Alexandria sedang melihat pemandangan kota yang terlihat indah saat malam hari di kantor Sean Wijaya dan berbalik ketika pintu ruangan dibuka oleh seseorang. Terlihat Sean menghampirinya dengan beberapa berkas di tangannya. Pria itu tersenyum kecil dan meyodorkan segelas kopi hangat pada Alexandria, sementara ia sendiri juga meminum miliknya.
“Bagaimana pertemuannya?” tanya Alexandria pada Sean yang dijawab anggukan kepala pria itu.
“Baik,” jawab Sean. Pria itu merengkuh pinggang Alexandria yang ada di sampingnya dan mengecup pelan pipi wanita itu—mengikuti Alexandria yang kembali memandangi kota pada malam hari.
“Sean, i was wondering, kenapa kau menyuruhku kemari?” tanya Alexandria mengutarakan isi kepalanya yan sedari tadi ingin ia tanyakan pada Sean. Aneh jika saja pria itu hanya menginginkan Alexandria di kantornya. Bukankah, mereka bisa melakukannya di apartemen pria itu ketika pulang?
“Aku ingin dan membutuhkanmu disini, Al.” Oh, bukan jawaban yang Alexandria inginkan. Tapi, tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menghela napas dan kembali menyesap kopi hangatnya.
“Oke, kita pulang? Aku harus kuliah besok.” Alexandria berucap seraya memandang Sean yang juga menatapnya. Pria itu mengangguk. Mengambil jasnya yang ia sampirkan di kursi kebanggannya, ia menggenggam tangan Alexandria dan keluar dari ruangannya.
“Sara, aku tunggu jadwalku esok hari,” ujar Sean pada sekretarisnya yang dibalas anggukan kaku oleh wanita berkacamata itu. Mungkin, ini pertama kalinya ia melihat bosnya menggandeng perempuan ke ruangannya dan dengan terang – terangan memperlihatkannya ke depan semua orang, dan mungkin setengah tidak yakin bahwa wanita seperti Alexandria-lah yang ia pilih sebagai kencannya.
“Aku akan menyuruh beberapa orang untuk memindahkan barang – barangmu,” ucap Sean ketika mereka berada di perjalanan pulang menuju apartemen Sean.
Alexandria tersenyum kecil. “Sebenarnya, aku ingin memindahkannya sekarang—dan kau tidak perlu menyuruh orang – orangmu, Sean. Barang – barangku tidak banyak.”
Sean hanya bisa mengangguk dan meminta Alexandria menunjukan jalan menuju kediamannya.
***
“Kau tunggu disini saja. Aku tidak akan lama, barang – barangku sudah dimasukkan ke kardus,” ujar Alexandria ketika mereka sudah sampai di depan rumah Diandra. Hanya rumah sederhana tapi terlihat nyaman di mata Sean.
“Kau bercanda? Aku akan membantumu, Al.” Sean sudah keluar dari mobilnya ketika Alexandria akan menghalanginya. Sean yang bertemu Diandra ataupun Aiden adalah hal terakhir yang ia inginkan. Jika Diandra tahu jika Alexandria berhubungan dengan Sean, maka ibu angkatnya itu akan semakin memerasnya.
“Tidak, Se—”
Sean menatap nyalang ke arahnya ketika lagi – lagi Alexandria menolak untuk dibantu. Alexandria hanya bisa menghela napas dan membiarkan Sean masuk ke rumahnya.
Sean menatap seisi kamar Alexandria. Terlalu polos, menurutnya. Semuanya bernuansa putih, kasur kecil yang ada di pojok ruangan, lemari baju dan meja belajar—yang semuanya kosong, meninggalkan lima kardus berukuran sedang yang Sean yakini berisi barang – barang Alexandria. Terlalu sederhana. Sean ingat saat Clarresta seumuran dengan Alexandria, kamarnya sangat ramai. Sean saja sampai tidak ingin tidur di kamar kembarannya saat itu. Berbeda dengan kamar Alexandria yang terlalu polos, tapi nyaman.
Sean merebahkan tubuhnya di kasur putih itu. Tidak menyadari Alexandria yang ini menatapnya dengan kesal. “Jika kau berniat untuk tidur, lebih baik kau pulang.” Mendengar sindiran itu, Sean langsun bangkit dari tidurnya dan tersenyum miring menatap Alexandria.
Pria itu membantu Alexandria mengangkat dua kardus sekaligus, sedangkan Alexandria hanya membawa satu kardus. Mereka menyimpan ketiga kardus itu di belakang mobil Sean.
“Apa semuanya akan masuk di mobilmu?” tanya Alexandria ketika ia akan berbalik untuk mengambil sisa – sisa kardus miliknya. Sean mengangguk dan kembali membantu Alexandria.
“Sudah semua?” tanya Sean begitu mengangktu kardus terakhir milik Alexandria ke mobilnya. Alexandria teringat sesuatu yang belum ia bawa. “Sean, kau mau menunggu sebentar lagi? Ada sesuatu yang tertinggal.” Alexandria tidak menunggu jawaban Sean dan segera masuk ke rumahnya.
