiden tidak peduli. Jelas saja kelakuan Aiden yang seperti ini membuat Alexandria bingung. “Terimakasih.” Aiden mengucapkannya dengan lirih seraya menggenggam tangan kiri Brian—dimana tangan yang satunya lagi digenggam oleh Alexandria. “Untuk?” Alexandria mengerutkan dahinya. Pernyataan Aiden membuatnya semakin bingung. “Sudah membayar tagihan Ayah. Aku tidak bisa membayangkan jika Ayah harus berhenti mendapatkan perawatan dari rumah sakit.” Itu adalah kalimat terpanjang yang dikatakan oleh Aiden kepada Alexandria. Alexandria hanya mengangguk karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia bangkit dan mengecup pipi Brian. Lalu, dengan langkah cepat ia segera keluar dari ruangan itu. “Tunggu, Alexa.” Alexandria berhenti di ambang pintu dan berbalik untuk menatap Aiden dengan penuh tanya. “Bisa aku tahu darimana kau mendapatkan uang itu?”  Alexandria mengangkat kedua bahunya. “Tidak ada alasan bagiku untuk memberitahunya padamu, Aiden.” *** “Sean, ini hanya makan malam.” Sean kembali menghela napas ketika Alesya terus mendesaknya. “Iya, Mom. Hanya makan malam dan Al tidak perlu ikut denganku. Dia tidak sepenting itu,” Sean menjawabnya dengan bersungut – sungut. Ia tidak setuju jika Ibunya terus mendesaknya untuk mengajak Alexandria ke makan malam keluarganya. “Sean.” Alesya menatap anak sulungnya dengan tatapan datar. Jenis tatapan yang mampu meluluhkan hati Sean—seperti yang sudah – sudah, Sean sangat takut pada kemarahan Ibunya. “Oke, fine. I’ll take her.” Begitu Sean menyelesaikan kalimatnya, senyum Alesya terbit. “Ada apa, love?” Kent menghampi istri dan anak pertamanya yang sedari tadi berdebat di dapur rumahnya. Alesya menatap Kent dengan senyum yang tidak menghilang di bibirnya. Ia mengecup bibir Kent sekilas dan menjawab, “no, tapi aku rasa, sebentar lagi kita akan mendapatkan menantu baru.” “Mom!” Sean merajuk karena Alesya terus menggodanya dengan cara menjodoh – jodohkannya dengan Alexandria. “Aku tidak akan menikah dengan Al. Tidak akan pernah.” Sean menatap kedua orangtuanya dengan kesal. Membuat Alesya tertawa melihatnya. “Tunggu, siapa itu Al?” tanya Kent karena setahunya, Sean tidak pernah berdekatan dengan seseorang bernama Al. “Alexandria Neville. Sean bilang mereka tidak terlalu dekat, tapi buktinya ia sudah membuat nama panggilannya sendiri; Al.” Alesya masih asyik menggoda Sean.  “Mom, enough.” Sean kesal dengan Ibunya sendiri. “Aku penasaran dengan seseorang bernama Al itu, Sean.” “Dad!” *** Sean kembali ke apartemennya dan terkejut begitu melihat Alexandria sudah berada di sana. Ia memang memberi tahu Alexandria kode apartemennya, dan sepertinya itu tidak membuatnya menyesal. Karena, itu membuat Alexandria akan mudah menemuinya, ketika ia membutuhkan wanita itu. “Kau mengangetkanku,” ucap Alexandria begitu melihat Sean mendekatinya dengan tiba – tiba. Sean tidak menanggapinya, tetapi pria itu memilih untuk mencium bibir Alexandria dengan menggebu. Alexandria tidak memiliki pilihan selain membalas ciuman Sean. Ia mengalungkan tangannya di sekeliling leher pria itu ketiak dirasanya Sean mengangkat tubuhnya dan membaringkannya ke sofa yang ada di dekat mereka. “Sean, calm down.” Dengan susah payah Alexandria berkata seperti itu, karena Sean terus menciuminya. “Al,” panggil pria itu seraya menatapnya dengan dalam. Posisi Sean yang berada di atas Alexandria dengan kedua tangan menahan bobot tubuhnya—membuat Alexandria tidak