Part | Eleven.

1307 Kata
Alexandria kembali melenguh ketika Sean mendesaknya. Tubuhnya terasa ringan ketika tangannya menarik rambut hitam legam milik Sean, berharap bisa menyalurkan semua yang ia rasakan. “I can’t get enough of you, Al,” bisik Sean seraya menggigit kecil terlinga Alexandria. Alexandria membalasnya dengan napas yang memberat. “Then, take me to your heaven.” Sean kembali mendesaknya dengan lebih kuat. Mengabulkan permintaan Alexandria. Wanita itu menginginkan surga, dan Sean dengan senang hati membawakan surga padanya. Surga untuk dirinya dan Alexandria. “Al.” “Sean.” Tubuh Sean ambruk dengan napas yang memburu. Ia segera berguling ke sisi ranjang yang lain dan memandang Alexandria yang kini juga mengatur napasnya. Tangannya mengusap perut rata Alexandria yang membuat wanita itu menatapnya. “Sepertinya kita harus istirahat, Al.” Alexandria tertawa mendengarnya. Ini sudah jam dua pagi—entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Sean seolah kehilangan akalnya, dan Alexandria tidak bisa menolak permintaannya. Tidak ketika ia masih membutuhkan uang untuk biaya hidupnya. Sean menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Dengan sekali gerakan, tubuh Alexandria sudah berada dalam pelukan Sean. Terasa hangat dan nyaman. Entah mengapa Alexandria memilih untuk bergelung hangat di pelukan Sean—merasakan kulit polos mereka bersentuhan. “Al.” Alexandria mendongak dan menatap Sean, menunggu pria itu melanjutkan perkataannya. “Kau ingat perkataanku, bukan?” Alexandria mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang Sean katakan. “Perkataan yang mana? Kau mengatakan cukup banyak hal padaku, Sean.” Sean tersenyum miring dan menarik Alexandria ke pelukannya, lagi. Seolah menyuruh Alexandria untuk mendengarkan degup jantungnya. “Bagian, aku membutuhkanmu lebih lama.” Entah untuk alasan apa, Alexandria tersenyum. “Aku ingat. Lalu?” “Aku hanya ingin mengingatkannya padamu.” Sean mengelus punggung Alexandria dengan lembut. Menghantarkan getaran pada diri Alexandria. “Sean, lebih lama mungkin tidak seperti yang kau kira. Mungkin, kau akan segera tidak membutuhkanku dan menemukan wanita untuk kau nikahi. Dan tentu saja itu bukan aku.” Sean tidak tahu apa maksud perkataan Alexandria, jadi, ia memilih untuk menjawab, “tidak ada yang tahu, Al. Kita tidak akan pernah tahu.” Alexandria tidak mengerti kemana arah pembicaraannya dengan Sean. “Iya, tapi aku yakin bahwa wanita itu bukan aku.” “Jangan terlalu yakin, Al.” *** Alexandria menyesap teh hangatnya seraya memandang jendela pagi ini. Ia sangat suka kegiatan di pagi harinya—hanya untuk sebatas memandang kota di pagi hari, duduk di sofa, dan secangkir teh hangat. Semuanya mampu membuatnya jantuh cinta. “Al.” Alexandria berbalik hanya untuk memandang Sean dengan setelan kerjanya yang sudah rapi. Cukup membingungkan karena hari ini adalah hari libur dan semalam—jika Alexandria tidak salah dengar—pria itu yang mengajaknya untuk terjaga semalaman. Alexandria mengira Sean tidak akan pergi kemanapun. “Aku akan pergi ke lokasi proyekku sebentar, ada kendala disana,” ucapnya seraya menghampiri Alexandria. Wanita itu tidak menyangka jika Sean akan mengecup bibirnya cukup lama dan dalam. Alexandria terpaku ketika Sean masih menciumnya. “Bye.” Sean tersenyum tipis setelah melepaskan ciuman mereka. Alexandria hanya dapat mengangguk dan memandang Sean. Wanita itu menghela napas karena heran dengan dirinya sendiri. Harusnya ciuman Sean itu tidak berarti apa – apa untuknya. Harusnya ia tidak heran dengan ciuman itu. Karena, entah sudah keberapa kalinya Sean mencium bibirnya. Alexandria memutuskan untuk membersihkan apartemen Sean karena tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan di sisa hari ini. Merasa bahwa semua ruangan sudah ia bersihkan, Alexandria masuk ke ruangan kerja Sean. Ia tahu bahwa ia lancang kali ini. Baru saja, ia akan memasuki ruangan itu, suara bel membuatnya mengurungkan niatnya. Alexandria membuka pintu apartemen dan seketika terkejut bahwa yang bertamu kali ini adalah... Kenneth Wijaya  “Hai, Alexa.” Itulah sapaan pertama yang membuat Alexandria mampu menahan napasnya. Ucapan Kenneth beberapa hari lalu, mampu membuat Alexandria gugup kali ini. “Boleh aku masuk?” Alexandria mengangguk. Berdekatan dengan Kenneth juga ternyata mampu membuat jantungnya berdetak hebat. Astaga... *** Dimana Sean?” tanya Kenneth ketika Alexandria memberikan minuman untuk lelaki itu. Duduk berhadapan di meja pantry, Alexandria sudah bisa menormalkan degup jantungnya katika Kenneth memandanginya terus menerus. “Dia pergi. Ada pekerjaan.” Kenneth mengangguk. Meminum minuman yang disodorkan Alexandria dan berkata, “Dia terlalu mementingkan perkerjaannya.”  “Katanya, ada kendala, Kenneth.” Alexandria menangkap nada tidak suka di perkataan Kenneth sebelumnya. Seolah pria itu membenci Sean. “Kenapa? Kau seperti tidak suka padanya, Kenneth.” Alexadria melanjutkan ucapannya. Masa bodoh jika ia dianggap lancang atau apapun itu. “Tidak, Alexa. Hanya—entahlah, tapi yang jelas kami tidak bermusuhan.” Alexandria mengeryitkan dahinya. “Ya, atau paling tidak kau yang tidak menyukainya.” Kenneth memandang Alexandria karena tidak mengerti mengapa Alexandria menuduhnya seperti itu. “Tidak, Alexa. Aku baik – baik saja dengannya.” Alexandria hanya mengangkat bahunya tanda bahwa ia tidak peduli. Sudah satu jam Kenneth berada di apartemen Sean, dan hingga kini Alexandria tidak tahu apa maksud lelaki itu kemari. Awalnya, ia berpikir Kenneth ingin menemui Sean dan ketika Sean tidak ada—Alexandria menyangka bahwa Kenneth akan langsung pergi. Ternyata tidak. “Alexa, aku harus pergi.” Akhirnya, Alexandria bersyukur karena Kenneth memutuskan untuk pergi. Berdekatan dengan Kenneth juga membuatnya gugup. “Alexandria,” ucap Kenneth dan mereka berhenti di ambang pintu. Alexandria hanya menatap Kenneth dan menunggu apa yang akan dikatakan lelaki itu. Kenneth mendekat dan bukannya mengatakan apa yang ia maksud, lelaki itu memilih untuk mengecup bibir Alexandria. Lama dan...tenang. Kenneth menggerakannya dengan pelan dan Alexandria tidak mau membalasnya. Ia langsung melepaskan kontak bibir mereka begitu kesadarannya sudah kembali. “Kenneth.” Alexandria memandang Kenneth dengan wajah yang tidak bisa terbaca. Kenneth tersenyum dan berkata, “See you, Alexandria.” *** Hanya ciuman, Alexandria, kau tidak perlu memikirkannya terus. Alexandria memejamkan matanya dan membaringkan tubuhnya di kasur Sean. Ciuman Kenneth masih terbayang di kepalanya. Ia merasa bodoh. Ia tidak seharusnya memikirkan ini semua. Tidak boleh. Alexandria merasa bahwa ia semakin menjadi jalang. Ciuman Sean di pagi hari, dan ciuman Kenneth beberapa jam yang lalu—membuat Alexandria merasa bahwa ia adalah w************n. Sedikit merasa bersalah pada Sean.  Aku membutuhkanmu lebih lama. Ucapan Sean kembali terngiang di kepalanya. Oh, dang it! Alexandria tidak mau memikirkannya. Wanita itu bergelung di selimut dan menutup tubuhnya hingga batas kepala. Harum Sean masih tercium di selimut itu. Sangat mengingatkan Alexandria pada pria itu—oh, benar saja, Alexandria sudah gila. Setengah merasa bersalah pada Sean dan setengah merasa bahwa ia semakin jalang. b****y hell... Alexandria semakin memeluk selimut yang ia pakai—seolah itu Sean. Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas kini Alexandra menginginkan Sean berada di sampingnya. Di sini. Ia membutuhkan Sean. Dengan rasa yang tidak karuan, Alexandria kembali ke kamarnya. Jika ia membutuhkan Sean, maka yang ia perlukan adalah semakin jalang. Ia membuka lemarinya dan mengambil kotak dengan pita sebagai hiasan. Kotak itu berisi barang yang diberikan Sean beberapa hari lalu. Alexandria sempat membukanya di depan Sean dan wajahnya langsung memerah ketika tahu apa isinya. Sebuah lingerie berwarna hitam. Alexandria tahu bahwa dirinya memang jalang—karena itu pula ia memberanikan dirinya untuk memakai pakaian yang tidak layak disebut pakaian itu. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Alexandria memoleskan lipstick berwarna merah di bibirnya. Tepat saat ia sudah yakin penampilannya sempurna, suara bel langsung terdengar. Alexandria bergegas mengambil jubah satin untuk sedikit menutupi tubuhnya yang terbuka. Sean dengan jas yang sudah dilepas dan dasi yang melonggar juga kancing kemeja yang sudah dibuka adalah pemandangan pertama yang ia lihat setelah pintu apartemen terbuka. Sean menatapnya dengan heran. Mungkin berpikiran mengapa Alexandria menggunakan pakaian terbuka malam ini. Walaupun Alexandria selalu menuntaskan nafsunya, wanita itu tidak pernah berpakaian terbuka selain di ranjang. “Al—” Ucapan Sean terputus ketika Alexandria menariknya dan menciumnya dengan menggebu. Sean yang mendapat serangan itu dengan senang hati membalas ciuman Alexandria dan mengangkat tubuh ringan wanita itu ke gendongannya. Dengan sekali gerakan, Sean sudah menindih Alexandria yang berbaring di sofa. “Sean, take me to your heaven, again.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN