“Ya, El. Tenang saja, aku bisa menjaganya.” Suara Sean yang sedang berbicara pada seseorang di telepon, cukup mengagetkan Alexandria yang kini sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Sean menutup teleponnya dan menatap Alexandria. “Al, jam berapa kau pulang kuliah?” tanya pria itu seraya mengambil sepotong roti dihadapannya yang sudah diolesi selai kacang.
“Hei! Itu milikku!” Alexandria memprotes ketika roti bagiannya sudah dilahap oleh Sean dan pria itu hanya tersenyum menyebalkan padanya. Alexandria hanya bisa menghela napas dan mendelik tidak suka padanya.
“Al, kau belum menjawab pertanyaanku.” Sean memperingati Alexandria yang kini sudah selesai membuat roti miliknya.
“Mungkin tengah hari, aku hanya ada satu kelas hari ini dan itu hanya tes,” jelas Alexandria pada Sean yang dijawab anggukan oleh pria itu.
“Good. Aku juga hanya ada meeting pagi ini. Eliza menyuruhku menjaga Ezra.”
Alexandria mengeryitkan dahinya. “Lalu, apa hubungannya denganku?”
“Aku akan menjemputmu dan kita akan menjemput Ezra.” Sean menjelaskan pada Alexandria. Beberapa menit lalu, Eliza—sepupunya—memintanya untuk menjaga Ezra anak pertamanya. Sementara ia harus pergi ke luar kota karena ada urusan mendadak. Eliza sendiri mempunyai satu anak dan kini sedang hamil anak keduanya. Itu salah satu alasan mengapa Alesya Wijaya memintanya untuk segera menikah, karena Eliza yang satu tahun lebih tua darinya saja sudah akan memilik dua anak.
“Kenapa aku harus ikut?”
Sean menghela napas. “Aku ingin kau ikut, Al. Dan kau harus ikut denganku.”
Alexandria menghela napas entah untuk yang keberapa kalinya karena lelah menghadapi sikap diktator dari Sean Wijaya. Ia merasa kasihan untuk siapapun yang akan menjadi istri Sean kelak.
***
“Alexa!” Erlina memanggil Alexandria dari ujung koridor dan membuatnya berbalik untuk menatap Erlina yang menghampirinya.
“Kau belum bercerita tetang hubungan rahasiamu dengan Sean Wijaya!” seru Erlina setelah ia berada di samping Alexandria.
“Kecilkan suaramu, Erlina!” Alexandria menatap ke sekelilingnya danerjaga – jaga jika ada seseorang yang mendengar mereka. Alexandria menyimpan beberapa buku miliknya di loker dan segera menutupnya. Dengan malas, ia menatap Erlina.
“Ayo, Al. Ceritakan padaku!” Erlina menggoyang – goyangkan lengan Alexandria agar wanita itu segera bercerita padanya.
“Astaga, Er! Aku tidak ada apa – apa dengan Sean, oke? Berhenti bertanya. Aku harus pulang sekarang,” jelas Alexandria dan segera keluar dari kampusnya. Ia lupa bahwa Sean akan menjemputnya sebentar lagi, dan Erlina tidak boleh tahu itu.
Tanpa disangka, Erlina mengikutinya dan berjalan di sampingnya dengan senyum yang menyebalkan. “Oke, tapi bisakah kita tidak langsung pulang? Aku ingin ke café sebentar.”
Alexandria menghela napas. “Aku tidak bisa, Sean akan menjemputk—”
“Really, Al? Sean Wijaya lagi?”
Alexandria sadar bahwa ia sudah salah menyebutkan nama Sean, lagi. Dan kini ia berjalan menjauh dari Erlina untuk menutupi rasa malunya.
***
“Ezra!” seru Sean pada anak lelaki berumur enam tahun yang kini berlari ke arahnya. Rambut keritingnya bergerak dengan menggemaskan.
“Uncle Sean!” Ezra memeluk Sean dan dengan sigap menariknya ke gendongan pria itu. Alexandria hanya bisa melihat pemandangan itu beberapa langkah agak jauh dari mereka. Tersenyum tipis begitu melihat interaksi Sean dengan keponakannya sendiri. Jika ia perhatikan, Sean sudah pantas untuk menjadi ayah—ia terheran apa hal yang membuat pria itu tidak segera menemukan pendamping hidupnya.
“Hai,” sapa Alexandria ketika Sean dan Ezra berada di gendongannya. Ezra memandang Alexandria dengan mata yang tajam. Seperti asing dengan perempuan yang dibawa pamannya.
“Ezra, ini Alexandria.” Sean memperkenalkan Alexandria pada Sean. Wanita itu mengulurkan tangannya pada Ezra yang dengan malu – malu, dibalas oleh anak lelaki itu.
“Hai,” balas Ezra yang membuat Alexandria tersenyum karena kegemasan anak tersebut.
