Firza masih duduk memeluk lutut di samping tempat tidurnya sembari memandang jauh jendela di sampingnya. Anak kecil itu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tatapan sendunya. Tubuhnya masih terasa perih setelah dipukuli oleh papanya dengan sabuk celana. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali cambukan sampai tubuh Firza membekas dan membiru. Anehnya Firza sama sekali tidak menangis atau memohon agar papanya mengampuni kesalahan sepele yang dilakukannya. Kesalahan karena Firza meminta agar disekolahkan seperti anak-anak lain. Alasan Firza tidak merasa sakit lagi saking terbiasanya dengan pukulan papanya. Ia juga berusaha untuk meminta bantuan pada sang mama yang kenyataannya hanya menjadi penonton dan malahan mengacuhkan Firza yang sedang disiksa di depan matanya. Firza beranjak berdiri de