bisa berpikir jernih. “Apa bayaran yang sudah aku beri kurang untukmu?” Alexandria mengerutkan dahi karena heran dengan pertanyaan Sean. Uang bayaran hasil dari pembelian Sean pada dirinya memang dibayar full oleh Sean. Sebagian besar sudah dibayarkan untuk pembayaran rumah sakit. Sisanya, ia simpan untuk biaya hidupnya dan kuliahnya. “Ada apa?” Hanya itu yang bisa Alexandria tanyakan. “Jika kau perlu yang lebih, aku akan membayarnya.” Sean mencium bibir Alesya dengan dalam begitu ia selesai dengan kalimatnya. “Kenapa?” “Karena, aku akan membutuhkanmu lebih lama. Mungkin lebih lama dari yang kita kira.” Sean menarik lepas pakaian Alexandria dan pakaian pria itu sendiri. “Ada apa, Sean? Aku tidak mengerti.” Sean perlahan menunduk untuk menuju bawahnya. “Kau akan mengerti, tapi sekarang yang bisa kau mengerti adalah, aku membutuhkanmu lebih lama.” *** “Aku tidak yakin ini ide yang bagus, Sean.” Alexandria memilin ujung dressnya dengan gelisah. Setelah kegiatan rutin mereka, malam harinya Sean membelikannya sebuah dress cantik berwarna maroon dan mengajaknya ke kediaman orangtua pria itu. Tentu saja Alexandria menolaknya. Berhadapan langsung dengan Sean, bisa membuatnya terbakar sendiri karena mata elang pria itu. Bertemu Alesya Wijaya, mampu membuatnya ingin melenyap dari muka bumi. Dan jika harus bertemu Alesya Wijaya 2.0 atau Sean Wijaya 2.0, mungkin Alexandria akan mati. “Jangan berlebihan, Al. Hanya makan malam.” Ya, Sean. Hanya makan malam. Alexandria menarik napas sedalam – dalamnya dan mencoba untuk menetralkan degup jantungnya ketika Sean menggenggam tangannya dan melangkah memasuki mansion itu “Chill, Al.” Sean terkekeh melihat muka Alexandria yang gugup. “I can’t.” Sean melangkah memasuki ruangan pertama di mansion itu, seketika di sambut dengan pemandangan Everly yang sedang bermain dengan Kenneth dan Kentzo yang sedang memainkan game di ponselnya. “Uncle Sean!” Everly yang pertama kali menyadari kedatangan Sean. Gadis kecil itu berlari menghampiri pamannya itu. “Kau kemari, Little love?” tanya Sean yang terheran karena anak kembarannya berada di sini, karena setahunya, Clarresta tidak bisa datang malam ini karena suaminya berada di luar negeri. “Iya. Mom bilang uncle Sean akan membawa calon istrinya.” Everly menjawab dengan nada yang menggemaskan. Oh, damn you, Clarresta. Alexandria kembali menahan napasnya ketika gadis kecil itu mengatakan; calon istri. Ia tidak mengerti ini semua. “Sean?” panggil Alesya ketika melihat Sean dan Alexandria sudah sampai.  “Hai, Mom.” Sean mengecup pipi Alesya dan pergi menghampiri Clarresta yang ada di dapur untuk memarahi kembarannya itu. Alesya kini menatap Alexandria yang tampaknya—masih saja—gugup. “Hai, Alexandria. Senag bertemu denganmu kembali.”  Alexandria hanya bisa tersenyum kaku.  “Oh, ayo. Kita masuk dan memperkenalkan dirimu,” ucap Alesya seraya menuntun Alexandria ke dalam rumahnya. Alexandria kembali ingin melenyapkan dirinya sekarang. Di ruang makan yang cukup luas, Alexandria bisa merasakan semua tatapan orang di sana menuju ke arahnya. Alesya tersenyum dan duduk di samping suaminya, menyisakan Alexandria yang masih berdiri terpaku disana. Sean menghampiri Alexandria. “Mom, Dad, dia Alexandria. Dia... gadisku.” Alexandria tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya begitu Sean mengatakan hal tersebut. Damn you, Sean Wijaya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN