Happy Reading
.
.
"Tidak ada sejarahnya, orang MENYESAL karena MENINGGALKAN ORANG YANG SALAH!"
.
.
Terlihat dari dalam cafe yang ramai ini terdapat dua orang yang tidak asing lagi, Raefal dan Aksa. Mereka berdua memang sudah merencanakan kalau mereka berdua akan pergi ke cafe sepulang sekolah nanti.
Aksa menatap lekat-lekat wajah Raefal. Binggung dengan moodnya hari ini yang tidak bisa ia tebak sama sekali. "Susah sendiri kalo udah urusan sama hati cewek!"
"Lo ngapa?"
Raefal membanting ponselnya diatas meja kaca itu dengan sedikit keras, sehingga menimbulkan suara yang sedikit keras pula.
Sontak pelayan yang sedang menurunkan kopi dari nampan ke meja pelanggan itu langsung menoleh. "Ada apa mas?"
"Enggak mas, hpnya lagi mati sendiri jadi dibanting biar nyala." jawab Aksa asal saat Raefal tidak segera menjawab pertanyaan dari salah satu pelayan cafe.
"Ada gitu ya." Pelayan cafe itu lalu pergi dengan menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Hp dibanting supaya nyala. Bukannya malah mati?"
Aksa kembali menatap Raefal yang terus menerus menatap bawah, seolah-olah ada perempuan yang amat sangat cantik disana sampai tidak mengedipkan matanya.
"Fal, lo kenapa?"
Raefal mengangkat kepalanya, lalu menatap Aksa dalam.
"Apa gue ganti hp lagi ya Sa?" ucap Raefal dengan raut wajah capeknya.
Aksa yang sempat mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, lalu diturunkan lagi dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga.
"Lo, serius?"
Raefal menganggukkan kepalanya dua kali. "Yaiyalah b**o!"
"Buju gile! lo baru seminggu ganti hp lo jadi Iphone 8 plus Fal!"
"Terus? Bapak gue gak masalah kalo gue bolak-balik ganti hp."
"Mana mungkin bapak lo ngemasalahin ini semua. Lo aja anak satu-satunya."
"You know." ucap Raefal dengan tersenyum miring.
"Ganti kartu aja lah Fal, sayang hp lo." ucap Aksa memberi saran.
Raefal mendengus dan memikirkan perkataan Aksa. Pikiran Raefal saat ini sedang kacau, dirinya tidak bisa berfikir jernih seperti biasa.
Sedangkan Aksa mencoba berpikir untuk memecahkan masalah Raefal. "Fal gue ada cara deh supaya lo bisa dijauhin sama cewek-cewek lo"
"Apaan?"
"Lo harus punya pacar, dan yang paling penting lebih cantik dari cewek-cewek lo itu"
"Sekarang, coba lo pikir. Siapa yang mau jadi pacar settingan gue?" ucap Raefal dengan lemas karena masalah-masalah yang tidak kunjung selesai.
"Tenang aja, lo itu most wanted. Pasti banyak yang mau dijadiin pacar settingan lo." ucap Aksa dengan tersenyum kemenangan.
°°°°
'Raefal Pov'
Aku dan Aksa saat ini sedang berpikir keras. Ide yang di ucapkan Aksa memang ada benarnya, secara tidak langsung aku akan lepas dari semua perempuan yang dulu pernah ku dekati.
"Raefaall!"
Pikiranku bubar seketika, saat aku mendengar suara nyaring yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepala ku menuju sumber suara. Dan, mendapati seorang perempuan sedang berjalan mendekat ke arah meja ku dan Aksa. "Sial, kenapa bisa ada dia!" batinku.
Perempuan yang ku tahu namanya Karin itu terus berjalan mendekat ke arahku dengan wajah sebalnya.
"Kamu kok gak bales chat aku sih Fal?"
Saat aku ingin menjawab, aku bisa melihat dari ujung mata kalau saat ini Aksa sedang menatap ku tajam. Aku sempat berfikir, untuk apa Aksa menatapku tajam seperti itu. Tetapi yang kulihat dari mata Aksa, Seolah-olah mengatakan. "Jangan peduli!"
"Males pegang gadget." jawabku asal.
"Padahal aku pengen ngajak kamu belanja." ucapnya dengan wajah manjanya.
°°°°
'Author Pov'
Aksa memalingkan pandangannya kearah Karin yang menatap lantai bawah dengan wajah yang dibuat-buat kecewa. "Ada ya cewek kayak gini"
"Jauhin Raefal!"
Karin langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kearah Aksa saat mendengar ucapan Aksa untuknya.
"Apa masalah lo? Lagian lo siapa ngelarang gue?" tanya Karin dengan wajah dan nada yang terlihat marah.
"Gue sahabatnya! Dan masalahnya, lo itu matre!" jawab Aksa dengan menunjuk Karin menggunakan jari telunjuk kanannya.
Raefal membulatkan matanya lebar saat Aksa mengatakan "Dan masalahnya lo itu matre!" menurutnya ucapan Aksa cukup tajam dan menusuk.
"Gue pacarnya! Apa buktinya kalo gue matre ha? Jangan nuduh sembarangan!"
"Eh kulit gajah! Lo tadi bilang kan, kalo lo chat Raefal mau ngajakin dia belanja. Lah belanja itu mana mungkin pake uang lo!"
"Enak aja lo manggil gue kulit gajah! Lagian Raefal yang mau bayarin gue kok."
"Nah itu, tiap kali dia bayarin lo, lo semakin gak tau diri dan seenaknya milih semua barang yang lo mau dan gak mikirin harganya! Dan salah lo sendiri pake make up aja setebel kulit gajah."
"Terus maksud lo nyuruh gue jauhin Raefal apa?"
"Ya biar hidup Raefal tentram damai lah."
"Oh gue tau nih, lo suka sama gue kan?" tanya Karin dengan pdnya sambil mengibaskan rambutnya yang terurai.
Aksa membulatkan matanya lebar. Tidak percaya bahwa perempuan yang tidak tahu diri di depannya ini, memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Sebaliknya dengan Raefal yang hanya diam dan menahan tawa karena melihat perdebatan antara Aksa dan Karin.
"Pd amat lo! Mana mau gue sama kulit gajah kayak lo!"
"Lagian salah lo sendiri, Raefal udah bahagia sama gue tau."
"Apa? Bahagia? Eh tanya sekarang sama Raefal, dia bahagia sama lo atau enggak!"
Karin menatap sebal Aksa sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke Raefal. "Kamu bahagiakan sama aku?" tanya Karin pada Raefal.
Raefal menghembuskan nafasnya Kasar sebelum menjawab pertanyaan Raefal. Kenapa Aksa membawa namanya dalam perdebatannya bersama Karin.
"Gue ga--"
"Aksa!"
Dengan cepat Aksa menoleh karena namanya dipanggil oleh seseorang, dan menurutnya suara itu tidak asing menurutnya. Aksa mengulum senyum saat ada dua perempuan yang sedang berjalan kearahnya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Aksa dengan merangkul pinggang Aileen pacarnya.
"Aku yang seharusnya nanya sama kamu! Dia siapa?" tanya Aileen dengan menatap dalam mata Aksa.
"Kulit gajah." jawab Aksa asal yang membuat tawa Aileen hampir pecah.
"Kamu ih gaboleh gitu."
"Lagian liat aja mukanya. Pake make up setebel kulit gajah."
Aileen dengan cepat mencubit pinggang Aksa hingga Aksa mengaduh kesakitan. Raefal yang melihat kedua pasangan ini hanya menggelengkan kepalanya.
"Jawab Fal!" tegur Karin setelah tidak ada perbincangan lagi.
"Gue gak nyaman sama lo!" jawab Raefal dengan nada sedatar mungkin.
"Apa? Kok kamu bisa bilang gitu sih?"
Raefal mengalihkan pandangannya yang awalnya menatap mata Karin menjadi melihat ke sekeliling cafe. Entah mengapa mata Raefal saat ini tertuju pada Alecia yang berdiri di samping Aileen.
"Jawab Fal!"
Raefal menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. Lalu Berjalan kearah Alecia yang membuat semuanya bingung, termasuk Alecia.
"Lo mau tau jawaban gue?" tanya Raefal saat sudah berdiri di samping Alecia. Karin mengangguk ragu.
Dengan hitungan detik Raefal menggandeng tangan Alecia dan mengangkatnya dihadapan Karin. "Gue udah punya dia yang jauh lebih baik dari lo!"
Badan Karin mengeras tidak percaya dengan semua ini. Matanya menatap tajam mata Alecia dengan tatapan tidak suka.
°°°°°
Jangan lupa Vote dan Komentar☺