Part | Seven.

1248 Kata
Alexandria menatap Sean dengan tajam ketika pria itu mengenalkannya sebagai gadisnya pada keluarganya. Ia tidak setuju. Tidak akan pernah. Alexandria menatap saudara kembar Sean yang kini sedang berbadan dua. Lalu, ia dapat merasakan tatapan tajam dari Kent Wijaya. “Alexandria, berapa tahun umurmu?” tanya Kent pada Alexandria yang membuat wanita itu sedikit kelabakan. Terlalu gugup menghadapi pertanyaan mudah dari Kent. “Dua puluh.” “Ka—” “Cukup, Kent. Biarkan mereka duduk terlebih dahulu,” ucap Alesya yang memotong ucapan suaminya dan membuat Sean dan Alexandria belum juga duduk. Akhirnya, Sean mengambil duduk di hadapan Alesya dengan Alexandria di samping kirinya. Wanita itu berhadapan dengan Kenneth. “Kau bekerja?” Alexandria menahan napas untuk sementara. “Kuliah, Tuan Wijaya.” Kent mengangguk. “Jangan terlalu formal, Alexandria. Aku tidak setua itu sampai mengharuskanmu memanggilku dengan sebutan itu.” Alexandria tahu Kent bercanda, tapi itu tetap tidak menghilangkan aura intimidasinya, sehingga Alexandria hanya bisa tersenyum kecil. “Apa kau sudah lama berhubungan dengan, Sean?” tanya Clarresta yang lagi – lagi membuat Alexandria gugup. b****y hell... bahkan makanan yang sudah disajikan saja tidak Alexandria cicipi karena gugup. “Kami...” Alexandria menatap Sean untuk meminta bantuan. Berharap semoga pria itu mengerti bahwa Alexandria tidak tahu harus menjawab apa. “Cukup lama.” Dang it! Bukan itu jawaban yang Alexadria harapkan. “Dan kau menyembunyikannya dari kami semua, Sean?” Clarresta tidak terima dengan jawaban Sean. “Ya, Cla. Dari kalian semua.” Alesya mengulum senyumnya. “Alexa, makanlah.”  Alexandria hanya bisa mengangguk dan mencoba untuk tidak gugup ketiak ia memakan makanannya. Untuk pertama kalinya, ia harus makan malam dengan keluarga terpandang. Entah suatu keajaiban atau ironi. *** “Kau memilih jurusan itu? Menurutku itu sangat membosankan, Alexa. Really,” ucap Clarresta pada Alexandria ketika mereka berada di sofa yang ada di ruang keluarga dan mencoba untuk berbincang – bincang dengan santai. Setidaknya, sikap Clarresta membuat Alexandria tidak terlalu gugup lagi. “Ya, aku sangat suka sastra. Entahlah, aku hanya memilih jurusan itu,” jawab Alexandria seraya terkekeh kecil. “Everly sangat menggemaskan.” Alexandria mengomentari Everly yang kini bermain game dengan Kentzo.  Clarresta tertawa kecil. “Kau juga bisa memiliki anak yang lebih menggemaskan, Alexa. Dengan Sean tentunya.” Alexandria tersedak ludahnya sendiri ketika Clarresta mengatakan hal tersebut. “Astaga, Clarresta. Tidak, itu tidak mungkin.” Memikirkan bahwa kelak ia dan Sean akan memiliki seorang anak, membuat Alexandria berjengit ngeri. “Why not? Kalian akan menikah, bukan?” “Berhenti menanyakan hal itu, Cla.” Bukan Alexandria yang mejawab itu, tapi pria yang menyebalkan yang tiba – tiba menghampirinya dengan wajah masam. “Kenapa, Sean?” goda Clarresta yang membuat Sean memutar bola matanya. “Al, bisa kau menunggu sebentar sebelum kita pulang? Aku ada urusan dengan Ayahku.” Alexandria hanya mengangguk begitu Sean mengatakan hal tersebut. Alexandria merasa bahwa ia ingin buang air kecil, akhirnya ia menanyakan dimana letak kamar mandi pada Clarresta dan segera pergi dari sana begitu Clarresta memberitahunya. Setelah beberapa menit, Alexandria keluar dari sana dan terkejut begitu melihat adik Sean—Kenneth, kalau ia tidak salah mengingat—berada di depan pintu. “Astaga!” serunya karena terkejut. “Sorry,” jawab Kenneth dengan nada yang lembut. Alexandria hanya menanggukkan kepala dan berniat untuk pergi dari sana. “Alexandria,” panggil pria itu yang membuat Alexandria berhenti dan berbalik. “Kita belum bertegur sapa, jadi, bolehkan aku mengajakmu ke taman?” Alexandria mengerutkan dahinya karena pertanyaan Kenneth. “Hanya sebatas berbincang.” Pria itu melanjutkan. *** “Sean tidak pernah mengenalkan wanita manapun pada keluarganya,” ucap Kenneth malam itu pada Alexandria. Mereka berada di taman belakang mansion Wijaya yang terdapat kolam renang disana, Kenneth dan Alexandria memutuskan untuk duduk di tepi kolam renang dengan ujung kaki yang