Sesampainya di dalam, Alexandria mencari kertas dan bolpoint. Segera menulis sesuatu untuk Diandra dan Aiden.
Aku pergi. Uang yang kalian butuhkan akan aku kirim setiap bulan. Kalian tidak perlu memikirkan aku lagi. Terimakasih atas semuanya.
Alexandria.
Alexandria tahu bahwa selama ia mengirimkan uang untuk Diandra, wanita itu tidak akan peduli dengannya. Tapi, Alexandria hanya ingin memberitahu bahwa dirinya sudah pergi—benar – benar pergi dari mereka dan tidak akan menyusahkan lagi. “Alexa?” Panggilan itu mengagetkannya ketika ia akan mengambil dua botol minuman di kulkas. Ia melihat Aiden sedang memandangnya dengan tatapan bertanya.
“Aiden, terimakasih. Aku harus pergi.” Alexandria segera pergi dari sana tanpa menunggu Aiden mencerna ucapannya. Yang terpenting, Sean tidak tahu tentang Aiden dan Diandra, juga keluarga angkatnya yang tidak tahu kemana Alexandria pergi.
***
“Terimakasih, Sean. Sungguh,” ucap Alexandria setelah sampai di apartemen Sean dan meletakkan kardus – kardus itu di ruangan utama. Sea tersenyum dn hanya mengangguk untuk menjawab Alexandria.
“Jadi, dimana aku bisa meletakkan barang – barangku?” tanya Alexandria walaupun ia tahu ada satu kamar kosong di apartemen Sean. Tapi, ia tidak mau lancang dengan langsung menyimpan barang – barangya disana.
“Di kamar kosong itu, kau bisa mengaturnya sesuka hatimu,” ujar Sean seraya menunjukkamar kosong yang Alexandria sudah menebaknya.
Alexandria mengucapkan terimakasih dan kembali menangkat kardusnya untuk menyimpannya di kamar yang Sean maksud. Alexandria cukup heran ketika sudah kasur dan beberapa benda lain disana.
“Aku sudah mengaturnya untukmu. Kau tinggal memasukkan baju dan keperluanmu yang lain.” Sean berucap dari belakang punggung Alexandria. Wanita itu sontak terkejut setengah mati, Sean pasti bercanda.
“Kau bercanda.” Alexadria tidak percaya jika Sean sengaja mempersiapkan kamar untuknya. Ya Tuhan...
“Kapan kau menem—” Alexandria heran karena terakhir ia kemari, ia tidak melihat Sean sedang mengatur ruangan ini.
“Kau tidak perlu tahu, Al,” jawab Sean seraya kembali membantu Alexandria dengan barang – barangnya. Wanita itu tidak perlu tahu bahwa Sean memang sudah mempersiapkan kamar ini untuknya—hanya berjaga – jaga jika wanita itu ingin tinggal lebih lama. Dan sepertinya keinginannya terkabul.
***
“Kau tidur di kamarku, Al,” ujar Sean ketika melihat Alexandria berbaring di kamarnya. Alexandria yang baru saja memejamkan matanya karena lelah, seketika membuka matanya dan menatap Sean dengan heran.
“Aku rasa ini sudah menjadi kamarku sesaat setelah kau mengijinkan aku menumpang di sini,” jawab Alexandria dengan sinis. Kali ini, jika ia harus melakukan apa yang pria itu mau, ia tidak akan bisa.
“Al, kamarku.”
“Sean, aku lelah.” Alexandria kembali menolak keinginan Sean.
“Al, kamarku atau—”
“Oke, fine!” Sean tersenyum miring ketika melihat Alexandria bangkit dan pergi ke kamarnya dengan kaki yang menghentak – hentak kesal. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia menginginkan Alexandria dengan sebegitunya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hanya pada Alexandria.
Sean menyelimuti Alexandria begitu melihat wanita tersebut sudah terlelap dengan cepat. Sean memperhatikan wajah Alexandria yang damai di tidurnya. Satu yang Sean tahu untuk sekarang, Alexandria menyimpan sejuta rahasia di dalam hidupnya, dan Sean akan mencari tahu hal itu dengan cepat.
Pria itu keluar menuju balkon kamarnya. Duduk di kursi yang ada di sana, Sean merasakan angin malam membelai lembut wajahnya. Ia seketika mengingat perkataan Kent Wijaya padanya beberapa bulan yang lalu, bahwa Ayahnya itu tidak pernah mengira bahwa ia akan jatuh cinta pada Alesya kala itu.
“Ibumu sangat misterius saat itu, Sean. Aku tidak pernah bisa mendekatinya, terlalu sulit. Tapi, itulah yang membuatnya sangat menarik dan berkesan. And it was unexpected.”
Alexandria juga terlalu tertutup padanya. Walaupun pembawaannya tidak sedingin Alesya Wijaya, Sean tetap merasa ada jarak antara ia dan Alexandria. Sementara, ia tidak mau wanita itu menyimpan sesuatu sendiri. Sean merasa dirinya sudah mulai gila karena terlalu memikirkan Alexandria. Tidak seharusnya ia seperti ini, ia bukan orang yang gila karena seorang wanita.
***