“Iya, Bunda. Hati – hati,” ucap Ezra pada Eliza dari ponsel milik Sean. Anak lelaki itu mengembalikan ponsel pamannya dan membiarkan Sean berbicara sebentar dengan sepupunya. Mereka berada di sebuah restoran di dalam mall yang menyediakan menu untuk anak – anak. Sean sudah hapal bahwa Ezra selalu kemari dengan kedua orangtuanya.
“Bundamu akan pulang malam ini, Ezra,” ujar Sean yang dibalas anggukan oleh anak itu.
“Aunty Al, es krimnya.” Ezra menagih suapan es krim dari Alexandria yang langsung dituruti oleh wanita itu. Hanya butuh beberapa menit untuk Ezra agar akrab dengan Alexandria. Pada awalnya, Sean terheran karena Ezra bukan anak yang mudah akrab dengan orang lain—bahkan pada paman atau tantenya yang lain. Dan, Ezra yang sangat dekat dengan Alexandria dalam beberapa menit, membuat Sean terperangah.
“Kau suka es krimnya?” tanya Alexandria walaupun tahu bahwa pertanyaannya retoris. Sudah terlihat bahwa es krim yang kini sedang dilahapnya adalah es krim favoritnya, terbukti kini sudah dua cup es krim yang dihabiskan anak itu.
Ezra mengangguk dengan senang dan kembali mengoceh tentang hal yang tadi ia lakukan di sekolah pada Alexandria.
Sean memperhatikan mereka. Ikut tersenyum ketika tingkah Ezra yang menggemaskan cukup menghibur. Astaga, Sean merasa bahwa Ezra adalah anaknya sendiri.
“Kau tidak makan, Al?” tanya Sean yang menyadari bahwa Alexandria tidak memesan apapun.
“Tidak. Kau sendiri juga tidak makan, Sean.”
Sean menghela napas. “Bukan berarti kau juga ikut tidak makan, Al.”
“Karena aku tidak ingin.”
“Al.”
“Sean, sungguh.”
Sean mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Kau butuh tenaga yang banyak untuk malam ini. Karena, kita akan terjaga semalaman, besok hari libur, bukan?”
Alexandria menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tahu, Sean Wijaya tidak pernah bercanda dengan ucapannya.Terbukti sesaat setelah mereka mengantarkan Ezra ke tempat tinggal Alinisya Safira—nenek dari Ezra—karena Eliza dan suaminya pulang agak terlambar, Sean langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat mereka terjebak macet, Sean menghela napasnya. Entah mengapa malam ini, ia sangat menginginkan Alexandria. Ia tahu bahwa setiap hari ia menginginkan wanita itu, tapi, malam ini ia benar – benar menginginkannya. Sangat.
Alexandria menatap Sean yang kini seolah menahan sesuatu dalam dirinya. Belum juga Alexandria bertanya apa yang terjadi dengan Sean, pria itu lebih dulu mencondongkan tubuhnya pada Alexandria dan mencium bibir wanita itu dengan menggebu.
Alexandria benci ketika ia harus membalas ciuman pria itu. Ia tidak suka melakukannya di dalam mobil, dan sepertinya Sean lebih senang melakukannya dengan spontan. Dimanapun, selama ada tempat yang tertutup—Sean bisa melakukannya.
Pria itu menarik Alexandria untuk duduk di pangkuannya. Sean menyerbu bibir Alexandria dan terhenti ketika suara klakson nyaring berbunyi dari mobil di belakangnya.
“Tetaplah seperti ini,” bisik Sean dan memajukan mobilnya beberapa meter. Sepertinya macetnya parah dan itu membuat Sean bersorak dalam hati.
“Sean, kau gila—”
Sean tersenyum miring dan kini mengecup semua bagian leher Alexandria. Wanita yang ada di pangkuannya itu melenguh dan membuat Sean tidak sabar untuk melahap wanita itu. Alexandria dan semua hal yang membuat fantasi liarnya bermunculan. Awal ketika ia memutuskan untuk membeli Alexandira, ia sudah mempersiapkan semua cara agar wanita itu lihai memuaskannya. Karena, ia tahu Alexandria belum memiliki pengalaman apapun—tapi sepertinya, bahkan sebelum Alexandria mampu menggodanya, wanita itu punya cara sendiri untuk membuat Sean terus menginginkannya.
“Sean, sudah—”Sean kembali memajukan mobilnya beberapa meter dan kembali mencium Alexandria.
“Kita bisa melakukannya nanti, Sean. Please,” ucap Alexandria memohon agar Sean berhenti. Ia tidak suka jika terpaksa bergerak di ruang yang sempit. Alexandria bernapas lega ketika akhirnya Sean melepaskannya dan membiarkannya duduk di tempatnya yang tadi. Ia tersenyum ketika melihat Sean benar – benar menahan sesuatu dalam dirinya. Entah dorongan darimana, Alexandria mengecup pipi Sean dan membuat pria itu tersenyum kecil.
“Sabar, Sean. Bukankah, kau sendiri yang mengajakku untuk terjaga semalaman?”
***