berada dalam kolam. “Aku kira dia mempunyai banyak wanita,” balas Alexandria seraya menatap air kolam yang tenang. “Tidak. Dia memang sering bermain, tapi, untuk mengenalkan mereka, sepertinya tidak. Kau yang pertama.” Jawaban Kenneth membuat Alexandria tersenyum kecil. “Alexa, apa kau mencintai, Sean?” Alexandria menatap Kenneth begitu pria itu menanyakan hal tersebut. Ia heran mengapa Kenneth bertanya hal tersebut. “Kenapa?” “Apa aku salah jika aku beranggapan bahwa kalian tidak saling mencintai?” “Kenneth, apa maksudmu?” Kenneth tersenyum kecil. “Hanya pemikiran bodohku, Alexa. Tidak perlu kau pikirkan.” Alexandria tidak dapat puas dengan jawaban Kenneth. “No, Kenneth. What was that supposed to mean?” Kenneth memandang lurus ke air kolam, menghindari tatapan bertanya milik Alexandria. “Aku hanya merasa bahwa kalian tidak saling mencintai. Setidaknya, kau tidak mencintai Sean.” “Lalu?” “Bukankah ada kesempatan untukku?” Alexandria semakin tidak mengerti. “Kesempatan apa?” “Mendapatkanmu.” Alexandria tidak dapat menahan keterkejutannya. Ia kelabakan untuk membalas perkataan Kenneth, ia tidak tahu harus menjawab apa. “Kenneth—” “Al, bisa kita pulang sekarang?” Suara itu membuat Alexandria berbalik untuk memandang Sean yang kini menatap nyalang padanya. Alexandria kembali menatap Kenneth. Seolah perkataan Kenneth perlu diulang untuk membuatnya puas—setidaknya Alexandria bisa menjaga jarak dengan pria itu. Karena, ia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh pada Kenneth ataupun Sean. “Al.” Sean memanggilnya kembali. Kini, Alexandria menatapnya, dan melihat tatapan elang dari Sean, Alexandria akhirnya menghampiri pria itu. Sean langsung melingkari pinggangnya begitu Alexandria berada di sampingnya. Ia menatap Kenneth cukup lama. *** “Aku hanya merasa bahwa kalian tidak saling mencintai. Setidaknya, kau tidak mencintai Sean.” “Lalu?” “Bukankah ada kesempatan untukku?” “Kesempatan apa?” “Mendapatkanmu.” Ciuman Sean pada Alexandria semakin menggebu begitu percakapan Kenneth dan wanita itu kembali terngiang di kepalanya. Ia benci ini semua. Sean benci pada dirinya sendiri, mengapa ia harus marah pada Kenneth? Ia merasa tidak memiliki hak untuk marah. “Sean, bisa—kah ka—kau berhenti?” Alexandria memohon karena ciuman Sean sangat liar hingga Alexandria merasa bahwa ia tidak sanggup lagi membalas ciuman pria itu. Sean berpindah untuk mencium leher jenjang Alexandria. Membuat wanita itu kembali melenguh. Sean kehilangan kontrol begitu menemukan leher Alexandria—ia ingin memberi tanda di seluruh tubuh Alexandria. Tanda. “Sean. Astaga.” Alexandria masih kewalahan menghadapi Sean. Pasalnya, kini mereka berada di–entah dimana—tempat gelap yang juga sepi. Sean memberhentikan mobilnya begitu saja dan menarik Alexandria ke pangkuannya dengan cepat. “Sean, ada apa denganmu?” Alexandria terpaksa menarik kepala Sean yang akan menyerbu dadanya dengan tangan yang bersiap merobek dress Alexandria. Ia menatap Sean yang wajahnya memerah dan rambut yang acak – acakan. “Al.” Alexandria mengerutkan dahi begitu Sean memeluknya dan mengendus di lehernya. Membuatnya tidak nyaman. “Ada apa, Sean?” Alexandria semakin heran. “Kau ingat perkataanku. Kau terikat denganku, Alexandria Neville. Kau tidak bisa lepas dariku tanpa persetujuanku, dan asal kau ingat kembali, aku membutuhkanmu lebih lama.” Sean mencium leher Alexandria yang sudah dipenuhi bercak merah. “Sean...apa maksdumu?” Sean kini menatap Alexandria dengan tajam. “Sekali ini saja, Al. Aku harap kau mengerti.” Alexandria masih berusaha untuk mengatur napasnya. Jadi, ia hanya mengangguk—setidaknya ia bisa berpura – pura untuk mengerti. “Oke, tapi bisakah kita melanjutkan ini semua di apartemenmu? Aku tidak nyaman dengan posisi ini.” Alexandria bergerak tidak nyaman di pangkuan Sean. “Kita bisa melakukannya di jok belakang.” Entah itu candaan atau sungguhan Sean Wijaya mengatakan hal tersebut pada Alexandria, karena, sedetik kemudian dress maroon Alexandria telah robek dan tubuh gadis itu sudah Sean pindahkan ke jok belakang mobil. Oh, sepertinya pria ini serius. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN